
Saat ini Echa sedang berkumpul bersama dengan teman-temannya membahas tentang yang Shiren alami ketika melihat visual dari energi yang dimiliki oleh Algi.
Shiren menceritakan tentang dia yang melihat wanita berjubah hitam, memiliki kekuatan besar dan pengikut yang sangat banyak, Shiren juga menceritakan tentang percakapan panjang yang sangat jelas terdengar di telinganya.
"Sil? Kakak?" Tanya Hanin bingung ketika mendengar cerita Shiren.
"Apa jangan-jangan?" Tanya Ivy sambil menatap satu persatu teman-temannya itu seolah apa yang dia pikirkan saat ini adalah hal yang sama.
Ivy, Azka, Mutiara dan Alvero sudah berada dirumah Echa beberapa menit yang lalu setelah Echa dan yang lain sudah mengisi perutnya.
Bara dan Echa pun sudah menceritakan semua tentang kejadian yang menurut mereka aneh dan tidak masuk akal selama beberapa hari kebelakang, tanpa ada yang terlewat sama sekali.
"Namira sama Silviana." Jawab semua orang kompak.
"Bukannya dia udah dikurung ya?" Tanya Alvero bingung.
"Balik lagi ke cerita Echa yang denger nama 'Na'." Jawab Hanin.
"Riana?" Tanya Gavin secara tiba-tiba.
"Tapi kayaknya gak mungkin kalau dia yang buka Namira sama Silviana, lagian mereka bertiga sama-sama dikurung." Jawab Azka.
"Iya juga." Ucap Gavin sambil menganggukkan kepalanya.
"Eh tapi sebentar deh, Caca pernah kan mimpi tapi rasanya nyata banget?" Tanya Shiren.
"Iya." Jawab Echa.
"Disitu ada bayangan, api, lambang segitiga sama Kak Bara, kalau menurut Shiren itu satu-satunya jalan keluar." Ucap Shiren.
"Ah iya bener kata Shiren, selama ini gak ada yang peka tentang ilmu hitam selain kak Bara, bahkan kekuatan besar pun yang ditutupi sama mereka Kak Bara bisa tau dan kuncinya ada di Kak Bara." Ujar Hanin sambil menatap kearah Bara.
"Jadi mau gimana?" Tanya Bara.
"Udah gak bisa di pake ya bar strategi nya?" Tanya Nathan. Sedangkan Bara yang mendengar itu langsung mendelik tajam kearah Nathan seolah mengatakan diam.
"Kalau menurut Gavin jangan dulu atur strategi, yang harus kita tau sekarang siapa musuh kita, percuma aja kalau nyusun strategi lama-lama tapi gak tau musuh sama sekali, ibarat angin berhembus ditengah badai. Gak ada gunanya." Jawab Gavin.
"Kita cuman beralibi bahwa musuh kita itu ada tiga, mereka punya kekuatan yang amat besar kalau digabung dan itu bahaya buat kita sendiri." Sambung Gavin.
"Sedangkan kita sendiri belum dapat titik pencerahan soal mereka lagi, kita udah nemu tempat si tuan ini, lewat Hans tapi dia udah tau lebih dulu bahwa apartemen bukan tempat yang aman lagi jadi dia bom tempatnya." Ucap Gavin.
"Bukannya kita udah tau kelemahan mereka? Kenapa gak ambil pelajaran dari yang lalu?" Tanya Ivy.
"Pelajaran yang lalu aja belum cukup buat tau apa kelemahan mereka jika bersatu membalas dendam." Jawab Mutiara.
"Apa gak cukup sampai disekolah kemarin? di villa? Rasanya udah capek banget." Ucap Ivy menghela nafasnya panjang.
"Siapa yang mau kayak gini Vi? Gak ada." Ujar Hanin.
"Tapi kalau diliat-liat yang jadi korban selalu orang terdekat kita." Ucap Nathan.
Mereka tampak berpikir dengan perkataan Nathan, yang dia katakan memang benar, pertama Tania, kedua keluarga Bara, ketiga keluarga Ivy.
