
Setelah kejadian Bara yang terus memuntahkan isi perutnya kini Echa bersama dengan teman-temannya, dia sedang menceritakan tentang beberapa kejadian yang menimpanya beberapa hari kebelakang, tanpa ada yang terlewat sedikitpun.
"Serius?! Demi apa?!" Tanya Ivy kaget ketika mendengar cerita Echa tentang semua kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini.
"Iya, Caca serius." Jawab Echa meyakinkan teman-temannya.
Saat ini Echa, Shiren, Hanin dan Ivy sedang duduk menyaksikan tamu yang masih berdatangan, meskipun jam sudah menunjukkan pukul 18.30.
Para tamu undangan seolah tidak ada hentinya berdatangan memberikan ucapan selamat dan doa kepada kedua mempelai pengantin.
Mereka berempat memilih tempat yang paling pojok agar percakapannya tidak dapat didengar oleh siapapun.
"Berarti apa yang Shiren, Vivi sama Devan denger itu punya keterkaitan?" Tanya Shiren.
Shiren dan Ivy pun sudah menceritakan tentang percakapan yang didengar olehnya beberapa jam lalu.
"Iya, kita belum tau siapa wanita berjubah itu, kenapa harus sampai ke keluarga kita juga? Disatu sisi dia mengaku sebagai Riana, disisi lain semua ini mengarah sama Kak Rara." Jawab Hanin sambil menatap satu persatu teman-temannya.
"Iya, Caca juga sempat berpikir kalau itu seratus persen Riana. Dan ternyata perkiraan Caca salah, mungkin gak sih kalau Riana itu bangkit lagi?" Tanya Echa penasaran.
"Menurut Hanin sih ada, Caca inget gak waktu itu disekolah ada orang yang kesurupan pas Riana meninggal, tiba-tiba ada sosok Riana yang masuk kedalam tubuh salah satu siswi.."
Flashback On
Echa melangkahkan kaki kearah Hanin yang sedang kewalahan, namun tiba-tiba saja ada tangan yang mencekiknya dengan erat hingga membuat Echa terbatuk-batuk dan hampir kehabisan nafas.
Uhuk.. Uhukk..
"To-l-o-ng." ucap Echa dengan suara terbata.
"Lepas." ujar Bara sambil mencoba melepaskan cekalan siswi tersebut dari leher Echa.
"Kau tidak akan bisa melepaskannya." ucap Siswi tersebut dengan suara menggema, membuat semua orang langsung menatap kearahnya.
__ADS_1
"Siapa kau?" tanya Bara yang mendengar suaranya aneh keluar dari mulut siswa tersebut.
"Aku, yang telah kalian bunuh!" jawab siswi tersebut sambil tersenyum dengan seringai yang mengerikan.
Seketika semua orang yang ada di sana langsung diam, mendengar ucapan dari siswi yang sedang mencekik leher Echa.
"Kami tidak membunuh siapapun." ucap Bara dengan nada menusuk. Sedangkan Echa mencoba untuk melepaskan cekalan tangan siswa tersebut pada lehernya yang sudah kehabisan nafas.
"L-ep-as." ujar Echa dengan suara yang sudah melemah.
"Sebesar itu dendamku padamu!" bentak siswi tersebut di pinggir telinga Echa. Membuat telinganya sampai berdengung sangat kencang, bahkan kepalanya terasa pening.
"Aarghhh." ringgis Echa dengan mata yang terpejam dan mencoba agar tetap mendapatkan nafasnya.
"Lepas!" bentak Shiren.
"Tidak akan! Aku akan membawa dia!" bentak Siswi tersebut dengan suara berat dan mengerikan.
Siswi tersebut mempererat cekikannya pada leher Echa yang membuat dia lemas.
"Jangan lakukan itu, atau kau yang tidak bisa pulang!" bentak Hanin.
"Tidak masalah, yang terpenting dendamku terbalaskan." ujar siswi tersebut dengan suara yang melengking.
Namun tiba-tiba saja dari hidung siswi tersebut keluar darah. Dan seketika tubuh siswi yang mencekik Echa itu ambruk kebawah, Echa yang sudah terlepas dari cekikan itu langsung menghirup udara yang banyak.
Flashback Off
"Ah iya bener yang Caca dicekik itu kan?" Tanya Shiren ketika mengingat kejadian yang menimpa Echa waktu di sekolahnya dulu.
"Iya, dan Hanin juga punya feeling kalau itu Riana, bukan Kak Rara." Jawab Hanin.
