TEROR

TEROR
|148| TESTPACK


__ADS_3

"Eh, Tiara mau ngasih tau sesuatu," ucap Tiara membuat tawa semua teman-temannya terhenti. Perkataan itu seolah serius.


"Kenapa kak?" tanya Echa penasaran.


Mutiara mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


"Kak Tiara.... Hamil?" tanya Ivy kaget. Ketika melihat Mutiara mengeluarkan testpack dengan dua garis berwarna biru.


"Gemes banget, bentar lagi kita bakalan punya bayi kecil?" tanya Hanin girang.


"Selamat ya kak, semoga sehat bayi sama mama nya," ucap Irina dengan senyuman manisnya.


"Makasih Irina," ujar Mutiara sembari menggenggam tangan Irina yang duduk di sebelahnya.


Devan tersenyum tipis melihat Irina yang berada di hadapannya. Gadis dengan wajah jutek ini ternyata baik hati dan pembawaannya yang selalu membuat dia kagum.


"Jaga diri baik-baik ya kak, jangan sampai kecapean, kalau misal, kak Vero lagi gak di rumah, terus kakak butuh apa-apa bisa telpon Caca,"ucap Echa sambil tersenyum. Membuat Bara tak berkedip menatap kearahnya.


"Dari kapan udah isi kak?" tanya Shiren.


"Tujuh hari yang lalu, kan kak?" tanya Mutiara sembari menatap kearah Alvero.


"Iya," jawab Alvero sembari tersenyum manis.


"Gercep banget bro bibitnya," ucap Azka.


Alvero yang mendengar perkataan Azka langsung melemparkan benda yang ada di sebelahnya. Namun, dengan sigap Azka langsung menangkap benda tersebut.


Drt... Drt...


"Caca izin keluar dulu sebentar ya," ucap Echa sembari mengangkat telepon tersebut.


"Halo Bu," ucap Echa ketika sudah tersambung dengan ibunya.


"Apa kabar, Ca?" tanya Roslyn dengan suara lembutnya.


"Baik Bu, ibu kapan pulang? Caca kangen banget," rengek Echa sembari melangkahkan kaki kearah taman. Terlalu berisik jika masih di dalam ruangan.


"Ibu udah pulang," ucap Roslyn dengan tawa pelan.


"Ibu... Kenapa gak bilang?" tanya Echa sembari mengerucutkan bibirnya.


"Lho, Bara gak ngasih tau? Ibu udah kasih tau Bara," jawab Roslyn.


"Kak Bara gak bilang apa-apa, ibu jahat banget sama Caca, ngasih tau ke kak Bara tapi ke Caca engga," cicit Echa yang masih memasang wajah cemberutnya.


"Iya, ibu minta maaf," ucap Roslyn.


"Caca maafin, tapi ada syaratnya," ujar Echa.

__ADS_1


"Pake acara syarat-syaratan segala," ucap seseorang di belakang Echa. Membuat dia terlonjak kaget mendengarnya.


"Kak Bara! Ngagetin Mulu dari tadi!"


Sedangkan Roslyn hanya menggelengkan kepala sembari tertawa pelan mendengar tingkah anaknya tersebut.


"Lagian ngapain maafin tapi pake syarat segala," ucap Bara sembari menatap lekat wajah Echa yang baginya adalah sebuah ketenangan.


"Ibu ... Liat nih, kak Baranya." rengek Echa.


"Jadi, apa syarat Caca?" tanya Roslyn.


"Em... Syaratnya, selama satu minggu kak Bara gak boleh deketin Caca," jawab Echa sembari mendelik kearah Bara yang ada di hadapannya.


Bara yang mendengar itu langsung melototkan matanya. "Mana ada. Gak, jangan di ACC Bu, gak ada gitu-gituan."


"Ya kan, Bu? Boleh kan?" tanya Echa.


"Em..."


"Jangan Bu, itu maunya Caca, Bara gak mau kayak gitu," ucap Bara yang masih terlihat panik.


"Emang kamu bisa kalau gak ada Bara?" tanya Roslyn.


Pertanyaan itu mampu membuat Bara sedikit percaya diri. Dia belum sepenuhnya percaya karena itu bukanlah hasil akhir.


