
Sesampainya di bandara, Echa dan Bara langsung mencari keberadaan Helena dan Edwin yang katanya sudah menunggu sejak tadi.
"Bara." Teriak seseorang dari arah belakang Bara.
Bara dan Echa yang mendengar seseorang memanggil nama Bara langsung melihat kearah sumber suara.
"Tante Helen." Ucap Bara yang melihat orang tersebut adalah Helena, Tantenya. Bersama dengan seorang bayi cantik berada dalam gendongannya, namun bayi itu terus menangis.
"Udah lama nunggu Tan?" Tanya Bara, ketika dia dan Echa sudah berada di hadapan Helena.
"Ya sekitar 15 menit." Jawab Helena sambil menatap kearah Echa dan tersenyum manis
"Halo Tante, aku Echa. Tante bisa panggil aku Caca." Ucap Echa memperkenalkan dirinya kepada Helena dengan senyuman manisnya.
"Pacar kamu bar?" Tanya Helena.
"Iya." Jawab Bara singkat.
"Cantik ya, pantes aja kamu gak pernah ke LA lagi." Ucap Helena. Echa hanya tersenyum menanggapi pujian dari Helena, dia menatap kearah Bayi yang berada di gendongan Helena yang terus menangis.
"Om Edwin mana Tan?" Tanya Bara.
"Tante juga gak tau, tolong cariin ya." Jawab Helena. Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dia menggenggam tangan Echa untuk mengikutinya. Namun Helena mencekal tangan Echa agar tidak pergi bersama Bara.
"Caca biarin sama Tante dulu, kamu cari sendiri aja." Ucap Helena.
"Tapi Tan.." Ujar Bara yang langsung di sanggah oleh Echa.
"Caca disini sama Tante Helen." Ucap Echa sambil mengelus lembut tangan Bara dan melepaskannya.
Bara tidak menjawab perkataan Echa, dia pergi begitu saja.
"Tante kelewatan ya?" Tanya Helena ketika bara pergi begitu saja.
"Eh, engga Tan, kak Bara emang gitu orangnya." Jawab Echa. Helena hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia berusaha untuk menenangkan bayi yang berada di pangkuannya.
"Cantik banget Tante, namanya siapa?" Tanya Echa.
"Misha Natasya." Jawab Helena.
__ADS_1
"Halo Shasha, sama kak Caca yuk." Ucap Echa menatap kearah Bayi cantik bernama Misha.
Sedangkan Misha yang mendengar perkataan Echa itu langsung melirik kearah Echa dengan senyuman manisnya.
"Ternyata kamu mau di sapa sama Kak Caca ya?" Tanya Helena ketika Misha sudah tidak menangis lagi.
"Yuk sini sama Kak Caca." Ucap Echa.
Helena yang mendengar perkataan Echa itu langsung memindahkan Misha ke pangkuan Echa, senyum di bibir Misha tercetak sangat manis.
"Ca, belum ada lho orang yang gendong Shasha di respon kayak gitu." Ujar Helena ketika Echa mengendong Misha.
"Oh ya?" Tanya Echa sambil menatap antusias kearah Helena.
"Iya, kalau ada orang yang gendong dia pasti bawaannya nangis terus." Jawab Helena.
"Gimana keadaan Daniel?" Tanya Helena.
"Baik-baik aja Tan, Bunda An juga udah baik-baik aja tapi Aira masih perlu istirahat total." Jawab Echa.
"Syukurlah kalau mereka baik-baik aja. Tante sempet parno pas denger Daniel, An sama Aira kecelakaan." Ucap Helena.
Namun saat Echa ingin menjawab perkataan Helena tiba-tiba saja Bara dan Edwin datang menghampiri mereka berdua.
"Ini lho pa, kenalin pacarnya Bara, cantik ya? Dia juga baik banget, Shasha aja yang awalnya nangis jadi gak nangis pas Caca ambil, padahal mama baru pertama kali liat Caca." Ujar Helena menceritakan tentang Echa menurut penglihatannya sendiri.
"Langka banget Shasha mau sama orang yang belum kenal." Ucap Edwin melihat kearah Echa yang sedang tersenyum manis kearahnya.
"Namanya Caca ya?" Tanya Edwin tersenyum kearah Echa.
"Iya om." Jawab Echa tersenyum manis.
"Yaudah ayo kita berangkat, udah malem." Ajak Edwin.
"Sini, Shasha sama Tante aja." Ucap Helena sambil membawa Misha dari pangkuan Echa.
Namun tiba-tiba saja Misha menangis sangat kencang ketika di bawa dari pangkuan Echa.
"Sayang, jangan nangis." ucap Helena menenangkan Misha, kalimat menenangkan itu malah membuat Misha semakin menangis.
__ADS_1
"Biar sama Caca aja Tante." ujar Echa membawa Misha dari Helena. Misha langsung tenang dalam pangkuan Echa, senyuman manisnya kembali tercetak di bibir mungilnya.
"Tuh kan pa, Shasha pengen banget sama Caca." Ucap Helena.
"Kamu gak keberatan kan Ca?" Tanya Edwin.
"Enggak om, Caca malah seneng, Shasha cantik banget." Jawab Echa yang sedang melihat Misha.
"Om bawa mobil sendiri?" Tanya Bara sejak tadi melihat kearah Echa yang sedang mengendong Misha. Entahlah pikirannya sudah sangat jauh jika di ceritakan.
"Iya." Jawab Edwin.
"Kenapa nyuruh bara kesini kalau bawa mobil sendiri?" Tanya Bara.
"Kan Om pengen tau pacar kamu." Jawab Edwin. Bara tidak menjawab perkataan Edwin dia kembali melihat kearah Misha.
"Ayo." Ajak Edwin sambil melangkahkan kakinya pergi diikuti dengan Helena, Echa dan Bara.
"Gemes banget ya kak?" Tanya Echa yang gemas melihat tingkah Misha.
"Hm." Gumam Bara memasang wajah dingin andalannya jika diluar rumah. Banyak staf bandara dan beberapa pramugari yang menatap kearah Bara.
Echa yang sudah biasa dengan Bara jika diluar rumah tidak menghiraukan gumaman tersebut mereka berdua melangkahkan kakinya menuju parkiran sedangkan Edwin dan Helena entah pergi kemana.
Sesampainya di dalam mobil Echa menidurkan Misha dipangkuannya yang sejak tadi terus menguap.
"Seatbeltnya pake." ucap Bara ketika ingin menghidupkan mobilnya.
"Susah kak." ujar Echa.
Bara yang mendapat perkataan seperti itu langsung memasang seatbeltnya kepada Echa yang sedang menidurkan Misha.
Bara berhenti tepat di hadapan Misha, bayi yang sangat menggemaskan dan cantik itu tersenyum kearah Bara dengan tangan mungil yang menyentuh hidung Bara.
Bara hanya tertawa pelan ketika Misha menyentuh hidungnya dengan tangan mungil bayi yang berada di pangkuan Echa.
"Jahat banget ya kakak nya gak sapa Shasha." ucap Echa ketika Misha masih senang bermain dengan hidung mancung Bara.
__ADS_1
Bara yang gemas dengan tingkah Misha itu langsung menggigit pipi Misha pelan, membuat bayi mungil itu malah tertawa bukan menangis.
"Tidur ya, udah malem." ucap Bara sambil mengelus kepala Misha lembut, Bara kembali duduk pada posisinya.