
Echa masih dalam pelukan Bara dengan tangan Bara yang masih mengelus perutnya. Sakitnya tidak terlalu parah ketika Bara mengelus perutnya, tapi jika di lepaskan sakitnya luar biasa.
Bahkan Bunda An dan Ibunya pun khawatir akan kondisi Echa.
"Ca, kamu udah baikan?" tanya Bunda An khawatir ketika melihat wajah pucat Echa.
"Masih agak lemes Bun," jawab Echa dengan suara pelan.
"Awalnya gimana? kenapa perut kamu bisa sakit kayak gitu?" tanya Roslyn.
"Caca gak tau, tiba-tiba aja perut Caca sakit." jawab Echa yang memang perutnya tiba-tiba sakit.
Echa sudah menceritakan tentang Bara yang berbohong pada bunda An bahwa dirinya terjatuh. Dan respon bunda An tentunya sangatlah kejam. Dia terus memarahi Bara namun bagi Bara itu seolah angin lalu.
"Kamu istirahat di kamar gih, kalau di sofa nanti ke ganggu sama Aira, Qiara." ucap Bunda An sembari mengelus rambut Echa.
"Gak apa-apa kok Bun, sebentar lagi juga sembuh." ujar Echa.
"Kalian udah makan?" tanya Roslyn.
"Belum," jawab Bara.
"Yaudah, ibu sama bunda bikin dulu sarapan buat kalian, Ca. kalau ada apa-apa panggil ibu aja ya," ucap Roslyn sembari mencium kening Echa.
Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sembari tersenyum manis dengan wajahnya yang pucat.
Bunda An dan Roslyn melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuat sarapan dan makan siang nanti. Apalagi, teman-teman Echa dan Bara akan segera kemari.
"Masih sakit, hm?" tanya Bara sembari menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Echa agar tidak menghalangi wajah Echa.
"Masih," jawab Echa sambil menatap wajah Bara.
"Sebentar, Kakak ambil iket rambut dulu ya," ucap Bara. Echa menganggukkan kepala nya sebagai jawaban.
Namun saat Bara melepaskan tangan nya dari perut Echa rasanya kembali sakit, dadanya berdetak lebih cepat, nafasnya tertahan di kerongkongan. Dengan cepat Echa kembali menarik tangan Bara, menyimpan tangan Bara di perutnya. Dan keadaan kembali membaik.
"Kalau tangan kakak di lepas perut Caca sakit lagi." ucap Echa kembali memeluk Bara.
"Tidur aja, biar ga terlalu capek banget badan Caca," ujar Bara sembari mencium kening Echa.
"Kakak gak berat?" tanya Echa.
"Engga, Ca. Kakak malah seneng Caca gini ke kakak," jawab Bara sembari tersenyum.
Echa kembali memeluk Bara. "Kalau pegel bilang ya."
"Engga bakalan pegel Ca," ucap Bara.
"Yang lain kapan kesini kak?" tanya Echa.
"Sekarang lagi di jalan katanya," jawab Bara.
Echa menatap wajah Bara, jujur saja Bara sangat tampan jika dilihat dari dekat. "Kenapa? kakak ganteng ya?" tanya Bara sembari tertawa pelan.
Echa menganggukkan kepala, dia mengecup pipi Bara membuat pemilik pipi itu diam mematung sembari menatap Echa. Sedangkan Echa menghapus kecupan di pipi Bara.
"Jangan di hapus biarin aja," ucap Bara.
"Mataku sudah ternodai." ucap Devan yang datang secara tiba-tiba membuat Echa langsung menurunkan tangannya dari bibir Bara.
"Aduhhh, jadi pengen ngelus perut Caca," celetuk Devan sembari duduk di sofa kosong.
"Heh." tegur Irina.
"Eh iya, maaf lupa udah punya Bara." ucap Devan.
__ADS_1
Bara menatap tajam kearah Devan yang melihat kearah perut Echa, dia menarik selimut untuk menutupi perut kekasihnya agar tidak dapat dilihat oleh orang.
"Rin, tumben banget Devan ga nolak di bonceng kamu," ucap Echa menatap kearah Irina yang terlihat sangat cantik.
