TEROR

TEROR
|104| MARGA


__ADS_3

"Ca, ikut kakak." ucap Bara saat tiba di ruangan Aira.


"Kakak kenapa?" tanya Echa ketika melihat darah yang ada disudut bibir Bara.


"Nanti Kakak jelasin, jangan disini. Keburu mama bangun." jawab Bara sambil menatap sekilas kearah bunda Na yang sedang memejamkan matanya.


Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia mengikuti Bara yang membawanya keluar.


"Kakak. Mau kemana? Aira mau pulang sama Kak Caca." teriak Aira ketika Bara membawa Echa keluar dari ruangan.


"Bentar." sahut Bara.


Bara membawa Echa menuju rooftop rumah sakit, menceritakan semua yang baru saja dia alami.


Sesampainya di rooftop, Bara langsung memeluk Echa erat dengan nafas yang memburu. Sedangkan Echa yang dipeluk seperti itu hanya bisa mengelus punggung Bara. Setidaknya bisa membuat Bara tenang dan menjelaskan semuanya.


"Kenapa?" tanya Echa dengan suara lembut mengalun indah ditelinga Bara.


Suara yang mampu membuat Bara tenang.


"Kakak di suruh ambil alih perusahaan." jawab Bara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Baguslah kak, itu artinya, ayah udah percaya sama Kakak buat jaga perusahaan," ucap Echa.


"Dalam satu bulan, kakak harus kembaliin uang 5 Miliar." ucap Bara sambil memejamkan matanya. Dia siap jika harus di marahi oleh Echa, tentang uang yang dia keluarkan untuk Qiara.


"5 Miliar? Kakak pake apa?" tanya Echa yang masih mengelus lembut punggung Bara.


"Qiara." Bara menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Echa sembari menghela nafasnya.


Echa yang mendengar perkataan seperti itu melototkan matanya, dia sama sekali tidak tahu jika Bara mengeluarkan uang 5 Miliar untuk Qiara. Namun saat ini bukan waktu yang tepat untuk melontarkan banyak pertanyaan kepada Bara. Yang dibutuhkan oleh kekasihnya itu hanya ketenangan.


Bara sudah memilih Echa sebagai tempat paling tenang dalam amarahnya, dia juga harus bisa memposisikan dirinya, sebagai tempat yang saat ini Bara inginkan. Ketenangan.


"Caca gak marah?" tanya Bara ketika tidak mendengar omelan yang keluar dari mulut Echa.


"Enggak... Itu kan uang kakak, Caca juga belum berhak buat larang-larang kakak." jawab Echa.


"Kalau Caca berhak, responnya bakal gimana?" tanya Bara yang masih memeluk erat tubuh Echa.


"Enggak gimana-gimana, paling Caca diemin aja. Mau marah-marah juga udah terjadi," jawab Echa.


Bara menghela nafasnya panjang, dia menceritakan semua yang dialami olehnya beberapa menit yang lalu bersama dengan Daniel. Bahkan Bara menceritakan tentang dirinya yang akan di jodohkan oleh Daniel. Mulai sekarang, Bara harus banyak terbuka kepada Echa begitupun sebaliknya.

__ADS_1


Sakit? Iya, tentu saja. Echa merasakan sakit di hatinya ketika Daniel ingin menjodohkan Bara dengan wanita lain, ada sayatan menganga lebar di hatinya. Namun sayatan itu tertutup kembali ketika Bara menentukan kehidupannya sendiri.


"Udah, gak apa-apa. Siapa tau ayah lagi kasih ujian buat kakak ataupun Caca, biar nanti kakak sama Caca tau rasanya keluar dari zona nyaman itu kayak gimana, sebelum kakak di jatuhin sama ribuan orang yang baru kakak kenal di dunia bisnis." ucap Echa yang melepas pelukannya sambil menghapus air mata yang membasahi pipi kekasihnya itu.


"Emang harus gitu caranya?" tanya Bara menatap lekat mata Echa yang berada di hadapannya.


"Enggak juga, tapi semua orang punya rencananya masing-masing buat kasih ketegasan," jawab Echa sambil tersenyum manis.


"Cara Papa salah..." ucap Bara.


"Enggak apa-apa, gak perlu terlalu di pikirin tentang hal yang buat diri kakak sakit. Yang harus kakak pikirin sekarang, kakak mau gimana kedepannya?" tanya Echa sembari merapikan rambut Bara yang terlihat agak berantakan.


Perkataan Echa mampu membuat Bara terdiam, yang di katakan Echa benar. Bagaimana dia kedepannya? Bara harus bisa membagi waktu antara kuliah, kerja dan keluarga.


"Caca bakalan selalu ada di samping kakak." ucap Echa menatap lekat mata Bara.


