TEROR

TEROR
|55| DARAH


__ADS_3

Perlahan Echa mengerjapkan matanya ketika sinar mentari mampu membangunkan tidurnya.


Echa meraba kearah samping tempat tidurnya sebelum membuka matanya melihat kearah jam dinding.


"Misha." Ucap Echa sambil bangun dari tidurnya itu ketika tidak menemukan Misha disampingnya.


Tiba-tiba saja senyuman tipis di bibirnya tercetak ketika melihat Misha berada di pelukan Bara.


Semalam posisi Misha berada diantara Bara dan Echa, setelah mengangkat telpon dari Algi mata Bara sangat berat namun saat dia ingin beranjak dari ranjangnya untuk menuju sofa Misha tiba-tiba saja memeluk tangannya seolah tidak boleh pergi.


Echa mengelus kepala Misha lembut ketika melihat bayi menggemaskan itu memeluk Bara, tertidur dengan sangat nyenyak.


"Jam 7" ucap Echa ketika melihat kearah jam dinding.


Tanpa berpikir panjang lagi Echa segera menuju kamar mandi sebelum membuat sarapan untuk keluarga Bara.


...----------------...


20 menit telah berlalu Echa sudah selesai dengan acara mandinya itu dengan baju yang sudah melekat ditubuhnya.


"Kak Caca." teriak Aira dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Bara.


Echa yang mendengar itu langsung menatap kearah Misha yang sama sekali tidak terganggu dengan teriakan Aira.


Untung aja. Ucap Echa dalam hati sambil melangkahkan kakinya menuju kamar Aira.


Cklek.


"Kenapa Ra?" Tanya Echa.


Pemandangan pertama yang Echa lihat adalah hidung Aira yang banyak mengeluarkan darah bahkan sprai berwarna pink itu sudah dipenuhi oleh darah.


"Ya ampun Ra, kenapa?" Tanya Echa panik sambil melangkahkan kakinya mendekat kearah Aira yang sedang mempertahankan matanya agar tidak terpejam.


"Kak Caca.." panggil Aira dengan suara lemah dengan mata yang hampir terpenjam.


"Buka matanya sebentar ya, Kak Caca panggilin dokter dulu." sahut Echa, namun dia lupa untuk membawa ponselnya di kamar Bara.


"Aira gak mau kerumah sakit, takut dibawa pergi lagi.." ucap Aira dengan suara lemah sambil menggenggam tangan Echa.


"Aira gak bakalan kerumah sakit lagi, Aira bakalan disini, sekarang Aira harus kuat ya, kak Caca mau bawa ponsel dulu." ujar Echa sambil mengelus rambut Aira dengan raut wajah khawatir.


Aira hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban sambil tersenyum manis dengan mata yang sayu dan genggaman yang sudah tidak seerat tadi.


"Aira gak kuat kak.." ucap Aira.


"Aira jangan bilang gitu, Aira pasti kuat, Aira yang kak Caca kenal gak lemah kayak gini, tunggu sebentar ya sayang." ujar Echa dengan mata yang berkaca-kaca sambil melepaskan genggaman tangan Aira dari tangannya untuk mengambil ponsel miliknya yang berada dikamar Bara.


Echa melangkahkan kakinya menuju ke kamar Bara yang hanya beberapa langkah saja dari kamar Aira, dia mencari ponsel miliknya yang seingatnya disimpan diatas laci.


"Duh mana ponsel Caca." ucap Echa yang sedang mencari ponselnya.


"Kak." Panggil Echa yang masih mencari ponselnya.


"Hm." Gumam Bara ketika Echa memanggilnya.


"Aira keluar darah dari hidungnya." ucap Echa yang masih belum menemukan ponsel miliknya.


Bara yang mendengar perkataan itu langsung membuka matanya dan menatap kearah Misha yang sedang memeluknya.


"Kakak liat ponsel Caca?" Tanya Echa.


"Di deket laptop." Jawab Bara yang mencoba untuk melepaskan pelukan Misha dengan hati-hati.

__ADS_1


Setelah mendengar perkataan dari Bara, Echa langsung melangkahkan kakinya menuju kearah meja untuk mengambil ponsel miliknya.


