
Setelah kejadian di apartemen tadi, Echa bersama yang lain langsung pergi kerumahnya, sedangkan Roslyn masih berada di kantor untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum tuntas.
"Masih sakit?" Tanya Echa sambil duduk di samping Bara yang sedang memejamkan matanya.
"Sakit banget." Jawab Bara membuka matanya menatap kearah Echa.
"Serius kak." Ucap Echa.
"Iya, serius." Ujar Bara tersenyum tipis ketika menatap wajah Echa yang cemberut.
Namun saat Echa ingin membalas perkataan Bara tiba-tiba saja ponselnya bergetar, menandakan ada seseorang yang menelpon dirinya. Echa menatap nama yang tertera di layar ponsel, dia mengangkat sambungan telpon tersebut.
"Halo Ca, kamu sama yang lain baik-baik aja kan?" Tanya seseorang ketika Echa mengangkat sambungan telpon.
"Baik-baik aja bunda cuman Kak Bara luka." Jawab Echa, orang yang menelpon tersebut adalah Bunda An.
"Syukurlah kalau kalian baik-baik aja, tadi bunda sempet nonton berita di tv dan gak asing sama nama apartemennya." Ucap Bunda An.
"Iya bunda apartemennya emang disimpan bom gitu sama orang yang gak dikenal." Ujar Echa.
"Kalau kalian baik-baik aja bunda jadi tenang, tapi luka Bara gak parah kan?" Tanya Bunda An.
"Gak tau bunda, tapi katanya sakit banget." Jawab Echa sambil menatap kearah Bara yang sedang memejamkan matanya.
"Paling luka kecil aja, kalau kamu ada disana pasti manja banget. Bunda udah tau gimana sifat Bara kalau udah sama kamu." Ucap Bunda An tersenyum pelan.
"Ini beneran sakit Ma.." ucap Bara yang mendengar suara bunda An dari telpon Echa.
"Bunda tau gimana kamu Bar, dulu luka yang kayak gitu gak masalah buat kamu semenjak ada Echa cuman luka kegores aja bilangnya sakit padahal cuman kegores dikit." ujar Bunda An.
"Ma.." ucap Bara lirih yang memang perkataan bunda An ada benarnya.
__ADS_1
"Kamu lagi dimana?" tanya Bunda An.
"Dirumah Caca." jawab Bara yang masih memejamkan matanya.
"Mama Ros ada disana Ca?" tanya Bunda An.
"Gak ada bunda, masih di kantor." jawab Echa.
"Gimana keadaan Aira bunda?" tanya Echa.
"Udah baik-baik aja, Aira udah mau makan juga, mungkin emang efek dari obatnya." jawab Bunda An.
"Mama sendiri dirumah?" tanya Bara.
"Iya. Bunda tutup dulu ya." jawab Bunda An sambil menutup sambungan telponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Echa.
Tut.
"Ca." panggil Bara ketika Echa sudah selesai menjawab telpon Bunda An.
"Mau makan." jawab Bara.
"Pesen aja ya." ucap Echa sambil merapikan rambut Bara yang sedang memejamkan matanya.
"Gak mau." ujar Bara membuka matanya sambil menatap kearah Echa.
"Kak, gak ada yang bisa di masak, Mama belum belanja ke supermarket." ucap Echa.
"Kakak anter." ajak Bara sambil membawa kunci motor yang ada di meja.
"Kakak yakin? bukannya sakit?" tanya Echa bingung dengan perubahan sikap Bara.
__ADS_1
"Udah engga." jawab Bara yang sedang memakai jaket.
"Caca ganti baju dulu." ucap Echa yang ingin melangkahkan kakinya menuju ke kamar, namun Bara mencekal tangan Echa ketika dia ingin melangkahkan kakinya.
"Gak perlu, udah gitu aja." ujar Bara menggenggam tangan Echa.
"Tapi Caca mau nanya yang lain dulu." ucap Echa.
"Hm." gumam Bara dengan wajah tak bersahabat.
"Kenapa kak? Caca salah?" tanya Echa ketika melihat perubahan raut wajah Bara.
"Gak." jawab Bara. Echa hanya menghela nafasnya panjang ketika Bara menjawab perkataannya singkat
Echa melangkahkan kakinya menuju teman-temannya untuk menanyakan sesuatu yang mungkin mereka butuhkan.
"Ada yang mau nitip sesuatu? Caca mau ke supermarket." tanya Echa ketika berada dihadapan teman-temannya.
"Paling cemilan kayak biasa aja Ca." jawab Hanin.
"Udah itu aja?" tanya Echa.
"Satu lagi Ca." jawab Devan.
"Apa?" tanya Echa.
"Kalau bisa Caca aja buat Devan ya, soalnya yang kayak Caca limited edition." jawab Devan yang langsung diberi tatapan sangar dari Bara.
"Mulai terang-terangan nih." ucap Nathan
menatap kearah Devan sambil tertawa.
__ADS_1
"Serius Van, gak ada lagi kan?" tanya Echa, dia dapat melihat tatapan tak bersahabat dari Bara, entah kenapa akhir-akhir ini Bara selalu saja memasang wajah menyeramkan miliknya.
"Gak ada Ca." jawab semua orang kompak.