
"Terus, apa kata Kak Bara?" tanya Hanin.
"Keburu ada yang kesini," jawab Echa.
Sejak ketukan pintu itu terdengar, Bara langsung pamit untuk pergi ke kantor. Ada beberapa hal yang perlu dia benahi. Echa juga tidak mendapat penjelasan kenapa Bara mencurigai Ivy.
Hanin menghela nafasnya panjang, dia menatap kosong kearah depan. "Kalau seandainya itu bener Vivi, Hanin gak tau harus ngelawan kayak gimana," matanya terlihat sedikit cemas. "Hanin mau nyerah aja dari sekarang. Ini yang Hanin takutin dari lama, melawan sahabat sendiri untuk melindungi diri."
Echa menatap kearah Hanin, matanya menyiratkan beban yang sangat berat. Pikulannya kali ini bukan tentang ulah siapa. Tapi bagaimana, kapan dan kenapa semua ini terjadi.
"Kalau Hanin aja nyerah, apa kabar sama Caca?" tanya Echa tersenyum pedih.
Ya, selama ini Hanin yang paling kuat diantara Echa, Ivy dan Shiren. Dia selalu jadi penguat ketika yang lainnya sedang berada di titik tidak baik-baik saja.
Jika Hanin menyerah, lantas apa yang harus Echa lakukan? Kenapa takdirnya harus seperti ini? Kenapa tidak orang lain saja yang menjadi musuhnya? Kenapa harus orang terdekatnya yang malah menjadi musuh?
"Shila," ucap Hanin sambil menatap kearah Echa.
"Panggil?" tanya Echa.
"Iya, kita panggil dia. Mumpung gak ada siapa-siapa." jawab Hanin antusias.
Tapi, kata Shila... Hanin. Batinnya, Echa menatap lekat kearah Hanin yang terlihat antusias.
Apa bener Hanin penghianat itu? tanyanya pada diri sendiri.
Enggak, gak mungkin. Caca yakin, yang tadi bukan Shila. Echa tersenyum kearah Hanin sambil menganggukkan kepalanya.
Echa memejamkan matanya sambil memanggil nama Shila berkali-kali.
Tak lama kemudian hembusan angin menerpa wajahnya. Dia membuka mata, melihat Shila yang berada di hadapannya.
Wajahnya seperti menyimpan beban yang begitu berat, tidak ceria seperti biasanya. Bahkan tatapan terlihat dingin. Shila sudah banyak berubah.
"Shila," panggil Hanin sembari menatap Shila. Namun, tidak ada jawaban dari Shila. Dia masih menatap Echa dan Hanin secara bergantian.
"Ini, Shila kan?" tanya Echa.
"Kalian yakin disini aman-aman saja?" tanya Shila dengan tatapan kosong kearah depan.
"Iya, kita yakin. Semua orang sedang pergi dari sini," jawab Hanin.
__ADS_1
Shila yang mendapat perkataan seperti itu langsung mendekat kearah Echa dan Hanin yang sedang menatap dirinya aneh.
Shila menatap kearah Echa, "Caca tadi manggil Shila?"
"Iya, Caca manggil Shila." Echa menganggukkan kepalanya, seolah apa yang dikatakan Shila benar.
"Itu bukan Shila," ucap Shila. "Kali ini, kalian harus sangat berhati-hati, mereka bisa menjadi siapapun." Shila menatap bergantian kearah Hanin dan Echa. "Mereka bisa meniru musuhnya secara mendetail."
Hanin mengerutkan dahinya, seolah meminta penjelasan lebih kepada Shila. "Siapa mereka?"
Shila menghiraukan ucapan Hanin, dia masih menatap kearah Echa dan Hanin. "Kalian tau? Dia dan mereka ada diantara kalian."
"Iya, Caca sama Hanin tau itu dari Ibu," ucap Echa.
"Dari tadi Shila bilang dia sama mereka. Mereka sama dia itu siapa, Shil?" tanya Hanin geram ketika Shila tidak menjawab pertanyaannya.
Shila menampilkan deretan giginya kepada Echa dan Hanin, membuat mereka berdua bergidik ngeri. "Ternyata ini kalian, Shila kira mereka." jawab Shila yang kini sudah tidak menakutkan seperti tadi.
