
Echa turun dari motor Devan, dia melepaskan helm yang ada di kepalanya.
"Makasih ya" ucap Echa sambil tersenyum manis dan memberikan helmnya kepada Devan.
"Sama-sama" balas Devan yang juga tersenyum manis sembari menyimpan helm yang Echa berikan padanya.
"Eh, bukannya itu pacar nya kak Bara yang waktu di SMA ya?" bisik seseorang pada teman disebelahnya, namun Echa bisa mendengar bisikan tersebut. Apalagi matanya mengarah pada Echa.
"Iya, dia udah putus ya? Padahal kak Bara ganteng, baik lagi. Kalau gue yang di posisi dia, mana mau ninggalin cowok ganteng kayak Kak Bara." jawab teman sebelahnya dengan nada berbisik.
Echa hanya menghela nafasnya panjang sembari melangkahkan kaki menuju teman-temannya yang tidak jauh dari tempat dia berdiri.
"Caca." panggil Hanin sambil melambaikan tangan kearah Echa agar menghampirinya.
Echa bergegas menuju kearah Hanin yang sedang menunggunya tanpa di temani siapapun.
"Yang lain mana?" tanya Echa ketika sudah berada di samping Hanin.
"Kak Nathan gak ada kelas hari ini, kalau yang lain kayaknya masih di jalan." jawab Hanin.
Namun saat Echa ingin menjawab perkataan Hanin tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampiri kearahnya.
"Kalau gue di posisi dia, gak bakalan sama sekali lepasin Bara." ucap salah seorang wanita yang bisa dibilang memiliki kecantikan diatas rata-rata. Bibir tipis, mata belo, bulu mata lentik dan memiliki gigsul.
Cantik. Itu kesan pertama yang semua orang saat melihat wanita yang baru saja mengeluarkan perkataan tidak sesuai dengan faktanya.
"Ya iyalah, pahatan tuhan yang sempurna itu harus di nikmatin, gak boleh di sia-siain." ucap seorang temannya yang berada di sebelah kanan wanita cantik tersebut.
"Iya, Gel. Kalau gue di posisi, lo. Gue bakalan bener-bener deketin Bara sampai dapat, apalagi kan sekarang abis di tinggalin. Lagi terpuruk banget, Lo cantik, baik, kurang apalagi sih? Beda sama mantannya." ucap seoang temannya yang berada di sebelah kiri.
Hanin mengerutkan dahinya sambil melangkah maju mendekat kearah wanita cantik dengan wajahnya yang angkuh.
"Siapa nama Lo?" tanya Hanin to the point.
"Ah, iya kenalin. Angel Victoria Krystalin." ucap wanita cantik tadi sambil menatap rendah kearah Hanin.
"Temen-temen, Lo?" tanya Hanin sambil menatap kearah dua orang wanita yang berada di sebelah kanan dan kiri Angel. Wanita yang baru saja menyimpulkan bahwa Echa dan Bara sudah putus.
"Kenalin, gue Sheryanasha. Panggil aja Shery." jawab seorang teman angel yang berada di sebelah kanannya.
"Lo?" tanya Hanin sambil menatap kearah teman Angel yang berada di sebelah kirinya.
"Mau tau banget nama gue?" tanya wanita tersebut dengan wajah sombongnya.
"Ya... Gak penting-penting banget sih. Tapi, sebagai mahasiswi baru bisa kan kenalan? Siapa tau satu kelompok nantinya, atau bahkan satu kelas." jawab Hanin dengan ekspresi wajah tidak peduli.
"Reina Flaverline." ucap wanita tersebut sambil memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Tolong bilangin sama temen Lo yang gak tau diri itu, makasih udah mau putus dari Bara. Sekarang giliran gue yang pertahanan dia." ujar Angelin sembari menatap kearah Echa dengan tatapan sinis dan merendahkan.
Echa hanya mengerutkan dahinya, seolah berkata apa maksudnya?
"Gak ngerti atau b*go?" tanya Reina yang melihat ekspresi Echa.
"Heh! Jaga mulut, Lo!" bentak Hanin sambil menatap tajam kearah Reina.
"Wih, ada apa nih?" tanya Devan yang berada di belakang Angel dan teman-temannya.
"Pahlawannya udah dateng, daripada buat masalah mendingan menghindar aja, gatel gue deket-deket sama temen yang suka makan temen." ucap Angel kepada teman-temannya.
"Tapi Gel... Lo gak mau liat, dia ganteng juga lho..." ujar Shery sembari menatap lekat wajah Devan yang memang sangat tampan bila dilihat sedekat ini, apalagi matanya. Sungguh membuat candu, seolah larut dalam lautan ketenangan.
"Ck, udah. Ayo, Lo emang gak bisa bedain mana posisi aman sama gak aman." bisik Reina sambil menarik tangan Shery agar pergi dari parkiran.
Hanin, Echa dan Devan hanya tertawa pelan melihat tingkah mahasiswi baru yang sok berkuasa.
"Kenapa?" tanya Devan menatap kearah Echa seolah meminta penjelasan.
"Gak tau, semua orang pada gak jelas." jawab Echa yang masih tertawa pelan melihat Shery terus menatap Devan tanpa berkedip, meskipun tangannya sudah di tarik pergi oleh Reina.
"Udah, ayo. Mungkin lagi banyak beban, kita liat-liat aja dulu kampusnya." ajak Hanin sambil menggenggam tangan Echa.
Mereka bertiga melangkahkan kakinya untuk melihat kampus yang akan mereka tempati. Awal yang tidak menyeramkan jika dilihat dengan mata batin.
Banyak tanaman-tamanan yang berjajar rapih dengan warna yang tidak saling bertabrakan.
