TEROR

TEROR
|150| LEON


__ADS_3

"Hai, Niko." sapa Roslyn yang sudah mulai sampai di tempat kedua pria tersebut duduk.


"Ros, silahkan duduk, saya akan memesan makanan," ucap pria bernama Niko dengan senyumannya, mempersilahkan Echa, Qiara dan Roslyn duduk di hadapannya.


"Terimakasih," ucap Roslyn yang kini sudah duduk dihadapan Niko sedangkan Echa duduk di hadapan seorang pria yang entah namanya siapa. Pandangan pria tersebut seolah tak lepas dari pergerakan Echa.


"Ca, kenalin ini Om Niko, partner kerja Ibu selama di Bandung," ucap Roslyn kepada Echa yang terlihat tidak nyaman.


"Hai, Om. Aku Caca," ujar Echa sembari mengulurkan tangan dengan senyuman manisnya.


Niko menerima uluran tangan Echa. "Kamu cantik ya. Udah punya pacar belum?"


"Eh..." gumam Echa kaget ketika Niko tiba-tiba saja mengajukan pertanyaan tersebut.


"Dan ini Qiara, anak saya juga." ucap Roslyn untuk mengalihkan pembicaraan.


"Hai Om," sapa Qiara dengan suara khas anak kecil yang manja.


"Qiara, nama yang cantik." ucap Niko sembari mengelus lembut rambut Qiara.


"Ca, om mau ngambil pesenam dulu, kamu gak apa-apa kan sama Leon dulu?" tanya Niko sembari menatap kearah seorang lelaki tampan yang berada di sampingnya. Dengan berbalut jas yang senada dengan baju Echa.


"Sure om," jawab Echa sembari tersenyum manis.


"Qiara mau ikut sayang?" tanya Niko sembari mengulurkan tangannya.


Qiara menerima uluran tangan tersebut sembari mengikuti setiap langkah besar Niko menuju meja kasir yang lumayan jauh dari tempatnya duduk.


Hening. Keadaan yang sedang Echa jalani, tidak ada pembicaraan apapun, tatapan Leon seolah membuat Echa terintimidasi.


"Nama gue Leon," ucap pria tersebut yang kini sudah merubah tatapannya menjadi teduh.


"Ehh... Caca, Kak." Echa gelagapan saat menjawab pertanyaan Leon. Suaranya pelan namun tegas.

__ADS_1


Leon tertawa pelan saat melihat wajah menggemaskan Echa ketika kaget, wanita manis dengan gaun berwarna yang senada dengannya membuat mereka terkesan seperti sepasang kekasih.


"Kakak kuliah atau kerja?" tanya Echa untuk mencairkan suasana, sebenarnya dia tahu apa yang dipikirkan oleh Leon. Dia tertarik padanya, hanya tertarik menurutnya tidak masalah.


"Dua-duanya," jawab Leon seadanya. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia terpikat dengan mata indah milik Leon.


"Mata kakak bagus ya? Caca pengen punya mata kayak gitu," ucap Echa sembari tersenyum.


"Kamu gak bisa punya mata kayak gini," balas Leon.


"Emang iya si, Caca gak bakalan bisa punya mata kayak gitu," gumam Echa yang masih bisa di dengar oleh Leon.


Dia tersenyum kearah Echa yang sedang menundukkan kepalanya, "Tapi, masih punya harapan."


Echa mengangkat kepala, menatap penuh harap kearah Leon, " Gimana caranya? bisa ya operasi pupil? sakit gak?" tanya Echa bertubi-tubi.


Leon tertawa menanggapi pertanyaan Echa yang sangat antusias. "Bukan."


"Terus gimana?" tanya Echa penasaran.


Echa mengerjapkan matanya ketika mendengar jawaban Leon. Otaknya sudah mencerna ucapan Leon. Namun, mulutnya tertutup rapat.


"Will you marry me?"


DEG!


Pertanyaan itu bagaikan petir disiang bolong. Tangannya gemetar, dadanya bergemuruh hebat, nafasnya tercekat dan Echa tidak tahu harus menjawab bagaimana.


