TEROR

TEROR
|91| PAPA


__ADS_3

Saat ini Echa sedang berada di rumah sakit menemani Bara dan Bunda An yang dilanda oleh rasa khawatir tentang keadaan Aira.


Sampai saat ini, Dokter yang memeriksa Aira masih belum keluar dari ruangan, padahal jam sudah menunjukkan pukul 23.35. Sudah hampir 3 jam kurang. Sedangkan Qiara sudah tertidur di kursi tunggu, memang agak tidak nyaman tapi harus bagaimana lagi? Echa sudah memberitahu Roslyn tentang keadaan Aira dan mungkin saat ini ibunya itu akan datang kemari bersama dengan Bi Neni.


Mereka sama-sama khawatir, gelisah, panik, sedih, semua bercampur menjadi satu membuat Echa, Bara dan Bunda An saling membungkam mulutnya, Echa tidak berani untuk membuka suara dalam keadaan seperti ini.


Sampai terdengar suara pintu ruangan yang di buka dari dalam, Echa, Bara dan Bunda An langsung menatap kearah seorang perawat dengan baju yang dipenuhi oleh darah. Bahkan peralatan yang dibawa oleh perawat tersebut banyak darah yang tercium bau anyir.


"Suster anak saya baik-baik saja kan?" tanya Bunda An sambil menghampiri kearah seorang perawat yang keluar dari ruangan.


"Maaf Bu, saya belum bisa menjawabnya, dokter masih menangani anak ibu di dalam," jawab perawat tersebut sambil berlalu pergi dengan langkah yang terburu-buru.


"Ma.. jangan dulu, mereka lagi bantu Aira," ucap Bara sambil memegang bahu Bunda An agar tidak mengikuti perawat yang sedang menangani Aira.


"Tapi, Mama liat darah.. Banyak darah, kamu liatkan? Di baju suster itu banyak darah." ujar Bunda An dengan tatapan kosong dengan nada yang dipenuhi oleh amarah.


"Ma, Aira gak bakalan kenapa-kenapa." ucap Bara tajam untuk mengembalikan tatapan Bunda An seperti semula, tidak kosong seperti saat ini.


"Tapi Bara, darah yang suster tadi bawa banyak." ujar Bunda An dengan nada tinggi.


Namun saat Bara ingin menjawab perkataan Bunda An, Echa langsung menggenggam tangan Bara untuk tidak menjawab ucapan Bunda An yang sedang khawatir terhadap keadaan Aira.


"Udah, kakak duduk aja, Bunda biar sama Caca." bisik Echa yang melihat Bunda An sedang menatap kosong kearah Qiara yang sedang tertidur pulas.


Bara yang mendapat perkataan seperti itu langsung melepaskan genggaman tangan Echa dari tangannya dan duduk di kursi tunggu yang kosong sambil memejamkan matanya.


"Bunda.." ucap Echa tertahan ketika bunda An menyela ucapannya.

__ADS_1


"Bunda bener kan Ca? Kamu liat sendiri? Suster tadi banyak darah, darah Aira." ujar Bunda An menatap kearah Echa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Iya bunda Caca liat, Bunda gak usah khawatir, Aira bakalan baik-baik aja, dia anak yang kuat." ucap Echa sambil memeluk bunda An sambil mengelus punggung untuk menenangkan pikiran Bunda An yang sedang kalut.


"Aira kuat, dia kuat kan Ca? Dia gak bakalan pergi?" tanya Bunda An memeluk erat Echa.


"Aira kuat." jawab Echa meyakinkan bunda An sambil mengelus punggung bunda An.


"An.. " panggil seseorang.


bunda An yang mendapat perkataan seperti itu langsung melepaskan pelukannya pada Echa sambil menghapus air mata yang sejak tadi menetes di pelukan menantunya itu.


Echa melihat Daniel bersama dengan Edwar, Misha dan Helena datang kerumah sakit dengan raut wajah khawatir.


"Mana Aira?" tanya Daniel melihat kearah bunda An.


"Udah berapa jam?" tanya Daniel.


"3 jam." jawab Bunda An.


"An.." panggil Roslyn yang baru saja datang bersama dengan bi Neni.


