TEROR

TEROR
|147| JANJI


__ADS_3

"Aku di paksa menikah, aku ingin pulang bertemu mama," ucap sosok tersebut dengan suara tangisan yang sangat pilu.


Hanin mencari kebohongan dari tatapan mata sosok tersebut, namun nihil yang dia temukan adalah trauma, rasa sakit yang begitu mendalam dan rasa tidak rela.


"Di paksa?" tanya Hanin.


Echa menganggukkan kepalanya sembari menggenggam tangan Hanin erat. Dia seolah masuk kedalam kenangan sosok tersebut.


"Tuan itu mengambilku dari mama, diam-diam, aku di culik dan di jadikan istrinya," ucap sosok tersebut dengan suara gemetar, "Mama jatuh sakit, dia bahkan tidak ingin menemui siapapun, mama mengurung diri di kamar, aku temani tapi tidak bisa melihat aku."


"Siapa namamu, berapa umur mu waktu di culik?" tanya Hanin.


"Elen, 16 tahun," jawab sosok yang masih berada di dalam tubuh Echa.


"Kenapa kamu bisa di culik? Pasti ada penyebabnya kan?" tanya Hanin.


"Ayah menjual ku karena kalah taruhan, dan ibu tidak tahu bahwa ayah pemain judi," jawab Elen. "Ayah menyuruh tuan untuk menculik ku saat tengah malam, aku berteriak namun tidak ada yang mendengar."


"Lalu kamu menikah dimana?" tanya Hanin.


"Aku tidak tahu, aku dibawa pergi menggunakan kereta, tempatnya sangat mewah namun sunyi dan gelap." jawab Elen. "Setelah suara sah itu terdengar, aku mencoba untuk kabur lewat jendela kamar. Aku berhasil tapi aku masih harus berlari. Kakiku rasanya perih, banyak duri yang menancap. Aku berteriak Mama, namun tidak ada yang mendengar." Echa berusaha untuk menenangkan sosok yang ada di dalam dirinya agar bisa lebih tenang dan menerima keadaan. "Laki-laki bertubuh besar itu menemukan ku, aku terus berlari sampai jalan yang aku temukan buntu."


"Lalu? Kau melompat?" tanya Hanin sembari mengelus tangan Echa.


Elen menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku kira dengan melompat aku masih bisa hidup, ternyata itu akhir hidup ku. Kayu itu mencap sangat dalam ke perutku beberapa jam. Sakit dan setengah badan mati rasa."


"Kamu tidak melihat dulu kebawah?" tanya Hanin.


"Yang aku lihat air, dan aku pikir dengan aku jatuh ke air aku bisa keluar dari tempat paling buruk ini dengan mengikuti arusnya, ternyata perhitunganku salah, aku seharunya melompat lebih jauh lagi." jelas Elen.


Hanin sedikit terdiam ketika mendengar cerita elen. Sosok ini begitu detail menceritakan kematiannya, dia harusnya sudah pulang. Tidak seperti sosok yang dia temui. Mereka selalu memanipulasi tentang kematiannya agar di kasihani.


"Kenapa kamu tidak pulang? Bukankah sudah ada yang menjemput?" tanya Hanin.


"Aku hanya ingin bertemu dengan mama, aku tidak ingin mama sendirian, kesiapan, menangis, aku tidak ingin mama merasakan itu juga." ucap Echa kembali menangis pilu.

__ADS_1


"Mama sudah menunggu di atas, kamu tidak perlu khawatir lagi, sekarang giliran kamu yang pergi," ujar Hanin sembari mengelus punggung Echa.


"Mama sudah menungguku?" tanya Elen dengan mata yang berbinar penuh harap.


Hanin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum manis.


"Sudah, jangan dibawa terlalu dalam teman saya, nanti dia tidak bisa pulang," ucap Hanin ketika Elen membawa Echa pergi kedalam kenangannya.


"Baik, maaf aku akan mengembalikannya," ucap Elen sembari memejamkan matanya.


