TEROR

TEROR
|36| KEPUTUSAN


__ADS_3

Echa dan Bara sudah berada di rumah sakit, Echa dan Bara mendapat kabar bahwa Aira koma dan akan dirawat di ruangan khusus. Bahkan mereka baru saja menjenguk Aira yang terbaring lemah.


Saat ini Echa sedang melangkahkan kakinya menuju ruang inap Daniel dan Bunda An.


"Kakak mau keruangan papa dulu, Caca duluan aja keruangan mama." ucap Bara yang sedang melangkahkan kaki bersama dirinya.


"Iya, nanti Caca juga mau jenguk ayah." ujar Echa. Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Mereka berdua masuk kedalam ruangan yang berbeda meskipun ruangannya bersebelahan.


"Permisi Bi.." panggil Echa sambil membuka pintu ruangan bunda An.


"Eh Caca, sini Nak." Sahut Bi Neni yang sedang membersihkan ruangan bunda An.


"Ibu kemana Bi?" Tanya Echa yang tidak melihat keberadaan Roslyn.


"Baru aja pergi ke kantor." Jawab Bi Neni.


"Semalam ibu gak tidur ya?" Tanya Echa dengan wajah cemas.


"Ibu tidur kok, bibi yang maksa ibu buat tidur dan bibi jaga Aira." Jawab Bi Neni.


"Bunda udah bangun?" Tanya Echa.


"Belum, ibu juga gak bilang kalau bunda udah bangun." Jawab Bi Neni.

__ADS_1


"Makasih ya Bi udah jagain Bunda sama ibu, sekarang Bibi pulang aja, biar Caca yang jagain Bunda." Jawab Echa.


"Tapi.." ucap Bi Neni yang langsung disanggah oleh Echa.


"Bibi pulang dulu, istirahat, tidur, jangan dulu bersih-bersih dirumah, siapa tau nanti malem Caca butuh Bibi buat jagain Bunda." ujar Echa sambil tersenyum kearah Bi neni.


"Yaudah kalau itu maunya, nanti telpon bibi kalau Caca butuh Bibi ya.. sekarang bibi pulang dulu ya." ucap Bi Neni sambil melangkahkan kakinya pergi untuk mengambil tasnya dan keluar dari ruang inap Bunda An.


Kini yang tersisa hanya Echa sendirian di ruang Bunda An. Dia kembali teringat dengan ucapan teman-temannya. Itu membuatnya bersalah sekaligus sakit secara bersamaan.


Echa melangkahkan kakinya menuju jendela kamar ruangan tersebut, melihat orang berlalu lalang, matanya tertuju pada 4 orang gadis berusia sekitar 16 tahun yang sedang tertawa terbahak-bahak.


4 orang gadis itu mengingatkan Echa kepada teman-temannya yang selalu ada ketika Echa berada dalam kesusahan, suka maupun duka. Tapi kali ini Echa sendirian.


"Kalau itu yang kalian mau gak apa-apa, Caca terima." ucap Echa sambil tersenyum pedih.


Echa menahan air matanya agar tidak turun, dia melangkahkan kakinya menuju bunda An yang sedang terbaring lemah. Seperti tidak memiliki darah.


"Bunda, ini Caca. Bunda kapan bangun?" Tanya Echa sambil duduk di samping bunda An yang sudah di sediakan kursi.


"Bunda jangan lama-lama ya istirahatnya, Caca bakalan selalu jagain Kak Bara sesuai yang bunda minta selama bunda istirahat, cepet bangun ya bunda.. suruh Aira pulang sama suara bunda." sambung Echa sambil menggenggam tangan Bunda An dan mengelusnya pelan.


"Caca bakalan selalu nungguin bunda bangun, cepet bangun ya bunda dari istirahatnya." ucap Echa sambil tersenyum manis.


Cklek..

__ADS_1


Seseorang membuka ruang inap Bunda An, Echa langsung melihat kearah pintu tanpa melepaskan genggaman tangannya pada bunda An. Siapa lagi kalau bukan Bara? Tidak ada yang mengetahui tentang keadaan Bunda An, Daniel dan Aira selain keluarga Echa.


"Gimana keadaan ayah?" Tanya Echa.


"Belum bangun." Jawab Bara kembali menutup pintu ruangan dan melangkahkan kakinya kearah bunda An.


"Kakak gak mau hubungin temen-temen kakak?" Tanya Echa saat Bara sudah berada di hadapannya.


"Gak perlu. Caca juga gak perlu jelasin atau ngasih tau lagi semuanya sama mereka, cukup Caca aja yang tau keadaan keluarga kakak. Cukup Caca yang tau sedih sama susahnya kakak sekarang, orang lain gak perlu tau." Jawab Bara sambil menatap kearah bunda An yang sedang nyaman memejamkan matanya itu.


"Tapi mereka sahabat kakak, mereka yang selalu ada buat kakak sebelum ada Caca." Ucap Echa.


"Siapapun bisa jadi musuh dalam selimut." ujar Bara.


"Tapi kak.." ujar Echa yang langsung disanggah oleh Bara.


"Ini keputusan kakak." ucap Bara yang langsung duduk di sofa dan memejamkam matanya.


Echa hanya bisa menghela nafasnya ketika bara sudah keras kepala seperti itu.


...----------------...


Sedangkan disisi lain seorang perempuan misterius sedang tersenyum sinis sambil menatap dirinya di pantulan cermin.


"Pertemanan mereka mulai hancur secara perlahan.." ucap orang misterius itu sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Kini aku harus merencanakan sesuatu lagi." sambung orang misterius tersebut sambil melangkahkan kakinya kearah lingkaran lilin dan boneka yang dia buat sebelumnya. Lilin itu tidak berkurang sedikitpun bahkan apinya semakin besar.


"Sepertinya akan seru jika mereka mendapatkan kesusahan secara bersamaan." ucap orang misterius, kini mengucapkan beberapa mantra.


__ADS_2