Ketika sudah menemukan ponselnya itu, Echa langsung menelpon dokter yang ditugaskan untuk memeriksa Aira selama dirumah.


"Halo dok, bisa datang secepatnya kerumah Aira? Aira mengeluarkan banyak darah dari hidungnya." Ucap Echa ketika dokter yang ditugaskan mengangkat sambungan telponnya.


"Baik, saya segera kesana. Jangan di bersihin darahnya." Ujar dokter tersebut yang langsung menutup sambungan telponnya.


"Aira masih dikamar?" Tanya Bara yang sudah terlepas dari pelukan Misha.


"Masih." Jawab Echa sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamar Aira diikuti dengan Bara.


"Aira denger kakak kan?" Tanya Bara sambil duduk disebelah Aira yang masih membuka matanya. Aira hanya menganggukkan kepalanya lemah.


"Jangan tutup matanya ya, Aira bisa cerita aja sama Kak Caca." ucap Echa yang berada di sebelah Bara.


"Aira gak kuat kak.." ucap Aira lirih dengan air mata yang menetes menyatu dengan darah yang keluar dari hidung Aira.


"Hei, Aira harus kuat, Misha ada disini, Aira mau liat Misha?" Tanya Bara ketika Aira mulai memejamkan matanya secara perlahan.


"Misha.." ucap Aira.


"Iya, Aira mau liat Misha?" Tanya Echa menatap khawatir kearah Aira.


"Jangan, nanti Shasha takut kalau liat Aira yang kayak gini." Jawab Aira dengan suara serak, seolah itu adalah titik penghabisan suara terakhirnya.


"Jangan gitu, Aira kuat ya biar bisa main sama Shasha." Ucap Bara yang sedang menggenggam tangan Aira.


"Aira mau ketemu mama sama papa." Ujar Aira lirih.


Bara yang mendengar itu langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Aira untuk memanggil Bunda An dan Daniel.


"Aira, kak Caca boleh tanya sesuatu?" Tanya Echa sambil tersenyum manis dan menggenggam tangan Aira selagi menunggu dokter datang. Aira hanya menganggukkan kepalanya lemah.


"Aira takut.." jawab Aira lirih.


"Kak Caca disini, jangan takut." ucap Echa menggenggam tangan Aira untuk menguatkannya. Aira hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aira." Panggil Bunda An dan Daniel secara bersamaan melihat keadaan Aira yang mengenaskan.


"Mama.. papa.." ucap Aira lirih ketika melihat wajah kedua orang tuanya.


Echa yang melihat Bunda An dan Daniel sedang melangkahkan kakinya menuju Aira dia langsung berdiri memberi jalan untuk Bunda An dan Daniel berada di samping Aira.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Bunda An menatap kearah Aira.


"Aira gak kuat.." Jawab Aira.


"Kamu harus kuat ya." ucap Bunda An menggenggam tangan Aira.


Namun tiba-tiba saja Helena dan Edwin datang menghampiri kamar Aira.


"Aira.." panggil Helena dan Edwin bersamaan ketika melihat keadaan Aira.


"Om Edwin, Tante Helen." ucap Aira ketika melihat Helena dan Edwin berada di pintu kamarnya.


Helena dan Edwin yang mendengar namanya di ucapkan oleh Aira langsung melangkahkan kakinya kearah Aira untuk menguatkan gadis kecil yang sudah tidak bisa menahan semuanya.


...----------------...


10 menit telah berlalu, dokter yang ditelpon oleh Echa tiba-tiba saja datang ke kamar Aira.


"Permisi." ucap dokter tampan.

__ADS_1


"Dokter, tolong selamatkan anak saya." ucap Bunda An.


"Saya akan berusaha, ibu dan bapak mohon keluar sebentar." ucap dokter tersebut.


Bunda An, Daniel, Helena, Edwin, Bara dan Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, mereka semua keluar dari kamar Aira.


Semua orang menunggu Aira diluar pintu kamarnya dengan perasaan khawatir.


