
"Kak, Bunda di rumah sama siapa?" tanya Echa yang sedang duduk disanping Bara.
"Tadi waktu Kakak pulang.. lagi sama Tante Helen," jawab Bara yang sedang menatap layar laptopnya, mengerjakan beberapa tugas yang sempat tertinggal.
Saat Bara pergi bersama Nathan dan Azka untuk membeli makan, dia pulang ke rumahnya untuk mengambil laptop dan beberapa buku tugas. Begitupun dengan Nathan dan Azka, mereka sedang sibuk dengan laptopnya masing-masing.
"Gimana keadaan Bunda? baik-baik aja kan? Udah mau makan?" tanya Echa khawatir dengan keadaan bunda An.
"Udah" jawab Bara sambil melihat kearah jam dinding yang ada di ruangan Aira sudah menunjukkan pukul 22.40.
Echa mengikuti arah tatapan mata Bara yang sedang melihat jam dinding dan beralih menatap kearah Aira yang sama sekali belum ada pergerakan apapun. Takut, khawatir,lelah bercampur menjadi satu.
Bara menghela nafasnya panjang sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa dan memejamkan matanya, semua mata langsung tertuju kearah Echa seolah bertanya "kenapa?" Echa yang mengerti dengan tatapan itu memberikan isyarat untuk melihat jam dinding.
Hanin, Nathan, Azka dan Ivy melihat kearah jam dinding. Mereka pun memejamkan mata sambil menghela nafasnya panjang. Mereka semua takut.
Echa dan Hanin melangkahkan kakinya kearah Aira yang sedang terbaring lemah diatas tempat tidur bernuansa serba putih khas rumah sakit dengan alat medis menempel ditubuhnya.
Suara Elektrokardiograf atau yang sering kita kenal sebagai alat aktivitas jantung berupa grafik yang ditampilkan di layar monitor.
Suara itu memenuhi ruangan yang tampak hening, orang yang berada dalam ruangan Aira larut dalam pikiran dan rasa takutnya masing-masing. Mereka sedang menunggu seorang gadis kecil dengan tingkahnya yang membuat siapapun tertawa untuk segera bangun dari mimpinya yang indah. Sudah cukup membuat banyak orang khawatir dan takut akan kehilangan.
"Aira sayang.. Bangun yuk." ucap Hanin sambil memegang tangan Aira yang dingin tanpa tenaga.
"Aira, udah ya, sekarang waktunya bangun, jangan lama-lama.." sambung Echa sambil mengelus lembut kepala Aira.
"Dari tadi Kak Hanin tungguin kenapa gak bangun-bangun? Aira tau sendiri kan kalau Kak Hanin paling gak suka nunggu lama." ujar Hanin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aira, Kak Caca gak mau lagi nunggu Aira buat bangun." ucap Echa yang sudah tidak bisa menahan air matanya agar tidak tumpah.
__ADS_1
Air mata itu menetes saat melihat wajah Aira yang sangat putih pucat, lingkar hitam di sekitar matanya dan Echa merasakan ada sesuatu yang berbeda. Aura kematian mengelilingi kepala Aira. Echa menepis pikiran itu, dia yakin Aira pasti akan bangun.
Entah siapa yang mengirim teror ini kepada anak kecil yang tidak tahu apa-apa, polos dan lugu. Apakah terlalu kejam jika disebut biadab?
Echa menggenggam tangan mungil Aira sambil meneteskan air matanya dalam diam, rasanya dia ingin mengakhiri semua ini. Memiliki kemampuan seperti ini sangat membuatnya tersiksa baik itu mental maupun fisik.
Kata siapa menjadi anak indigo itu enak? Kata siapa menjadi anak indigo itu tenang? kata siapa manjadi anak indigo itu asik? Kata siapa indigo itu hebat? Menjadi anak yang terlahir indigo tidaklah mudah juga tidak semudah mengucapkan kalimat 'Aku ingin menjadi indigo, bermain dengan mereka yang tidak bermuka dua.'
Tuhan, Caca capek. Kenapa harus Caca? tanya Echa dalam hati sambil menggenggam tangan Aira dengan air mata yang menetes.