"Bisa. Kenapa gak bisa?" Echa membuat dirinya seolah terlihat angkuh.


Echa sedikit tertawa pelan ketika melihat kepanikan dari wajah Bara, di tambah lagi bawelnya yang jarang sekali keluar, membuat Echa ingin tertawa sangat keras.


"Caca bisa sendiri, bilang aja kakak yang gak bisa kalau gak ada Caca," jawab Echa sembari memeletkan lidahnya.


Bara langsung menarik pinggang Echa. Membuat si pemilik pinggang tersebut terkejut. Echa hanya diam mematung sembari mantap wajah Bara yang tampan, dia tidak akan pernah bosan memandang wajah dengan pahatan yang sempurna ini.


"Yakin?" tanya Bara semakin membuat Echa mendekat kearahnya.


Sedangkan Echa berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Bara. "Kak ..."


"Ya?" tanya Bara sembari meraih tangan Echa yang sedang menggenggam ponsel.


"Bisa gak, jangan deket-deket kayak gini?" tanya Echa yang mulai menahan nafasnya ketika dapat merasakan hembusan nafas Bara di lehernya.


Sedangkan Bara diam-diam mematikan sambungan Echa dengan ibunya. Dan Yap. Dia berhasil.


"Kenapa?" tanya Bara.


"Jangan deket-deket, geli," ucap Echa sembari membuat wajah Bara menjauh dari hadapannya.


"Bilang aja, kakak terlalu ganteng," ujar Bara dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Idih! Engga. Geli tau!" ketus Echa.


Bara masih belum melepaskan tangannya dari pinggang Echa. Dia malah tersenyum tipis dan kembali mendekatkan wajahnya. Menatap dengan tenang wajah Echa yang terkena cahaya lampu. Cantik.


"Cantik," gumam Bara.


"Apa?" tanya Echa.


"Cantik, Ca." jawab Bara sembari tersenyum manis.


"Makasih, tapi bisa gak lepasin Caca, malau kalau ada orang lewat," ucap Echa sembari berusaha melepaskan tangan Bara. Namun sama sekali tidak berhasil.


"Kakak ih ..." rengek Echa.


Bara tidak mengindahkan ucapan Echa, dia malah semakin mendekatkan wajahnya. Sedangkan Echa memejamkan matanya.


"Mikirin apa, hm?" tanya Bara ketika melihat Echa malah memejamkan matanya.


Dia kembali membuka mata sembari mengerjapkan matanya.


"Bodoh banget si, Ca." Batin Echa.


"Makannya lepasin." ucap Echa sembari mengerucutkan bibirnya.


"Oke kakak lepasin," ujar Bara.


Cup.


Satu kecupan mendarat di pipi Echa. Membuat Echa diam mematung sembari mengerjapkan matanya dengan pipi yang merah merona.


Bara tertawa pelan melihat tingkah lucu kekasihnya. Dia melepaskan tangannya dari pinggang Echa seraya mencubit gemas pipi Echa.


"Kata ibu, nanti malam pulang," ucap Bara.


"Kenapa?" tanya Echa penasaran.


"Gak tau, katanya suruh temenin buat ketemu sama seseorang," jawab Bara.


"Seseorang? Siapa?" tanya Echa.


"Gak tau," jawab Bara sembari mengangkat bahunya.


"Apa jangan-jangan Caca mau di jodohin sama orang lain?" tanya Echa mengada-ada.


"Gak mungkin. Jangan aneh-aneh." jawab Bara sembari menyentil dahi Echa.


"Siapa tau aja kan, Caca di jodohin sama yang lebih ganteng. Tapi kalau iya, kakak gimana?" tanya Echa sembari menyipitkan matanya.


"Ca... Jangan mulai lagi, dan hal itu gak bakalan mungkin. Halu." jawab Bara sembari melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Echa sendirian.

__ADS_1


"Seru juga ya kalau kak Bara bawel kayak tadi," ucap Echa sembari tertawa pelan. "Eh... Tunggu, ibu... Tadi Caca lagi telepon ibu."


"Kak Bara!" teriak Echa.


__ADS_2