TEROR

TEROR
|125| KERTAS


__ADS_3

"Apa, pa? Sekertaris nya laki-laki yang papa kirim fotonya ke Bara?"


Echa membuka matanya ketika mendengar suara yang membuat dirinya bangun dari mimpi indahnya.


"Iya, Bara. Kamu sendiri kan yang mau ganti sekertaris? Papa gak salah kan? Itu yang kamu mau," balas seseorang yang sedang berada dalam sambungan telpon dengan Bara.


"Pa, bukan yang kayak gitu juga, itu terlalu ganteng, gimana kalau Caca jadi suka?" bisik Bara tanpa menyadari bahwa Echa sudah bangun dari tidurnya.


Sedangkan Echa tertawa pelan mendengar penuturan Bara.


"Terus mau kamu kayak gimana? Papa udah pilih cewek yang gak sesuai kriteria kamu, kamu malah minta ganti, papa udah ganti, kamu gak mau," jawab Daniel.


"Ya udah gak apa-apa, cewek aja. Bara gak mau Caca pindah haluan," ucap Bara.


"Yakin? Kalau kerjanya keluar kota, keluar negeri gimana? Kamu yakin Caca baik-baik aja?" tanya Daniel.


Bara nampak berpikir sejenak, apa yang dikatakan oleh Daniel, benar. Bagaimana jika dirinya pergi keluar kota atau keluar negeri bersama dengan sekertaris wanita?


"Gak apa-apa, pa. Cewek aja, kalau ada kerjaan di luar kota ya Bara tinggal bawa Caca aja," ucap Bara.


"Oke kalau itu mau kamu, papa gak bakalan mau denger lagi kamu ganti sekertaris."


"Kalau sekretarisnya gak kayak kemarin," jawab Bara.


"Siapa suruh jadi ganteng," ucap Daniel sambil terkekeh pelan dibalik sambungan telponnya.


"Papa sendiri yang bikin, tanya sama papa sendiri, jangan tanya Bara."


"Udah, papa tutup telponnya," ucap Daniel sambil menutup sambungan telponnya sepihak, tanpa menunggu jawaban dari Bara.


Echa refleks menutup matanya ketika Bara melangkah kearahnya.


"Ca," panggil Bara sambil mendudukkan dirinya di samping Echa yang sedang berpura-pura tertidur.


"Ca, bangun" panggil Bara lagi sambil mengelus kepala Echa dan menatap lekat wajahnya yang terkana cahaya matahari.


Bara menghalangi cahaya matahari tersebut dengan tangannya. Perlahan Echa membuka matanya ketika tidak merasakan silaunya sinar matahari.


Pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah tampan milik Bara yang sedang tersenyum manis, membuat jantungnya berdetak tidak beraturan. Mungkin, Bara juga bisa melihat serabut merah di pipinya.


"Bangun," ucap Bara sambil tersenyum manis kearah Echa yang sedang tersipu malu.


"Mau kemana? Pagi-pagi udah bangun," ujar Echa sambil mendudukkan dirinya.


"Gak kemana-mana, tadi papa telpon," ucap Bara yang kini sudah menurunkan tangannya.

__ADS_1


"Telpon apa?" tanya Echa.


"Cuman mau ganti sekertaris aja," jawab Bara sembari menatap Echa yang sedang mengikat rambutnya.


"Kenapa ngeliatinnya gitu banget sih, kak?" tanya Echa seraya menutup mata Bara agar tidak menatapnya.


"Cantik," jawab Bara.


Echa menahan bibirnya agar tidak tersenyum, dia dapat merasakan pipinya yang memanas akibat dari satu kata yang keluar dari mulut Bara.


"Kakak!" seru Echa kesal.


"Apa?" tanya Bara dengan suara lembutnya sambil menurunkan tangan Echa dari matanya.


"Jangan gitu!"


"Bangun, kita beli sarapan di depan," ucap Bara sembari mengacak gemas rambut Echa. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Cepetan," ucap Bara sambil menggendong tubuh Echa menuju keluar kamar.


"Kakak! Turunin!" pinta Echa sambil mengigit lengan Bara.


"Sakit..." ringis Bara sembari menurunkan Echa.


