
20 menit telah berlalu kini Echa dan Bara sudah berada di rumah Echa, mereka berdua sedang duduk di ruang tamu sedangkan Hanin dan Shiren yang memasak makan siang.
"Kak awas, Caca mau bantuin dulu yang lain." Ucap Echa ketika Bara menidurkan kepalanya dipangkuan Echa sambil memejamkan matanya, namun Bara tidak mengindahkan ucapan Echa, dia masih saja berada dipangkuan Echa.
"Banyak-banyak sabar ya Ca." Ucap Nathan ketika melihat Echa kesusahan untuk melakukan apapun.
"Iya, Bunda An aja kewalahan sama Bara kalau udah kayak gitu." Sambung Gavin yang sedang tidur di sofa sambil memejamkan matanya.
Namun saat Echa ingin membalas perkataan Gavin dan Nathan tiba-tiba saja Roslyn masuk kedalam rumah dengan terburu-buru.
"Lho kalian disini?" Tanya Roslyn yang melihat kearah ruang tamu.
"Iya Bu." Jawab Echa.
"Kalian gak apa-apa kan? Ibu takut kalian kenapa-kenapa makannya buru-buru kayak gini." Ucap Roslyn sambil melangkahkan kakinya kearah Echa dan yang lainnya.
Bara dan Gavin yang merasa Roslyn melangkahkan kakinya kearah mereka, mereka berdua langsung bangun dari tidurnya memberi salam kepada Roslyn.
"Kita gak apa-apa Bu." Ujar Nathan sambil tersenyum kearah Roslyn yang sedang mengelus rambut Echa.
"Syukur kalau kalian baik-baik aja." Ucap Roslyn menghembuskan nafasnya lega ketika melihat Echa dan teman-temannya baik-baik aja.
"Ibu, Caca ke dapur dulu ya." Ujar Echa ketika mendapat peluang untuk pergi dari sikap manja yang dimiliki Bara.
"Iya sayang, ibu keatas dulu." Ucap Roslyn.
Setelah mendapat perkataan seperti itu Echa langsung menuju ke dapur sebelum Roslyn yang lebih dulu pergi.
"Masak apa aja?" Tanya Echa ketika melihat Hanin dan Shiren sibuk membuat makan siang.
"Eh Ca, Baru sampai ikan sama tumis kangkung." Jawab Hanin.
"Udah mau selesai ya? Tadi Caca mau bantuin tapi susah banget lepas dari Kak Bara." Ucap Echa.
"Kalau soal manjanya kak Bara itu belum seberapa dari manjanya kak Gavin Ca." Ujar Shiren yang sedang memasak Ikan.
"Susah mau ngapain juga, tiap kali ada bunyi notif atau telpon langsung diambil ponsel shiren terus disimpen jauh dari Shiren." Sambung Shiren.
"Kak Bara gak sampai kayak gitu sih, cuman susah mau ngapa-ngapain." Ucap Echa sambil menghela nafasnya panjang.
"Coba Hanin, Kak Nathan posesif banget, ada notif dari nomor yang gak dikenal aja langsung dihapus." Ujar Hanin yang sedang memasak tumis kangkung.
"Tapi untungnya sayang, Jadi bisa sabar." Sambung Hanin.
"Btw tadi Caca ketemu sama Algi." Ucap Echa.
"Kapan?" Tanya Shiren.
"Waktu beli bahan makanan di supermarket." Jawab Echa.
"Kak Bara gimana? Aman?" Tanya Hanin.
"Aman tapi Caca ngeliat yang aneh dari Algi." Jawab Echa.
"Apa?" Tanya Shiren dan Hanin kompak.
Echa yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung menceritakan semuanya, tentang awal bertemu dengan Algi sampai sosok yang berada dibelakang Algi.
"Serius Ca?" Tanya Shiren.
"Serius." Jawab Echa menganggukkan kepalanya mantap.
"Coba Hanin liat, biasanya suka ada sisa energi yang nempel." Ucap Hanin kini beralih menggenggam tangan Echa.
"Yah gak ada Vivi lagi, susah mau dapet visualnya." Sambung Hanin ketika ingin menerawang yang terjadi pada Echa.