"Eh... Riri gak tau juga, soalnya kak Devan yang ngajakin Riri," ujar Irina gelagapan.
Echa menatap kearah Devan sembari tersenyum penuh arti. Memang hal yang langka Devan membawa wanita untuk bertemu dengan teman-temannya. Apalagi ini Devan yang meminta Irina untuk ikut bersamanya.
"Apa si Ca? kenapa senyumnya gitu?" tanya Devan ketika Echa menatap dirinya.
"Gak apa-apa, btw yang lain kemana?" tanya Echa.
"Gak tau, mereka masih pada siap-siap." jawab Devan.
"Bundaaa..." teriak seseorang dari arah pintu membuat semua orang yang berada di dalam rumah menatap kearah orang tersebut. Dia Kevin, sepupunya Bara.
"Berisik Vin." tegur Bara.
"lho, Caca ku kenapa?" tanya Kevin dengan wajah yang dibuat dramatis.
Bara yang mendengar Kevin mengklaim miliknya itu langsung melempar bantal yang ada di sampingnya kearah Kevin dan lemparan tersebut tepat sasaran mengenai wajah Kevin. Namun, Kevin malah cengengesan dan semakin menggoda Echa.
"Sayang, kamu kenapa gak bilang? kamu sakit apa si?" tanya Kevin dengan suara lembut nya. Seolah memang Echa adalah kekasihnya.
Echa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis dengan bibirnya yang pucat, kesan cantik dan imut tidak hilang dari wajahnya meskipun sedang kesakitan.
"Imut banget ga si, Van?" tanya Kevin sembari menatap Devan yang juga sedang melihat kearah Echa.
"Andai aja gue duluan yang ketemu Caca." ucap Devan.
Apa yang dikatakan Kevin memang benar. Echa memang cantik dan imut meskipun wajahnya terlihat pucat.
Kevin menatap kearah Irina. "Yang ini juga ga kalah cantik, btw siapa namanya?"
Irina yang mendengar pertanyaan Kevin itu langsung tersenyum. "Irina."
"Irina, nama yang bagus," ucap Kevin yang terpesona dengan kecantikan wajah Irina.
"Blasteran?" tanya Kevin.
Irina menganggukkan kepalanya. "Rusia-amerika."
Kevin menatap kearah Devan seolah mempertanyakan siapa wanita yang mampu membuat jok motor Devan itu terisi setiap hari?
"Ngapain Lo liat gue?" tanya Devan.
"Kamu punya Devan?" tanya Kevin to the point.
"Ehh... Buu..kan.." jawab Irina gugup. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana jika di beri pertanyaan seperti itu. Memang pada nyatanya Devan dan Irina hanya teman biasa tapi Irina seperti memiliki ikatan terhadap Devan.
"Bukan? berarti Kevin masih bisa dong antar jemput kamu? kalau ada apa-apa bisa kok telepon Kevin." ucap Kevin.
"Ehh... tapi..." ucapan Irina terhenti ketika Kevin memasukkan nomor teleponnya ke ponsel Irina yang sedang berada di genggaman tangannya.
"Ngapain si Lo?" tanya Devan dengan tatapan tajamnya.
"Mau gue jadiin pacar sebelum ada penyesalan," jawab Kevin yang masih mengetikkan nomor ponselnya.
Devan kembali menatap layar ponselnya dengan raut wajah yang sulit di artikan.
Namun di sela-sela percakapan mereka, tiba-tiba saja ponsel Bara berdering. Dia melihat nama Papa tertera di layar ponselnya.
"Kenapa, pa?" tanya Bara yang sudah tersambung dengan Daniel.
__ADS_1
"Bisa ke kantor ga? Ini papa lagi ada meeting penting di luar, dan kebetulan hari ini juga ada meeting penting di perusahaan. kamu tolong isi meeting nya ya." jelas Daniel yang memang terdengar sedang berbicara dengan orang.
"sekarang banget pa? Bara gak bisa." ucap Bara sambil mengelus kepala Echa yang sudah tertidur di pelukannya.
"Bar. Papa sampai bilang minta tolong sama kamu, ini demi perusahaan kamu kedepannya. Meeting hari ini penting." ucap Daniel.
