TEROR

TEROR
|41| MIMPI


__ADS_3

Echa langsung membuka matanya, dia melihat sekeliling, dirinya sedang berada di ruangan bunda An sendirian.


Nafasnya memburu seperti orang yang habis lari maraton, tubuhnya berkeringat dingin, ternyata itu hanya mimpi.


Tapi apa itu bisa disebut mimpi? Terlihat seperti sebuah petunjuk dan gambaran yang sudah terjadi.


"Cuman mimpi.." ucap Echa sambil bangun dari tidurnya dan meminum air putih yang berada di atas meja.


Setelah sarapan tadi, Echa merasakan matanya sangat berat, maklum saja malam tadi dirinya tidur jam 2 dini hari karena berdebat dengan Bara.


Setelah sarapan Echa memutuskan untuk memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


"Bunda." Ucap Echa sambil melihat kearah Bunda An yang masih memejamkan matanya, dia melangkahkan kaki kearah Bunda An dan melihat ke sekitar lehernya. Tidak ada luka apapun, bahkan tidak ada luka cekikan seperti yang Echa lihat dalam mimpinya itu.


Syukurlah tidak ada luka apapun, Echa dapat memastikan bahwa itu hanya mimpi buruk saja tapi anehnya itu terasa seperti nyata.


"Bunda.." panggil Echa sambil mengelus tangan bunda An.


Echa menghela nafasnya panjang, semoga saja mimpi itu bukan visual nyata yang terjadi pada Tania dan Bunda An.


Tapi jika diingat lagi, orang yang terlihat seperti bayangan itu memiliki kesamaan dengan orang yang membunuh Tania.


Banyak pertanyaan yang keluar dari benak Echa, namun dia menepis pertanyaan itu karena semua yang dia lihat hanyalah dalam mimpi bukan sebuah visual masa lalu.


"Ca." Panggil seseorang sambil membuka pintu ruangan Bunda An, Echa langsung melihat kearah sumber suara dan orang yang memanggil namanya itu adalah Roslyn.


"Ibu, udah pulang?" Tanya Echa yang melihat Roslyn mendudukkan dirinya di sofa.


"Udah dari tadi." Jawab Roslyn.


"Sejak kapan?" Tanya Echa.


"Pas Caca tidur." Jawab Roslyn.

__ADS_1


"Oh iya Bu, tadi Caca mimpi aneh." Ucap Echa yang kembali teringat dengan mimpinya.


"Mimpi apa Visual?" Tanya Roslyn.


"Caca juga gak tau, mau dibilang mimpi berasa kayak visual, nyata banget. Mau dibilang visual tapi gak ada tanda-tandanya." Jawab Echa.


Echa menceritakan tentang mimpi yang terjadi padanya, semuanya dia ceritakan kepada Roslyn dengan jelas tanpa ada kekurangan apapun.


"Di leher bunda gak ada apa-apa kan?" Tanya Roslyn setelah mendengar cerita Echa.


"Gak ada, waktu ayah bangun juga, gak bilang apa-apa sama Caca." Jawab Echa.


"Itu cuman mimpi buruk aja, kalau gak ada tanda-tanda apapun, kalau visual biasanya suka ada tanda-tandanya." Ucap Roslyn sambil melangkahkan kakinya kearah Bunda An, untuk melihat kondisinya.


Benar saja, tidak ada apapun dilehernya itu, tidak ada jejak cekikan atau bahkan luka gores.


"Semuanya bakalan baik-baik aja kok, jangan terlalu di khawatirin, itu cuman mimpi buruk." sambung Roslyn sambil mengelus punggung Echa.


"Ada diruangan ayah." Jawab Roslyn.


"Caca kesana dulu ya Bu." Ucap Echa.


"Iya, kalau mau pergi jenguk Vivi, pergi aja biar ibu yang jaga disini." Ujar Roslyn.


"Iya Bu." ucap Echa sambil tersenyum manis kearah Roslyn. Roslyn hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Echa melangkahkan kaki keluar dari ruangan bunda An untuk menuju ruangan Daniel yang berada di sebelahnya.


Pemandangan pertama yang Echa lihat adalah ruangan yang terlihat acak-acakan, dipenuhi oleh sampah yang berserakan dimana-mana, Bara, Gavin, Alvero dan Nathan yang sedang bermain game sedangkan Mutiara dan Hanin entah pergi kemana.


Echa hanya bisa menghela nafasnya panjang sambil menatap kearah Bara yang sedang menatap kearahnya juga.


"Ayah udah minum obat lagi?" tanya Echa sambil melangkahkan kakinya kearah Daniel yang tertidur pulas.

__ADS_1


"Belum." Jawab Bara kembali menatap ponselnya.


"Kenapa? ini udah lewat waktunya kak." ucap Echa yang melihat buburnya masih utuh beluk dimakan sama sekali. Echa melihat jam sudah menunjukkan pukul 14.00


"Gak mau makan buburnya." ujar Bara.


"Ayah.." panggil Echa membangunkan Daniel. namun tidak ada sahutan dan pergerakan dari Daniel.


"Ayah, minum obat dulu, nanti sakit lagi badannya." ucap Echa. Daniel membuka matanya perlahan menatap kearah Echa yang sedang tersenyum.


"Makan dulu." ujar Echa sambil membawa mangkuk berisi bubur yang masih belum dimakan.


"Gak mau, gak ada rasanya." ucap Daniel yang tidak membuka mulutnya.


"Ayah, sedikit aja dua sendok atau tiga sendok." ujar Echa sambil menyuapkan bubur kemulut Daniel, Daniel mau tak mau membuka mulutnya untuk menerima bubur tersebut.


Suapan demi suapan masuk kedalam mulut Daniel hingga bubur itu habis tak tersisa lagi. Bara yang melihat itu tersenyum tipis menatap kearah Echa yang dengan telaten menyuapi ayahnya.


"Beruntung ya Bar?" tanya Gavin dengan suara berbisik ketika melihat Bara sedang menatap Echa.


"Iya." jawab Bara sambil tersenyum dan kembali menatap layar ponselnya.


Echa sudah selesai memberikan obat kepada Daniel, dia menyuruh Daniel kembali beristirahat.


"Kak, Hanin sama Kak Tiara kemana?" Tanya Echa.


"Tadi izin pergi ke luar mau beli cemilan buat jenguk Vivi." jawab Nathan.


"Kapan mau kesana?" tanya Echa.


"Nanti malam." jawab Bara tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel.


Echa tidak menjawab perkataan Bara, dia membersihkan ruangan Daniel dari sampah yang berserakan.

__ADS_1


__ADS_2