TEROR

TEROR
|75| UNDANGAN


__ADS_3

Setelah kejadian tadi, kini Echa dan teman-temannya sedang berada dikamar Keyla.


"Kak, undangannya udah?" Tanya Ivy yang penasaran dengan bentuk undangannya.


"Udah, kalian mau liat?" Tanya Mutiara sambil membuka ponselnya.


"Mana kak?" Tanya Ivy antusias.


Mutiara memberikan ponselnya yang menampilkan undangan digital miliknya.



"Wah bagus banget kak." Ucap Shiren yang melihat undangan Mutiara.


"Kapan kalian nyusul?" Tanya Mutiara sambil tersenyum penuh arti.


"Udah feeling bakalan Hanin dulu sih inimah." Jawab Ivy menatap kearah Hanin.


"Semoga aja." Ucap Hanin.


"Abis itu Caca, ya kan Ca?" Tanya Shiren menatap kearah Echa.


"Mungkin.." jawab Echa.


"Ca." Panggil Keyla yang sejak tadi mendengar percakapan Echa dan teman-temannya.


"Kenapa kak? ada yang sakit?" Tanya Echa ketika Keyla sudah membuka matanya beberapa menit yang lalu.


"Gak ada. Key cuman mau minta maaf soal yang waktu itu." Jawab Keyla sambil menghela nafasnya panjang dan menatap kosong kearah depan.


"Gak apa-apa kak, gak usah terlalu dipikirin ya, sekarang kakak istirahat biar pulih buat besok." Ucap Echa tersenyum manis kearah Keyla.


"Makasih." Ujar Keyla membalas senyuman Echa.


"Kak, Hanin boleh tanya sesuatu?" Tanya Hanin menatap kearah Keyla.


"Boleh." Jawab Keyla menganggukkan kepalanya lemah.


"Kakak sering kayak kerasukan kayak tadi?" Tanya Hanin.


"Sejak pindah ke new York." Jawab Keyla.


Namun saat Hanin ingin bertanya lebih jauh tiba-tiba saja Echa merasakan panas di bagian bahu dan pinggangnya.


"Kenapa Ca?" Tanya Shiren yang melihat Echa sedang menetralkan rasa panas disekitar pinggang dan bahunya.


"Panas." Jawab Echa.


"Tahan Ca, jangan dulu, takut bablas kayak kemarin." Ucap Hanin merasakan aura negatif di dalam kamar Keyla.


"Gak bisa." Ujar Echa yang sudah mencoba untuk menahan tapi rasa panas nya semakin merajalela.


"Kenapa?" Tanya Keyla penasaran dengan yang terjadi pada Echa.


"Caca emang suka panas kayak gini kalau udah bantuin yang kesurupan, apalagi gak ada kak Bara, Caca pasti bakal susah buat ngendaliin diri." Jawab Ivy.


"Cepet-cepet nikah ca, biar ada yang jagain." Ucap Keyla tertawa pelan.


"Eh.. iya kak.." ujar Echa dengan pipi yang bersemu.


"Masih panas?" Tanya Hanin yang sejak tadi membuang energi negatif yang menempel pada Echa.


"Masih, Caca gak kuat." Jawab Echa yang sudah tidak kuat menahan rasa panas di tubuhnya.


Tiba-tiba saja sosok yang sejak tadi menempel pada Echa langsung masuk kedalam tubuhnya.


"Kalian mati." Ucap Echa dengan menatap tajam satu persatu teman-temannya.


"Siapa kamu?" Tanya Hanin.


"Aku yang kalian siksa tanpa sebab." Jawab Echa.

__ADS_1


"Kami tidak melakukan apapun." Ucap Shiren.


"Kalian membuat kami tidak tenang." Ujar Echa.


"Sakit.." ucap Echa lirih ketika sosok yang berada didalam tubuhnya memberikan rasa sakit saat dirinya disiksa.


"Lawan Ca, Hanin bantuin." ujar Hanin yang membantu Echa untuk mengeluarkan sosok dalam tubuhnya.


