
Echa melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, dia sudah bangun dari tidurnya sebelum matahari yang membangunkannya. Hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi Mutiara, hari yang sakral bagi Mutiara dan Alvero.
Echa sudah menggunakan baju Bridesmaids yang telah diantar oleh supir mutiara kerumah Bara begitupun dengan baju grossman, Devan yang mengantar baju itu kerumah Bara.
"Kak. Bangun." Panggil Echa yang sedang memberi polesan lipbam pada bibirnya dengan baju bridesmaids yang sudah melekat ditubuhnya. Namun Bara masih belum membuka matanya, maklum saja kemarin malam Bara tidur diatas jam 12 malam karena tugas yang menumpuk dari dosen.
Echa melangkahkan kakinya kearah Bara yang tertidur di sofa dengan buku masih berserakan dimana-mana, padahal Echa sudah membereskannya dengan rapih.
"Kakak." Panggil Echa. Tetap tidak ada jawaban dari Bara, dia masih menutup matanya.
"Kak, bangun." Ucap Echa sambil menyingkap selimut yang digunakan Bara untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Hm.. 5 menit." Ujar Bara yang kembali menarik selimutnya dari tangan Echa.
"Kak, bangun. Udah jam 6." Ucap Echa sambil melihat kearah jam dinding yang masih pukul 04.55. Namun Bara tidak mengindahkan ucapan Echa, dia masih tidak ingin membuka matanya.
"Kakak." Panggil Echa lagi sambil membuka selimut Bara.
"5 menit Ca." Sahut Bara sambil perlahan membuka matanya, menatap kearah Echa.
"Caca kebawah dulu bikin sarapan, awas aja kalau masih tidur." Ucap Echa sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bara untuk membuat sarapan. Tapi sebelum itu Echa melihat keadaan Aira yang masih tertidur pulas dengan suhu tubuh yang sudah tidak panas seperti sebelumnya.
"Ca." Panggil Bunda An yang baru saja keluar dari kamarnya sambil menatap kearah Echa yang keluar dari kamar Aira.
"Iya kenapa bunda?" Tanya Echa.
"Cantik banget menantu bunda." Jawab Bunda An sambil menatap kearah Echa.
"Eh.. makasih bunda." Ucap Echa tersenyum canggung ketika mendapat pujian dari Bunda An.
"Bara udah bangun?" Tanya Bunda An mengalihkan pembicaraan ketika melihat Echa yang tersipu malu.
"Belum bunda, masih tidur, katanya 5 menit lagi." Jawab Echa.
"Yaudah biarin dulu, semalem tidurnya jam 2, temenin bunda buat sarapan yuk." Ajak Bunda An sambil melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
"Iya bunda." Ucap Echa mengikuti bunda An yang melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
"Ayah belum bangun bunda?" Tanya Echa.
__ADS_1
"Belum, biasa baru pulang tadi jam 3." Jawab Bunda An.
Namun saat Echa ingin melangkahkan kakinya menuju dapur bersama Bunda An, dia mendengar tangisan Misha dari kamar tamu.
Tak lama dari itu, pintu kamar tamu terbuka menampilkan Helena yang sedang menggendong Misha sambil menenangkannya untuk berhenti menangis.
"Sayang, jangan nangis. Kamu mau apa?" Tanya Helen ketika Misha sama sekali tidak ingin berhenti dari tangisannya, namun tatapan Misha tertuju pada Echa.
"Mungkin dia mau di gendong sama Caca, pasti langsung diem." Ucap Bunda An ketika melihat tatapan Misha mengarah pada Echa.
"Kamu mau bikin sarapan ya?" Tanya Helena.
"Iya Tante." Jawab Echa sambil melangkahkan kakinya kearah Helena untuk mengambil Misha.
"Biar Tante aja sama bunda yang bikin sarapan, kamu tolong jaga Misha ya, sayang bajunya bagus kalau ke dapur, nanti kotor." Ucap Helena yang masih menenangkan Misha.
"Iya Tante." Ujar Echa sambil membawa Misha dari gendongan Helena.
Saat Misha berada dalam gendongan Echa tangisannya langsung terhenti, bayi mungil itu malah memejamkan matanya ketika Echa menyimpan kepala Misha dibahunya.