Echa memfokuskan matanya untuk membaca pikiran Leon dan hasilnya memang tidak main-main, cowok blasteran ini sifatnya mirip sekali seperti Bara. Tidak pernah main-main dengan ucapannya.


"Ha?"


Leon tersenyum sembari mengelus lembut tangan Echa yang berada di genggamannya. "Mungkin ini terlalu tiba-tiba, kita juga baru pertama kali ketemu, tapi gue bener-bener sejatuh cinta itu sama Lo."

__ADS_1


"Kak Leon, mungkin kakak terlalu cepat buat jatuh cinta sama Caca, Caca gak sebaik apa yang kakak liat sekarang dan kakak perlu menyelam jauh ke dalam kehidupan Caca, bahkan kalau kakak masuk ke dalam hidup Caca, diri kakak ada di tepi jurang," jelas Echa sembari tersenyum manis dan menarik perlahan tangannya yang berada dalam genggaman Leon.


"Lo manis, Lo gak ngebosenin buat diliat, Bahkan gue juga gak tau sama diri gue kenapa bisa dengan mudahnya jatuh cinta dalam satu menit aja sama Lo dan Lo juga bisa liat, gue gak pernah sejatuh ini sama cewek," ucap Leon yang kini menggenggam tangan Echa sembari mencium punggung tangannya.


"Kak, Caca gak tau harus jawab kayak gimana, ini tiba-tiba banget buat Caca," balas Echa yang kembali menarik tangannya dengan halus, dia membalas genggaman tangan Leon. "Kalau Caca memang jodoh kakak, kita pasti bakalan ketemu lagi dengan versi yang saling mengenal, versi yang jauh lebih dewasa dan matang dalam segala hal."


"Kalau gitu, kita pacaran."


Echa kembali mengerjapkan matanya, kenapa laki-laki satu ini begitu to the point? bahkan tidak memberi ruang untuk bernafas bagi Echa.


"Kak Caca!" Teriak Qiara sembari membawa es krim di tangannya.


Echa tersenyum melihat Qiara berlari kearahnya, dia mendudukkan Qiara di pangkuannya. membersihkan eskrim yang mengotori bibirnya.


"Nanti dimarahin ibu lho Qia," ucap Echa.


"Qiara di kasih sama om, kan gak baik nolak rezeki," ujar Qiara sembari tersenyum manis dengan mulut yang di penuhi oleh eskrim.


"Kalau ibu marah, Kak Caca gak bakalan bantu Qia," balas Echa.


Qiara tidak mengindahkan ucapan Echa, dia malah asyik memakan Eskrim tersebut, seolah bahagianya memang terletak pada eskrim.


"Okay, kita tinggal nunggu pesananya datang," ucap Niko yang duduk di sebelah Leon, lelaki yang baru saja mengajak Echa untuk seumur hidup bersama dengannya.


Tatapan Leon tak pernah lepas dari setiap tawa dan senyum yang Echa keluarkan. wanita yang mampu membuat dirinya tergila-gila hanya dalam satu detik tanpa alasan.


"Loh Ra... kenapa makan eskrim? baru aja sembuh dari batuk," ucap Roslyn sembari duduk disebelah Echa dan melihat kearah Qiara yang sedang membawa dua buah eskrim di tangannya.


"Bukan Qia yang minta Bu, om Niko yang ngasih Qia dua," balas Qiara yang masih asyik memakan Eskrim kesukaannya.


"Jadi, gimana Ca?" tanya Leon tiba-tiba, membuat Niko dan Roslyn menatap kearah orang yang baru saja bertanya kearah Echa.


Alih-alih menjawab pertanyaan Niko dan Roslyn, Leon malah berlalu pergi kearah panggung kecil yang berada di dalam hotel, meminta izin kepada pengisi acara untuk meminjam nya sebentar.

__ADS_1


Pemilik acara tersebut mempersilahkan Leon untuk berdiri diatas panggung sembari membawa mic. Semua orang tertuju kepada Leon, senyuman manis dan mata indah miliknya membuat dia menjadi yang paling tampan malam ini. Echa tidak menyangkal bahwa Leon tidak menarik malam ini. Setelan jas hitam yang melekat di tubuhnya menambah kesan gagah dan tegas bagi Leon.


__ADS_2