"Jadi kesimpulannya kita harus hati-hati sebelum tau cerita Aira, cuman dia yang tau siapa, kemana dan apa aja yang ada disana. Kalau menurut pribahasa adakah buaya menolak bangkai?" Ucap Hanin.
"Berarti kita kunci dulu nama Namira, Silviana sama Riana." Ujar Bara.
__ADS_1
"Iya, sekarang kita pura-pura gak tau aja, biar sedikit tenang meskipun agak bimbang." Ucap Mutiara.
Namun saat Hanin ingin membalas perkataan Mutiara tiba-tiba saja Roslyn turun kebawah menghampiri mereka.
"Ca." Panggil Roslyn.
"Kenapa Bu?" Tanya Echa ketika melihat Roslyn sudah berpakaian rapih.
"Ikut Ibu sebentar, Bara juga ikut ibu sebentar ke kamar." Jawab Roslyn.
Echa dan Bara yang mendapat perkataan seperti itu langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan melangkahkan kakinya mengikuti Roslyn menuju kamarnya.
Sedangkan yang lain saling menatap satu sama lain dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Kayaknya ada yang mau nyusul kak Tiara." ucap Hanin sambil menatap kearah Mutiara.
"Itu rencana Gavin mau nyusul Tiara." ujar Gavin ketika Hanin mengatakan hal yang sudah bisa mereka tebak alur pembicaraannya.
"Duh, banyak banget yang bakal nyusul." ucap Ivy tertawa pelan.
"Kita juga kan?" Tanya Azka sambil menatap kearah Ivy, sedangkan Ivy yang di tatap seperti itu langsung memerah seperti kepiting rebus.
"Gak mau kalah juga." Ucap Nathan sambil menatap kearah Hanin.
Sedangkan saat ini Bara dan Echa sudah berada di kamar Roslyn, melihat dua koper berukuran sedang berada di kamar Roslyn.
"Ibu mau kemana?" Tanya Echa.
"Ibu mau keluar kota dulu ada urusan kerja." Jawab Roslyn yang sedang membereskan lemari pakaiannya.
"Berapa hari?" Tanya Echa.
"2 Minggu? Lama banget Bu." Ucap Echa dengan wajah memelah ketika mendengar perkataan Roslyn.
Sedangkan Roslyn yang mendengar sekaligus melihat ekspresi anaknya itu langsung mendekat kearah Echa sambil tersenyum.
"Makannya ibu nyuruh kalian kesini." Ucap Roslyn.
"Ibu mau bilang jaga diri baik-baik, cuman 2 Minggu kok gak lama, kalau ada apa-apa Caca bisa telpon ibu." Sambung Roslyn sambil mengelus lembut rambut putri sematawayangnya itu.
"Kenapa harus keluar kota Bu?" Tanya Echa.
"Ibu baru tau kalau mama sama papa angkat Caca punya banyak perusahaan diluar kota jadi sayang banget kalau di biarin gitu aja." Jawab Roslyn.
"Janji kan cuman 2 Minggu?" Tanya Echa.
"Iya, ibu usahain." Jawab Roslyn yang kini beralih menatap Bara.
"Ibu titip Caca sama kamu ya, ibu percaya sama kamu." Ucap Roslyn sambil menatap kearah Bara yang berada dibelakang Echa.
"Iya Bu." Ujar Bara sambil tersenyum manis.
"Ibu juga udah bilang sama Bunda buat titip Caca." Ucap Roslyn.
"Itu terserah Caca mau tinggal disini atau atau tinggal dirumah Bara." Sambung Roslyn kini menatap kearah Echa.
"Jadi, kapan mau nikah?" Tanya Roslyn secara tiba-tiba.
__ADS_1
Pertanyaan itu mampu membuat wajah Echa dan Bara memerah seperti kepiting rebus, mereka baru saja membahas tentang nikah.
"Bu.." jawab Echa yang langsung disanggah oleh Roslyn.
"Kalian pasti udah bahas tentang nikah, ya kan?" Tanya Roslyn menatap kearah Bara dan Echa secara bergantian.
