
Setelah kurang lebih 3 jam bercerita dengan keadaan Ivy yang sudah membaik, kini Echa sedang membaca pesan singkat dari Bara.
...Kang Marah....
Dmn?
^^^Di apartemen Kak Azka,^^^
^^^Kakak udah pulang?^^^
Udh.
^^^Sekarang dimana?^^^
Apart.
^^^Caca kesana.^^^
Tidak ada balasan lagi setelah itu, Echa menutup layar ponsel miliknya dan berpamitan kepada yang lain untuk pulang.
"Caca ke apartemen kak Bara dulu ya." Ucap Echa.
"Sendiri?" Tanya Vivi.
"Iya" jawab Echa.
"Biasanya juga di samperin kesini." Ucap Vivi.
"Mungkin lagi capek pulang dari kampus." Ujar Echa.
"Dev anter." Ucap Devan sambil melangkahkan kakinya menuju ke pintu untuk mengantar Echa.
"Nanti Caca kesini lagi." Ujar Echa sambil melangkahkan kakinya menuju keluar diikuti Devan dibelakangnya.
Tak lama kemudian Echa sudah sampai di depan apartemen Bara.
"Makasih ya Dev." Ucap Echa sambil membuka pintu apartemen Bara.
"Sama-sama." Ujar Devan.
"Mau masuk dulu?" Tanya Echa.
"Gak usah, Devan mau ke apartemen Azka lagi." Jawab Devan sambil melangkahkan kakinya pergi dari apartemen Bara. Echa yang melihat kepergian Devan langsung menutup pintu apartemen Bara.
"Siapa?" Tanya Bara yang sedang duduk di sofa dengan tatapan dingin andalannya.
"Devan." Jawab Echa sambil melangkahkan kakinya menuju kearah Devan.
"Kakak udah makan?" Tanya Echa yang kini sedang duduk di samping Bara. Bara hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamar.
Sedangkan Echa yang melihat perubahan sikap Bara itu hanya mengernyitkan dahinya bingung.
"Kenapa sih? Emang Caca ada salah ya?" Tanya Echa pada dirinya sendiri saat melihat Bara malah mengerjakan tugas nya.
"Mau Caca masakin apa?" Tanya Echa dari bawah.
"Gak perlu." Jawab Bara singkat.
__ADS_1
"Kakak belum makan, masak apa aja ya." Ucap Echa sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Gak usah." Ucap Bara.
"Mau pesen aja?" Tanya Echa.
"Gak." Jawab Bara.
"Terus mau kakak apa?" Tanya Echa.
"Gak mau." Jawab Bara.
Echa kembali duduk di sofa ketika mendapat perkataan singkat seperti itu dari Bara.
Dia melihat ke ponsel Bara yang berada di atas meja. Dia langsung membuka ponsel milik Bara secara diam-diam.
Membuka beberapa Chat masuk dari nomor tidak di kenal, hingga matanya tertuju pada foto yang menampilkan dirinya sedang memeluk Devan tadi.
"Apa gara-gara ini?" Tanya Echa kembali menutup layar ponsel Bara dan melangkahkan kakinya menuju kamar Bara.
"Kak, katanya mau makan diluar, jadi gak?" Tanya Echa yang sudah berada di samping Bara.
"Hm.." gumam Bara.
"Kakak kenapa sih?" Tanya Echa. Bara tidak menjawab pertanyaan Echa, matanya masih tertuju pada layar laptop yang menampilkan beberapa tugas dari dosennya.
"Kak.. bilang kenapa? Jangan kayak gini." Ucap Echa.
"Ngapain peluk Devan? Caca gak pernah gitu ke kakak." Ujar Bara ketus.
"Bukan gitu kak." Ucap Echa.
Echa menceritakan semuanya kepada Bara, tentang dirinya yang berada di apartemen Hanin bersama dengan Devan, berjalan di lorong, mendengar suara tangisan dari Tania dan melihat keadaan Tania yang begitu mengerikan hingga dirinya memeluk Devan.
