TEROR

TEROR
|134| TAWA


__ADS_3

"Tadi, waktu Caca pulang dari pesta, ada sosok yang mau ngambil kak Bara," ucap Echa sembari menatap satu persatu teman-temannya.


"Kak Bara? Serius?!" tanya mereka bertiga kompak.


"Iya, sosok itu terus ada di penglihatan Caca, kayak Caca gak boleh liat apa-apa selain sosok itu, dia bahkan gak kepanasan." Echa menjelaskan semua apa yang dirasakan oleh dirinya beberapa jam yang lalu.


"Oh, itu sosok nya cuman ada di penglihatan Caca aja? Gak muncul di depan Caca atau kak Bara, ya?" tanya Hanin.


"Iya, Nin. Emangnya kenapa?" tanya Echa balik.


"Dia emang gak bakalan kepanasan kalau cuman dalam pikiran atau penglihatan kita," jawab Hanin.


"Kok bisa gitu?" tanya Shiren penasaran.


"Karena sosok itu lebih menggunakan imajinasi mangsanya ketimbang menggunakan dirinya untuk muncul." jawab Hanin.


"Tapi, bahaya gak yang kayak gitu?" tanya Ivy.


"Lumayan bahaya, bisa aja sosok itu menguasai pikiran kita dan akhirnya menggunakan tubuh kita." jawab Hanin.


"Serem juga ya," ucap Shiren bergidik ngeri.


"Iya, baru denger aja udah serem, gimana kalau ngerasain hal itu, gimana Ca rasanya?" tanya Ivy menatap kearah Echa.


"Takut banget. Susah buat di jelasin takutnya, pokoknya kita gak bakalan bisa liat apa-apa selain sosok itu." jawab Echa.


"Btw, ini udah malem lho, masuk yuk, udah ngerasa gak enak auranya," ajak Shiren sembari menatap satu persatu teman-temannya.


Suasana yang awalnya hangat kini menjadi dingin dan mencekam, seolah cerita Echa mengundang mereka yang tak kasat mata masuk.


"Ayo." Ivy melangkahkan kakinya masuk kedalam diikuti teman-temannya.


"Kita langsung ke kamar Aira aja, siapa tau kalian mau tidur, Caca udah siapin tempat tidurnya," ucap Echa.


"Tapi, Aira gak bakalan keganggu kan?" tanya Ivy.


"Engga, Aira lagi tidur di kamar kak Bara," jawab Echa.


Mereka menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil melangkahkan kakinya menuju kamar Aira. Namun, saat Echa melewati ruang tamu, dia tidak melihat keberadaan Bara.


"Kak Bara nya kemana, kak?" tanya Echa kepada Nathan.


"Ke kamarnya," jawab Nathan.


"Udah lama?" tanya Echa.


"Baru aja naik, kayaknya Aira nangis." jawab Nathan.

__ADS_1


Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Sesampainya di depan kamar Bara, Echa menyuruh teman-temannya untuk masuk terlebih dahulu ke kamar Aira. Sedangkan dirinya masuk kedalam kamar Bara.


Cklek


Dia melihat Aira yang berada di gendongan Bara, menjadikan bahunya sebagai bantalan untuk Aira tidur, sedangkan Bara mengelus punggung Aira sambil menatap kearah jendela.


Echa melangkahkan kakinya kearah Bara yang sedang membuat Aira kembali tertidur.


"Nanti, tidurinnya di kamar Aira aja, Kak." ucap Echa sambil mengelus punggung Aira.


"Hmm," gumam Bara.


"Kakak tidur nya jangan malam-malam lagi," ucap Echa sambil menatap mata Bara yang ada di hadapannya.


"Iya, Ca." Bara tersenyum manis dengan suara yang di pelankan, takut Aira bangun.


"Jangan iya tapi engga, Caca gak mau kakak kenapa-kenapa" ucap Echa menatap tajam kearah Bara.


"Iya, Ca. Gak bakalan tidur malam lagi," ujar Bara sambil mengacak gemas rambut Echa.