"Gila, bagus banget." ucap Hanin yang terpana melihat keindahan kampus bertuliskan starshine di atas gedung.
Universitas 6 lantai ini sangat megah dan mewah. Mereka yang masuk universitas starshine bukanlah orang yang mengandalkan uang. Tapi, mengandalkan nilai. Meskipun tak sedikit orang yang menggunakan uang meskipun 5 kali lipat lebih besar daripada mereka yang masuk karena IQ.
"Ca, Nin. Devan kesana dulu ya," ucap Devan.
"Iya," ujar Echa dan Hanin kompak.
"Kalau ada apa-apa telpon aja," ucap Devan sambil melangkahkan kakinya menuju kearah beberapa laki-laki yang sedang berkumpul di lapangan basket.
Hanin dan Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, mereka masih terpana melihat kemegahan kampus yang akan mereka tempati. Tidak terlalu mengerikan, pikirnya.
Saat pertama masuk, tidak ada hal janggal apapun. Mereka menganggap universitas ini akan aman-aman saja. Meskipun tidak aman sepenuhnya. Setidaknya, tidak seperti sekolahnya dulu. Penuh dengan memori menyakitkan.
Echa melihat banyak orang yang sedang pusing memikirkan skripsi. Beberapa diantaranya hanya bisa pasrah dan berdoa pada Tuhan. Echa bisa membaca pikiran mereka yang sedang kalut dan acak-acakan.
"Oh, ini mantannya Bara. Bisa-bisanya ya, bara mau sama cewek yang modelan begini." ucap salah seorang mahasiswi yang Echa prediksi sudah semester 3.
Echa hanya mengernyitkan dahinya sambil menatap kearah seorang perempuan yang biasa-biasa saja. Hanya memiliki jabatan sebagai kakak tingkat saja.
__ADS_1
"Maaf, kakak siapa, ya?" tanya Echa.
"Kasih paham guys." jawab wanita yang berdiri dihadapan Echa kepada 3 teman yang berada di belakangnya.
"Claryn Erva Amalia. Anak pengusaha terkaya nomor 11. Kalian cari gara-gara sama dia, hidup kalian gak bakalan aman." ucap salah seorang teman Claryn yang berada di sebelah kanannya.
"Dia bisa melakukan segala cara hanya dengan mengucapkan satu kata. Ini peringatan buat kalian." ujar seorang teman Claryn yang berada di samping kiri.
"Yang harus kalian ingat. Bara. Dia kekasih Claryn saat ini," sambung teman Claryn dengan penampilan yang bisa dibilang tomboi. Bukan feminim seperti teman-teman yang lainnya.
"Lo..." ucapan Hanin tertahan ketika Echa mencegah Hanin untuk melangkah maju.
"Buktinya?" tanya Echa masih menatap lekat mata Claryn.
"Kayaknya kita gak perlu habisin energi buat bahas Bara ke mantannya." jawab salah satu teman Claryn yang berada di sebelah kanan.
"Prita Zafhani. Bairin mantannya Bara tau kalau sekarang Bara lebih bahagia sama Claryn." ucap salah satu teman Claryn yang berada di sebelah kiri.
"Ada benernya juga apa yang di bilang Chelia." ujar Claryn tersenyum sinis kearah Echa. "Lita. Kasih tau dia." Claryn menatap kearah wanita yang berpenampilan tomboi.
"Oke, to the point aja. Claryn pernah di antar jemput sama Bara." ucap Lita singkat namun dapat menusuk hati Echa.
Dia masih menatap lekat mata Claryn, membaca pikirannya. Bohong. Itu pertama yang Echa tangkap.
Untung aja bohong, kalau sampai beneran. Bisa-bisa Kak Bara abis sama Caca. ucap Echa dalam hati dengan amarah yang dia tahan.
Kenapa Bara yang harus disalahkan jika memang benar? Perempuan akan mendekat jika diberi harapan. Meskipun hanya perhatian kecil.
"See? Lo panas kan?" tanya Claryn.
Echa tersenyum manis kearah Claryn dan teman-temannya. "Maaf ya, kak. Tapi akting kakak kurang bagus."
Echa melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Claryn, dia menuntun tangan Hanin agar mengikuti dirinya. Sedangkan Claryn melongo tak percaya. Seolah ekspresi wajahnya itu mengatakan bahwa, kenapa Echa tahu dia sedang berbohong?
"Ah Ca! Padahal biarin Hanin tampar kakak tingkat 3 yang gak tau diri itu." ucap Hani saat Echa terus menuntunnya.
"Biarin aja, lagian udah biasa ngadepin yang kayak gitu. Tenang aja, Caca udah tahan banting. Caca juga percaya sama kak Bara." ujar Echa sambil melihat kampus nya yang sangat luas dan mewah tersebut.
"Seengganya, biarin Hanin tampar. Udah lama gak tampar orang dari beberapa bulan yang lalu," ucap Hanin. "Eh... Wait. Kenapa semua orang bilang Caca udah putus sama kak Bara?" tanya Hanin bingung ketika semua orang mengira Echa dan Bara sudah tidak memiliki hubungan apapun.
"Mungkin Caca berangkat sama Devan." jawab Echa santai.
"Tapi, kalau bukan gara-gara itu?" tanya Hanin.
"Ya, Caca tinggal tanyain sama Kak Bara, kenapa ada isu yang kayak gini." jawab Echa.
Awal yang lumayan buruk untuk mengawali hari yang manis bagi mahasiswi baru. Tapi, Echa sudah menduga hal ini akan terjadi. Dimana dirinya akan diintrogasi tentang hubungannya dengan Bara atau bahkan di labrak.
__ADS_1
"Mending banyak liat hantu daripada liat manusia yang modelan kayak tadi." ucap Hanin.