"Makasih," ujar Bara kembali memeluk tubuh Echa dengan senyuman bahagia tercetak di bibirnya.Bara merasa sangat beruntung, dipertemukan dengan wanita yang selalu dia doakan pada Tuhan.


"Udah ya, sekarang kita pulang dulu," ucap Echa sambil mengelus punggung Bara.


"Enggak, kakak gak mau ketemu papa." ujar Bara sembari menggelengkan kepalanya.


"Kakak fokus aja sama Aira." ucap Echa sambil menatap mata Bara. Lagi-lagi, Bara hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Enggak Ca." ucap Bara.


"Yaudah kalau itu maunya kakak, terus nanti kakak tunggu dimana?" tanya Echa dengan suara lembut dan senyuman manis miliknya.


"Parkiran," jawab Bara.


"Yakin?" tanya Echa sembari membersihkan darah yang ada di sudut bibir Bara dengan jarinya.


"Iya," jawab Bara.


"Yaudah ayo," ajak Echa sambil menggenggam tangan Bara. Bara hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.


Mereka berdua melangkahkan kakinya untuk meninggalkan rooftop. Namun saat mereka masuk kedalam lift, ada dua pria bertubuh kekar, wajahnya tampan. Namun, banyak tindik di sekitar wajahnya itu.


Echa juga dapat membaca pikiran dua orang laki-laki tersebut yang bisa dibilang, mesum.


Wih, cewek cantik, boleh juga nih cewek. ucap salah seorang laki-laki yang berada di sebelah Echa.


Posisi Echa berada diantara Bara dan dua orang laki-laki berwajah sangar.

__ADS_1


Siapa di sampingnya? Kakaknya kali ya, bisa mungkin nego. ujar salah satu laki-laki satunya lagi.


"Kak, Caca mau pindah kesitu," bisik Echa.


Bara yang mendengar itu langsung menatap kearah dua orang laki-laki yang sedang menatap Echa dari atas sampai bawah tanpa henti. Dia langsung menggeser tubuh Echa agar berada di pojok lift. Padahal Echa menggunakan baju yang tertutup.



"Adiknya cantik juga bro, bisa di pake kan? bisa kali nego 5M, kayaknya masih fresh tuh." bisik laki-laki yang sebelumnya berada di samping Echa.


Bara yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya kuat sambil menatap tajam.


"Wih... Santai, gak cukup 5M?" tanya pria disebelahnya lagi ketika menatap mata Bara.


BUGH.


Satu pukulan mendarat di wajah pria yang baru saja mengajukan pertanyaan kepada Bara.


"Jaga omongan, Lo! Sekali lagi kalian ngomong, gue habisin sekarang juga." ucap Bara pelan namun menusuk.


"Berani, Lo? Lo tau siapa kita?" tanya seorang pria yang tidak terima temannya diperlakukan seperti itu oleh Bara.


"Jangan nantang dibalik jabatan orang tua." jawab Bara dengan tatapan dingin.


"Cuih... Gue kasih tau ya, marga keluarga gue Dharmaraja. Lo pasti tau lah marga itu." ucap pria tersebut.


Bara tahu betul marga Dharmaraja, marga dengan kekayaan yang tidak akan pernah habis 7 turunan. bahkan namanya masuk kedalam 10 marga terkaya di dunia.


"Oh ya? Dharmaraja. Menduduki 8 Marga terkaya di dunia dan menduduki posisi ke 10 marga dalam dunia bisnis. Itukan yang Lo sombongin?" tanya Bara sambil menyunggingkan senyumannya.


"Kenalin, marga Adhipura." ucap Bara sambil tersenyum sinis sambil memperlihatkan kartu tanda pengenal yang hanya dimiliki oleh marga Adhipura.


Marga Adhipura menduduki peringkat pertama dalam dunia bisnis bahkan menduduki peringkat pertama marga terkaya di dunia. Siapapun yang bermain-main dengan Adhipura siap-siap akan gulung tikar.


"Gak usah sombong. Diatas langit masih ada langit, siapin diri kalian. Ingat, kesalahan kalian adalah pelecehan." ujar Bara sambil menepuk pelan bahu kedua pria yang sedang menundukkan kepalanya.


Tidak ada yang membuka suara lagi ketika Bara menyebutkan marganya itu, mereka hanya menundukkan kepala dengan perasaan gelisah.


Echa membiarkan Bara memukul orang tersebut, lelaki seperti itu patut diberi pukulan, bahkan lebih dari itu. Apa serendah itu perempuan di mata mereka?


"Pake baju yang bener." ucap Bara sembari menaikan resleting jaket Echa.


"Sakit." ujar Echa ketika resleting itu menjepit lehernya.

__ADS_1


"Maaf..." ucap Bara sambil tersenyum tipis ketika melihat wajah Echa.


__ADS_2