"Besok Caca mau ke butik buat nemenin Hanin beli gaun," ucap Echa sembari menurunkan tangan Bara dari rambutnya. Dia menggenggam tangan Bara yang terasa hangat.


"Berdua?" tanya Bara.


Bara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ngghh... Kakak." Aira melenguh dalam tidurnya menatap sekilas Bara dan Echa yang ada di hadapannya.


"Ini kakak, Ra." Bara kembali mengelus punggung Aira. Sedangkan Echa mencium pipi Aira yang sangat menggemaskan.


"Kak Caca tadi kemana?" tanya Aira yang masih memejamkan matanya.


"Kebawah dulu, Ra. Kak Hanin ada disini jadi kak Caca turun dulu,"jawab Echa sembari mencium bibir Aira yang cemberut karena ditinggalkan oleh dirinya.


Aira tidak bersuara lagi, dia kembali menjemput mimpinya.


"Kakak juga mau digituin, Ca." ucap Bara dengan senyuman jahilnya.


"Apaan si, Kak. Tidurin Aira di kamarnya, Caca juga mau tidur disana," ujar Echa sembari menutup wajah Bara dengan tangannya.


"Iya," ucap Bara sambil melangkahkan kakinya menuju kamar Aira untuk menidurkannya.


Sedangkan Echa membereskan kamar Bara yang terlihat berantakan, tumpukan buku yang sudah tidak tertata dan berkas yang berserakan dimana-mana.


Namun, aktivitasnya terhenti ketika mendengar dering ponsel miliknya. Echa membuka layar ponsel, melihat siapa yang menelponnya larut malam seperti ini.

__ADS_1


"Reyhan," ucap Echa ketika melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.


Tanpa berpikir panjang, dia langsung mengangkat sambungan telponnya.


"Halo, kenapa Rey?" tanya Echa.


"Gak lagi tidur kan, Ca?" tanya Reyhan yang mendengar Echa sudah mengangkat telponnya.


"Engga," jawab Echa.


"Tadi kan, gue ngasih tugas kelompoknya ke pak hardi. Terus dia bilang, cara penjabarannya udah bagus, terperinci. Tapi, masih banyak yang harus di perjelas lagi. Bahkan banyak kelompok lain yang di suruh buat yang baru karena copy paste dari Google." jelas Reyhan.


"Bagian mana aja yang harus di perjelas lagi?" tanya Echa.


Namun tiba-tiba saja, Echa merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangnya dengan kepala yang berada di bahu Echa. Dia sudah tahu siapa orang tersebut.


"Gak banyak, cuman bagian B, D sama I aja." ucap Reyhan yang bisa di dengar oleh Bara.


"Semua nya harus di perjelas? Berarti harus tulis ulang yang bagian itu aja?" tanya Echa.


"Iya, Ca." jawab Reyhan.


"Yaudah, nanti di jadwal lagi buat kerja kelompok, besok Caca gak bisa," ucap Echa sembari menggenggam tangan Bara.


"Iya, nanti kalau gak sibuk kabarin aja," ujar Reyhan.


"Caca tutup teleponnya ya," ucap Echa.


"Iya, selamat malam, sun jauh jangan?" tanya Reyhan dengan tawanya.


"Gak usah, makasih," jawab Echa yang juga ikut tertawa.


"Tutup aja teleponnya, Ca." ucap Reyhan yang sudah reda dari tawanya.


Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung menutup sambungan telponnya dan melihat Bara yang sedang memasang tatapan tajamnya.


"Kak," panggil Echa. Namun Bara tidak menanggapi panggilan itu, dia masih memejamkan mata di bahu Echa.


"Kak, Caca mau tidur, udah ngantuk banget," ucap Echa yang masih menggenggam dan mengelus lembut tangan Bara.


Bara melepas pelukannya tanpa berniat mengeluarkan sepatah katapun, dia melangkahkan kakinya menuju beberapa berkas yang sudah Echa rapihkan.


Echa menghela nafasnya panjang. "Jangan tidur larut malam."


"Hmm" gumam Bara.


"Caca ke kamar Aira dulu," pamit Echa sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bara.

__ADS_1


__ADS_2