TEROR

TEROR
Surat di Dalam Amplop


__ADS_3

Saat membaca amplop berisi sebuah surat. Hatiku terasa was-was.


' Halo Claude! Aku merindukanmu hio! Pasti kau kaget ya? Bagaimana hari pertama sekolahmu? Apa harus aku bunuh salah satu teman sekolahmu? Sudah lama aku ingin memutilasi seorang gadis. Baiklah tunggu saja suratku berikutnya


**BY. BLACKBURN** '


Aku menaruh surat itu di laci belajarku. Ini sudah ke 9 kalinya ada yang mengirimku surat ancaman. Dan kali ini si pengirim benar-benar gila Dia berencana membunuh orang. Dan orang itu salah satu teman sekelasku. Apa aku harus membantu si target atau aku hanya akan membiarkan si target mati. Aku berusaha berpikir positif. Surat itu pasti hanya main-main. Mana ada bangsawan tang mati di tangan seorang penguntit yang tidak di ketahui kastanya.


Aku melihat kalebder yang ada di nakas. Besok hari Sabtu tangal 20 Oktober. Kurang 5 hari sebelum si target termutilasi. Aku tidak bermaksud mengangap bahwa yang di tulis si penguntit akan terjadi. Aku hanya penasaran, siapa target yang di maksud. Ratu tiba-tiba masuk dan mendobrak kamarku. Aku menoleh ke Ibunda dengan wajah datar. Ratu mendekatiku dan menarik rambutku yang terikat dengan gaya ponytail. Lalu menjatuhkanku ke lantai.


'' Kau bukan anakku! Kau hanya anak haram dari selir Einheijer ber*ngs*k itu! Lebih baik kau terima saja pertunangan itu agar kau pergi dari sini! ''


'' ... ''


'' Kenapa kau diam saja?! Kau ingin aku pukul hah!! ''

__ADS_1


'' Aku masih punya waktu berfikir selama tujuh hari. Dan aku tidak mengangap bahwa kau ibuku. Kau hanya ratu sah. Tidak di jamin kalau raja mencintaimu. Lagi pula kau dulu hanya selir sebelum ibundaku di usir. Dan dulu kas...''


' PLAK!! '


'' Diam kau putri busuk! Jika saja kau juga ikut di usir bersama si Einheijer, aku tidak akan sering memukul orang seperti ini! BER*NGS*K!!! ''


Ratu pergi dari kamarku dengan kesal. Bekas tamparan di pipi kiriku membuat darah mengalir dari sudur bibirku. Rasanya memang parih. Tapi aku sedikit lega akhirnya ratu meluapkan seluruh amarahnya padaku.


Aku tahu aku sang Claude Athanasia Vanniallya Vannelica Alice, putri terpintar di benua ini adalah anak dari iblis yang menikah dengan manusia. Ya ibundaku, beliau adalah seorang iblis perempuan sedangkan ayahanda adalah seorang raja di kerajaan ALICE. Aku pun menerima bahwa aku adalah anak iblis. Namun anehnya aku 100% adalah manusia. Tidak ada tanda bahwa aku memiliki darah iblis. Walaupun ibunda adalah iblis aku sangat menghormati beliau.


'Tes' Air mataku menetes tanpa sebab. Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Padahal sejak dulu aku tidak pernah menunjukan emosiku. Aku bergegas ke kamar mandi. Aku mendinginkan bekas tamparan dari ratu dengan botol es. Aku pun membasuh mukaku berkali-kali. Wajahku tetap datar seperti biasanya. Aku berjalan menuju ranjangku yang berwarna putih. Aku berharap memimpikan sesuatu yang indah dari pada hidupku.


Baru beberapa menit memejamkan mata. Aku sudah memasuki alam bawah sadarku. Namun samar-samar aku mendengar ucapan ' Selamt Malam anakku sayang ' .


'' Ayahanda. Saya mohon jangan mengusir ibunda! Saya akan melakukan apa saja janji saya akan menurut pada ayahanda! ''

__ADS_1


'' Claude sayang, ibunda hanya akan pergi sebentar sayang. Ibunda hanya akan pergi beberapa waktu. Kita pasti bertemu saat kau dewasananti. ''


'' Kau dengar itu Claude iblis itu akan pergi! Iblis seperti itu tidak isah di tangisi kepergiannya! ''


'' Tapi beliau adalah ibunda saya. Ayahanda pasti juga masih menyayangi ibunga kan?! Iya kan?! ''


'' Selamat tinggal Claude ''


'' TIDAK!! IBUNDA JANGAN PERGI!! IBUNDA EINHEIJER!! JANGAN PERGI!! IBUNDA!!! ''


Aku terbangu dengan was-was. Aku meraih kalender. Sabtu 20 Oktober. 5 hari lagi teman sekelasku akan meningal di mutilasi. Tanpa pikir panjang aku masuk ke kamar mandi. Bersiap ke rumah Glory Abelya. Aku sudah memakai sweater ungu panjang dengan


hoodie, rok berwarna senada dan sepatu boot berwarna hitam.


Tanpa izin ke ayahanda aku berlari ke mobil. Menyuruh sopir yang mengangur menantarku ke kerajaan Glory. Aku mencoba menelpon Abel. ' Tut...Tut...Tut... Halo? ' diangkat! '' Abel aku sedang menuju kerajaanmu sekarang. Ada uang harus aku bicarakan '' ucapku. 'Heh?! Sampai di mana kau? ' tanya Abel '' Di jalan *** " jawabku. ' Baiklah cepat sampai ya! Aku punya banyak makanan!'' Ucap Abel. Aku memutus sambungan telephonnya. ' Pasti tak apa kalau Abel tahu ' pikirku. Tiba-tiba kepalaku pusing. Pandanganku juga kabur. Apa yang terjedi padaku?

__ADS_1


__ADS_2