Echa menarik nafasnya panjang ketika Hanin membantu mengeluarkan sosok yang berada didalam tubuhnya, sakit sekali. Ditambah sosok yang ada didalam tubuh Echa memberikan rasa sakit yang nyata terhadap tubuhnya.


"Gak bisa keluar." Ucap Echa ketika sosok yang di dalam tubuhnya itu tidak ingin keluar, dia ingin memberitahu rasa sakitnya siksaan yang diterimanya.


"Akan kubawa anak ini." Sambung Echa dengan seringai yang mengerikan.


"Apa yang Shiren liat?" Tanya Hanin.


"Ini lebih ke kuntilanak merah, kejam sama jahat banget." Jawab Shiren.


"Wah gak bener inimah." Ucap Ivy.


"Duh gimana ya." Ujar Hanin yang sudah beberapa kali mengeluarkan kuntilanak merah itu dari tubuh Echa namun tidak bisa.


"Nin, Caca gak mau dibawa." Ucap Echa sambil menatap kearah Hanin yang berada di hadapannya.


"Vi, coba liat." Ujar Hanin. Ivy yang mendengar itu langsung menggenggam tangan Echa untuk melihat visual dari kuntilanak mengerikan yang ada didalam tubuh Echa.


"Apa yang telah kau perbuat pasti akan mendapat akibatnya." Ucap Ivy menatap tajam kearah sosok yang berada di dalam tubuh Echa.


"Emangnya kenapa?" Tanya Shiren.


"Dia suka nyakitin orang, sombong, hatinya tuh kayak mati." Jawab Ivy yang kembali memejamkan penglihatannya.


"Aku tidak suka.." ucap sosok yang berada di dalam tubuh Echa sambil menarik tangannya dari genggaman Ivy.


"Apa yang kamu tidak suka?" Tanya Mutiara.


"Aku.. tidak suka melihat orang bahagia, mereka tidak boleh lebih dari aku." Jawab Echa menatap tajam kearah teman-temannya.


Echa selalu saja seperti ini ketika tidak bersama dengan Bara, seolah semua sosok mencari kesempatan untuk membawa Echa pergi bersama dengan mereka yang tak kasat mata sebagai kunci kepergiannya.


"Ren, Caca gak mau.." ucap Echa yang sedang mencoba untuk mengeluarkan sosok di dalam tubuhnya.


"Apa tidak ada ucapan perpisahan?" Tanya sosok yang berada didalam tubuh Echa.


"Kamu tidak akan bisa membawanya pergi." Jawab Hanin.


"Ren, panggil Shila." Sambung Hanin sambil menatap kearah Shiren. Shiren yang mendengar perkataan itu langsung memejamkan matanya dan memanggil Shila.


"Kenapa?" Tanya Shila yang kini sudah berada diantara Echa dan teman-temannya.


"Bantu keluarin." Jawab Hanin yang melihat Shila sedang berdiri di sampingnya.


"Aish.. kuntilanak menyebalkan ini." Ucap Shila sambil menarik paksa sosok kuntilanak yang berada didalam tubuh Echa.


"Kenapa kau disini?" Tanya sosok yang ada didalam tubuh Echa ketika Shila menarik tangannya paksa.


"Apalagi yang kau inginkan? Kau tidak akan bisa membawa temanku ini." Jawab Shila sambil mengeluarkan cahaya biru yang ada dalam tubuhnya.


"Panasss!" Teriak Echa dengan suara nyaring khas kuntilanak dalam tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Echa menatap tajam kearah Shila.


"Sesuai dengan perbuatan yang telah kau lakukan pada temanku." Jawab Shila yang menarik sosok kuntilanak itu dari tubuh Echa.


Wosh..


Sosok yang sejak tadi tidak ingin keluar dari tubuh Echa sudah keluar karena Shila menariknya dengan paksa, meskipun tarikan itu membuat Echa kesakitan tapi apa boleh buat? Itu yang bisa membuat sosok kuntilanak dalam tubuh Echa pergi.


"Masih panas?" Tanya Mutiara melihat Echa sedang memejamkan matanya.


"Udah gak sepanas tadi, tapi masih ada bekasnya." Jawab Echa.

