TEROR

TEROR
|69| BERSEMU


__ADS_3

Sesampainya di gedung, Echa langsung bertemu dengan Bara di depan pintu. Bara melihat mata Echa yang berkaca-kaca dan perban yang kembali dipenuhi darah.


"Ca.." ucap Bara sambil menatap kearah Echa. Namun tiba-tiba saja Echa memeluk Bara erat sambil menangis.


"Hei, kenapa?" Tanya Bara ketika Echa menangis dalam pelukannya.


"Sakit." Jawab Echa menangis dalam pelukan Bara.


"Dimana perbannya?" Tanya Bara sambil mengelus lembut rambut Echa.


"Di kamar." Jawab Echa.


"Ganti dulu perbannya." Ucap Bara sambil melepaskan pelukannya pada Echa dan menghapus air mata yang menetes dari mata Echa.


Bara menggenggam tangan Echa, melangkahkan kakinya menuju kamar yang Echa tempati untuk mengobati tangannya yang semakin banyak mengeluarkan darah.


Sesampainya di kamar, Bara langsung mendudukkan Echa di tempat tidur, sedangkan dirinya mengambil perban.


"Kenapa bisa sampai kayak gini?" Tanya Bara sambil mendudukkan dirinya di samping Echa dengan perban dan obat merah di tangannya.


Echa menceritakan semuanya kepada Bara, tentang dirinya yang pergi ke taman, bertemu dengan Rayhan, membantu Rayhan untuk meluapkan emosinya dan pada akhirnya bertemu Algi yang membuatnya seperti ini.


"Kenapa gak ngajak kakak?" Tanya Bara yang masih membersihkan darah ditangan Echa.


"Kan tadi Caca lagi gak mau ditemenin siapa-siapa, Caca lagi pengen sendiri." Jawab Echa.


"Itu buktinya sama Rayhan." Ucap Bara.


"Masa iya Caca harus nyuruh Ray pergi, padahal dia lagi butuh seseorang buat ngertiin dia meskipun sebentar, apalagi masalah di hidupnya besar." Ujar Echa sambil merapikan rambut Bara yang sedang mengobatinya. Bara tidak menjawab perkataan Echa dia membungkam mulutnya setelah mendapat perkataan seperti itu tentang Rayhan.


"Iya Caca tau Caca salah, Caca udah terlalu jauh deket sama Ray padahal baru kenal sekali, Caca minta maaf." Ucap Echa ketika melihat perubahan raut wajah Bara.


"Hm." gumam Bara yang sedang mengobati Echa.


"Caca udah minta maaf tentang Ray tadi, sekarang mau kakak gimana?" tanya Echa menatap kearah Bara.


"Setelah yang tadi jangan deket lagi sama Ray." jawab Bara menatap kearah Echa yang sedang menatap dirinya. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil tersenyum manis kearah Bara.


"Kenapa Caca diem aja di pegang sama Algi?" Tanya Bara sambil menatap kearah Echa, dia sudah selesai mengobati pergelangan tangannya.


"Kak, Caca udah berusaha lepasin tapi tangan yang dipegang itu tangan yang luka, jadi kalau ditarik sakit." Jawab Echa, Bara yang mendengar perkataan seperti itu langsung berdiri dari duduknya.


"Mau kemana?" Tanya Echa.


"Cari Algi." Jawab Bara.


"Gak sekarang kak, ini bukan waktunya, biarin aja." Ucap Echa sambil menggenggam tangan Bara agar tidak pergi.


"Tapi dia yang nyari masalah duluan." Ujar Bara menatap kearah Echa yang berdiri dihadapannya.


"Kak, jangan dulu ya, Caca juga gak mau kakak kenapa-kenapa cuman karena ini." Ucap Echa sambil mengelus pipi Bara dan tersenyum manis.


Bara yang mendapat perkataan seperti itu langsung memejamkan mata, menghela nafasnya panjang untuk meredakan amarah dalam dirinya. Echa yang melihat Bara sedang memejamkan matanya itu langsung memeluk Bara.


"Maaf tadi Caca udah diemin kakak." Ucap Echa.


"Iya, kakak juga minta maaf." Ujar Bara sambil mencium kepala Echa dan mengelusnya lembut.


"Cemburu?" Tanya Bara.


"Iyalah cemburu, mana ada yang gak cemburu, sakit liatnya." Jawab Echa menatap tajam kearah Bara.


"Sayang banget." Ucap Bara sambil memeluk Echa.


Drt.. drt.. drt..


Tiba-tiba saja ponsel Bara bergetar, Echa langsung melepaskan pelukannya, sedangkan Bara langsung mengangkat telpon tersebut.


