TEROR

TEROR
|120| SENTUHAN


__ADS_3

Echa mengerjapkan matanya ketika sinar mentari pagi, mampu membuat dia bangun dari mimpi indahnya.


Matanya melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07.30


"Ya ampun! Caca kesiangan!" teriak Echa sembari bangun dari tidurnya yang masih harus mengumpulkan kesadaran.


Drt... Drt...Drt...


Langkahnya terhenti saat ponsel yang berada di atas nakasnya bergetar, menandakan ada pesan masuk.


Maba Starshine


Pengumuman untuk seluruh mahasiswa starshine.


Kelas akan di lakukan melalui google meet. Sampai waktu yang akan kami umumkan kembali. Ada beberapa hal yang menjadi kendala. Terlebih, kasus yang baru saja terjadi menimbulkan trauma bagi beberapa mahasiswa.


"Untung," ucap Echa sambil mengembuskan nafasnya lega setelah membaca pesan dari grup tersebut.


Echa meletakkan ponselnya, dia melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


...----------------...


15 menit telah berlalu, Echa sudah selesai dengan ritual pagi sebelum mengawali kelas virtual nya.


Ting tong


Tanpa berpikir panjang Echa keluar dari kamarnya untuk membuka siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini.


Pemandangan pertama yang Echa lihat saat membuka pintu adalah seorang wanita yang masih muda. Namun, make up nya begitu tebal. Bibir merah, wajah putih, namun leher dan tangan berbeda jauh dengan wajahnya yang putih, menggunakan dress diatas lutut dan high heels.


"Apa benar ini, rumah Bara?" tanya wanita tersebut saat melihat Echa yang membuka pintu.


"Iya, benar. Ada perlu apa?" tanya Echa.


"Saya Syela. Sekertaris Bara. Saya di perintahkan oleh bapak Daniel untuk menemui Bara," jawab Syela sambil tersenyum manis.


Oh, ini Syela. ucap Echa dalam hati.


"Baik, silahkan masuk," ucap Echa.


Syela yang mendapat perkataan seperti itu langsung masuk dengan langkah yang terlihat angkuh.


Ayah, ya ampun. Kenapa nyari yang begini?


Tapi, gak apa-apa. Kak Bara gak suka yang kayak gini. Batinnya.


Echa melangkahkan kakinya kearah kamar Bara yang masih tertutup rapat.


Cklek.


Berantakan. Itu yang pertama Echa lihat ketika masuk kedalam kamar Bara. Dia menggelengkan kepalanya sambil melangkahkan kakinya ke arah Bara yang masih tertidur pulas.


"Kak, Bangun," panggil Echa. Namun Bara tidak menjawab perkataan Echa. Dia masih tertidur dengan pulas.


"Kak, bangun, Syela kesini di suruh sama ayah," ucap Echa sambil merapikan rambut Bara.


"Hm?" gumam Bara.

__ADS_1


"Bangun," ucap Echa.


"Gak kuliah?" tanya Bara dengan suara khas orang bangun tidur.


"Kuliah tapi lewat google meet. Gara-gara kejadian kemarin," jawab Echa.


"Hmm," gumam Bara kembali memejamkan matanya.


Echa masih merapikan rambut Bara. "Kak, bangun. Ada Syela kesini."


"Syela?" tanya Bara bingung.


"Iya, katanya, ayah yang suruh dia datengin kakak," jawab Echa.


"Mau ngapain?" tanya Bara.


"Gak tau, ayo kak, cepetan bangun," jawab Echa yang sudah berhenti merapikan rambut Bara.


"5 menit lagi," ucap Bara kembali memejamkan matanya.


"Sayang, ayo cepet bangun," ujar Echa sambil membuka gorden kamar Bara.


Bara yang mendengar itu langsung menatap kearah Echa. "Apa?"


"Gak ada siaran ulang, Caca takut kesiangan. Jangan lupa mandi," jawab Echa sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bara.


"Gak. Bilang lagi yang tadi, kakak gak denger, lagi tidur" ucap Bara yang sudah bangun dari tidurnya.


Echa menghela nafasnya sambil tersenyum manis kearah Bara. "Bara Gatramana. Ayo cepetan."


Bara yang mendapat perkataan sekaligus perlakuan seperti itu langsung bangun dari tidurnya.


"Heh! Cepetan!" titah Echa sambil menutup pintu kamar Bara.


"Bara nya mana?" tanya Syela ketika melihat Echa keluar dari kamar Bara.


"Lagi siap-siap, kak," jawabnya sambil menatap lekat mata Syela.


