
Echa menghela nafasnya panjang, dia tidak ingin mempermasalahkan hal yang menguras energinya. Echa melangkahkan kakinya lagi menuju sofa. Namun, Safira tiba-tiba saja menendang kaki Echa, membuat dia tersungkur, hingga dahinya membentur ujung meja yang runcing.
Dugh.
"Aww..."
Echa merasakan pandangannya yang mulai buram, dia juga merasakan sesuatu yang hangat keluar dari dahinya.
"Darah..." gumam Echa ketika melihat darah menetes ke lantai.
"Makannya kalau masih magang tau diri dikit lah! Bangun! Gak usah lebay!" bentak Safira menarik Echa untuk berdiri.
Jujur saja, saat ini kepalanya terasa pening, penglihatannya mulai tidak beraturan.
"Lemah!" bentak Safira.
"Lepas..." ucap Echa dengan suara lemah.
Safira mengambil botol berisi air yang ada di atas meja. Dia langsung menumpahkan air tersebut di kepala Echa membuat luka yang ada di dahinya semakin perih.
"Gak usah macem-macem!" seru Safira.
Cklek.
Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka, membuat Safira segera melepaskan tangannya dan melemparkan botol kesembarang arah.
"Caca," ucap orang tersebut sembari berlari kecil kearah Echa yang sudah tidak karuan. Darah yang terus menetes, baju basah kuyup, rambut berantakan dan ada beberapa luka goresan.
"Kak Bara..." gumam Echa yang langsung memeluk tubuh Bara.
Bara segera membaringkan tubuh Echa di sofa dan menutup lekukan tubuh Echa menggunakan jasnya.
"Tolong bawakan kotak P3K," titah Bara kepada karyawan yang tadi mengikuti dirinya rapat.
Bara menetap tajam kearah Safira. Tidak ada orang lagi selain Safira diruangan ini yang baik-baik saja.
"Tuan, dia yang mulai duluan, anak magang ini yang membuat saya melakukannya. Dia ingin mengambil informasi dan data mengenai perusahaan," ucap Safira ketakutan.
Bara sama sekali tidak menjawab perkataan Safira, dia mengepalkan tangannya.
"Keluar!" titah Bara.
"Tapi tuan.... Sungguh, dia ingin mengambil data perusahaan," ucap Safira.
"Mulai detik ini, saya memecat anda dengan tidak hormat. Segera tinggalkan ruangan ini secepatnya!" seru Bara yang masih menatap tajam Safira.
"Di...pe...cat?" tanya Safira gugup ketika melihat tatapan Bara yang lebih mengerikan dari hari biasanya.
"Tapi saya sudah menyelamatkan perusahaan tuan, kenapa tuan harus memecat saya? Anak itu yang salah," sanggah Safira untuk membela dirinya sendiri.
"Kak..." panggil Echa sembari menggenggam tangan Bara dan tersenyum manis.
"Ya? Sebentar ya, Sakit hm?" tanya Bara dengan nada lembutnya.
Semua orang yang ada disana dibuat heran oleh sikap Bara. Mereka hanya mengenal Bara yang dingin dan tidak tersentuh. Bahkan, Untuk diajak bercanda pun Bara terlalu mengerikan.
Echa menggelengkan kepalanya. "Dingin."
"Panggilkan Irina, cepat!" titah Bara.
"Biar saya yang panggilkan tuan," ucap Safira sambil tersenyum.
"Tidak! Biarkan yang lain, saya belum selesai dengan anda!" seru Bara. Sedangkan beberapa karyawan yang melihat Bara marah besar itu bergegas mencari Irina.
__ADS_1
"Are u okay?" tanya Bara khawatir.
"Not fine." jawab Echa sambil menatap tajam kearah Safira.
"Bar, kenapa rame-rame gi... Caca." ucap Daniel sambil melangkahkan kakinya panik kearah Echa.
"Bara. Kenapa bisa kayak gini?" tanya Daniel ketika melihat Echa yang berdarah dan basah kuyup seperti ini.
"Tanya sama sekertaris papa, cuman dia yang baik-baik aja di ruangan ini," jawab Bara yang masih menatap tajam kearah Safira.
Daniel yang mendengar jawaban Bara langsung menatap kearah Safira seolah meminta jawaban dari dirinya juga.
"Tuan besar, anak magang ini yang mulai duluan. Dia mengambil data-data perusahaan." cicit Safira.
Daniel mengeraskan rahang dan mengepalkan tangannya.
Brak! Prang...
Kaca meja yang berada di ruangan pecah ketika Daniel memukulnya, membuat semua orang terlonjak kaget.
"Ayah ..." panggil Echa. Namun, segera di cekal oleh Bara agar tetap diam.
"Kamu bilang anak magang?!" Bentak Daniel.
"Iii...yyaa tuan, dia yang mulai duluan bukan saya." ucap Safira.
"Tanya beberapa pegawai kantor disini. Saya tidak pernah memperkerjakan anak magang. Saya merekrut orang-orang dengan pengalaman yang tinggi.Dan mengambil beberapa orang dari perusahaan lain. Cuman anda saja yang tidak memiliki pengalaman apapun. Dan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan di kehidupan saya." ucap Daniel penuh penekanan. Membuat Safira benar-benar diam tak berkutik.