"Misha mau di sapa sama kamu Ca. Tuh sampai tidur kayak gitu." Ucap Bunda An sambil tersenyum melihat Misha yang tertidur di bahu Echa.
Echa tidak bisa berkata apa-apa saat Helena dan Bunda An menyudutkannya, dia tersipu malu ketika mendapat perkataan seperti itu.
"Udah Len, kita buat sarapan." Ajak Bunda an sambil tersenyum ketika melihat wajah tersipu milik Echa.
Echa melangkahkan kakinya kearah ruang tamu untuk menidurkan Misha dipangkuannya agar bisa tidur dengan nyaman.
"Gemes banget." Ucap Echa ketika melihat Misha yang tertidur dipangkuannya.
Echa melihat kearah tangga menunggu Bara yang tidak kunjung keluar dari kamarnya.
Echa menghela nafasnya panjang, dia kembali menggendong tubuh Misha untuk melihat Bara di kamarnya.
...----------------...
Sesampainya dikamar, Echa melihat Bara yang sudah rapih dengan setelan jas lengkap berwarna hitam. Terlihat sangat tampan. Namun Echa melihat Bara yang kesulitan menggunakan dasinya.
"Misha tidur?" Tanya Bara yang masih menggunakan dasi.
__ADS_1
"Iya." Jawab Echa sambil melangkahkan kakinya kearah Bara.
"Bisa?" Tanya Echa ketika melihat Bara masih kesulitan untuk memakai dasi.
Dasi adalah hal yang paling dihindari oleh Bara, dia paling tidak bisa menggunakan dasi.
"Gak bisa." Jawab Bara yang kini sudah tidak berkutat dengan dasinya itu, dia sudah pasrah.
Echa melangkahkan kakinya ke arah sofa untuk menidurkan Misha. Setelah menidurkan Misha Echa melangkahkan kakinya mendekat kearah Bara.
Echa merapihkan dasi yang menggantung di kerah kemeja Bara, tangan lentik itu dengan lihainya membelit dasi agar bisa menampilkan bentuk yang sempurna.
Sedangkan Bara menatap kearah Echa yang sedang merapihkan dasinya, dia menarik pinggang Echa untuk lebih dekat dengannya.
"Cantik." Ucap Bara ketika melihat wajah Echa yang hanya berjarak beberapa centi saja.
"Udah rapih." Ujar Echa yang sudah merapihkan dasi, kemeja dan jas yang digunakan oleh Bara.
Bara tidak melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Echa, dia masih menatap wajah cantik kekasihnya itu.
Wanita yang beberapa tahun ini selalu mengisi hari-harinya, selalu sabar menghadapi semua sikapnya, menjadi tempat penenang hatinya, Bara tidak ingin kehilangan wanita yang berada dihadapannya ini.
"Kak. Lepasin, kasian Misha nanti jatuh." Ucap Echa yang mencoba untuk melepaskan tangan Bara yang melingkar di pinggangnya, dia melihat kearah Misha yang masih tertidur di sofa.
Bara malah semakin merapatkan tubuhnya dengan Echa, dia tidak ingin melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Echa.
"5 menit." Ucap Bara masih menatap wajah Echa yang berada dihadapannya.
"Kak.. Gak ada lima menit, lima menitan. Nanti kesiangan." Ujar Echa yang sedang mencoba untuk keluar dari tangan Bara, namun Bara sama sekali tidak memberi celah kepada Echa untuk keluar dari pelukannya.
"Kakak.." Ucap Echa sambil menatap tajam kearah Bara.
"Mau denger gak satu kata yang deskripsiin Caca?" Tanya Bara dengan mata teduh dan senyuman manis menatap kearah Echa.
"Emang bisa deskripsiin Caca dalam satu kata?" Tanya Echa.
"Segalanya." Jawab Bara yang masih saja menatap kearah Echa, dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari kekasihnya itu.
Sedangkan Echa yang mendapat perkataan itu merasakan disekitar pipi nya panas, Bara selalu saja bisa membuat Echa tersipu malu ketika sedang berhadapan dengannya seperti ini, apalagi jarak wajahnya dengan wajah Bara hanya beberapa centi saja.
__ADS_1
"Kok bisa sih kakak kepikiran gombal kayak gitu? Sedangkan Caca cuman kepikiran kakak aja." Ucap Echa sambil tersenyum, menyembunyikan wajah bersemu miliknya di dada bidang Bara.