
Saat ini Echa, Hanin, Ivy, Shiren dan Mutiara sedang berada di kamar Keyla, setelah kejadian tadi Echa memberitahu bahwa Keyla dalam bahaya. Sedangkan Kayla pergi bersama Nurmala untuk mengambil pesanan baju.
"Kenapa Ca?" Tanya Hanin yang sedang duduk di samping Keyla.
"Ketika Hanin tanya kenapa masuk kedalam tubuh kakak itu? Dia ngasih visual ada satu sosok yang besar banget kayaknya yang jaga ruangan itu tapi di dalem nya ruangannya banyak banget anak kecil." Jawab Echa.
"Anak kecil? Banyak banget?" Tanya Ivy penasaran.
"Tadi Vivi gak liat?" Tanya Echa.
"Vivi berusaha masuk kedalam visual yang Caca liat tapi kayak ada penolakan gitu, tiap kali Vivi masuk kepental lagi." Jawab Ivy.
"Caca juga gak tau pasti berapa banyak anak kecil itu tapi Caca cuman liat sekitar 5 sosok anak kecil yang gak berdosa sama sekali diem disana, kayak yang 'heh kamu mau kemana? Gak boleh pergi.' itu tiap kali mereka berusaha buat keluar." Ucap Echa.
"Caca liat sosoknya?" Tanya Hanin.
"Caca gak liat jelas gimana bentuknya tapi sosok itu item besar di takutin di tempat itu." Jawab Echa.
"Apa jangan-jangan di gedung ini? Soalnya banyak yang bilang dari yang dekorasi tempat ini sering diganggu anak kecil." Ucap Mutiara yang mendapat cerita dari beberapa orang bahwa mereka kerap kali diganggu hantu anak kecil tiap malam.
"Sebenernya mereka gak ganggu, mereka cuman mau bilang aku disini, tolong." Ujar Echa dengan mata yang berkaca-kaca.
Bayangkan saja anak kecil korban pembunuhan kejam orang tuanya harus tinggal di tempat yang bahkan bukan tempat seharusnya mereka pergi.
Apalagi dijaga oleh sosok mengerikan yang membuat mereka takut untuk melakukan apapun, bahkan sekedar bermain di ruangan itu saja tidak boleh. Mereka bagaikan dikurung dalam penjara. Ironisnya lagi hantu anak kecil itu menunggu pergi dari tempat ini padahal sosok yang menjaga merekalah justru menghalangi perjalanan itu.
"Kasian banget tapi kita juga gak tau ruangan itu." Ucap Shiren.
"Terus pas Hanin tanya kenapa ada disini? Mereka cuman ngasih tau rasa sakit dihatinya tapi kayak yang udahlah gak apa-apa. Terus tiba-tiba mereka ngerasa 'Ma, pa, kenapa kalian lakuin ini? Salah aku apa? Apa aku mempermalukan kalian?' pertanyaan itu terus berputar di pikiran sosok anak kecil itu." Jelas Echa dengan air mata yang sudah menetes, dia dapat merasakan kebingungan, sakit hati dan jiwa murni secara bersamaan.
__ADS_1
"Ada juga pertanyaan yang kamu takut kenapa? Dia jawab 'aku takut ninggalin mama sama papa, mereka sendirian dirumah.' padahal orang tuanya itu yang buat dia kayak gini." Sambung Echa sambil menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Tapi Caca kayak kenal banget sama sosok yang jaga ruangan itu." Ucap Echa sambil mengingat visual yang sosok anak kecil itu berikan padanya.
"Coba Shiren panggil ya, siapa tau bisa." Ujar Shiren sambil memejamkan matanya memanggil sosok anak kecil yang masuk kedalam tubuh Echa.
Namun Shiren sama sekali tidak bisa memanggil sosok anak kecil itu, mereka ingin berinteraksi namun ditahan oleh sesuatu yang lebih besar.
"Susah." Ucap Shiren yang masih memejamkan matanya, dia mencoba berulang kali untuk memanggil sosok anak kecil, namun nihil. Shiren tidak bisa berinteraksi.