"Dia anak saya, bahkan satu kantor pun tahu siapa dia. Tidak ada yang pernah bisa melukainya. Saat ini, anda sudah melukainya. Saya pecat anda dengan tidak hormat. Dan saya pastikan setelah itu tidak ada perusahaan lain yang menerima anda lagi." ujar Daniel sambil menyeret Safira keluar dari ruangan. Membuat semua orang yang melihatnya pun takut dan kembali ke tempatnya masing-masing.
"Tuan," ucap seorang wanita cantik yang mampu membuat Echa dan Bara mengalihkan pandangannya dari Safira.
"Kak Mira ..." gumam Echa ketika melihat wajah wanita tersebut mirip dengan Mira.
"Panggil saya jika sudah selesai," ucap Bara sembari mengendong tubuh Echa untuk masuk kedalam ruang pribadinya diikuti oleh Irina.
Mau tak mau Echa harus mengalungkan tangan dileher Bara. Jika tidak, dia akan jatuh.
"Kak," panggil Echa ketika melihat Irina sedang berada di kamar mandi untuk mempersiapkan air hangat.
"Iya? Kenapa?" tanya Bara dengan tatapan teduhnya.
"Kok gak kasih tau Caca ada orang yang mirip kak Mira?" tanya Echa dengan suara pelan.
"Dia baru masuk beberapa hari yang lalu," jawab Bara.
Mira. Dia kakaknya Devan yang telah tiada. Wajah Irina adalah wajah yang dicari-cari oleh Devan.
"Tolong telepon Devan suruh kesini ya?" pinta Echa.
Bara yang mendengar permintaan Echa langsung memasang wajah datarnya.
Cup
Satu kecupan mendarat di pipi Bara, membuat si pemilik pipi tersebut menahan senyumannya.
"Love you," bisik Echa.
"Love you too," jawab Bara.
"Tuan maaf, apa bisa keluar sebentar," ucap Irina yang baru saja keluar dari kamar mandi. Bara hanya menganggukkan kepala dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Kak, jangan lupa telepon Devan kesini ya," ucap Echa sebelum Bara keluar dari ruangan.
"Iya, secepatnya, tapi ada hadiahnya ya?" ujar Bara dengan senyumannya.
Irina yang melihat senyuman itu hanya acuh, tidak ada wanita yang acuh seperti Irina saat melihat senyuman Bara yang jarang dikeluarkan itu.
"Maaf, saya harus memanggil nyonya apa?" tanya Irina.
Echa menatap kearah Irina dengan senyumannya. "Rin, gak usah canggung panggil Caca aja, kita seumuran kan?" tanya Echa.
"Ehh... Tapi..." ucapan Irina langsung disanggah oleh Echa.
"Caca gak mau ada penolakan ya," ujar Echa membuat Irina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Biar saya bantu," ucap Irina sambil memapah Echa untuk masuk ke kamar mandi.
"Ca, bajunya?" tanya Irina ketika Echa sudah masuk kedalam bathtub.
"Iya, ya? Coba tanya ke Bara." jawab Echa membuat Irina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Devan," ucap Echa sembari tersenyum manis.
30 menit telah berlalu, Echa sudah selesai membersihkan tubuhnya dengan baju yang melekat dibantu oleh Irina.
"Sudah selesai Tuan," ucap Irina ketika Echa sudah selesai membersihkan tubuhnya.
"Irina, tunggu sebentar di ruangan saya dulu sebentar, ada yang saya ingin bicarakan." ujar Bara sambil masuk kedalam ruangan pribadinya.
Bara mendudukkan dirinya di samping Echa yang sedang memejamkan matanya.
"Gimana Devan?" tanya Echa tanpa membuka matanya.
"Lagi di jalan," jawab Bara.
"Caca ajak Irina buat bantuin pernikahan Hanin," ucap Echa perlahan membuka matanya ketika Bara sedang membersihkan dan mengobati lukanya. Padahal, sudah Irina lakukan.
"Oke. Terus hadiahnya?" tanya Bara dengan senyuman jahilnya.
"Gak ada," jawab Echa sambil menatap tajam Bara.
"Disini aja," ucap Bara sembari menunjuk kearah bibirnya yang tipis.
"Gak ada. Jangan aneh-aneh kak!" seru Echa.
Bara tidak menjawab perkataan Echa, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Echa. Membuat Echa memundurkan wajahnya perlahan.
Cklek.
"Bara, gimana keadaan Caca?"
Pertanyaan itu membuat Bara sontak menjauhkan wajahnya.
"Pa... Bisa gak sih ketuk dulu pintunya," jawab Bara saat melihat orang tersebut adalah Daniel. Ayahnya.
"Suka-suka papa lah, ruangan papa juga. Belum jadi ruangan kamu," ucap Daniel sambil melangkahkan kaki mendekat kearah Echa.
"Gimana keadaan kamu? udah baikkan?" tanya Daniel sembari mengelus lembut kepala Echa.
"Pa, jangan pegang-pegang." ucap Bara sembari menurunkan tangan Daniel dari kepala Echa.
"Suka-sukalah," ujar Daniel.
"Ya kan papa udah punya mama, gak usah lagi pegang-pegang punya Bara." ucap Bara.
__ADS_1