"Shiren aja liat sosok apa yang ada di tubuh Algi terus siapa yang buat Algi jadi penganut ilmu hitam." Ucap Hanin sambil menatap kearah Shiren.
"Shiren harus gimana?" Tanya Shiren yang sudah mengecilkan api kompornya.
"Pegang aja pundak Hanin, nanti bakalan keliatan sendiri kalau emang ada sisa energi dari Algi ditubuh Caca." Jawab Hanin sambil memejamkan matanya sedangkan Shiren sudah menyimpan tangannya di bahu Hanin, dia juga memejamkan matanya, fokus pada energi yang akan Hanin salurkan padanya.
Shiren melihat ada wanita berjubah hitam dengan kekuatan yang luar biasa, beberapa ritual ilmu hitam sudah di lakukan dengan sempurna untuk mendapatkan hasil yang terbaik bagi kekuatannya.
Tidak hanya itu, Shiren juga melihat sudah banyak pengikut yang menyembah pada wanita berjubah hitam itu.
NGIINGGGG...
Ketika Shiren memfokuskan penglihatannya tiba-tiba saja suara dengung dari telinganya membuat fokusnya hancur. Namun samar-samar dia mendengar percakapan yang cukup jelas dan panjang.
"Aku hanya ingin Aira mati."
"Hai sil, apa kabar?"
"Kakak.."
"Aku kembali."
__ADS_1
"Aku siap membalaskan dendam yang telah aku kubur begitu lama."
"Mereka membuatku seperti ini, akan aku pastikan hidup mereka tidak tenang."
Nging...
Percakapan itu sudah tidak lagi terdengar bersamaan dengan suara Echa dan Hanin yang memanggil nama Shiren yang sedang memejamkan mata sembari menutup kedua telinganya.
"Shiren." Panggil Echa sambil memegang Shiren yang hampir hilang keseimbangan.
"Ren, baik-baik aja kan?" Tanya Hanin khawatir melihat keadaan Shiren.
Shiren yang mendapat perkataan seperti itu langsung menggelengkan kepala sambil membuka matanya ketika mendengar suara Echa dan Hanin.
"Ren." Panggil Echa.
"Shiren baik-baik aja." Ucap Shiren sudah melihat dengan jelas wajah kedua teman-temannya itu.
"Gimana keadaan Aira?" Tanya Shiren secara tiba-tiba.
"Aira baik-baik aja." Jawab Echa yang terlihat bingung ketika mendengar pertanyaan Shiren.
"Apa yang Shiren liat?" Tanya Hanin penasaran.
"Shiren denger percakapan kalau Aira harus mati." Jawab Shiren.
Echa dan Hanin yang mendapat perkataan itu langsung melototkan matanya kaget, apa maksudnya? Kenapa harus Aira?
"Ini masalah serius, sekarang makan dulu abis itu kita cerita semuanya sama yang lain, terutama Vivi." Ucap Hanin.
"Tapi kenapa harus Aira?" Tanya Echa menatap kearah Shiren dan Hanin.
"Tenang dulu, kita cari jalan keluarnya sama-sama." Jawab Shiren sambil mengelus punggung Echa. Sedangkan Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Mereka bertiga kembali melanjutkan masaknya itu melupakan sejenak apa yang baru saja mereka dapatkan.
...----------------...
10 menit telah berlalu mereka sudah siap untuk menyajikan makan siangnya.
"Shiren sama Hanin mau mandi dulu?" Tanya Echa.
"Iya." Jawab mereka kompak.
"Pake kamar mandi yang ada dikamar Caca, soalnya yang bawah dipake sama yang lain." Ucap Echa.
"Shiren juga." Sambung Shiren.
"Iya, sana mandi ini biar Caca yang terusin." Ucap Echa mengambil alih makanan yang sedang dimasak.
Hanin dan Shiren menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil melangkahkan kakinya pergi menuju kamar Echa.
"Jangan lama-lama, Caca juga mau mandi." Ucap Echa ketika Hanin dan Shiren masih berada di ambang pintu dapur.
"Iya Ca." Ujar Shiren dan Hanin kompak.
Saat ini di dapur hanya ada Echa sendirian, dia merasakan ada sekelebat bayangan hitam melewati jendela.
"Kak." Panggil Echa ketika melihat ada sekelebat bayangan yang lewat jendela melalui ekor matanya. Namun tidak ada sahutan dari siapapun.
