
Saat ini Echa, Shiren, Ivy, Hanin, Aira, Reyhan, Erga dan Al sedang berada di kafe. Menikmati alunan musik yang terdengar mengalun indah di telinga para pendengarnya.
Drt... Drt... Drt...
Ponsel yang berada di dalam tas Echa tiba-tiba saja bergetar. Dia langsung melihat nama Bara terpampang dengan jelas di layar ponselnya.
"Wih, udah di telpon aja sama mas jodoh, " ucap Ivy saat melihat layar ponsel Echa dan Hanin yang bergetar bersamaan.
"Permisi sebentar, Caca mau angkat telpon dulu," ujar Echa sambil berdiri dari duduknya dan menjau dari tempat teman-temannya duduk, untuk mengangkat telpon dari Bara. Begitupun dengan Hanin.
"Halo, kenapa Kak?" tanya Echa yang sudah tersambung dengan Bara.
"Dimana?" tanya Bara dengan nada yang tersirat ada kemarahan.
Nada yang keluar dari mulut Bara ketika berbicara kepadanya tidak lembut seperti biasanya.
"Di kafe sama Hanin," jawab Echa.
"Pulang." titah Bara.
"Tapi..."
"Kakak sama yang lain udah di bawah, pulang. Udah selesaikan?" tanya Bara yang masih nadanya masih tersirat kemarahan.
"Bukannya..."
"Ca, turun. Pulang." ucap Bara yang langsung menutup sambungan teleponnya.
"Duh, Caca salah apa ya?" tanya Echa pada dirinya sendiri saat mendengar nada suara Bara tidak seperti biasanya.
Echa kembali duduk di tempatnya, dia membereskan beberapa barang-barang ke dalam tas nya.
"Mau pergi, Ca?" tanya Reyhan ketika melihat Echa berkemas.
"Iya, udah mau malem juga, gak enak," jawab Echa sambil tersenyum manis.
"Mau di Anyer pulangnya?" tanya Erga.
Echa melihat sekilas sembari menggelengkan kepalanya. "Engga, makasih ya, Ga."
"Terus sekarang pulang naik apa?" tanya Erga.
"Udah ada yang nunggu di bawah, Caca pamit dulu ya," pamit Echa.
"Kita juga pamit ya," ucap teman-teman Echa kepada Rey, Erga dan Al.
"Yah... Padahal Aira masih mau main disini," ujar Aira yang sedang bersama Ivy. Sejak tadi, Aira ingin terus bersama dengan Ivy.
"Kapan-kapan kita main lagi ya, Ra." ucap Al sambil melambaikan tangannya.
"Iya, Kak. Jangan bohong ya, dosa lho." sahut Aira membalas lambaian tangan Al. Sedangkan Erga hanya menatap Echa yang mulai hilang dari pandangan matanya.
"Rey, gue minta nomor cewek yang namanya Caca." ucap Erga.
Reyhan mengernyitkan dahinya sambil menatap kearah Erga. "Lo baik-baik aja kan?"
"Engga. Gue lagi jatuh cinta." jawab Erga.
...----------------...
Echa melihat di ujung parkiran seseorang yang sudah menunggunya sejak tadi, dengan raut wajah yang tidak bisa di baca. Dingin, datar dan sedikit menyeramkan.
__ADS_1
"Maaf..."
"Masuk." titah Bara.
Echa yang mendapatkan perkataan seperti itu langsung masuk kedalam mobil. Aura yang Bara keluarkan sangat mengerikan. Dia menatap kearah Bara yang duduk di kursi pengemudi.
"Kakak, bukannya ada meeting? Udah selesai?" tanya Echa untuk mencairkan suasana. Namun, Bara sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
Bara tidak akan marah besar seperti ini jika dia tidak memiliki kesalahan. Dan Echa menyadari letak salahnya terlalu lama berbicara dengan laki-laki yang sama sekali Bara belum mengenalnya. Apalagi, saat di cafe Echa duduk bersebelahan dengan Erga.
Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan standar, tidak ada percakapan apapun, hanya ada keheningan dan rasa canggung.
"Kak, Caca punya salah ya?" tanya Echa memberanikan dirinya lagi untuk membuka suara.
"Menurut Caca?" tanya Bara tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
Drt... Drt... Drt
Saat Echa ingin menjawab pertanyaan Bara, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia melihat nomor yang tertera di layar ponsel. Nomor tidak di kenal.
Echa mengangkat telpon tersebut.
"Halo, siapa?" tanya Echa yang sudah tersambung dengan nomor si penelepon.
"Ini, gue Erga." jawab orang yang berada di balik sambungan telponnya.
Echa melihat sekilas kearah Bara yang sedang mengepalkan tangannya.
"Oh iya, maaf ya Caca tutup, lagi di jalan soalnya."
"Hati-hati, kabarin gue kalau udah sampai." ucap Erga sambil menutup sambungan teleponnya.
"Baru lagi?" tanya Bara.
"Bukan..."
Perkataan Echa kembali terpotong ketika ponselnya bergetar lagi. Namun kali ini nama yang terpampang adalah bunda An.
"Halo, bunda, kenapa?" tanya Echa sambil mengangkat telpon tersebut.
"Kamu di jodohin?" tanya bunda An tiba-tiba.
