
Dingin. Satu kata yang membuat Echa membuka matanya, hembusan angin yang tidak terlalu kencang mampu membuat Echa terbangun dari tidurnya.
Gelap. Kata yang mendeskripsikan saat Echa membuka matanya. Namun, masih terlihat jelas cahaya yang berada di ujung. Terlihat sangat jauh namun mampu menerangi setiap jengkal lorong panjang.
Dan, tunggu. Kenapa Echa berada di ruangan yang sama sekali tidak dia kenali? Apa dirinya sedang berada di alam lain?
Echa segera bangun dari tidurnya, dia mulai melihat sebuah ruangan yang terlihat kecil namun memiliki lorong yang panjang dan pintu di setiap Echa melangkahkan kakinya.
Echa mulai membuka pintu pertama, dia langsung disuguhkan dengan kenangan kelam tentang orang tuanya yang meninggal di depan mata. Dadanya kembali sesak, hatinya bergemuruh hebat, melihat darah yang keluar dari tubuh orang tuanya mulai mendekat kearahnya.
"Mama...Papa..." gumam Echa dengan suara bergetar.
Dia bisa melihat dirinya dari pantulan darah tersebut, seolah darah itu adalah cermin.
"Ca,"
Panggilan tersebut mampu membuat Echa diam mematung dengan air mata yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Baik-baik aja disana, Nak?"
Pertanyaan yang keluar mulai membuat Echa jatuh terduduk dibawah darah orang tuanya.
"Mama, papa. Kalian dimana?" tanya Echa sambil melihat ruangan yang tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah tempat kecelakaan dirinya dan kedua orang tuanya dulu.
"Nak, maaf, Papa gak bisa nemenin kamu saat kamu mulai dewasa. Papa bahagia kamu tahu orang tua kamu yang sebenarnya." jawab suara yang membuat Echa teringat dengan ayahnya.
"Papa..." gumam Echa, dia melihat seorang anak kecil berusia 14 tahun sedang menggapai tangan kedua orang tuanya yang berlumuran darah.
__ADS_1
"Ca, apapun yang terjadi kedepannya, kamu harus kuat ya, mama selalu liat Caca di atas." ujar sebuah suara yang membuat Echa melihat wanita paruh baya sedang memeluk dirinya agar tidak terluka lebih dalam.
"Engga, kenapa harus mimpi terburuk ini lagi..." gumam Echa.
Tiba-tiba saja Echa berdiri dari duduknya, seolah ada seseorang yang mengendalikan tubuhnya. Padahal saat ini kakinya sedang lemas ketika mendengar suara yang paling dia rindukan.
Tangannya mulai menggapai pintu selanjutnya. Dia kembali disuguhkan dengan sebuah canda tawa dari sahabat masa SMA nya dulu.
Echa, Hanin, Ivy. Dia sedang melihat tawa yang begitu lebar. Senyuman yang tidak pernah dipalsukan dan tidak ada kecurigaan sama sekali. Namun, tiba-tiba saja Riana. Dia ada di sana. dengan wajah lugu, menyenangkan yang ternyata berkedok musuh dalam selimut. Echa di perlihatkan dengan visual kejahatan yang telah Riana lakukan dengan apik.
Visual itu kembali hilang di gantikan dengan wajah manis milik Namira. Wajah cantik, manis dan menyenangkan itu berubah menjadi menyeramkan ketika satu sosok hitam besar mulai menempel di tubuhnya.
"Apa maksudnya?" tanya Echa pada dirinya sendiri, mulai mencerna yang dia lihat.
Visual itu kembali hilang diganti dengan sebuah ledakan besar berwarna hitam memunculkan sebuah bayangan besar.
"Masihkah kau percaya dengan arti sahabat?"
"Setelah apa yang telah engkau lewati beberapa kali?"
Tubuhnya kembali dikendalikan untuk membuka pintu selanjutnya. Dan Bara. Itu yang dia lihat pertama kali.
Senyumannya yang manis, tatapan yang teduh dan menyenangkan itu membuat Echa mengukir seulas senyuman.
Namun, Echa melihat banyak sekali wanita di belakang Bara yang sedang berusaha menggapainya. Ratu, Namira, Riana dan Ayu. Mereka ada di belakang Bara dengan senyuman sinis menatap kearah dirinya.
Visual itu tidak bertahan lama, dia kembali dikendalikan untuk membuka pintu selanjutnya.
Gelap. Hanya ada satu titik cahaya yang berada sangat jauh dari tempat Echa berdiri.
"Keluarga, Persahabatan dan Cinta."
__ADS_1
"Pernahkah kamu bertanya tentang kenapa kamu dipertemukan dengan orang-orang yang spesial? Dimana satu keluarga saling berkaitan satu sama lain?"
"Dan ini adalah puncaknya, terkahir. Meskipun agak menyakitkan tapi kamu akan bebas setelahnya."
"Akan ada yang pergi dan akan ada yang dibawa pergi."
Enam bayangan hitam sedang mengelilingi satu meja berwarna merah darah dengan lilin yang menyala di tengah-tengah.
Echa melihat bayangan tersebut sedang mengitari sebuah meja dengan beberapa mantra yang terdengar asing.
Guncangan hebat membuat mereka tidak goyah sama sekali, benda-benda yang ada di atas meja saling berterbangan. Namun, seolah tidak terjadi apa-apa.
Satu bayangan tumbang dilantai. Namun sama sekali tidak membuat bayangan lainnya menoleh, mereka semakin meninggikan suara mengucap mantra.
Empat bayangan tumbang secara bersamaan, hanya tersisa satu bayangan hitam yang semakin menjadi dan lebih besar dari sebelumnya. Suaranya semakin menggema dan menggelegar membuat ruangan yang Echa tempati seolah diterpa gempa dahsyat.
"Tolong!" teriak Echa. Dia takut. Apa maksud dari visual ini? Kenapa dia tidak mampu memahaminya?
Namun, tiba tiba saja ruangan itu berhenti bergerak bersamaan dengan cahaya putih menyerang bayangan besar tersebut hingga tumbang. Membawanya menembus ruangan tanpa celah. Meninggalkan seperti bulu angsa yang berjatuhan dimana-mana.
"Siapa cahaya itu?"
Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Echa.
"Keluarga, Sahabat dan cinta. Cahaya itu adalah salah satu dari mereka."
"Siapa kamu?!" Teriak Echa. Dia bingung dengan suara yang tiba-tiba saja ada di ruangan tersebut. Menceritakan yang akan terjadi pada hidupnya.
__ADS_1
Namun, tidak ada jawaban. Kepalanya terasa berat, dadanya sesak, kakinya lemas. Dan secara perlahan pandangannya mulai kabur. Tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap bahkan pertanyaan yang Echa ajukan untuk terakhir kalinya tidak mendapatkan jawaban.
Masih banyak pertanyaan yang ingin dia keluarkan dari kepalanya. Namun dia seolah sedang dikendalikan. Hanya bisa berucap beberapa kalimat saja.