
"Ca, Hanin takut yang teror kita itu malah ngincar Aira." ucap Hanin sambil menatap kearah Aira yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Beberapa jam yang lalu, Hanin, Nathan, Ivy dan Azka mengunjungi Aira, mereka mendapat kabar dari Roslyn bahwa Aira sedang tidak sadarkan diri di rumah sakit. Sedangkan Shiren, Gavin, Devan, Mutiara, Alvero dan bunda An baru saja pamit, karena ada hal yang harus dikerjakan oleh mereka. Dan Qiara dibawa pergi oleh Roslyn, dia takut terjadi sesuatu pada Qiara jika terus berada di rumah sakit.
"Caca juga sama, yang bikin Caca khawatir itu, dokter gak bisa memprediksi apa penyakitnya." ujar Echa sambil menghela nafasnya panjang.
Echa, Hanin dan Ivy sedang menunggu Aira di ruangan. Sedangkan Bara, Nathan dan Azka pergi keluar membeli makanan untuk mengisi perutnya.
"Yang penting kita banyak-banyak berdoa aja, semoga gak terjadi apa-apa." ucap Ivy yang juga khawatir terjadi sesuatu pada Aira.
Aira sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari rasa sakitnya itu, mereka semua khawatir tentang keadaan Aira ketika jam sudah menunjukkan pukul 20.30.
"Shila. Kemana dia?" tanya Hanin secara tiba-tiba.
"Caca gak tau," jawab Echa.
"Panggil gih Ca, siapa tau dia bisa bantu kita." ucap Hanin. Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung memejamkan matanya sambil memanggil nama Shila. Namun Shila sama sekali tidak kunjung datang, padahal Echa sudah beberapa kali menyebut namanya.
"Gak dateng-dateng, kemana dia?" tanya Ivy yang tidak melihat keberadaan Shila di ruangan ini.
Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung membuka matanya dan benar saja Shila tidak datang saat Echa memanggilnya.
"Mungkin lagi semedi." ucap Hanin yang kesal ketika Shila tak kunjung datang.
"Semedi, emang dia penyembah ilmu hitam?" tanya Ivy sambil menatap kearah Hanin yang sedang memasang raut wajah kesal terhadap Shila.
"Ya engga juga sih, tapi.." jawab Hanin tertahan, membuat Echa dan Ivy penasaran dengan ucapannya yang tidak lanjut.
"Tapi apa?" tanya Echa penasaran.
__ADS_1
"Mungkin aja. Kita kan gak tau gimana aslinya." jawab Hanin menatap mata Echa dan Ivy secara bergantian.
"Jangan gitu, Shila baik kok.. jangan buruk sangka dulu," ucap Echa menenangkan Hanin yang sedang kesal kepada Shila, hantu centil itu selalu mencari cowok tampan, meskipun memandang dan mengikuti saja.
"Ya abisnya kesel banget, kita lagi butuh banget dia, Eh Shila malah gak ada." ujar Hanin dengan nafas yang memburu. Hanin memang agak tempramental, tapi tempramental nya itu selalu tahu tempat seperti saat ini. Tanpa dilihat siapapun kecuali sahabat-sahabatnya.
"Mungkin Shila emang lagi bahagiain dirinya." ucap Ivy yang juga mencoba untuk menangkan Hanin.
"Vi, Ca. kalian tau kenapa Hanin kesel kayak gini? Karena sekarang yang lagi kita jaga itu nyawa. Teror kali ini taruhannya nyawa gak kayak dulu." ujar Hanin menatap mata Echa dan Ivy bahwa yang saat ini mereka jaga adalah nyawa.
Mereka sedang menjaga Aira agar tetap hidup, Hanin mencari cara agar Aira tetap dalam tubuhnya, mungkin itu terdengar egois, tapi ini adalah bentuk tidak ingin kehilangan.
"Iya juga.." ucap Ivy yang menyadari perkataan Hanin itu benar.
"Hanin takut Aira kenapa-kenapa, Hanin udah ngerasain aura yang beda disini. Aura kepergian." ujar Hanin yang masih menatap Echa dan Ivy.
