TEROR

TEROR
|40| GELAP


__ADS_3

Echa perlahan membuka matanya, dia merasakan sekujur tubuhnya dingin, pegal dan sakit di bagian lehernya.


Echa bangun dari tidurnya itu, seingatnya dia tidak tidur dilantai seperti ini, bahkan Echa juga baru menyadari dirinya sedang berada di ruangan gelap minim cahaya.


"Dimana ini?" Tanya Echa sambil memegang lehernya yang sakit.


"Ibu! Kak Bara! Hanin!" Teriak Echa kini berdiri dari duduknya dan melihat sekeliling tempat gelap tersebut.


Echa terus melangkahkan kakinya mengikuti lorong gelap, tidak ada penerangan sama sekali, hanya ada cahaya yang masuk lewat lubang-lubang kecil.


Di depan lorong yang gelap Echa melihat tangan dan kaki yang telah dimutilasi, darahnya berceceran dimana-mana, bahkan bau anyirnya pun tercium begitu menyengat di hidung Echa.


Echa mencoba untuk menahan bau anyir tersebut, karena jalan satu-satunya adalah melewati kaki dan tangan yang telah dimutilasi.


"Ibu!" Teriak Echa ketakutan ketika melangkahkan kakinya melewati yang telah dimutilasi itu.


Tak lama dari teriaknya tiba-tiba saja datang sosok besar berbulu yang pernah menyerang dirinya dan teman-temannya di apartemen.


Echa langsung berjalan mundur secara perlahan ketika sosok itu dengan lahap memakan tangan dan kaki yang telah dimutilasi.


Siapapun yang melihat sosok itu memakan makanannya akan jijik dan mual. Bagaimana tidak mual, dengan lahapnya sosok itu memakan tangan manusia dengan darah yang masih segar seperti kita memakan daging ayam yang telah di goreng.


Echa langsung menutup mulutnya ketika melihat itu, namun anehnya sosok tersebut tidak melihat kehadiran dirinya.


Perlahan Echa melangkahkan kakinya maju, melewati sosok tersebut dan Yap berhasil, sosok itu tidak melihat keberadaan Echa, itu artinya Echa sedang berada di dunia lain.


Entah bagaimana dirinya bisa masuk begitu saja ke dunia mengerikan ini. Dia pun mendengar suara teriakan dari salah satu ruangan di sebelah kanannya. Tanpa berpikir panjang lagi Echa langsung membuka secara perlahan pintu tersebut secara perlahan.


"Tania!" panggil Echa kaget ketika melihat Tania sedang di siksa oleh seseorang yang entah siapa, Echa tidak mengenali wajah orang tersebut. Bahkan dia juga tidak bisa membedakan apakah itu perempuan atau laki-laki. Orang itu terlihat seperti bayangan.


"Aku mohon jangan." ucap Tania yang bersimpuh dihadapan orang tersebut.


Orang tersebut tidak mengindahkan ucapan Tania, dia terus saja memukul Tania dengan tali yang begitu besar tanpa ampun.


Teriakan demi teriakan keluar dari mulut Tania, permohonan demi permohonan pun tidak di dengar oleh orang tersebut. Seolah Tania memiliki kesalahan yang sangat besar.


"Aku mohon, sudahi semua ini, aku minta maaf atas apa yang telah aku katakan dan aku perbuat, tubuhku sakit." ucap Tania disela-sela tangisannya yang pilu.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memaafkan mu." ucap Orang tersebut dengan suara yang menggema.


"Kau serius?" Tanya Tania dengan tatapan yang seperti diberi sebuah kejutan besar.


"Ya aku serius dengan ucapan ku, tapi dengan satu syarat." Jawab orang tersebut.


"Apapun akan ku lakukan asal kau tidak menyiksaku seperti ini, apapun asalkan kau memaafkan ku." ucap Tania sambil menghapus air matanya.


"Lompat dari atas gedung ini." ujar orang tersebut.


"Tidak.." ucap Tania yang langsung berjalan mundur. Namun nihil, orang tersebut langsung mencengkram kuat tangan Tania dan menyeretnya dengan paksa.


"Ku mohon jangan, aku akan lakukan apapun, aku akan memperbaiki semuanya." Sambung Tania yang berusaha melepas cekalan tangan tersebut.


Apa yang baru saja Echa saksikan tentang kematian Tania itu langsung menghilang bersamaan dengan angin yang menerbangkan anak rambutnya.