Echa membuka matanya ketika mendengar percakapan Bara dengan Daniel. Perlahan dia menyingkirkan tangan Bara dari perutnya. Sudah tidak terlalu sakit meskipun masih terasa linu.
Bara yang melihat itu langsung menatap heran kearah Echa. "Caca udah baik-baik aja."
Ucapan yang keluar dari mulut Echa menjawab pertanyaan yang belum keluar dari mulut Bara.
"Kakak bisa pergi meeting."
"Jam berapa meeting nya?" tanya Bara.
"Jam 10." jawab Daniel.
Bara menatap kearah jam dinding. Dan kini sudah menunjukkan pukul 09.30 itu artinya dia hanya punya waktu 30 menit untuk persiapan meeting.
"Oke." ucap Bara sambil menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Daniel.
"Pindah ke kamar aja ya?" tanya Bara ketika melihat Echa menahan sakitnya.
Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sedangkan Bara yang mendapat jawaban seperti itu langsung menggendong tubuh Echa menuju kamarnya. Echa pun mengalungkan tangannya di bahu Bara agar tidak terjatuh.
"Mau di bawa kemana Bar, punya gue itu." ucap Kevin ketika melihat Echa di bawa menuju kamar.
"Berisik. Bukan punya Lo." tegas Bara.
Echa hanya tertawa pelan mendengar candaan yang keluar dari mulut kevin, bisa-bisa nya dia bercanda yang bisa saja membuat posisinya tidak aman.
Sesampainya di kamar, perlahan Bara menidurkan Echa, menutup sebagian tubuh Echa dengan selimut. "Kakak meeting dulu, Caca yakin gak apa-apa?"
"Yakin kak, udah agak mendingan." jawab Echa yang berusaha menahan sakit dan terlihat baik-baik saja di depan Bara.
"Istirahat ya, nanti kakak minta mama buat simpen air anget buat di kompres perutnya. Kalau ada apa-apa telepon kakak ya," ucap Bara.
Echa menganggukkan kepala nya sebagai jawaban.
Bara melangkahkan kakinya kearah kamar mandi sembari membawa handuk. Namun langkahnya terhenti ketika Echa memanggilnya.
"Jangan lama-lama ya di kantornya." ucap Echa yang kembali merasakan sakit di perutnya dengan jantung yang berdetak lebih cepat.
Bara tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
Echa mengatur nafasnya ketika Bara sudah masuk kedalam kamar mandi. "Sakit banget,"
Dia terus memegang perutnya yang terasa sakit. "panggil Shila aja kali ya?"
Echa memejamkan matanya sembari memanggil nama Shila, dan tak lama hantu berparas Belanda tersebut muncul di depan Echa.
"Apa ca manggil-manggil?" tanya Shila.
"Kenapa ya perut Caca sakit banget?" tanya Echa.
"Mau buang air besar kali," jawab Shila tanpa beban.
Echa menghela nafasnya panjang, "Bukan, tadi pas Caca lagi di dapur liat sosok gede banget, tinggi, item, matanya merah, kuku nya panjang banget, sosok itu kayak ngasih sesuatu ke badan Caca soalnya pas liat sosok itu tangannya nunjuk ke perut Caca." jelas Echa.
"Coba Caca liat Shila." ucap Shila sambil menatap mata Echa. Dia ingin melihat apa yang di masukkan oleh sosok tersebut kedalam tubuh nya.
Shila melihat ada satu kekuatan suci yang ada di tubuh Echa. sosok itu hanya memberikan peringatan bahwa akan terjadi hal besar di Minggu depan. Rasa sakit tersebut seharusnya mengenai jantung Echa. Tapi dengan ikatan berlian yang ada di dalam tubuh Bara rasa sakit tersebut menjadi hilang setengahnya dan turun ke bawah perut Echa. Namun, dampaknya membuat beberapa gejala seperti jantung berdetak lebih cepat, nafas yang hanya tersisa di kerongkongan dan ulu hati yang terasa di tekan kuat.
"Gak apa-apa Ca, cuman peringatan aja, rasa sakitnya udah ilang setengahnya." ucap Shila.
__ADS_1