"Lyn. Aira kuatkan? Dia pasti kuatkan?" tanya bunda An sambil menatap kearah Roslyn namun masih dalam pelukan Daniel.


"Aira pasti kuat An, dia anak yang kuat, sebesar apapun lukanya, dia pasti sembuh." jawab Roslyn menyakinkan bunda An yang kembali meneteskan air matanya.


"Aira kuat An, dia bisa lewatin semua ini." ucap Helena kembali meyakinkan bunda An jika Aira bisa melewati masa kritisnya.

__ADS_1


Daniel yang mendapat perkataan seperti itu langsung melepaskan pelukannya pada bunda An, dia menatap tajam kearah Bara yang sedang memejamkan matanya sambil melangkahkan kaki kearah Bara.


"Bara." panggil Daniel yang sudah berada dihadapan Bara dengan nada menusuk. Bara tidak menjawab perkataan ayahnya itu, dia masih memejamkan matanya.


"Bara." ucap Daniel sambil mencengkram kuat kerah bajunya, hingga membuat Bara berdiri dari duduknya dan membuka mata menatap kearah Daniel dengan tatapan dingin.


"Kamu gak berguna jadi kakak laki-laki." ujar Daniel sambil melepaskan cengkraman kerah baju Bara dengan kasar.


"Kamu gak pernah becus, padahal cuman jaga satu adik aja." sambung Daniel menatap tajam kearah Bara.


Bara masih belum membuka mulut nya untuk menjawab perkataan Daniel yang membuat hatinya sakit.


"Kamu denger apa yang papa bilang? Kamu punya mulut kan? Kenapa diem?" tanya Daniel yang kini sudah tersulut emosi ketika Bara tidak menjawab perkataannya.


Bunda An yang melihat itu langsung melangkahkan kakinya kearah Daniel untuk melerai percekcokan yang akan membuat keadaan semakin rumit.


"Udah.. Aku yang salah disini," ucap bunda An sambil memegang bahu Daniel untuk tidak memperpanjang semuanya.


"Dia selalu aja buat ulah, dia egois. Dia cuman cari kebahagiaan buat dirinya sendiri aja. Bara gak pernah mikirin kebahagian orang-orang disekitarnya." ujar Daniel yang dipenuhi oleh amarah.


"Papa yang egois. Seandainya dulu Bara gak ikutin kemauan papa tentang Aira yang pengen pulang dengan keadaan yang belum pulih, Aira gak bakalan kayak gini Pa." ucap Bara yang juga tersulut amarah karena Daniel selalu menyalahkan dirinya atas segala hal.


"Kamu.. " ucap Daniel tertahan ketika Bara memotong pembicaraannya.


"Papa gak kenal sama Aira, Papa juga gak bakalan pernah mau kenal sama Aira ataupun Bara,yang Papa kenal cuman uang, uang, uang dan uang. Uang udah kayak anak papa. Papa gak bakalan ngerti posisi Bara sama Aira ketika di rumah tinggal berdua di umur yang masih kecil. Papa gak bakalan tau sakitnya Aira ketika dia telpon papa berulang kali, tapi papa sama sekali gak angkat telpon dari Aira." ujar Bara menatap kearah Daniel dengan tatapan yang berkaca-kaca sekaligus dipenuhi oleh amarah.


"Papa tau apa yang Aira bilang sama Bara waktu itu ketika papa gak angkat telponnya? 'Kak, kenapa papa egois ya? Kenapa papa selalu gak ngerti kalau Aira cuman mau papa, bukan uang papa.' Papa gak bakalan tau tangisan seorang anak kecil di umur 3 tahun itu lagi nunggu telpon dari ayahnya sampai ketiduran, bangun dari tidurnya anak kecil itu gak dapet telpon balik dari ayahnya. Jadi siapa yang egois disini? Bara atau papa?" tanya Bara sambil meneteskan Aira mata, menceritakan kisah pilu dari Aira yang berbicara bahwa Daniel adalah seorang ayah yang egois, dia selalu tidak punya waktu untuk anaknya walau hanya 1 menit.

__ADS_1


PLAKK..


__ADS_2