Pertanyaan yang keluar dari sambungan telepon tersebut mampu membuat Echa mengernyitkan dahinya bingung. "Maksud bunda?"
"Jangan kasih tau Bara dulu ya, rencana nya sih bunda sama ibu mau jodohin kamu," jawab Bunda An.
Echa langsung menatap ke arah Bara yang masih memasang wajah datarnya.
"Bentar, maksud bunda di jodohin sama siapa?" tanya Echa bingung.
"Ya sama orang lain," jawab bunda An enteng.
Ckitt
Tiba-tiba saja Bara mengerem mendadak membuat Echa mengaduh kesakitan. Untungnya dia menggunakan sabuk pengaman.
"Eh, Caca kamu baik-baik aja?" tanya bunda An khawatir.
"Baik..."
__ADS_1
Perkataan Echa kembali terpotong ketika Bara tiba-tiba saja mengambil telepon miliknya.
"Ma, Caca cuman punya Bara. Titik." tegas Bara dengan penuh penekanan.
"Oh ternyata ada kamu," ucap bunda An santai. "Bunda sih, gimana Caca aja ya, soalnya yang mau di jodohin kan Caca, siapa tau, dia udah capek banget sama sikap kamu. Menurut bunda fine-fine aja. Caca berhak kan milih bahagianya sendiri? Kalau sama kamu didiemin terus siapa tau sama orang Caca gak didiemin."
Perkataan yang keluar dari mulut bunda An, seolah tahu apa yang sedang terjadi. Tapi, Echa bingung kenapa bunda An bisa tahu masalahnya?
"Engga. Caca cuman punya Bara, Ma. Dan jawaban Bara bakalan tetep sama." ucap Bara yang langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia menyimpan ponsel milik Echa.
Bugh.
Bara memukul stir mobil dengan sangat kencang membuat Echa terlonjak kaget.
"Argghhh!!" teriak Bara sambil mengacak rambutnya. Echa yang melihat itu menjadi takut sendiri. Ini semua karena salahnya, di tambah lagi dengan perkataan bunda An yang seharusnya tidak bunda An ucapkan.
Echa memberanikan diri untuk menggenggam tangan Bara. Dan si pemilik tangan itu membalas genggaman tangan Echa sambil menatap kearahnya.
"Maafin, Caca." ucap Echa ketika melihat raut wajah frustasi Bara.
Bara yang mendapat perkataan seperti itu langsung memberikan ponselnya kepada Echa. Menampilkan dirinya yang sedang duduk bersama Erga.
Dia melototkan matanya, foto yang diambil tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Echa hanya mengobrol biasa layaknya teman bahkan dia juga menjaga jarak. Bahkan di samping dirinya ada Hanin. Tapi jika di lihat posisi foto ini, di hadapannya hanya ada Shiren, Ivy dan Aira.
Echa menatap lekat mata Bara yang juga sedang menatap dirinya. "Sakit banget ya?" tanya Echa ketika melihat mata Bara sudah mulai berkaca-kaca. "Maafin, Caca. Caca emang duduk di sebelah Erga tapi gak sedeket ini, bahkan Hanin ada di sebelah Caca, Caca juga lebih Deket ke Hanin gak kayak di foto ini."
Bara yang mendengar penjelasan Echa mengembuskan nafasnya sambil memeluk Echa. Sedangkan si pemilik tubuh yang di peluk membalas pelukannya.
"Kakak gak masalah Caca mau temenan sama siapa, tapi tolong ya, tau batasannya. Meskipun itu cuman foto dan gak sesuai sama kenyataannya. Kakak sakit liatnya, Ca." ucap Bara dengan suara yang mulai bergetar.
"Caca minta maaf," ujar Echa sambil mempererat pelukannya.
Echa dapat merasakan Bara sedang menangis di bahunya. Ini karena kesalahannya. "Caca gak bakalan ulangin lagi."
"Kalau Caca di jodohin sama Mama gimana?" tanya Bara.
Echa tersenyum mendengar pertanyaan Bara. "Ya... tergantung."
"Tergantung gimana?" tanya Bara sambil melepaskan pelukannya dan menatap mata Echa.
"Yang di jodohin sama Caca nya ganteng apa engga," jawab Echa sambil tertawa pelan.
"Pokoknya engga. Dimana-mana juga ganteng kakak." ucap Bara dengan mata yang memerah habis menangis.
Echa tersenyum manis sambil menghapus jejak air mata Bara. Dia mengecup singkat pipi kanan dan kiri Bara. Membuat si pemilik pipi mengerjapkan matanya.
"Disini engga, Ca?" tanya Bara sambil menunjuk kearah bibirnya yang tipis.
"Engga ada, udah kita pulang, kasian Aira." jawab Echa sambil memalingkan wajahnya yang bersemu.
"Ca..." rengek Bara.
"Bara, udah ya, jangan aneh-aneh. Jalan sekarang." titah Echa sambil menatap tajam kearah Bara.
"Kenapa jadi Caca si yang galak," ucap Bara dengan nada pelan sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.
"Kakak minta nya aneh-aneh." jawab Echa.
__ADS_1
"Cuman minta cium di bibir aja," celetuk Bara dengan wajah cemberut.
Echa melototkan matanya ketika Bara dengan entengnya berbicara seperti itu.