"Kan ada Hanin, kenapa gak ke Hanin?" Tanya Bara.
"Ada di belakang Hanin." Jawab Echa.
"Hm.." gumam Bara.
"Tadi Caca sempet buka ponsel kakak, terus liat foto itu." ucap Echa.
"Hm.." gumam Bara.
"Caca harus gimana? Jangan gini terus. Caca kan udah jelasin semuanya." Ucap Echa.
"Sama Devan aja." Ujar Bara.
"Ish, kak kan Caca udah jelasin semuanya sama Kakak." Ucap Echa.
"Terserah." Ujar Bara.
"Kakak mau makan apa?" Tanya Echa.
"Gak mau." Jawab Bara yang seperti belum bisa menerima semuanya.
Inilah Bara, posesif. Katanya, ketika wanita main-main dengan lelaki lain, maka lelakinya akan membalas semua itu. Itu katanya.
__ADS_1
Tapi bagi Bara semua itu tidak berlaku, dia sama sekali tidak ingin mempermainkan wanita karena dia takut jika itu terjadi pada Aira atau malah berbalik pada dirinya sendiri.
Bara hanya akan diam sampai dirinya sudah bisa mengontrol emosi dalam hatinya, kemarahannya itu tidak dapat di prediksi.
"Kak.." panggil Echa. Bara tidak menjawab panggilan dari Echa.
"Liat sini." Ucap Echa sambil menangkup wajah Bara Untuk menatap dirinya.
"Lepasin." Ujar Bara sambil memalingkan wajahnya kembali ke layar laptop.
"Liat Caca dulu sebentar." Ucap Echa kembali menangkup wajah Bara agar menatap dirinya lagi.
Echa kembali menatap mata indah coklat milik Bara, teduh dan menenangkan bagi dirinya, Echa mengulas senyum manis ketika Bara menatap dirinya.
"Apa?" Tanya Bara yang masih saja memasang wajah dinginnya.
Satu kecupan singkat mendarat mulus di kening dan kedua pipi Bara. Sedangkan si pemilik wajah itu hanya diam mematung mendapat perlakuan tiba-tiba seperti ini.
"Udah kan, jangan marah lagi." Ucap Echa sambil memeluk Bara, menyembunyikan pipi merah miliknya dalam pelukan Bara.
Entahlah, Echa sudah kehabisan akal ketika harus membujuk Bara yang marah seperti tadi. Jika tidak di bujuk maka dia akan diam seribu bahasa dan berbicara seperlunya sampai satu minggu atau bahkan lebih.
Bara yang mendapat perlakuan seperti itu mengelus kepala Echa gemas, jika Echa melakukan hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya maka bara tidak bisa berlama-lama marah padanya.
"Jangan peluk sembarangan." Ucap Bara sambil mencium kepala Echa dan mengelusnya penuh sayang.
"Tadi Caca takut banget." Ucap Echa.
"Jangan lagi kayak gitu, sakit." Ujar Bara sambil mengelus punggung Echa.
"Iya, maafin Caca." Ucap Echa sambil tersenyum manis menatap wajah Bara. Bara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan membalas senyuman Echa.
"Mau makan?" Tanya Echa.
"Disini aja makannya jangan diluar." Jawab Bara.
"Kenapa?" Tanya Echa.
"Hujan." Jawab Bara.
"Mau makan apa?" Tanya Echa.
"Mie instan komplit, enak." Jawab Bara.
"Lepasin, Caca bikinin." Jawab Echa.
"Mau gini." Ucap Bara.
"Kapan bikinnya kalau gini kak." Ujar Echa.
Bara masih tidak ingin melepaskan pelukannya dari Echa, manja Bara sudah mulai kumat dan pasti Echa sudah untuk berbuat apa-apa.
"Nanti aja bikin mie nya." Ucap Bara.
"Kakak belum makan. Caca juga udah laper." Ujar Echa.
"5 menit." Ucap Bara.
__ADS_1
"Enggak. Udah lepasin." Ujar Echa.