"Kenapa Vin?" Tanya Bara ketika sudah tersambung dengan seseorang yang menelponnya.


"Lo dimana? Kita tunggu di rumah Vero aja, Lo lama." Jawab Gavin yang suaranya bisa di dengar oleh Echa.

__ADS_1


"Oke. Bentar lagi." ucap Bara sambil menatap kearah Echa.


"Jangan lama, lagi butuh banyak orang." ujar Gavin.


"Hm." gumam Bara yang langsung menutup sambungan telponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Gavin.


"Kenapa Kak?" tanya Echa penasaran.


"Disuruh kerumah Vero." jawab Bara sambil mengacak gemas rambut Echa.


"Tadi waktu ketemu Caca di pintu, itu mau kerumah Kak Vero?" tanya Echa.


"Iya." jawab Bara.


"Yaudah cepet berangkat, udah pada nungguin." ucap Echa sambil tersenyum.


"Jangan terlalu deket sama laki-laki." ucap Bara.


"Kalau ada apa-apa telpon kakak." sambung Bara.


"Iya kak." ujar Echa.


"Jangan terlalu dengerin ucapan Key sama Kay." ucap Bara sambil tersenyum kearah Echa.


"Trust me, I love you very much my future wife." sambung Bara, menatap lekat wajah Echa seolah perkataannya itu tidak main-main.


"Of course, I will always believe in you." ucap Echa dengan pipi yang bersemu dan senyuman manis tercetak di bibirnya.


"Love you." ucap Bara. Namun Echa tidak menjawab perkataan Bara, dia ingin melihat bagaimana reaksi Bara ketika tidak dibalas olehnya.


"Ca, love you." ujar Bara sambil menatap Echa yang diam saja tidak membalas perkataannya.


"Ca.. love you.." sambung Bara sambil menatap mata Echa lekat.


"Caca.." ucap Bara ketika Echa masih membungkam mulutnya.


"Apa?" tanya Echa yang berusaha untuk tidak tertawa melihat wajah Bara yang memelas padanya.


"Love you." jawab Bara sambil tersenyum manis ketika Echa memberikannya sebuah pertanyaan.


"Ca, love you." ujar Bara yang masih diam ditempatnya.


"Love you too." ucap Echa sambil tersenyum manis dengan pipi yang kembali bersemu. Dia sudah tidak kuat melihat wajah Bara yang memelas padanya.


Setelah mendengar perkataan Echa, Bara malah tidak menjawab perkataannya, dia hanya menatap kearah kekasihnya itu, sangat menggemaskan melihatnya bersemu seperti ini.


"Cepet berangkat kak, udah ditungguin." ucap Echa sambil menutup mata Bara yang terus menatap kearah dirinya.


"Iya." ujar Bara menurunkan tangan Echa dari matanya sambil mengecup singkat kening Echa dan melangkahkan kakinya pergi keluar dari kamar, meninggalkan Echa yang sedang bersemu malu.


Aaaaaaa!! teriak Echa dalam hati dengan wajah yang sudah memanas karena malu sekaligus bahagia secara bersamaan.


"Ca." panggil seseorang yang sedang berada di ambang pintu kamar Echa.


Echa yang mendapat panggilan tersebut langsung melihat kesumber suara dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa dengan hatinya.


"Kenapa Ren?" tanya Echa yang melihat Shiren yang memanggil namanya itu.


Shiren yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Echa dan memeluknya sambil menangis.


"Keluarin semuanya." ucap Echa sambil mengelus lembut punggung Shiren yang sedang menangis dalam pelukannya.


"Sakit banget." ujar Shiren dengan tangisan pilu.


Echa membiarkan Shiren menangis dalam pelukannya menumpahkan segala keresahan hati yang juga Echa alami beberapa jam lalu.


"Udah, Kak Gavin gak bakalan semudah itu buat di dapetin, apalagi udah punya Shiren." ucap Echa menenangkan Shiren yang masih menangis.


"Kak Gavin itu sebelas dua belas sama Kak Bara dan Caca tau banget gimana Kak Gavin dari sikapnya Kak Bara." sambung Echa sambil mengelus lembut kepala Shiren.


"Dan pasti Kak Gavin udah bujuk Shiren kan? udah jauhin Kak Kay juga kan?" tanya Echa.

__ADS_1


"Iya tapi sakit aja." jawab Shiren.


"Caca juga sama kok tadi, ngerasain sakit padahal Kak Bara udah berusaha jauhin Kak Key tapi kalau di pikir-pikir lagi, posisi Kak Bara itu serba salah, mau nyuruh Kak Key pergi tapi ada om Ferdi sama Tante Mala, mau diem aja tapi Caca ada di deket Kak Bara dan Kak Gavin juga pasti ngerasain hal itu." ucap Echa dengan senyuman manisnya dan mengelus lembut punggung Shiren.


