TEROR

TEROR
|152| WILL YOU MARRY ME


__ADS_3

Bara mengeluarkan kotak cincin, dan mengarahkannya kearah jari tangan Echa.


Echa tidak menjawab pertanyaan Bara, keadaan di dalam hotel menjadi hening, menunggu jawaban Echa. seolah mereka pun merasakan gugupnya.


"Yes, i do."


Semua orang bertepuk tangan, banyak juga yang mengulas senyuman seolah merasakan kelegaan dalam dirinya.


Bara tersenyum manis sembari memasangkan cincin kejari manis Echa dan cincin itu terlihat pas dan mewah di tangan putih Echa.


"Makasih udah pilih kakak jadi pilihan terbaik Caca," ucap Bara sembari memeluk Echa.


"Ya karena kakak maksa," ujar Echa sembari tertawa pelan dalam pelukan Bara.


"Mana ada, engga ya." Bara semakin mempererat pelukannya, seolah tidak ingin kehilangan wanitanya itu.


"Kak udah, Caca gak bisa nafas," ucap Echa sembari mencubit pinggang Bara. Namun, Bara sama sekali tidak mengindahkan ucapannya.


"Udah kali, kasian yang gak punya pasangan," sindir Devan.


Dan akhirnya Bara melepaskan pelukan itu sembari menatap tajam kearah Devan, sedangkan orang yang di tatap itu malah cengengesan.


"Selamat ya, Kak." ucap Irina yang sejak tadi ada di antara teman-temannya.


"Makasih ya, Rin." balas Echa.


"Ca," panggil bunda An yang sedang tersenyum manis kearahnya bersama dengan Daniel dan Aira.


"Bunda," ucap Echa sembari memeluk bunda An.


"Selamat ya cantik, kamu ternyata pemenangnya," ujar bunda An membalas pelukan Echa sembari mengelus kepalanya.


"Sama ayah engga, Ca?" tanya Daniel sambil menatap jahil kearah Bara.


Echa melepaskan pelukannya dari bunda An, kini dia beralih memeluk Daniel.


"Sekarang udah jadi putrinya ayah, ya?" tanya Daniel sembari mengelus lembut kepala Echa.


Echa hanya menganggukkan kepala dalam pelukan Daniel. Ternyata sehangat ini rasanya dipeluk oleh seorang ayah dihari bahagia.


"Ayah apa kabar?" tanya Echa sembari melepaskan pelukannya dari Daniel.


"Baik," jawab Daniel dengan senyuman manisnya.


"Kak Caca," panggil Aira sembari menarik gaun Echa.

__ADS_1


Echa yang mendapat panggilan namanya sekaligus merasakan bajunya di tarik itu menatap kearah Aira yang terlihat sangat manis.


"Kenapa, hm?" tanya Echa dengan suara lembutnya.


"Nanti kak Caca bakal serumah sama Aira, ya? Kak Caca bakalan tinggal di rumah kan?" tanya Aira bertubi-tubi.


"Iya sayang," jawab Echa sembari memeluk Aira yang terlihat sangat antusias.


"Yes! Aira bakalan bisa cerita banyak, nanti Aira bakalan sering tidur bareng lagi sama kak Caca, Aira udah buat list kalau kakak tinggal di rumah," ucap Aira.


"Oh ya? coba kak Caca liat sebanyak apa?" tanya Echa.


Aira mengeluarkan buku kecil miliknya yang berisi wish list nya nanti bersama Echa. ternyata hampir seluruh buku itu terisi penuh.


Tiba-tiba saja Bara menghampiri dirinya dan Aira. "Engga ya, orang kak Caca punya kakak," ucap Bara.


Aira yang mendengar ucapan itu mengerucutkan bibirnya sembari menyilang kan tangan di depan dadanya. "Kak Caca punya Aira."


"Loh kan Kak Caca istrinya kakak." ucap Bara sambil tersenyum kearah Aira yang merajuk padanya.


"Belum ya, belum jadi istrinya kakak," ujar Aira kesal sembari melangkahkan kaki kearah Daniel untuk mengadu pada ayahnya itu.


"Udah kak," ucap Echa.


"Maaf," ucap Bara sembari menatap dengan teduh kearah Echa.


"Yang tadi, kakak di suruh sama Papa," jawab Bara sembari menatap kearah Daniel.


Echa kembali teringat tentang kejadian Bara yang membentaknya karena Echa menganggu dirinya yang sedang sibuk.


"Kalau yang itu, Caca gak maafin ya," ujar Echa sembari mendelikkan matanya. Dia berlalu pergi kearah teman-temannya.