Namun tiba-tiba saja darah keluar dari hidung Echa lumayan banyak. Itu artinya jiwa Echa terlalu lama dalam kenangan Elen. Membuat dia kehabisan energi.


"Elen, kamu bisa pergi bertemu mama di atas, mama juga sudah menunggu elen diatas," ucap Hanin sembari mencoba membawa pergi elen.


"Mama?" tanya Elen ketika melihat cahaya yang di penuhi oleh mamanya.


"Mama bahagia? Elen disini, terimakasih kak sudah membantu elen," ucap Elen dengan perlahan keluar dari tubuh Echa.


Sedangkan Echa merasakan lemas di sekujur tubuhnya, darah keluar dari hidungnya lumayan banyak.


"Maaf, tapi kalau ngeliat sepotong-potong gak enak, Nin." ujar Echa.


"Ca, tapi itu bikin Hanin takut Caca dibawa, jangan kayak gitu lagi," ucap Hanin khawatir.


"Heem, maaf," ucap Echa, dia merasakan kepalanya sedikit pusing. Mungkin, terlalu mengeluarkan banyak energinya.


"Ganti bajunya, pake yang Hanin aja, jangan sampai keluar banyak darah kayak gini," ucap Hanin. Dia sangat khawatir ketika melihat wajah pucat Echa. Apalagi darahnya masih belum berhenti padahal Elen sudah pergi dan tidak ada sosok yang lebih jahat lagi di sekitar sini.


Cklek.


"Ca bunda tel..." ucapan bara terhenti ketika melihat Echa yang sedang membersihkan darah di hidungnya.


Tut.


Tanpa berpikir panjang Bara langsung mematikan sambungan teleponnya. Menghampiri Echa yang sedang menahan rasa pusingnya.

__ADS_1


"Caca sendiri yang ngeyel masuk kedalam kak, udah Hanin kasih tau tapi gak di dengerin," ucap Hanin sembari melangkahkan kaki keluar dari kamarnya sendiri. Ketika melihat tatapan Bara mulai mengerikan.


"Ngeyel banget jadi orang, udah di kasih tau panggil kakak kalau ada apa-apa," ucap Bara sembari membaringkan tubuh Echa agar darahnya tidak banyak keluar.


"Caca gak tau bakalan kayak gini," ujar Echa sembari mengerucutkan bibirnya.


"Udah tau badan gak fit, malah terus masuk ke dalam, Caca tau sendiri kan yang kayak gitu bahaya banget buat Caca?" tanya Bara dengan tatapan yang mengerikan. Bahkan, Echa tidak berani menatap mata Bara.


Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sembari menatap kearah jendela. Sungguh, dia tidak berani menatap mata Bara.


"Ca, denger gak?" tanya Bara pelan namun menusuk.


"Denger kak," jawab Echa.


"Liat kakak," ucap Bara ketika Echa tidak mau menatap kearah dirinya. Dia tahu tatapannya itu membuat Echa takut.


Echa menggelengkan kepalanya. "Takut, kak."


Bara mengembuskan nafasnya, tatapannya masih tajam. "Echa Aprilia Anjani."


"Kakak... Takut, jangan liat kayak gitu," ucap Echa ketika melihat kearah Bara namun dengan menutup matanya.


"Ceroboh banget jadi orang. Jangan gitu lagi, bikin takut kakak tau gak?" tanya Bara.


"Maaf, tapi jangan bikin Caca takut juga kak," jawab Echa yang masih menutup matanya.


"Enggak, buka matanya." ucap Bara yang masih saja memasang wajah datar dan tatapan mata tajamnya.


Perlahan Echa membuka mata dan masih melihat Bara memasang wajah mengerikannya.


"Kakak ..." rengek Echa.


"Bisa gak kalau kakak ngomong itu liat ke sini, Caca selalu bilang iya aja, tapi gak ngelakuin." ucap Bara. "Tangan kakak aja sampai gemetaran gini."


"Maaf kak," ujar Echa sembari menggenggam tangan Bara.

__ADS_1


Bara menghela nafasnya panjang ketika melihat Echa tersenyum manis dengan bibir yang pucat. "Janji gak lagi."


__ADS_2