TEROR

TEROR
|133| PUSING


__ADS_3

Sesampainya di rumah Bara, Aira langsung menyambut Echa dengan sebuah pelukan yang begitu erat.


"Kak Caca, Aira kangen banget," ucap Aira yang kini berada diatas pangkuan Echa. Dia sedang duduk di ruang tamu bersama dengan bunda An, Bara dan Daniel.


Bara dan Echa sudah mengganti bajunya, saat mereka berdua sampai di rumah.


"Baru aja kemarin tidur bareng, masih kangen sama kak Caca?" tanya bunda An.


"Kangen banget, Ma." jawab Aira.


"Bunda berapa hari keluar kota nya?" tanya Echa.


"Paling lama 5 hari," jawab bunda An seraya tersenyum manis kearah Echa.


"Mama gak lama kan?" tanya Aira.


"Engga sayang, perkiraan 3 hari kalau papa gak ada kerjaan lagi," jawab bunda An sembari mengelus rambut Aira yang berada dalam pelukan Echa.


"Janji?" tanya Aira.


"Mama janji sayang, mama pasti pulang," jawab bunda An.


"Bara, berkas-berkas yang papa kasih udah ada?" tanya Daniel yang sedang menuruni anak tangga.


"Udah, pa." jawab Bara yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Data-data?" tanya Daniel.


"Udah."


"Rincian..."


Bara menghela nafasnya panjang, kepalanya sangat pusing dengan beberapa pertanyaan yang di lontarkan oleh Daniel ditambah lagi dengan tugas dan berkas-berkas yang harus segera dia selesaikan.


"Papa tunggu besok," ucap Daniel sembari melangkahkan kaki kearah bunda An. "Ayo, Ma. Nanti keburu malam."


"Aira, mama berangkat dulu, ya, inget jangan nakal." ucap bunda An sambil mengelus kepala Aira lembut. "Ca, kalau ada apa-apa, telpon bunda ya," titah bunda An.


"Iya, bunda. Nanti kalau udah sampai, kabarin Caca ya," ucap Echa sambil tersenyum manis.


"Bara, jaga kesehatan, jangan tidur sampai larut malam, jagain Aira sama Caca," ucap bunda An sambil mengecup singkat kening Bara, Aira dan Echa.


"Iya, Ma." ujar Bara.


"Papa pergi dulu, jaga diri baik-baik," ucap Daniel.


"Hati-hati mama, papa," ujar Aira sembari melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Aira mau tidur? Udah malem, tidur yuk," ajak Echa ketika bunda An dan Daniel sudah hilang dari pandangan mata.


Aira menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil mengucek matanya. "Aira mau tidur di kamar Kak Bara."


"Iya, ayo" ajak Echa sembari menggendong Aira menuju kamar Bara.


"Kak Caca gak bakalan ninggalin Aira kan?" tanya Aira sembari menggenggam erat tangan Echa yang berada di sampingnya.


"Engga sayang, kak Caca gak bakalan pergi kemana-mana, kak Caca bakalan terus disini, nemenin Aira," jawab Echa sambil mengelus kepala Aira.


Aira memejamkan matanya sembari menggenggam tangan Echa.


Cklek


Pintu kamar Bara terbuka, menampilkan Bara yang sedang membawa laptop dan beberapa berkas, menyimpannya diatas meja.


"Yang lain gak jadi kesini?" tanya Echa ketika melihat Bara kembali membuka layar laptopnya.


"Jadi, gak tau kapan nyampenya," jawab Bara sembari memijat pelipisnya.


Echa melihat kearah Aira yang sudah tertidur pulas. "Cepet banget tidurnya."


"Mungkin capek tadi katanya abis dari rumah ibu," ucap Bara.


"Pantesan aja cepet tidurnya," ujar Echa sembari mengecup singkat kening Aira.


"Cantik banget," gumam Echa sambil mengelus kepala Aira.