Tentang Leon, dia menatap tajam kearah Bara yang sudah mengambil incarannya, dia hanya diam saja sejak tadi, mencari titik lemahnya pria yang sudah menggambil wanitanya itu.


"Dan gue akan selalu ingat hari ini." ucap Leon sembari mengepalkan tangannya.


Bara mengikuti langkah kecil Echa yang akan duduk di kursi, namun dia segera mencekal tangan Echa untuk memberhentikan aktivitasnya.


"Kenapa?" tanya Echa bingung.


Bara tidak menjawab pertanyaan Echa, dia menatap kearah Roslyn dan juga Niko. "Bu, Bara pinjem Caca nya sebentar ya."


Tanpa menunggu persetujuan dari Roslyn, Bara langsung melangkahkan kakinya keluar dari restoran tersebut diikuti dengan teman-temannya. Ada sesuatu yang ingin Bara tunjukkan lagi kepada Echa. Tidak hanya ini saja.


"Mau kemana, kak?" tanya Echa penasaran. Dia juga menatap kearah teman-temannya seolah meminta penjelasan.

__ADS_1


"Ikutin aja dulu, kalau di kasih tau bukan kejutan, Ca." jawab Hanin sembari tersenyum.


"Hanin gimana? besok kan masih banyak persiapan," ucap Echa.


"Jangan dipikirin, masih 5 hari lagi." Hanin tersenyum manis kearah Echa yang selalu saja memikirkan tentang keadaan teman-temannya.


"Kak Tiara, jangan kecapean ya, Caca takut kenapa-kenapa," ucap Echa sembari menatap khawatir kearah Mutiara dan Alvero.


"Cuman satu hari ini aja, selebihnya gak bakalan kecapean," balas Alvero sembari mengelus lembut kepala Mutiara dan mengecup keningnya.


Mereka semua masuk kedalam mobilnya masing-masing bersama dengan pasangannya, kecuali Devan, dia menggunakan motor sport bersama dengan Irina.


"Malam-malam kayak gini kenapa pake gaun gitu?" tanya Devan sambil menatap kearah Irina yang menggunakan gaun diatas lutut.


"Riri cuman menyesuaikan sama situasi," jawab Irina.


Devan membuka jas yang sedari tadi membalut kemejanya dan memberikannya kepada Irina.


"Lain kali kalau ada acara jangan pake gaun diatas lutut kayak gitu, bilang juga sama gue kalau mau pake gaun pendek," ucap Devan yang kini sudah naik keatas motornya.


"Ini jas nya kenapa dikasih ke Riri, kak? Nanti kakak dingin gimana?" tanya Irina ketika melihat jas milik Devan ada di genggaman tangannya.


"Pake. tutup lututnya," jawab Devan sembari memakai helm nya.


Tanpa bertanya lebih, Irina langsung naik keatas motor Devan ketika si pemilik motor sudah menghidupkan motornya. Irina menggunakan jas Devan di tubuhnya, jujur saja angin malam ini menusuk kedalam kulit.


"Nanti kasih tau gue kalau mau pake gaun pendek." ketus Devan.


Irina mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti dengan ucapan Devan. "Kenapa?"


"Biar bawa mobil," ucap Devan yang kini menutup kaca helmnya. "Gue gak suka liat Lo pake baju kayak gitu."


"Kakak gak suka sama baju yang Riri pake?" tanya Irina. Devan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Riri jelek ya pake gaun ini? Kenapa gak bilang dari awal kak?" tanya Irina ketik mendapat kritikan dari Devan.


Devan tidak menjawab perkataan Irina, dia menarik tangan mungil milik perempuan tersebut untuk memeluk pinganggnya, seolah memberi tahu bahwa dia akan melaju kencang.


Sedangkan Irina yang mendapat perlakuan seperti itu langsung membisu, dadanya sesak, dia merasakan ada yang berterbangan di perutnya, aroma khas dari pria yang kini sedang dia peluk memiliki ciri tersendiri.


"Pegangan nanti Lo jatuh, gue gak tanggung jawab," ucap Devan tanpa Irina sadari sejak tadi terus menatap kearahnya lewat kaca spion.


wajahnya yang cantik putih dengan rambut yang terurai menambah kesan manis melekat di wajahnya.


Irina hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, dia harus segera menormalkan detak jantungnya, dia juga harus menampar dirinya sendiri bahwa Devan hanya sebatas teman, dan perlakuan ini memang yang sering teman lakukan bukan?

__ADS_1


"


__ADS_2