__ADS_1


"Ini ada apa? Apa kalian memiliki kemampuan?" Tanya Keyla bingung dengan kejadian yang dirinya lihat beberapa detik yang lalu.


Echa, Hanin, Ivy, Shiren dan Mutiara saling menatap satu sama lain seolah bertanya siapa yang akan menjawabnya? Apa jawaban yang harus mereka berikan? Iya atau tidak?


Drt..drt..drt..


Namun tiba-tuba saja ponsel Echa bergetar membuat semua orang langsung mengalihkan pandangannya tanpa menjawab pertanyaan Keyla.


"Caca permisi angkat telpon dulu." Ucap Echa sambil turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Keyla.


Setelah berada diluar kamar Keyla, Echa langsung mengangkat telponnya yang menampilkan nama Bunda.


"Halo bunda." Ucap Echa ketika mengangkat telpon.


"Halo Ca, sekarang bisa kerumah gak? Aira dari semalem nangis terus, badannya juga panas, katanya pengen ketemu sama kamu." Jelas Bunda An ketika telponnya sudah tersambung dengan Echa.


"Iya bunda bisa." Ucap Echa.


"Bunda udah suruh Bara jemput kamu. Mungkin sebentar lagi dia nyampe." Ujar Bunda An.


"Bunda tutup dulu ya." Ucap Bunda An yang langsung menutup sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Echa.


Saat Echa ingin melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Keyla untuk pamit kepada Mutiara, tiba-tiba saja seseorang mencekal tangannya.


"Tunggu." Ucap orang tersebut sambil mencekal tangan Echa untuk tidak masuk kedalam kamar Keyla.


"Algi.." gumam Echa yang melihat orang tersebut adalah Algi.


"Aku mau bilang sesuatu sama kamu." ucap Algi ketika Echa menatap kearahnya.


"Apa? Caca gak bisa lama." ujar Echa.


"Jadi, kamu mau kembali lagi sama aku?" Tanya Algi sambil menggenggam tangan Echa.


Namun saat Echa ingin bertanya tentang pertanyaan Algi yang membuatnya bingung itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil namanya.


"Ca." panggil seseorang.


"Kak Bara." Sahut Echa yang langsung melepaskan genggaman tangannya dari Algi.


"Kakak tunggu dibawah." Ucap Bara dengan tatapan dinginnya menatap kearah Echa sambil melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.


"Mau Algi apa sih? Puas?!" Tanya Echa kesal sambil menatap kearah Algi yang sedang tersenyum penuh kemenangan.


Echa melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Keyla untuk meminta izin kepada Mutiara sebelum pergi kerumah Bara.


"Kak, Caca izin pergi dulu." Ucap Echa sambil menatap kearah Mutiara.


"Mau kemana?" Tanya Mutiara.


"Kerumah Kak Bara, Aira demam kak." Jawab Echa.


"Iya, hati-hati ya, kabarin kalau udah nyampe gimana keadaan Aira, Nanti malam atau besok pagi kesini." Ucap Mutiara.


"Sama siapa kesannya?" Tanya Ivy.


"Sama Kak Bara." Jawab Echa.


"Yaudah hati-hati ya Ca." Ujar Ivy.


"Caca pergi dulu, kalau ada apa-apa telpon aja." Ucap Echa sambil melangkahkan kakinya pergi keluar dari kamar Keyla.


"Kak key istirahat yang cukup ya." Sambung Echa.


"Iya Ca, hati-hati." Ucap Keyla sambil tersenyum.


Echa melangkahkan kakinya keluar dari kamar Keyla untuk menemui Bara yang sudah menunggunya dibawah.


"Ayo kak." Ajak Echa ketika sudah berada di hadapan Bara. Sedangkan Bara yang mendapat ajakan itu langsung berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki pergi lebih dulu dari Echa tanpa mengucapkan satu katapun bahkan menatap saja tidak.


Echa hanya menghela nafasnya panjang ketika mendapat perlakuan seperti itu, ingin menjelaskan yang sebenernya pun ini bukan waktu dan tempat yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2