"Shila, are you okay?" tanya Hanin.
"Baik. Shila cuman mau liat aja, ini bener kalian atau bukan," jawab Shila.
"Oke, kita lupain itu, apa maksud Shila dari dia dan mereka?" tanya Hanin penasaran.
Echa pastikan, ini adalah Shila. Sedangkan beberapa jam yang lalu, itu bukanlah Shila.
"Shila belum tau pasti ada berapa musuh yang ada di sekitar kalian. Jadi, Shila bilang mereka," Shila menatap kearah pintu. "Dia, seseorang yang bangkit kembali dari masalalu kalian, jangan tanya Shila, siapa dia. Shila masih belum tau siapa orang itu, tapi dia tau kelemahan dan kelebihan kalian." jelas Shila.
"Jadi, Dia itu akar masalahnya?" tanya Echa.
"Iya, dia yang menghasut orang-orang untuk melukai kalian." jawab Shila.
"Mereka?" tanya Hanin.
"Iya, mereka yang Shila maksud sudah dalam lingkaran hitam dan ajakan orang itu," jawab Shila. "Algi, dia juga sudah dalam ajakan orang itu."
"Algi?" tanya Echa dan Hanin kompak.
"Iya, Algi diiming-imingi Echa. Karena Echa yang Algi mau, padahal apa yang ditawarkan tidak semulus perkataannya," jawab Shila. "Dan, Arsenio. Siapa dia?" Shila menatap kearah Echa dan Hanin secara bergantian.
Sedangkan Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung menatap kearah Hanin.
__ADS_1
"Masa lalu kelam, sepertinya gak perlu dibahas," ucap Hanin ketika tatapan Echa memohon bantuan darinya.
"Shila tau, cerita tentang sesuatu yang udah dikubur sangat dalam itu menyakitkan. Tapi, itu yang Shila butuhkan, demi keselamatan kalian," ujar Shila.
Echa mengembuskan nafasnya panjang, masa lalu yang dia simpan di paling belakang itu, harus kembali dibuka.
Dia menceritakan semuanya kepada Shila, tentang siapa itu Arsenio dan Algi. Apa kaitan mereka dengan hidupnya di masa lalu.
"Udah segitu ceritanya," ucap Echa sambil menatap kosong kearah jendela.
"Shila harus pergi, mereka udah deket sini. Hanin, jangan lupa buat hapus jejak Shila disini." ujar Shila yang langsung menghilang begitu saja dihadapan Echa dan Hanin.
"Gawat." Echa mendengar beberapa suara motor.
"Hanin beresin ini, jangan panik." ucap Hanin sambil memejamkan matanya.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Echa melihat bayangan hitam yang pernah dia lihat di dapur.
"Ada aura nengatif yang kuat banget disini, Caca liat sesuatu?" tanya Hanin yang masih memejamkan matanya.
"Iya, Caca liat ada bayangan hitam, sekilas aja. Caca juga pernah liat bayangan ini waktu lagi di dapur," jawab Echa.
"Jahat banget, Caca ketempelan apa gimana?" tanya Hanin sambil menatap kearah Echa.
"Gak tau, tiba-tiba aja ada disini, mungkin sosok sekitar sini lagi main-main," jawab Echa.
Cklek.
Pintu rumahnya terbuka, menampilkan Nathan yang membawa sekantung plastik yang entah isinya apa.
"Mau pulang?" tanya Nathan sambil menatap kearah Hanin.
"Caca gimana?" tanya Hanin saat melihat Nathan sedang berada di ambang pintu.
"Ada Bara, lagi parkir mobil," jawab Nathan.
"Hanin pergi dulu ya, Ca. Hati-hati, kalau ada apa-apa telepon aja Hanin," ucap Hanin sambil menatap kearah Echa.
"Iya, Nin" ujar Echa sembari tersenyum manis kearah Hanin yang sedang melangkahkan kakinya kearah Nathan.
"Inget ya, kalau ada apa-apa jangan lupa buat telepon Hanin," titah Hanin sebelum melangkahkan kakinya keluar.
__ADS_1
"Iya, iya. Bawel banget," ucap Echa sambil menganggukkan kepalanya.