Echa yang berbicara seperti itu pada dirinya sendiri langsung tersadar bahwa ini adalah keberuntungan yang harus dia syukuri.
Tuhan, Caca pasrah atas takdir yang telah Tuhan berikan. Atur saja mana baiknya. Caca ikutin, Caca nikmatin semua alur yang telah menjadi jalan hidup Caca. Jika ini memang yang terbaik buat Caca, Caca terima. Ucap Echa dalam hati dengan dada yang terasa sesak ketika mengingat bahwa dirinya harus menerima semua ini.
Deretan kejadian tentang Mama dan Papanya yang meninggal beberapa tahun lalu adalah hal pertama yang keluar dari benak Echa. Meskipun mereka bukan orang tua kandung tapi mereka memiliki jasa yang besar bagi hidupnya.
Echa takut kehilangan lagi, ternyata diksi tentang "kalian akan menyadari ketika sudah kehilangan," itu memang benar. Dan yang paling menyakitkan adalah ditinggal pergi untuk selama-lamanya.
Rasa hampa kembali menyelimuti Echa. Mengingat ketika dirinya berusia 14 tahun, dia yang pulang tanpa kedua orang tua, memasuki rumah yang sepi, kosong, hening tidak ada kebahagiaan di dalamnya.
Langkah gontai tanpa arah dengan tatapan kosong menatap kearah depan membuat Echa percis seperti mayat hidup. Keceriaan yang selalu ada di dalam rumah benar-benar mati tanpa kehadiran orang tua.
Udah Ca. Caca kuat. Mama sama Papa udah tenang. Ucap Echa dalam hati dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, Echa menghela nafasnya panjang mengubur kembali deretan kisah kelam dirinya di masa lalu.
"Ca, udah.." ucap Bara sambil mengelus punggung Echa.
Echa tersentak kaget ketika Bara memegang punggungnya, dia langsung menghapus air mata yang sejak tadi membasahi pipinya. Entah sejak kapan Bara ada di sampingnya, dia tidak tahu jika Bara ada disampingnya.
Kematian dan kehilangan. Dua hal itu Adalah ketakutan terbesar dalam diri Echa. Dia sudah merasakan itu sebelumnya dan itu sangatlah menyakitkan.
__ADS_1
"Udah ya, jangan nangis.." ucap Bara sambil menghapus jejak air mata yang membasahi pipi Echa.
"Caca takut," ujar Echa menatap mata Bara.
Echa takut Aira juga ikut pergi bersama dengan kedua orang tua angkatnya.
"Aira pasti bangun" ucap Bara sambil tersenyum.
Echa tahu semua arti senyuman. Dan yang saat ini Bara berikan pada Echa bukanlah senyuman tulus melainkan senyuman sebagai penenang saja. Dia tahu Bara juga merasakan hal sama seperti dirinya. Takut.
"Kak Bara.." panggil Ivy sambil melihat kearah tangan dan mata Aira yang bergerak.
"Kenapa?" tanya Bara.
"Aira.." jawab Ivy sambil menatap kearah Aira yang perlahan membuka matanya.
Semua pandangan langsung tertuju pada Aira, mata yang beberapa jam yang lalu terpejam akhirnya terbuka juga. Semua orang tersenyum ketika melihat Aira sedang menatap satu persatu orang yang mengelilinginya.
Nathan yang melihat Aira sudah sadarkan diri itu langsung memanggil dokter.
"Kak.." panggil Aira dengan suara lemah.
"Aira butuh sesuatu? Mau minum? Air hangat? Air dingin?" tanya Echa yang mendengar Aira membuka suara. Aira yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Mama.. papa.." ucap Aira saat ucapan itu keluar dari mulut Aira, tiba-tuba saja Bunda An, Daniel, Edwin dan Helena masuk kedalam ruangan Aira.
"Bara. Aira kenapa?!" tanya bunda An yang melihat Aira sedang dikelilingi oleh teman-temannya.
"Mama.." panggil Aira. Ucapan itu mampu membuat raut wajah khawatir milik bunda An menjadi raut wajah yang sulit diartikan.
__ADS_1