
Malam hari telah tiba Echa dan teman-teman yang lain masih berada dirumahnya sambil berbicara tentang tempat yang akan mereka tinggali ketika mereka sudah masuk kampus.
"Jadi mau beli rumah aja?" Tanya Mutiara.
"Iya, di perumahan indah asri aja." Jawab
"Jadi satu rumah dua orang gitu?" Tanya Ivy.
"Iya, sekalian latihan berrumah tangga." Jawab Azka sambil tersenyum kearah Ivy.
"Nasib jomblo gimana bang?" Tanya Devan dengan wajah yang dibuat sedih.
"Makannya cepet cari, kalau gak di cari kapan ketemunya itu mba jodoh." Jawab Gavin menatap kearah Devan.
"Udah di cari tapi gak ada yang klik sama hati." Ucap Devan.
"Heh Van, Lo gak bakalan klik sama cewek kalau gak tau gimana dia, baru liat mukanya aja 'Bukan ini yang gue cari.' belum kenal tapi udah menyimpulkan." Ujar Azka menatap kearah Devan.
"Tapi emang bukan itu yang gue cari Ka." Ucap Devan sambil menatap kearah Azka.
"Dahlah, percuma aja ngomong sampai berbusa, Lo bakalan kayak gitu terus." Ujar Azka.
Azka adalah orang yang sering dijadikan tempat curhat oleh Devan karena dia yang paling bawel dari yang lainnya.
"Jadi fiks nih di perumahan indah asri?" Tanya Alvero menatap kearah teman-temannya.
"Iya, cuman perumahan itu aja yang lumayan deket ke kampus." Jawab Mutiara.
"Yang lain gimana? Kalau fiks biar Vero tanya-tanya soal perumahan indah asri." Ucap Alvero.
"Fiks." Jawab semua orang kompak. Alvero yang mendapat jawaban seperti itu langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kakak mau nginep disini?" Tanya Echa menatap kearah Gavin, Bara, Nathan, Azka, Alvero dan Mutiara.
"Iya, udah malem juga kalau pulang sekarang." Jawab Alvero sambil menatap kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23.20
"Mau tidur dimana?" Tanya Echa.
"Disini aja Ca." Jawab Nathan.
__ADS_1
"Kak Tiara mau sama siapa?" Tanya Echa menatap kearah Tiara.
"Sama siapa aja Ca tapi Tiara mau di kamar Caca ya, jangan di kamar ibu." Jawab Mutiara.
"Shiren sama kak Tiara aja." Ucap Shiren.
"Vivi juga sama Kak Tiara." Ujar Ivy. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Hanin sama Caca ya, Caca takut sendiri." Ucap Echa menatap kearah Hanin.
"Iya." Jawab Hanin.
"Kita tidur, semuanya udah bereskan?" Tanya Mutiara.
"Udah." Jawab Bara yang sedang memejamkan matanya.
"Ayo Ca. Kiita duluan ya kak, Ren, Vi." Ajak Hanin sambil menggenggam tangan Echa untuk menuju kamar Roslyn menjemput alam mimpinya.
...----------------...
Sesampainya di kamar Roslyn Hanin langsung merebahkan tubuhnya di ranjang diikuti Echa yang sudah mematikan lampu utama untuk digantikan menjadi lampu tidur.
"Ca." Panggil Hanin ketika Echa sudah berada di sampingnya.
"Hanin mau tunangan sama Kak Nathan." Ucap Hanin sambil menatap ke langit-langit kamar.
"Serius? Caca gak salah dengerkan?" Tanya Echa yang tidak percaya apa yang dikatakan oleh Hanin.
"Iya, Hanin mau tunangan sama Kak Nathan." Jawab Hanin sambil menatap kearah Echa yang juga sedang menatapnya.
"Kapan?" Tanya Echa.
"Setelah nikah Kak Tiara." Jawab Hanin sambil tersenyum malu.
"Kenapa baru ngasih tau sekarang Nin?" Tanya Echa.
"Kak Nathan juga bilangnya 2 hari yang lalu." Jawab Hanin.
"Tanggal berapa?" Tanya Echa penasaran.
__ADS_1
"Hanin belum nentuin tanggalnya tapi kak Nathan request setelah nikah Kak Tiara." Jawab Hanin.
"Jadi, baru Caca aja yang tau?" Tanya Echa.
"Iya, baru Caca aja." Jawab Hanin.
"Btw tadi juga Kak Bara ngajak nikah Caca." Ucap Echa kini menatap kearah langit-langit kamar.
"Serius? Terus gimana jawaban Caca?" Tanya Hanin antusias.
"Caca belum jawab." Jawab Echa.
"Kenapa?" Tanya Hanin menatap bingung kearah Echa.
"Umur Caca baru 19, masa iya harus nikah muda? Caca takut, gak tau takut karena apa tapi takut aja." Ucap Echa menatap kearah Hanin.
"Ca, kalian udah kenal 4 tahun lebih. Kurang apa lagi buat saling mengenal satu sama lain? Menurut Hanin sih yang kayak Kak Bara itu stoknya terbatas Ca, udah ganteng, baik, gak caper, gak lirik kanan kiri, manja sama Caca, pokonya banyak lagi." Jelas Hanin yang sedang menatap kearah Echa.
"Caca tau tapi Caca takut." Ucap Echa.
"Takut karena apa ca? Justru kak Bara kekuatan Caca, Kak Bara selalu ada buat Caca begitupun sebaliknya." Ujar Hanin sambil menggenggam tangan Echa. Echa hanya menghela nafasnya mendengar perkataan Hanin, dia selalu memberikan nasihat yang baik bagi Echa. Hanin adalah sahabat yang bisa diandalkan jika ada masalah dalam sebuah hubungan, dia selalu netral.
"Mau disuruh nunggu berapa lama Kak Baranya? Gak sedikit cewek diluar sana yang minta kepastian dari lelakinya." Sambung Hanin.
"Soal punya anak bisa dibicarain dan kak Bara juga pasti bakalan ngerti keputusan Caca." Ucap Hanin.
"Tapi semua itu tergantung Caca, keputusan ada di tangan Caca tapi Caca harus tau sebab sama akibatnya dari keputusan yang Caca ambil." Ujar Hanin sambil tersenyum manis.
"Hanin kasih jawabannya berapa hari?" Tanya Echa.
"Gak lama Ca, cuman 3 jam lebih, pas Kak Nathan tanya kedua kalinya." Jawab Hanin.
"Udah tidur, siapin diri buat kasih jawaban ke Kak Bara." Sambung Hanin yang kini sudah memejamkan matanya.
Echa beralih menatap kearah langit-langit kamar ketika Hanin sudah mulai menjemput alam mimpinya.
Caca harus jawab gimana? Tanya Echa dalam hati.
Duh, kenapa deg-degan ya? Padahal antara jawab iya aja. Ucap Echa mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Udah Ca, emang yang paling bener itu tidur ." Ucap Hanin yang merasakan Echa sedang dilanda gugup.
"Iya." Ujar Echa sambil memejamkan matanya untuk menjemput alam mimpi, mempersiapkan diri menjawab pertanyaan Bara.