Echa kaget atas apa yang baru saja dirinya saksikan didepan mata, apa Tania dibunuh? Kenapa Tania dibunuh? Banyak pertanyaan yang ada dibenak Echa saat ini.


Tiba-tiba saja tangannya ditarik, kepalanya sedikit pusing dan tubuhnya dibawa entah kemana.


Dia merasakan tubuhnya duduk di kursi yang sangat empuk, ini seperti kursi mobil. Perlahan Echa membuka matanya melihat dirinya sedang berada di dalam mobil yang ditumpangi oleh Daniel, Bunda An dan Aira.


Echa dibuat kaget bukan main oleh semua ini, dia masuk kedalam beberapa kejadian secara bersamaan.


Echa melihat kearah Daniel, Bunda An dan Aira yang sedang bercanda, tertawa bersama seolah tidak terjadi apa-apa.


Ckit.. DUGH..


Daniel tiba-tiba saja rem mendadak hingga membuat Bunda An dan Aira terbentur kaca, membuat keningnya membiru.


"Ada apa pa?" Tanya Bunda An sambil mengelus kening Aira yang terbentur kaca.


"Kayaknya papa nabrak orang ma." Jawab Daniel sambil melihat kearah depan.


Bunda An pun melihat kearah depan, dan benar saja mereka telah menabrak seseorang, namun Echa melihat orang tersebut seperti bayangan, tidak terlihat jelas.


"Jangan yah.." ucap Echa mencegah Daniel untuk keluar dari mobil.

__ADS_1


"Bunda! Aira!" Teriak Echa yang mencoba untuk memanggil Bunda An dan Aira, namun tidak ada yang merespon teriakan Echa.


Echa hanya bisa menghela nafasnya panjang, percuma saja jika dia berteriak dengan sangat kencang, mereka tidak akan mendengar teriakan itu.


Echa melihat Daniel yang sedang menggendong bayangan tersebut menuju kursi belakang, kursi yang Echa tempati.


"Kita kerumah sakit dulu Ma." ucap Daniel sambil menyetir mobil setelah menyimpan bayangan tersebut menuju kursi belakang.


Bunda An hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan menenangkan Aira yang sedang menangis karena keningnya yang terbentur kaca.


Perjalanan terlihat begitu mulus, tidak ada hambatan apapun, bahkan jalanan terlihat begitu sepi.


Echa merasakan ada sesuatu yang akan terjadi saat ini dan ya benar saja. Orang dengan bayangan itu kini tiba-tiba saja duduk di kursi membuat Daniel dan Bunda An kaget melihatnya.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Bunda An sambil melihat kearah kursi belakang. Namun tidak ada jawaban.


Tiba-tiba orang itu mengeluarkan banyak sekali tangan dan mencekik Daniel, Bunda An dan Aira secara bersamaan.


Bunda An mencoba melepaskan cekikan tangan tersebut dari leher Daniel ketika Daniel tidak bisa mengendalikan mobilnya.


"Le-pa-s!" Teriak Daniel disela-sela nafasnya.


"Ma-ma.. p-a-pa!" Teriak Aira yang sudah kehabisan nafas.


Orang itu terus saja mencekik leher Bunda An, Daniel dan Aira dengan sangat kencang hingga membuat mereka kehabisan nafas.


"Ah, anak itu istimewa, dia akan menghalangi jalanku.." ucap orang tersebut sambil mendekat kearah Aira.


"Jangan!" Teriak Echa yang mencoba untuk menjauhi orang tersebut namun dirinya sama sekali tidak bisa menyentuh apapun. Echa hanya menyentuh angin.


"Aaaaa!" Teriak Aira ketika orang itu mengigit tangan sebelah kirinya.


"Aira!!" Teriak Echa yang melihat urat tangan Aira berubah menjadi hitam, sama seperti yang Echa rasakan pada saat Hanin dirasuki.


BUGH.. TINN..


Mobil yang ditumpangi oleh Daniel, Bunda An dan Aira menabrak pohon pinggir jalan dan orang tersebut langsung melepaskan cekikannya, kembali menjadi manusia normal lagi.

__ADS_1


"Bunda! Ayah! Aira!" Teriak Echa ketika melihat keadaan mereka yang berlumuran darah. Saat Echa ingin menggenggam tangan Aira tiba-tiba saja semuanya gelap, dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


__ADS_2