Sedangkan yang Echa dan Bara saling menatap satu sama lain seolah bertanya kenapa bisa tahu? Padahal mereka belum berbicara kepada Roslyn ataupun Bunda An.
"Kalian pasti mau nanya, ibu tau darimana?" Tanya Roslyn.
"Jawabannya simpel, Feeling seorang ibu itu kuat." Jawab Roslyn tertawa pelan melihat ekspresi wajah Bara dan Echa.
"Tapi Bu, Caca baru 19 tahun." Ucap Echa kini menatap kearah Roslyn.
"Ibu gak maksa kamu buat nikah sekarang tapi semakin kalian punya ikatan semakin besar kekuatan yang ada dalam diri kalian." Ujar Roslyn sambil tersenyum.
"Maksudnya?" Tanya Echa penasaran.
"Ibu gak bisa jelasin gimana besarnya kekuatan yang ada di dalam diri kalian, ketika udah bersatu nanti, coba tanya Mutiara sama Alvero kalau udah nikah, kalian bakalan liat seberapa besar kekuatan yang bakalan keluar dari tubuh mereka." Jawab Roslyn.
"Apalagi sekarang ibu bisa ngerasain kalau kekuatan musuh yang datang dari masa lalu lebih besar dari yang dulu kalian lawan." Sambung Roslyn.
"Ibu tau siapa orang itu?" Tanya Echa sambil menatap Roslyn.
"Ibu gak tau siapa orang itu tapi ibu bisa ngerasain energi dari orang itu besar banget." Jawab Roslyn.
"Kayaknya ibu udah telat, jadi segitu aja dari ibu, jaga diri baik-baik, ibu selalu nunggu kabar baik dari kalian." Sambung Roslyn sambil membereskan kopernya untuk dibawa menuju mobil.
"Ibu, biar Bara aja yang bawa kopernya." Ucap Bara ketika melihat Roslyn yang sedang menggunakan jam tangan bertuliskan Dior. Roslyn hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil membawa tasnya.
"Kapan nikah?" Tanya Roslyn sambil menepuk pelan bahu Bara.
"Secepatnya Bu." Jawab Bara sambil tersenyum ketika mendapat pertanyaan seperti itu.
"Ibu sama Bunda udah siap punya Cucu." Ucap Roslyn sambil tertawa pelan menatap kearah Echa yang sudah memerah.
"Ibu." Ujar Echa ketika Roslyn menyudutkannya.
"Ibu restuin, tinggal nunggu kabar baiknya dari kalian." Ucap Roslyn sambil mengelus rambut Echa.
"Ibu tunggu di bawah ya, ibu juga mau pamit dulu sama temen-temen kamu." Ujar Roslyn sambil melangkahkan kakinya pergi dari kamar.
"Hari yang baik ya Ca?" Tanya Bara yang melihat wajah Echa masih memerah sejak tadi.
Echa yang di tatap seperti itu langsung memeluk Bara menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bara.
Malu. Itu yang dia rasakan saat ini, Roslyn dan Bunda An sangat senang membahas tentang cucu yang membuat dirinya tidak bisa berkata apapun, hari ini banyak berpihak pada Bara.
"Gimana?" Tanya Bara sambil mengelus kepala Echa yang berada di pelukannya.
"Apa?" Tanya Echa bingung.
"Yang di dapur belum di jawab padahal Ibu sama Mama udah restuin kita." Jawab Bara.
"Tinggal kita bikin cucu buat mereka." Sambung Bara yang langsung mendapat pelototan tajam dari Echa.
"Udah dulu peluknya, Ibu udah lama nungguin koper dibawah." Ucap Bara sambil mengelus lembut kepala Echa.
__ADS_1
Echa melepas pelukannya pada Bara, membiarkan kekasihnya itu turun kebawah membawa koper Roslyn.
Bara melangkahkan kakinya keluar dari kamar Roslyn sambil membawa koper berisi baju dan beberapa berkas diikuti Echa dibelakangnya.