
Saat ini, Echa dan yang lainnya sudah sampai di tempat tujuan, dia hanya melihat kegelapan di penuhi dengan pepohonan, bahkan Echa tidak melihat ada penerangan sama sekali.
"Kak, yakin disini?" tanya Echa ketakutan.
Bara mengeluarkan penutup mata sembari tersenyum kearah Echa.
Echa mengerutkan dahinya ketika mendapat respon seperti itu dari Bara.
"Percaya sama kakak gak?" tanya Bara sembari mengulurkan tangannya kehadapan Echa.
Echa tersenyum manis sembari menerima uluran tangan Bara.
"Tutup matanya," titah Bara.
Echa pun menuruti perintah Bara, sedangkan Bara mengeluarkan kain untuk menutupi mata Echa. Ini adalah malam yang selalu Bara tunggu.
Dia menuntun tunangannya itu keluar dari mobil. Melangkah masuk melewati pepohonan dengan udara malam yang begitu dingin.
Bara masih terus menuntun tangan Echa di kegelapan, sampai tak terasa mereka berdua sudah di tempat tujuan.
Bara membuka penutup mata Echa. netra matanya menyipit ketika melihat banyak sekali cahaya di hadapannya, padahal saat menuju kemari, jalannya sangat gelap.
"Kakak..." gumam Echa kagum saat melihat dekorasi yang di penuhi oleh lampu.
"Suka?" tanya Bara yang sedari tadi menatap binar mata Echa.
"Suka, makasih ya..." jawab Echa sembari memeluk Bara.
Jujur, dia jatuh cinta pada hal-hal kecil yang jarang sekali Bara lakukan tapi sekalinya melakukan itu sangat menakjubkan.
"For you," ucap Bara sembari membawakan dua lampion, untuknya dan untuk Echa.
"Lampion?" tanya Echa sambil menatap mata Bara.
"Dulu, dunia ku gelap. Sampai saat dimana aku bertemu dengan satu lilin yang sangat terang diantara lilin lainnya. Dia tidak mati meski sudah diterpa angin, meski sendirian dia tetap menyala. Aku yang berada dalam gelap itu mengikuti cahaya lilinnya hingga saat ini. Dan semoga akan selalu terang." jawab Bara sembari mengelus pipi Echa dengan tatapan teduh dan senyuman yang manis.
Echa tersenyum manis sambil membawa lampion tersebut. "Dan hanya kamu yang paling menarik diantara yang lainnya."
"Of course." ucap Bara penuh percaya diri.
Echa melihat sekeliling yang ternyata teman-temannya pun sudah memegang lampionnya masing-masing untuk di lepaskan ke udara.
Bara mengeluarkan satu kotak korek api untuk menyalakan lampion tersebut di ikuti dengan yang lainnya.
__ADS_1
"Wish?" tanya Bara ketika Lampionnya sudah menyala.
"Seberat apapun akan saya jalani asalkan seseorang yang nantinya akan menjadi suami saya selalu berada di samping saya." jawab Echa dengan mata terpejam.
Bara tersenyum mendengar permohonan Echa. sederhana, namun menakjubkan baginya.
Echa menerbangkan lampionnya diikuti dengan Bara dan yang lain. Secara bersamaan kembang api pun memenuhi langit yang gelap gulita.
"Kak... makasih ya," ucap Echa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa nangis?" tanya Bara sembari menghapus air mata yang jatuh di pipi Echa.
Echa menggelengkan kepala sambil memeluk Bara. Ada rasa yang tidak mampu diutarakan. Rasanya, bahagia sekali ketika yang Bara ucapkan selalu tentang dirinya tidak ada wanita lain yang mampu mengalihkan dunia Bara darinya.
"Karena tadi kakak sempat miss komunikasi sama yang lain jadi kelamaan, ini udah terlalu larut buat Tiara yang lagi mengandung," ucap Bara sembari mengangkat kepala Echa untuk menatap dirinya.
"Jadi?" tanya Echa dengan wajah memerah habis menangis.
"Selalu terlihat cantik," ucap Bara ketika melihat wajah lucu memerah Echa.
"kakak... apa? jangan kayak gitu," ujar Echa.
"Kakak punya satu hadiah lagi," ucap Bara.
"Again?" tanya Echa.
"Kunci?" tanya Echa bingung ketika Bara memberikannya satu buah kunci bertuliskan nama Bara dan Echa.
"Itu kunci rumah Ca, gue pusing nyari rumah yang pas sama seleranya Bara. Mana harus dadakan lagi, aneh banget emang tu satu orang." celetuk Azka.