Ada cahaya berwarna hitam di mata, bibir dan dahinya.


Susuk. Batinnya


Syela menggunakan susuk untuk memikat hati para pria. Echa sedikit khawatir ketika melihat adanya susuk di tubuh Syela.


Echa melangkahkan kaki masuk kedalam kamarnya untuk melihat apa akan ada kelas atau tidak.


"Ternyata gak ada kelas," ucap Echa ketika membaca pesan dari grup WhatsApp.


"Oke, sekarang Caca ngapa-ngapain n?" tanya Echa pada dirinya sendiri.


"Nonton aja, kali ya," ucap Echa sambil membuka layar laptopnya.


"Sayang," panggil seseorang sambil membuka pintu kamarnya.


Panggilan itu membuat Echa mengalihkan pandangannya dari laptop dengan pipi yang memerah.


"Kakak..." ucapannya terhenti ketika Bara menyela ucapannya.

__ADS_1


"Ada kelas?" tanya Bara.


"Gak ada, kenapa?" tanya Echa balik.


"Temenin," jawab Bara dengan suara pelan.


"Ya udah, ayo," ucap Echa sambil turun dari tempat tidurnya.


Namun saat dia ingin melangkahkan kakinya ke arah Bara, pandangannya tiba-tiba saja kabur.


"Kak," panggil Echa sambil memegang kepalanya yang terasa pening.


"Kenapa?" tanya Bara melangkahkan kakinya mendekat kearah Echa.


Pandangannya semakin kabur, kepalanya terasa sepertti dihantam sesuatu yang besar.


"Kena..." belum selesai Bara mengucapkan perkataannya, tiba-tiba saja Echa jatuh. Untung saja, Bara sigap menerima tubuh mungil itu.


"Ca," panggil Bara khawatir ketika melihat darah keluar dari hidung kekasihnya.


Bara langsung mengendong tubuh Echa, menidurkannya di tempat tidur. Dia bergegas untuk mengambil kompresan.


"Apa bisa di mulai sekarang, Bar?" tanya Syela ketika melihat Bara keluar dari kamar Echa.


"Kita tunda saja, besok lanjut," jawab Bara dengan tatapan dingin, menyembunyikan ekspresi gelisah sekaligus khawatir dengan keadaan Echa.


"Di tunda? Tapi, bagaimana jika tuan Daniel memarahiku?" tanya Syela sambil melangkahkan kakinya kearah Bara yang sedang mengambil air hangat di dapur.


"Aku akan mengurusinya," jawab Bara yang melihat dari ekor matanya, Syela sengaja mendekat kearahnya sembari menaikan dress yang di gunakan olehnya.


"Bara..." panggil Syela sambil memegang bahu Bara, namun dia langsung menghindar dari wanita yang berani menyentuhnya.


"Turunkan dress mu!" titah Bara dengan nada pelan namun menusuk.


"Apa kau tidak tertarik? Aku tahu kau pasti menginginkannya kan?" tanya Syela dengan suara yang sengaja di arahkan ke telinganya.


"Istriku juga mempunyai apa yang kamu punya. Apa saya harus menunjukkan pintu keluar dari sini?" tanya Bara melangkahkan kakinya menuju kamar Echa, meninggalkan Syela sendirian.


"Istri?" tanya Syela.


"Apa kau tidak melihatnya? Saya tinggal bersama seorang wanita dan itu istri saya, segera pergi dari sini" jawab Bara sebelum masuk kedalam kamar Echa.


"Kau pasti akan menyukai sentuhan ku!" seru Syela ketika mendapat penolakan dari Bara.


Bara langsung memberhentikan langkahnya.


"Kau mau kan?" tanya Syela percaya diri.


"Saya sudah mengatakannya, istri saya juga memiliki apa yang anda punya. Dan saya, tidak mencari kepuasan dari wanita lain" ucap Bara sambil menatap tajam kearah Syela. "Pintu keluar ada di sebelah sana."


Bara melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Echa, meninggalkan Syela yang sedang mengepalkan tangannya.


"Wanita itu!" gumamnya kesal.


Bara menatap khawatir kearah Echa, kenapa tiba-tiba bisa seperti ini? Padahal Echa baik-baik saja sebelumnya. Dia membersihkan darah yang ada di hidung Echa.


Setelah membersihkannya, Bara mengecup kening Echa cukup lama.

__ADS_1


"Gak ada wanita lain yang bisa buat kakak tertarik selain Caca," ucap Bara sambil menatap Echa yang sedang memejamkan matanya.


__ADS_2