
Malam semakin larut kini Echa sedang berada di rooftop rumah sakit menatap langit bertabur bintang yang sangat indah dan bulan sempurna dengan cahayanya yang redup.
Entahlah kenapa Echa bisa disini, awalnya dia hanya jalan-jalan saja dan menemukan rooftop yang menampilkan pemandangan indah malam hari. Pemandangan itu mampu memikat matanya.
Bahkan dia tidak memberitahu Bara akan pergi kemana, ponselnya pun tidak Echa bawa.
Echa menatap langit malam yang begitu indah dengan angin yang berhembus menerpa wajahnya, sangat menenangkan.
Dia melihat sekeliling, tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang malam ini, maklum saja ini sudah larut, waktunya manusia mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan ini adalah waktunya mahluk tak kasat mata untuk beraktivitas.
Echa tertawa pelan ketika ada satu sosok yang sering di sebut kuntilanak sedang tebar pesona pada sosok laki-laki gagah yang Echa lihat adalah sosok pengawal pada zaman dahulu, terlihat dari pakaiannya yang kuno.
"Ternyata hantu juga bisa genit ya." ucap Echa sambil tertawa pelan melihat itu.
Echa tidak terlalu menghiraukan itu, dia kembali menatap kearah langit, memejamkan matanya sekejap, merasakan angin berhembus menerpa wajahnya.
"Ma.. pa.. apa kabar?" Tanya Echa kembali teringat dengan orang tuanya, meskipun mereka bukan orang tua kandung tapi tetap saja mereka adalah saksi tumbuhnya Echa menjadi dewasa.
"Udah lama ya papa sama Mama ninggalin Caca, bahkan mama sama papa gak pernah dateng lagi ke mimpi Caca padahal Caca kangen banget liat mama sama papa.." sambung Echa sambil menatap kearah langit dengan senyuman manisnya.
"Hai ma, pa, ini Caca. Putri kecil mama sama papa yang udah dewasa, udah masuk kuliah.. kalau mama sama papa masih disini Caca bakalan cerita semuanya tentang hari-hari yang Caca lewatin." ucap Echa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama sama papa kenapa gak bilang kalau jadi dewasa itu berat." ujar Echa mulai meneteskan matanya, mengingat memori masa kecilnya yang selalu ditemani oleh kedua orang tua sambungnya.
"Mama sama Papa pasti lagi dengerin Caca kan dari sana?" Tanya Echa tersenyum pedih.
"Caca mau bilang maaf sama makasih banyak buat mama sama papa. Maaf selama ini Caca ngerepotin mama sama papa, selalu marah-marah kalau gak diturutin kemauannya, selalu maksa minta waktu buat liburan dan makasih banyak buat semua kasih sayang mama sama papa yang udah dikasih sepenuhnya sama Caca." ucap Echa sambil menghapus air matanya.
"Putri kecil mama sama papa ini udah dewasa, udah ngerasain hal-hal berat yang mungkin itu belum seberapa dibandingkan taun yang akan datang nantinya." sambung Echa yang sudah tidak meneteskan air matanya.
Saat ini dirinya sangat merindukan orang tua sambungnya itu, mereka telah menyaksikan tumbuhnya Echa meskipun tidak lama.
"Udah, Caca cuman mau bilang itu aja, kalau mama sama papa disini pasti bakalan bilang, anak mama itu kuat, gak pernah nangis. Putri kecil yang papa kenal gak cengeng." ucap Echa sambil tersenyum manis dan mengalihkan pandangannya dari langit malam yang indah.
"Udah lama Caca gak manggil Shila." ucap Echa sambil memejamkan matanya memanggil nama Shila.
Tak lama kemudian Echa merasakan Shila berada disampingnya, menatap kearah dirinya.
__ADS_1
"Lagi ada masalah?" Tanya Shila yang sedang menatap mata Echa.
"Engga, Caca cuman lagi kangen aja sama mama, papa." Jawab Echa memandang lurus kedepan.
"Kemarin Shila mau deketin Caca sama yang lain kenapa susah ya?" Tanya Shila.
"Susah gimana?" Tanya Echa bingung.
"Shila berusaha masuk tapi terus mental, kayak kalian itu dilindungi sama sesuatu." Jawab Shila.
