TEROR

TEROR
|137| ERGA


__ADS_3

Echa, Shiren dan Ivy melihat beberapa gaun yang terpampang di dengan rapih dan elegan di maneken sedangkan Bara, Azka dan Gavin sedang duduk dengan tenang di sofa yang ada di butik. Selagi menunggu Hanin dan Nathan yang sedang mencoba gaun dan jas yang akan mereka gunakan nanti.


"Kayaknya setelah Hanin bakalan Vivi kayaknya," celetuk Shiren.


"Apaan, engga. Caca duluan, Vivi masih belum dapat kepastian."


"Siapa tau, setelah liat kak Nathan nikah, kak Azka jadi mau kasih kepastian iya kan, Ren?" tanya Echa sambil tertawa pelan.


"Nah, iya itu maksud Shiren." jawab Shiren.


Namun, tanpa Echa sadari ada seorang pria yang terus menatapnya sejak tadi.


"Al, cewek yang pake baju putih itu cantik ya," ucap pria yang sedang duduk bersama temannya seraya menatap kearah Echa yang sedang tersenyum.


"Mana?" tanya seorang pria yang baru saja dipanggil Al.


"Itu yang pendek, gak cantik tapi wajahnya ga ngebosenin, mana manis lagi senyumnya." jawab pria yang sejak tadi menatap Echa.


"Seorang Erga Anggara si playboy jatuh cinta pandangan pertama sama cewek? Gak percaya gue," ucap Al sambil menatap wanita yang baru saja di deskripsikan oleh Erga.


Al akui, wanita yang sejak tadi mengalihkan pandangan seorang Erga itu memang cantik, siapapun yang melihatnya tidak akan pernah bosan. Wajahnya seolah memiliki daya pikat tersendiri.


"Al, dia beda dari wanita yang gue temuin," jawab Erga sambil tersenyum menatap Echa.


"Dia sama Er, dia perempuan yang suka Lo mainin," ujar Al.


"Ternyata gini ya rasanya jatuh cinta, Al. Gue harus bisa dapetin dia. Btw, Lo cari tau ya tentang cewek itu, gue malu buat deketin kalau gak ada pembahasan." titah Erga sambil menatap kearah temannya itu.


"Seorang Erga malu deketin cewek? Gue gak salah denger kan?" tanya Al bingung dengan sikap Erga yang sering di juluki rajanya wanita.


Parasnya yang tampan,senyum yang memiliki lesung pipi, kata-kata nya yang mampu meluluhkan hati wanita, harta yang tak perlu di ragukan membuat para wanita tidak bisa menolaknya jika diajak berkencan. Namun kali ini, seorang Erga memiliki rasa malu untuk memulai. Itu ada peristiwa yang langka.


"Berisik Lo." ketus Erga terus saja menatap Echa.


Sedangkan di sisi lain, Echa dan yang lain melihat Hanin yang sedang mencoba gaun pilihannya. Terlihat sangat anggun dan cantik, wajahnya yang khas orang luar negeri dengan kulit putih membuat Hanin tampak bercahaya.


"Ini sahabat kita kan, Ca?" tanya Ivy ketika melihat Hanin sangat berbeda dari biasanya.


"Cantik banget, Nin." Echa menatap kearah Hanin, dia kaget bukan main ketika melihat aura yang terpancar dari dalam diri Hanin.


"Jangan gitu, Hanin jadi malu tau." ucap Hanin dengan wajah yang memerah.


"Udah, kasian Hanin." ujar Shiren ketika melihat Hanin yang salah tingkah.


"Jadi, gimana menurut kalian?" tanya Hanin sambil tersenyum manis.


"Pilihan yang tepat," jawab Echa.

__ADS_1


"Pilihan yang gak gagal." jawab Shiren.


"Gaun buat Bridesmaids nya hampir mirip kayak gaun ini kan?" tanya Ivy.


"Mirip, Vi. Cuman agak pendek." jawab Hanin.


"Langsung bungkus. Jangan di suruh pilih lagi, nanti bingung sendiri." ucap Ivy cengengesan.


"Yap. Bungkus," ucap Shiren.


"Yakin? Gak mau coba gaun Bridesmaids nya?" tanya Hanin.


"Yakin." jawab mereka kompak.


Hani mengerjapkan matanya ketika mendapat jawaban yang kompak dari teman-temannya. "Oke, kalau gitu Hanin ganti dulu, biar langsung di bungkus."


