
"Nin, udah siap?" tanya Echa yang sedang merapikan bajunya.
Hari ini adalah hari pertama Echa masuk kampus bersama dengan teman-temannya yang lain.
"Sedikit lagi," jawab Hanin sambil memasukkan beberapa buku kedalam tasnya.
"Kalau udah, langsung turun ke bawah ya." ucap Echa sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bara.
"Iya, Hanin nyusul." ujar Hanin. Sedangkan Echa melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
Sesampainya dibawah, Echa melihat Teman-temannya itu sedang menunggu dirinya di meja makan. Dia juga melihat Bara yang sudah memakai setelan jas. Terlihat tampan dan berwibawa.
"Kakak mau kemana?" tanya Echa sambil menundukkan dirinya disebelah Bara.
"Ke kantor," jawab Bara yang sedang menatap layar ponselnya.
"Sekarang?" tanya Echa.
"Iya," jawab Bara sambil menatap kearah Echa.
"Bunda, Aira sama Ayah, mana?" tanya Echa saat tidak melihat keberadaan bunda An, Aira dan Daniel di meja makan. Yang ada di sana hanya teman-temannya saja.
"Mungkin di kamar." jawab Bara.
"Bara. 10 menit lagi, papa tunggu di kantor." ucap Daniel yang melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
"Kata papa jam 10, kenapa jadi berubah?" tanya Bara kini beralih menatap kearah Daniel yang sudah siap.
"Papa tunggu 10 menit lagi. Acara akan dimulai 15 menit. 10 menit kamu pakai untuk perjalanan dan 5 menit kamu gunakan untuk persiapan." ucap Daniel tanpa menjawab pertanyaan Bara.
__ADS_1
"Tapi pa..." ucapan Bara tertahan ketika Echa menggenggam tangan sambil menatap kearahnya.
"Berangkat aja," ujar Echa dengan suara pelan sambil tersenyum manis.
"Tapi Ca..." ucapan Bara kembali tertahan ketika Echa menggelengkan kepalanya sembari menggenggam tangan Bara.
Bara yang mendapat isyarat seperti itu langsung mengalihkan pandangannya dari mata Echa.
"Caca bisa berangkat sama Devan." bisik Echa.
Bara tidak menjawab perkataan Echa, dia hanya menghela nafasnya panjang sambil menatap kearah Devan yang sedang sarapan.
"Van." panggil Bara.
"Hm?" sahut Devan sembari menatap kearah Bara.
"Pergi bareng Caca," ucap Bara menatap lekat mata Devan. " Awas sampai kenapa-kenapa."
Bara tidak menjawab perkataan Devan, dia beralih menatap Echa yang sedang menyantap sarapannya. "Kakak berangkat dulu."
"Lho, kakak gak sarapan?" tanya Echa ketika Bara sudah berdiri dari duduknya.
"Nanti aja disana," jawab Bara sembari melangkahkan kakinya pergi.
Echa tidak terlalu memusingkan hal itu, Daniel pasti akan memperhatikan Bara meskipun dari kejauhan. Atau bisa juga dia mengingatkan Bara melalui telpon.
Namun, matanya menangkap telpon milik Bara tergeletak disampingnya. "Ponselnya."
Echa tidak berpikir panjang lagi, dia mengambil ponsel itu sambil melangkahkan kaki menyusul Bara.
__ADS_1
"Kak Bara." teriak Echa yang melihat Bara sedang membuka pintu mobil.
Bara yang mendengar teriakan itu langsung melihat kearah Echa yang sedang tersenyum manis sambil melangkahkan kaki kearahnya.
"Kenapa?" tanya Bara bingung.
"Ketinggalan." jawab Echa sambil memberikan ponsel milik Bara.
"Kalau ada apa-apa, telpon kakak." ucap Bara sambil mengacak rambut Echa gemas.
Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban ketika Bara terus menatapnya.
"Tunggu apa lagi? Sarapan sana." ucap Bara sambil tersenyum. Echa masih diam tak bergeming, Bara melupakan sesuatu.
"Kenapa? Kakak lupa sesuatu?" tanya Bara sembari mengingat apa yang membuat Echa diam saja seperti ini.
Iya, kakak lupa peluk Caca. ucap Echa dalam hati sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kalau gak ada yang lu..." ucapan Bara tertahan ketika Echa tiba-tiba saja memeluknya.
"Hati-hati." ujar Echa yang kini sedang memeluk Bara.
Bara tersenyum tipis sambil membalas pelukan Echa. "Iya," ucap Bara mengelus lembut kepala Echa sembari mengecup singkat keningnya.
Echa menahan bibirnya agar tidak tersenyum saat ini juga.
"Meskipun kakak bolehin Caca sama Devan, tetep harus tau batasan." ujar Bara sambil menatap lekat mata Echa.
Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil melepaskan pelukannya pada Bara.
__ADS_1
"Jangan telat makan," ucap Echa sambil tersenyum manis ketika Bara masuk kedalam mobilnya.