Memang benar, Bara menelpon Azka siang tadi untuk membelikannya sebuah rumah untuk di tinggali oleh keluarga kecilnya suatu saat nanti.
Dan dengan santainya, Bara meminta harus ada sore nanti. Azka sempat angkat tangan dengan permintaan Bara, Namun pintarnya. Bara menelpon Ivy untuk membujuk azka agar berusaha terlebih dahulu sebelum menyerah. Dan akhirnya Azka yang kalah, dia mau tak mau harus mencari rumah yang di ingin kan oleh Bara.
"Jahat banget," ucap Echa sembari tertawa mendengar celetukan Azka yang seperti sangat kesal dengan tingkah Bara.
"Mau liat rumah nya?" tanya Bara tanpa memperdulikan amarah Azka.
"Boleh, yang lain nginep kan?" tanya Echa sembari menatap teman-temannya.
"Kayaknya engga deh, Ca." jawab Mutiara. Yang lainnya pun menganggukkan kepala seolah menyetujui hal yang di ucapkan oleh Mutiara.
"Selamat ya Ca, hadiahnya kakak kirim besok aja, soalnya dateng nya besok." ucap Gavin sembari menatap kearah Echa.
"Gue juga ya, kadonya nyusul besok, Bara ngasih taunya dadakan banget, mana ga ada persiapan lagi." ucap Alvero.
"Gak apa-apa kak, hadirnya kakak sama yang lainnya juga udah cukup buat Caca bahagia. Makasih ya, hati-hati di jalan." ucap Echa.
__ADS_1
Mereka semua menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, ini sudah terlalu larut untuk bersenang-senang. Walau hanya sekejap namun ini sangat berkesan.
"Ayo, yang lain udah pada jalan," ucap Bara sembari menggenggam tangan Echa.
"Tunggu," ujar Echa sembari menahan Bara untuk melangkahkan kakinya.
Bara mengernyitkan dahinya, menatap bingung kearah Echa. Saat Bara ingin melontarkan pertanyaannya. Tiba-tiba saja satu kecupan mendarat di bibir Bara.
Echa segera menghapus jejak lipstik yang mengotori area bibir Bara. Namun, di cegah oleh nya.
"Biarin aja," ucap Bara yang juga mencium kening Echa.
"Malu loh, ada lipstiknya." ujar Echa ketika melihat ada sedikit lipstik di bibir Bara.
"Orang Caca gak pake lipstik," ucap Bara yang melihat kearah bibir Echa.
Echa memerah padam ketika Bara melihat kearah bibirnya. Jantungnya seoleh bergemuruh hebat.
"Lucu." gumam Bara sembari menuntun Echa keluar dari taman tersebut, mengikuti yang lainnya.
Sesampainnya di mobil, dering ponsel milik Echa membuat dirinya kaget.
"Halo bu, kenapa?" tanya Echa ketika sudah tersambung dengan seseorang yabg menelponnya.
"Pulang kerumah? Leon nungguin kamu pulang."
"Engga bu, Caca mau pulang sama kak Bara dulu," jawab Echa ketika Bara tiba-tiba saja menggenggam tangannya sembari menjalankan mobil dengan kecepatan standar.
"Oh, mau liat rumah baru ya?" tanya Roslyn sembari tertawa pelan untuk meledek anaknya tersebut.
"Ibu ih, jangan gitu, Caca malu..." gumam Echa.
"Yaudah gapapa, besok ibu kesana ya. Hati-hati di jalan, jangan lupa tidur, ini udah larut banget." ucap Roslyn.
"Iya bu," ujar Echa.
Tanpa berbicara lagi, roslyn langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Siapa tadi yang nungguin di rumah?" tanya Bara tanpa menatap kearah Echa.
Echa menatap kaget kearah Bara, padahal dia tidak menaikkan volume teleponnya tapi kenapa Bara tau percakapannya? "Kok tau si..." gumam Echa.
"Siapa?" tanya Bara menatap sekilas kearah Echa.
"Leon." jawab Echa.
"Banyak banget yang suka sama Caca ya, padahal udah tau Caca punya pacar." ucap Bara dengan wajah cemberut.
Menggemaskan, itu kesan pertama ketika Echa melihat wajah Bara yabg sedang cemberut seperti ini.
__ADS_1
"Tapi kan yang Caca mau cuman kakak, terus yang lain bisa apa?" tanya Echa.
"Ya tetep aja namanya orang cemburu ga bisa di tahan," jawab Bara.