"Udah jangan dipaksain, Hanin takut sosok yang ada di ruangan itu malah masuk ke tubuh Shiren." Ujar Hanin memperingatkan Shiren.
"Tapi itu gak bakalan berpengaruh sama acara pernikahan Tiara kan?" Tanya Mutiara khawatir.
"Enggak kak, tenang aja, asal mereka gak diganggu sama kita. Tapi kasian juga denger ada sosok anak kecil yang terjebak disini." Jawab Hanin sambil menghela nafasnya panjang.
"Setelah pernikahan Tiara selesai kita coba untuk keluarin sosok anak kecil yang ada disini, Tiara bakalan perpanjang masa sewanya." Ucap Mutiara.
"Caca kebawah dulu, titip Kak Key nya ya. Caca takut ada yang masuk lagi." Ucap Echa sambil turun dari tempat tidur.
"Iya Ca, tenang aja." Ucap Hanin.
Echa yang mendapat jawaban seperti itu langsung melangkahkan kakinya pergi menuju kebawah untuk mengambil air minum, tenggorokannya sangat kering.
Sesampainya di dapur Echa langsung mengambil air putih, banyak sekali orang di dapur yang sedang mempersiapkan beberapa cemilan untuk yang bekerja disini.
"Kamu tau gak? Kemarin malam aku di gangguin hantu anak kecil, serem banget." Ucap salah satu pegawai wanita yang umurnya terlihat masih muda kepada teman yang berada disebelahnya.
"Di gedung ini emang angker, banyak warga yang takut lewat sini tapi masih banyak orang sewa gedung ini buat jadiin tempat pernikahan." Ujar teman wanita tadi.
"Serem ya.." ucap wanita yang katanya diganggu oleh sosok anak kecil.
Echa yang mendengar percakapan itu langsung pergi meninggalkan orang yang tidak tahu faktanya seperti apa.
__ADS_1
Mereka hanya berspekulasi saja bahwa gedung ini memiliki sisi negatif padahal sosok anak kecil itu hanya ingin meminta tolong saja.
"Ca." Panggil seseorang ketika Echa ingin kembali ke kamar Keyla. Namun ada seseorang yang memanggil namanya.
"Eh hai Ray." Sahut Echa ketika yang memanggilnya itu adalah Rayhan.
"Temen-temen kamu kemana?" Tanya Rayhan yang sudah berada disampingnya.
"Di kamar Kak Key." Jawab Echa.
"Gimana tangan kamu? Udah diobatin?" Tanya Rayhan sambil melihat pergelangan tangan Echa yang sudah diobati.
"Udah." Jawab Echa singkat.
"Caca masuk dulu ya." Ucap Echa ketika sudah berada di depan pintu kamar Keyla.
"Iya." Ujar Rayhan sambil mengacak gemas rambut Echa dan tersenyum manis.
Namun saat Echa ingin memberitahu bahwa dirinya sudah memiliki kekasih tiba-tiba saja ada seorang pria yang memanggil Rayhan.
"Ray, buruan." Teriak pria tersebut sambil menatap kearah Rayhan.
"Iya, gue kesana." Sahut Rayhan sambil melangkahkan kakinya pergi.
Echa yang melihat Rayhan pergi itu langsung masuk kedalam kamar Keyla, jika dia bertemu dengan Rayhan lagi, Echa harus memberitahu bahwa dirinya sudah milik Bara.
"Sama siapa kesini Ca?" Tanya Hanin ketika melihat Echa bersama dengan seorang pria.
"Sama Ray, temennya Algi." Jawab Echa sambil melangkahkan kakinya mendekat kearah teman-temannya.
"Ganteng juga ya." Ucap Ivy sambil tersenyum.
"Vi.." ujar semua orang kompak ketika mendengar perkataan Ivy. Sedangkan Ivy hanya cengengesan menanggapi panggilan dengan tatapan tajam dari teman-temannya itu.
__ADS_1