"Maaf," ucap Echa yang sedang mengusap lengan Bara, baru saja di gigit olehnya.


"Manja banget," ucap Echa melangkahkan kakinya keluar dari kamar, meninggalkan Bara yang sedang tersenyum.


Saat keluar dari kamar, dia melihat semua orang masih tertidur.


"Masih pada tidur," ucap Bara.


"Caca dulu yang ke kamar mandi," ujar Echa sembari membawa handuknya.


"Kenapa gak berdua aja?" tanya Bara cengengesan.


Echa langsung memberhentikan langkahnya sambil menatap tajam ke arah Bara. "Belajar dari siapa bilang kayak gitu?"


"Dari Vero," jawab Bara yang masih menampilkan deretan giginya.


Echa menghela nafasnya panjang. "Nanti, jangan lagi belajar dari kak Vero, ya."


"Ya... Tergantung," ucap Bara.


Echa mendelik tanpa menjawab perkataan Bara, dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

__ADS_1


...----------------...


30 menit telah berlalu, Echa sudah selesai dengan ritual paginya, dia melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.


"Udah selesai?" tanya Bara ketika melihat Echa keluar dari kamarnya.


"Udah," jawab Echa, dia melihat Bara sedang mengeringkan rambutnya yang basah.


"Mau jalan? Naik motor?" tanya Bara.


"Jalan aja, cuman kedepan aja," jawab Echa.


"Yaudah, ayo" ajak Bara sambil melangkahkan kakinya keluar, diikuti Echa dibelakangnya. Sedangkan teman-temannya masih tertidur pulas.


Bara dan Echa melangkahkan kaki beriringan, banyak pasang mata yang menatap kearah mereka berdua. Echa dan Bara menghiraukan ucapan dan tatapan beberapa orang tentangnya.


Sesampainya di pedagang kaki lima yang berjajar di pinggir jalan. Namun, saat mereka berdua ingin menghampiri salah satu penjual bubur ayam.


Tinnn. BRUGH.


Tiba-tiba saja kecelakaan terjadi di hadapan Echa. Dua orang pengendara motor terpental jauh, untung saja tidak terluka begitu parah. Namun, pengemudi mobil dengan kecepatan tinggi melindas dua orang pengendara motor, hingga isi kepalanya keluar semua, darah segar mengalir di jalanan.


Semua orang masih melihat kejadian tersebut, belum ada yang bergerak sama sekali, semua nya kaget melihat dua orang bersimbah darah dengan isi kepala yang keluar. Bahkan, ada beberapa orang yang akan menolong malah terkena cipratan darah dari dua orang pengendara motor tersebut.


BRUGH. Tinnn...


Mobil yang baru saja melindas dua orang pengendara tersebut kehilangan kendali, sehingga menabrak pohon yang ada di depannya. Hingga percikan api keluar dari mobilnya.


Bara yang melihat itu langsung memeluk Echa sembari mengeluarkan ponselnya untuk menelpon polisi.


Echa masih diam tak berkutik, dia melihat dua orang pengendara motor yang sangat mengenaskan.


Isi kepala dan isi perut dari dua Pengandara keluar akibat terlindas oleh mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Dan sekarang, mobil tersebut menabrak pohon.


Semua orang yang berada di tempat kejadian menolong pengemudi mobil yang mungkin masih selamat dan butuh bantuan di dalam sana. Masih belum ada yang berani mendekat kearah dua pengendara motor yang bersimbah darah.


Echa menangkap seorang wanita berjubah hitam sedang tersenyum sinis dan menghilang begitu saja dalam waktu yang singkat.


Secarik kertas lusuh yang bersimbah darah berada di bawah kakinya. Tanpa berpikir panjang, Echa membawa kertas tersebut.


Berdampingan.


Satu kata yang di tulis dengan darah membuat Echa menatap kearah Bara yang juga sedang membaca satu kata tersebut. seolah bertanya akan maksud dari tulisan yang baru saja dia baca.


Apa ini dari wanita tadi? tanya Echa dalam hati.

__ADS_1


"Simpen aja, kasih tau Hanin," ucap Bara ketika melihat ekspresi wajah Echa.


Echa yang mendapat perkataan seperti itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil menyimpan ke saku celananya.


__ADS_2