Echa melangkahkan kakinya kearah Bara yang sedang menjawab telpon dari seseorang yang entah siapa.


"Ya, saya akan segera kesana," ucap Bara sambil menutup sambungan telponnya.


"Siapa ka?" tanya Echa penasaran.


"Papa gak bisa datang ke kantor buat meeting, jadi kakak harus kesana sekarang," jawab Bara sambil menatap kearah Echa.


"Yaudah kakak meeting aja, Caca disini sama yang lain, gak perlu khawatir, kakak hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kabarin kalau udah sampai kantor," ucap Echa sambil tersenyum manis.


"Bar. Nebeng ya, kita di suruh dosen ke kampus." ucap Azka.


"Kalian ke kampus?" tanya Echa ketika melihat Azka, Gavin, Nathan dan Devan sudah bersiap-siap untuk pergi dari butik.


"Iya, Ca. Kalau gak di suruh, mana mau." jawab Azka.


Echa menahan senyumannya, ini yang Echa dan teman-temannya inginkan. Bermain layaknya sahabat seperti dulu.


"Baju nya rapihin," ucap Bara.


"Iya, Kak." ujar Echa.


"Nanti kalau ada apa-apa kabarin," ucap Bara.


"Iya," Ucap Echa sambil tersenyum manis.


"Kakak pergi dulu," pamit Bara. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Setelah melihat Bara dan yang lainnya pergi, Echa melangkahkan kaki kearah Shiren dan Ivy yang sedang bermain bersama Aira.


"Hari ini, tuhan baik banget kan, Ca?" tanya Ivy. Sedangkan Echa hanya tertawa pelan.

__ADS_1


Namun ditengah-tengah perbincangan mereka bertiga, tiba-tiba saja ada orang yang memanggil nama Echa.


"Ca."


Echa menoleh ke arah sumber suara, melihat orang yang memanggil namanya.


"Eh Rey, kenapa?" tanya Echa saat melihat orang tersebut adalah Reyhan.


"Disini juga? Abis ngapain?" tanya Reyhan.


"Iya, Lagi anterin Hanin buat ngambil gaun pernikahannya." jawab Echa.


"Btw, Hanin kapan nikahnya?" tanya Reyhan.


"Sekitar 7 hari lagi, Rey. Emang gak tau? Bukannya Hanin udah kirim undangannya?" tanya Ivy sambil menatap kearah Reyhan.


"Udah sih, tapi lupa tanggalnya." jawab Reyhan cengengesan.


"Awas aja sampai gak datang," ujar Echa dengan mata mengancam.


"Pasti datanglah, Ca." ucap Reyhan.


"Btw, lagi ngapain disini? Sendirian?" tanya Shiren yang sedang bersama Aira.


"Mau jemput sepupu, menurut lokasi di maps, dia disini sih, tapi kok gak ada ya?" tanya Reyhan sambil melihat lokasi yang di share oleh sepupunya.


"Woi Rey." Teriakan yang memanggil nama Reyhan itu mampu membuat semua orang yang ada di sana menatap kearah dua orang pria tampan.


"Al, gak usah teriak-teriak ini bukan hutan," ucap Reyhan saat melihat orang tersebut adalah Al. Temannya.


Sedangkan Echa menatap pria dengan wajah bak dewa yang turun dari langit sedang menatap kearahnya. Dia tidak munafik, pria yang sedang menatapnya itu sangat tampan.



"Ca, ganteng ya sampai segitunya?" tanya Ivy sembari menyenggol lengan Echa.


Echa mengerjapkan matanya sambil melihat kearah Ivy, "Iya, ternyata ada ya yang lebih ganteng dari kak Bara."


"Baru keluar gua sih, makannya gak tau," ucap Shiren sambil tertawa pelan ketika melihat ekspresi wajah Echa.


"Kenalin Ca, ini Erga, sepupu gue. Dan ini Al. Temen nya Erga." ucap Reyhan memperkenalkan pria yang berada di hadapannya.


Erga mengulurkan tangan kepada Echa sebagai tanda perkenalan. "Erga."


"Caca," ucap Echa sambil menerima uluran tangan Erga dengan senyuman manis andalannya.


Erga merasakan jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya saat melihat senyuman yang di berikan oleh Echa. Dia benar-benar merasakan jatuh cinta yang sebenarnya ketika melihat wanita di hadapannya ini tersenyum dengan sangat manis.

__ADS_1


__ADS_2