Drt... Drt... Drt...


Ponsel Bara berdering, membuat Echa mengalihkan pandangannya dari wajah Aira.


"Siapa, Kak?" tanya Echa.


"Nathan," jawab Bara sembari mengangkat sambungan telponnya. "Hm?"


"Ini kita udah di depan, kenapa gak dibukain? Mana di kunci lagi, kalian lagi dimana?" tanya Nathan yang sedang berada dalam sambungan telpon.


"Di rumah, oke tunggu," jawab Bara langsung mematikan sambungan telponnya.


"Ca, nanti tolong bawain laptop kebawah," ucap Bara sembari melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar.


"Kenapa gak sekalian aja sambil di bawa, Kak?" tanya Echa.


Namun tidak ada jawaban dari Bara, Echa turun dari tempat tidur sambil membawa laptop milik Bara dan melangkahkan kakinya keluar.


Bara membuka pintu rumahnya, menampilkan wajah Nathan, Hanin, Gavin, Shiren, Azka dan Ivy.

__ADS_1


"Bunda udah berangkat?" tanya Gavin kepada Bara.


"Udah," jawab Bara.


"Caca mana, Kak?" tanya Hanin.


"Di atas," jawab Bara.


"Kenapa,Nin?" tanya Echa yang sedang menuruni anak tangga sambil membawa laptop milik Bara.


"Gak apa-apa, Ca. Kirain di rumah ibu," jawab Hanin.


"Ibu juga ke luar kota sama Qiara, Bi Neni. Katanya, lagi banyak kerjaan," ucap Echa sambil menyimpan laptop milik Bara diatas meja.


"Btw, Aira kemana?" tanya Ivy.


"Baru aja tidur," jawab Echa.


"Kita ngobrol di taman aja yuk, Ca. Enak lho langitnya lagi bagus, sayang kalau di lewatin," ajak Ivy yang sempat melihat langit bertabur bintang dengan bulan yang bulat sempurna di hiasi oleh awan-awan tipis.


"Yaudah, ayo." ucap Echa sembari melangkahkan kakinya menuju taman diikuti oleh ke tiga temannya.


Sesampainya di taman, benar saja, dia melihat langit yang sangat indah, jarang sekali di Jakarta langit malam bisa seindah ini. Sayang jika di lewati.


"Btw, gimana persiapan tunangannya, Nin?" tanya Shiren sembari mendudukkan dirinya di kursi taman.


"Besok udah mau nyari gaun sama Mama, Papa. Kalau kalian mau ikut, ayo. Mereka pasti seneng kalau kalian ikut, apalagi Hanin butuh saran dari kalian tentang gaunnya nanti," jawab Hanin menatap penuh harap kearah teman-temannya.


"Yakin, Nin ngajak kita?" tanya Ivy menyakinkan Hanin.


"Serius. Hanin butuh saran dari kalian." jawab Hanin.


"Oke kalau gitu, kita ikut. Ya kan?" tanya Shiren sembari menatap Echa dan Ivy secara bergantian.


"Vivi ngikut aja," jawab Ivy.


"Caca gak tau," ucap Echa dengan wajah yang terlihat sedih.


"Kenapa, Ca?" tanya Hanin.


"Nanti Aira ikut, kalau di bawa jalan-jalan nanti malah sakit, atau kenapa-kenapa," jawab Echa menatap sendu teman-temannya.


"Iya juga, ya. Tapi Vivi tau kok, Aira kuat. Dia gak bakalan ngerepotin orang, Vivi tau banget gimana Aira," ucap Ivy tanpa mengada-ada.


"Iya, Ca. Aira kuat, dia pasti nurut," ucap Shiren meyakinkan Echa.


"Iya deh, gimana besok aja," ujar Echa sembari tersenyum kearah teman-temannya.

__ADS_1


"Nah, gitu dong, Ca." ucap Ivy.


__ADS_2