"Berarti Shiren salah ya udah marah-marah gak jelas sama Kak Gavin?" tanya Shiren.


"Kalau dibilang salah ya engga juga, karena siapapun pasti marah ngeliat hal kayak tadi di depan mata, buat ngelampiasin rasa sakit di hati. Caca juga sempet diemin kak Bara. Marah? marah banget, jadi Caca diemin tapi gak lama, diem nya Caca cuman buat tenangin diri aja, karena itu hal yang paling baik menurut Caca." jawab Echa sambil tersenyum manis menatap wajah Shiren yang masih meneteskan air matanya, dia menghapus air mata yang menetes membasahi pipi Shiren.


"Terus gimana sama Kak Bara?" Tanya Shiren menatap mata Echa.


"Enggak gimana-gimana, kita berdua minta maaf." jawab Echa.


"Ca.." panggil seseorang dari ambang pintu.


Echa dan Shiren yang mendengar suara tersebut langsung melihat kesumber suara.


"Kenapa Vi?" tanya Echa yang melihat orang itu adalah Ivy.


"Disuruh kebawah sama Hanin." jawab Ivy.


"Ada apa?" tanya Shiren penasaran.


"Ada yang kesurupan." jawab Ivy.


"Kita kesana." ucap Echa sambil melangkahkan kakinya untuk menemui Hanin diikuti Shiren dibelakangnya.


Sesampainya di bawah, Echa langsung melihat Keyla yang sedang mengamuk tidak jelas, memecahkan beberapa barang yang ada disana bahkan ada sovenir pernikahan yang rusak, untung saja hanya ada Hanin, Mutiara dan Kayla.


"Ca, bantuin Hanin." ucap Hanin ketika melihat Echa sedang melangkahkan kaki kearahnya.


Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung membantu Hanin untuk menenangkan Keyla.


"Ren, bisa bantu ambil sosok yang ada ditubuh Kak Key?" tanya Hanin. Echa yang melihat keadaan Shiren sedang tidak baik itu langsung mengambil sosok yang ada ditubuh Keyla masuk kedalam tubuhnya


"Nin, Biar Caca aja, Shiren lagi gak fit hari ini." jawab Echa yang berusaha untuk memindahkan sosok itu masuk kedalam tubuhnya.


"Vi, pegangin Caca. Kak Kay bisa tolongin Hanin?" tanya Hanin sambil menatap Kayla.


"Tapi Kay takut." jawab Kayla.


"Kak Tiara pegangin Kak Key nya, Hanin mau jaga Caca takut kenapa-kenapa." ucap Hanin. Mutiara yang mendengar itu langsung menidurkan Keyla yang tidak sadarkan diri itu disofa.


"Siapa kamu?" tanya Hanin ketika sudah melihat sosok itu pindah kedalam tubuh Echa.


"Aku.. aku.. takut." jawab Echa dengan suara khas anak kecil.


"Takut kenapa?" tanya Hanin. Sedangkan Echa yang sedang mediasi itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, seolah ada sosok yang menyuruhnya untuk diam.


"Kenapa kamu disini?" tanya Ivy.


"Aku tidak tahu." jawab Echa sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu masuk kedalam tubuh kakak itu?" tanya Hanin.


"Aku hanya ingin memberitahu.. dan hanya kakak itu yang bisa aku pinjam tubuhnya." jawab Echa dengan suara berbisik.


"Apa yang ingin kau beritahu?" tanya Shiren. Echa hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban seolah memang ada sosok jahat yang sedang mengawasinya.


"Cerita saja sama Caca ya." jawab Hanin.


"Caca? ini Caca?" tanya sosok yang berada di dalam tubuh Echa sambil menatap mata Hanin.


"Iya, yang kamu pinjem tubuhnya sekarang Kak Caca." jawab Hanin.


"Kamu punya nama?" tanya Shiren.


"Nama?" tanya Echa bingung.


"Iya, inget?" tanya Hanin. Echa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa sosok yang didalam tubuhnya itu tidak memiliki nama.


Namun saat Ivy bertanya sesuatu tiba-tiba saja Echa langsung kembali dalam tubuhnya, dia memegang kepalanya ketika sosok anak kecil itu keluar dari tubuhnya.

__ADS_1


"Ca." panggil Ivy.


"Caca baik-baik aja." ucap Echa yang sedang menyeimbangkan tubuhnya.


__ADS_2