"Tapi semua yang terjadi itu mengarah sama Kak Rara." Ucap Ivy.
__ADS_1
"Apa buktinya kalau semua ini karena kak Rara? Bukannya kak Rara udah dikurung dalam peti?" Tanya Hanin.
"Pertama, Kak Rara itu suka sama Kak Bara kan? Tapi Kak Bara tolak karena udah punya Caca. Kedua, kak Rara kenal kita lama banget sedangkan Riana engga. Ketiga, kak Rara gak pengen ada pernikahan karena dia punya rasa sakit dihatinya ketika ngeliat yang lain bahagia sedangkan dia engga, kalau Riana pasti mengarahnya sama kita aja kan? Gak sama kak Tiara, karena kak Tiara gak punya salah sama dia, karena menurut Vivi teror itu hanya tertuju pada mereka yang udah buat sakit hati. Keempat, kita gak bisa menjamin kak Rara benar-benar udah meninggal hanya karena kekuatan kak Bara aja kan? Sedangkan kekuatan kak Rara lebih tinggi, ibunya aja saudara kandung dari bu Lili dan pastinya licik. Kelima, kenapa harus keluarga Bara yang jadi sasaran pertamanya? Karena kak Rara sakit hati. Kenapa sasaran keduanya keluarga Vivi? Karena biar kita terkecoh aja. Keenam, waktu itu ada percakapan yang 'Hai Na.' 'Hai sil.' 'Hai Ra.' yang pernah Caca denger kan? Yang kenal mereka berdua cuman kak Rara. Sedangkan Riana gak kenal Sisil begitupun sebaliknya. Terakhir, kak Rara tau kelebihan kita, jadi dia selalu berhati-hati dalam melangkah." Jelas Ivy menyakinkan teman-temannya bahwa yang menerornya beberapa hari terakhir ini adalah Namira.
"Iya juga sih kalau dipikir-pikir." Ucap Shiren yang setuju dengan pendapat Ivy.
"Pusing banget hidup kita." Ujar Echa sambil menghela nafasnya panjang.
"Mana Kak Nathan, Kak Bara sama Kak Azka lagi gak fit lagi." Sambung Hanin yang kini sedang memijat pelipisnya.
"Kok bisa samaan kayak gitu ya?" Tanya Shiren penasaran ketika tahu bahwa Bara, Nathan dan Azka sakit secara bersamaan diwaktu yang tidak tepat.
"Gak tau, mungkin emang lagi gak fit aja apalagi kak Bara, malem kemarin gak tidur sama gak makan gara-gara ngerjain tugas dari dosen." Jawab Echa menatap kearah shiren.
"Udah cukup sampai kita aja, anak-anak kita jangan ngerasain apa yang kita rasain sekarang." Ucap Hanin sambil menatap kearah Mutiara dan Alvero yang sedang tersenyum bahagia menyambut kedatangan tamunya.
"Iya, kita harus beresin semua ini." Ujar Ivy.
Echa melihat banyak sekali sosok mengerikan yang ikut masuk kedalam gedung ini karena menempel pada beberapa orang dan rata-rata sosok yang menempel adalah sosok korban kecelakaan.
Mungkin ada beberapa mobil yang memang masih menyisakan percikan darah dari korban kecelakaan. Entah memang disengaja atau tidak tapi yang pasti semuanya sangat mengerikan.
Sosok berambut panjang menutupi wajah dengan baju lusuh dan tatapan penuh dendam menarik perhatian Echa. Sosok itu mungkin korban tabrak lari, terlihat dari tatapannya yang penuh dendam dan amarah.
"Btw Hanin selalu disuruh sama Mama buat cepet-cepet nikah sama Kak Nathan dengan alasan biar semuanya kekuatannya semakin besar." Ucap Hanin yang beralih menatap kearah Echa, shiren dan Ivy.
"Lho kok sama kayak ibu Caca? Ibu selalu nyuruh Caca buat nikah sama Kak Bara, alasannya juga sama." Sambung Echa tidak percaya bahwa Ibunya Hanin juga menyarankan hal yang sama.
"Serius? Wah ada bahan buat nyusul nih." Ucap Ivy antusias ketika mendengar ucapan Hanin dan Echa.
"Iya, serius." Ujar Hanin dan Echa kompak.
__ADS_1
"Caca dapet penjelasan yang rinci gak sih kenapa jalan terbaiknya harus nikah?" Tanya Hanin penasaran.