"Dilindungin? Caca gak ngerasain itu, Hanin juga gak bilang apa-apa." ucap Echa.
"Shila juga gak ngerti kenapa bisa sampai mental sendiri, kayak kalian ada di dalam balon yang besar banget." ujar Shila mengingat bagaimana dirinya terpental.
"Tapi kenapa sekarang bisa?" Tanya Echa bingung.
"Gak tau, Shila juga bingung." Jawab Shila yang juga sama-sama bingung dengan keadaan yang akhir-akhir ini menimpa dirinya ketika ingin mendekati Echa.
"Udahlah jangan terlalu dipikirin mungkin itu salah satu efek dari permata kak Bara sama yang lainnya." Ucap Echa.
"Mungkin aja kali ya." Ujar Shila.
"Lagi tidur." ucap Echa.
"Pantes aja." ujar Shila.
Namun saat Echa ingin membalas perkataan Shila, ada seseorang yang memanggil namanya.
"Ca." panggil orang tersebut dengan nafas yang seperti habis lari maraton.
"Kak Bara." sahut Echa sambil melihat orang yang memanggilnya itu adalah Bara.
Bara yang melihat Echa itu langsung memeluknya erat dengan nafas yang tidak teratur.
"Kenapa?" Tanya Echa sambil membalas pelukan Bara.
"Kemana aja? Kakak cari gak ada. Tadi gak bilang sama kakak, ponsel juga kenapa ditinggal?" tanya Bara dalam pelukan Echa.
__ADS_1
"Bukannya tadi kakak lagi tidur ya? Kenapa bangun? Caca cuman jalan-jalan sebentar." jawab Echa sambil mengelus punggung Bara dengan nafas yang belum teratur.
"Pasangan satu ini bisa banget bikin Shila iri." ucap Shila yang melihat Bara memeluk Echa erat, seperti sudah lama tidak berjumpa.
"Kalau mau kemana-mana bilang dulu. Bangunin kakak." ujar Bara kini sudah melepaskan pelukannya dan menatap mata Echa.
Echa melihat keringat bercucuran di pelipis Bara.
"Abis nangis?" tanya Bara ketika melihat mata Echa.
"Engga, emang Caca keliatan abis nangis ya?" tanya Echa sambil membersihkan keringat yang ada di pelipis Bara dengan tangannya.
"Dahlah pergi jalan terbaik." ucap Shila yang langsung menghilang dari hadapan Echa.
"Ngapain disini?" Tanya Bara.
"Lagi liat bintang." Jawab Echa sambil menatap kearah langit yang bertabur bintang.
Bara yang mendengar perkataan Echa itu langsung menatap kearah langit yang begitu indah, kini beralih menatap kearah Echa yang sedang menatap langit.
"Bintangnya kalah cantik sama Caca." ucap Bara sambil menatap senyuman Echa.
"Apaan si kak." ujar Echa membalikkan tubuhnya menatap kearah ruangan demi ruangan yang berjajar di rumah sakit.
Matanya tertuju pada lansia yang sedang menatap kearah langit di tengah taman, seorang perempuan yang umurnya sudah tua sedang duduk di kursi roda di temani oleh seorang laki-laki yang umurnya lebih tua dari perempuan itu memegang pegangan kursi roda sambil menatap kearah langit.
"Kak." Panggil Echa yang mata nya tidak lepas dari pandangan orang tua harmonis tersebut.
"Hm.." gumam Bara sambil berdiri di samping Echa.
"Liat deh itu, lucu ya." ucap Echa sambil menatap kearah lansia yang menatap langit membelakanginya.
Bara yang mendengar perkataan itu langsung menatap kearah pandangan yang Echa tuju.
Bara tersenyum tipis melihat itu, pasangan yang sangat harmonis, saling mencintai dan hidup bahagia sampai tua.
"Kita juga bakalan gitu ya Ca." ucap Bara tersenyum kearah Echa. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan membalas senyuman Bara.
__ADS_1
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, setiap hubungan akan berlanjut ke pelaminan atau kandas ditengah jalan.
Echa hanya berharap yang terbaik untuk dirinya dan untuk Bara. Jalan hidupnya telah diatur oleh tuhan, dia tidak bisa memaksa Tuhan untuk menjadikan Bara sebagai pendamping hidupnya jika harus kandas.