Echa melihat Bara melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dengan raut wajah yang sulit untuk dibaca sambil membawa kunci motor dari dalam kamarnya.


"Ca, ikutin gih, bunda takut Bara kenapa-kenapa." ucap Bunda An ketika melihat Bara menuruni anak tangga membawa kunci motornya.


Echa yang mendengar perkataan tersebut menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan melangkahkan kakinya mengikuti Bara.


"Kak." Panggil Echa. Namun Bara tidak mengindahkan ucapan Echa, dia masih melangkahkan kakinya menuju keluar.


"Kakak." Panggil Echa lagi ketika Bara tidak tidak berhenti melangkahkan kakinya.


"Jangan ikut kakak." Sahut Bara sambil memakai jaket dan membawa helm yang berada diatas meja.


"Caca ikut." Ucap Echa kini berada dihadapan Bara.


"Jangan." Ujar Bara.


"Ikut." Ucap Echa menghalangi Bara yang melangkahkan kakinya keluar.


"Gak." Ujar Bara menatap tajam kearah Echa.


"Caca ikut." Ucap Echa menatap balik kearah Bara.


Echa tahu jika Bara sedang memendam amarahnya itu dia akan pergi menemui teman-teman geng motornya saat duduk di bangku SMA hingga larut malam dengan wajah yang lebam-lebam, entah apa yang Bara lakukan disana.


Echa takut Bara kembali terpengaruh oleh dunia negatif dari teman-teman geng motornya itu, bahkan Aura permata yang berada didalam tubuh Bara sempat redup karena pergaulan itu. Aneh. Tapi Hanin berkata bahwa aura yang berada didalam tubuh Bara di ambil secara perlahan oleh teman-teman geng motornya untuk menyempurnakan energinya agar bisa mengalahkan musuh.


"Ca." ucap Bara menatap kearah Echa.


"Oke." ujar Echa memberi jalan kepada Bara.


Bara yang diberi jalan seperti itu langsung melangkahkan kakinya menuju kearah pintu.


Tanpa mengucapkan apapun kepada Echa.


"Kakak pergi, Caca pulang." Sambung Echa. Perkataan itu mampu membuat Bara memberhentikan langkahnya.


"Kenapa gak dilanjut?" Tanya Echa ketika Bara memberhentikan langkahnya.


Bara pernah sekali dilontarkan perkataan seperti itu dari Echa ketika dia ingin berangkat menemui teman-teman geng motornya itu, dia tidak pernah menghiraukan perkataan Echa yang akan pulang kerumahnya, itu hanyalah perkataan biasa.


Namun perkiraannya salah terhadap kalimat yang dilontarkan Echa, setelah perkataan tersebut, Bara seolah kehilangan arah, arti pulang yang keluar dari mulut Echa adalah berhenti untuk tidak menganggu kehidupan Bara.


Selama satu minggu Echa terus menghindar dari Bara bahkan ketika Bara menemui Echa kerumahnya dia selalu mengurung diri dikamar tidak berbicara apapun. Seolah Echa benar-benar tidak peduli padanya.


"Kakak mau pergi kan? Caca mau pulang, Caca pamit sama bunda dulu." ucap Echa ketika Bara masih diam tak bergeming ditempat.


Ketika mendapat perkataan seperti itu Bara memutar langkahnya menyimpan kembali helm dan kunci motornya diatas meja, mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu sambil membuka jaketnya.


"Kenapa gak pergi?" Tanya Echa melihat Bara sedang membuka jaketnya.


"Kalau pergi, kakak gak bakalan punya rumah." Jawab Bara sambil menatap kearah Echa.


"Kata siapa gak bakalan punya rumah? Ini rumah kakak, kakak tinggal pulang kesini." Ucap Echa sambil melangkahkan kakinya mendekat kearah Bara.


Echa mendudukkan dirinya disebelah Bara sedangkan Bara langsung mendirikan kepalanya dipangkuan Echa sambil menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Kakak gak bakalan punya rumah yang gini, kakak juga gak bakalan nemu lagi rumah senyaman ini." ucap Bara sedang menatap Echa sambil menggenggam tangan Echa.


__ADS_2