"Tenang dulu, kita cari jalan keluarnya sama-sama," ucap Echa sambil mengelus bahu Hanin agar tenang dari amarah sekaligus rasa takutnya.
Ivy melangkahkan kakinya kearah Aira, ini saatnya Ivy kembali menggunakan. kemampuannya untuk melihat keadaan Aira yang sebenarnya. Siapa tau dia bisa melihat keadaan Aira atau mendapat petunjuk. Dia menggenggam tangan Aira sambil memejamkan matanya.
Echa dan Hanin yang melihat Ivy seperti itu tidak berani membuka suara, jika saja Ivy mendengar suara yang berisik maka semua penglihatannya akan pecah dan patah-patah. Itu mempersulit Ivy untuk menyambungkan visualnya.
Ivy memfokuskan penglihatan dan pendengarannya pada masa sekarang bukan masa depan ataupun masa lalu Aira. Jika dia melihat masa depan Aira dia takut akan menimbulkan hal-hal yang membuat semua nya hancur.
"Kak tolong, Aira..." ucap Aira lirih ketika Ivy lebih memfokuskan pada pendengarannya kerena penglihatannya hanyalah gelap dan pengap.
"Aira denger suara kak Vivi kan?" tanya Ivy dalam hati yang sedang berkomunikasi dengan jiwa Aira yang entah sedang dimana.
"Aira." panggil Ivy ketika tidak mendapat jawaban dari Aira.
__ADS_1
"Aira dimana? biar kak Vivi jemput sekarang juga." sahut Ivy yang lagi-lagi tak mendapat jawaban dari Aira.
"Aira bangun sebentar." ucap Aira lirih dan terdengar sangat jauh.
"Kakak tunggu Aira bangun, semua orang nunggu Aira bangun," ujar Ivy sambil tersenyum.
"Aira tau.. sebentar.." ucap Aira, namun saat Ivy ingin menjawab perkataan Ivy tiba-tiba saja telinganya berdengung sangat kencang.
NGINGGGG..
Ivy yang mendapat suara nyaring seperti itu langsung membuka matanya dengan nafas memburu dan kepala yang terasa pening, dia juga lupa apa saja percakapannya dengan Aira tadi.
"Vi.." panggil Hanin ketika melihat Ivy sedang menggelengkan kepala untuk menghilangkan bunyi nyaring di telinganya.
"Vivi," panggil Echa sambil melangkahkan kakinya kearah Ivy yang sudah melepaskan tangannya dari tangan Aira.
"Vivi baik-baik aja." sahut Ivy ketika Echa menuntun dirinya untuk duduk di sofa.
"Gimana?" tanya Hanin tidak sabaran.
"Vivi lupa." jawab Ivy sambil menatap kearah Hanin. Dia benar-benar lupa percakapannya dengan Aira tadi, setelah mendengar bunyi nyaring di telinganya, Ivy tiba-tiba saja lupa dengan percakapannya bersama Aira. Yang dia ingat hanya kata sebentar.
"Kenapa bisa gitu?" tanya Hanin.
"Vivi sempet bicara sama Aira tapi tiba-tiba aja ada suara nyaring terus Vivi lupa semuanya, yang Vivi inget cuman 'sebentar.' percakapan yang lainnya ilang kayak rontok." jawab Ivy menatap kearah Hanin dan Echa secara bergantian atas apa yang baru saja dialaminya.
ini pertama kalinya bagi Ivy, kenapa dia bisa lupa dengan cepat ketika berbicara dengan seseorang di alam yang berbeda? Padahal dia tidak pernah lupa apa yang dilihatnya.
"Vivi cuman inget kata sebentar aja?" tanya Echa. Ivy yang mendapat perkataan seperti itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, bahwa yang di katakan dan dialami olehnya itu benar.
__ADS_1
"Terus apa yang bisa kita simpulin? Gak ada kan? Kita buntu." jawab Hanin sambil menatap kearah Aira yang masih memejamkan mata dengan tubuh yang terbaring lemah.
"Nin, kita pasti bisa dapet petunjuknya." ucap Ivy.