Echa tidak terlalu menghiraukan sekelebat bayangan itu, mungkin bayangan tersebut hanya sugesti saja karena saat ini pikiran Echa dipenuhi oleh Aira.
"Udah beres Ca?" Tanya Seseorang dari arah belakang yang mampu membuat Echa terlonjak kaget.
"Devan, kaget tau." Jawab Echa ketika melihat Devan yang bertanya padanya, namun ada hal aneh yang Echa lihat dari Devan, wajahnya terlihat pucat bahkan tatapannya terlihat agak kosong, siapapun yang melihatnya pasti bergidik ngeri.
"Kayak abis ngeliat hantu aja." Ucap Devan. Echa tidak menjawab perkataan Devan, dia kembali memindahkan makanan kepiring.
"Ca." Panggil seseorang.
"Hm?" Gumam Echa sambil melihat kearah orang yang memanggilnya.
"Kak Bara." Ucap Echa kaget ketika melihat Bara sedang melangkahkan kaki kearahnya, dia melihat sekeliling dapur tidak ada keberadaan Devan.
"Kenapa kaget?" Tanya Bara bingung dengan reaksi yang diberikan oleh Echa.
"Tadi ada Devan disini." Jawab Echa sambil menunjuk kearah tempat cucian piring masih tersisa darah ikan yang belum dibuang.
"Devan?" Tanya Bara bingung sambil mendekat kearah Echa.
"Iya, tadi baru aja Caca ngobrol sama Devan." Jawab Echa.
"Dari tadi Devan sama kakak, baru aja masuk ke kamar mandi." Ucap Bara.
"Terus yang sama Caca tadi siapa?" Tanya Echa.
"Makannya jangan banyak pikiran." Jawab Bara mengacak gemas rambut Echa.
__ADS_1
Echa segera membersihkan darah ikan yang berada ditempat cucian piring, bagaimana pun Echa takut terjadi sesuatu.
"Kakak udah mandi?" Tanya Echa.
"Udah." Jawab Bara sambil mencicipi ikan yang baru saja disajikan.
"Kakak, jangan kayak gitu, nanti sama-sama makannya." Ucap Echa.
"Nyicip dikit Ca." Ucap Bara sambil merapikan anak rambut yang menghalangi wajah Echa.
"Liat kakak bentar." Sambung Bara yang sedang menatap kearah Echa sambil merapikan rambut Echa.
"Apa kak? Gak liat Caca lagi bersihin ini?" Tanya Echa yang sedang membersihkan piring terkena darah ikan.
"Sebentar aja." Jawab Bara. Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung menatap kearah Bara dengan tatapan tidak bersahabat.
"Udah kan?" Tanya Echa kesal ketika Bara malah menanggapinya dengan senyuman.
"Cantik." Ucap Bara sambil mengelus pipi Echa. Sedangkan Echa yang mendapat perkataan seperti itu tiba-tiba saja merasakan disekitar pipinya panas.
Satu kata yang keluar dari mulut Bara mampu membuat pipinya memerah, padahal ucapan itu sering dilontarkan oleh Bara padanya tapi yang ini berbeda.
Bara mengucapkan dengan senyuman manis, tangan yang mengelus lembut pipinya dan mata yang tak pernah lepas memandang Echa seolah perkataannya itu tidak bohong.
"Kakak tau kakak ganteng." Ucap Bara sambil meniup mata Echa ketika kekasihnya itu tidak berkedip sama sekali.
"Udah ah jangan ganggu Caca." Ujar Echa yang kini sedang membersihkan tangannya.
"Ca." Panggil Bara sambil menatap kearah Echa.
"Apa kak?" Tanya Echa kembali menatap kearah Bara.
"Kakak mau denger lagi yang waktu sama Algi." Jawab Bara.
"Apa?" tanya Echa bingung.
"Yang ketemunya pas mau ke parkiran." jawab Bara.
Echa langsung teringat dengan ucapannya kepada Algi tentang dirinya yang sudah milik Bara.
"Enggak, gak ada siaran ulang." ucap Echa.
"Kakak mau denger lagi yang tadi rasanya beda." ujar Bara sambil tersenyum kearah Echa.
"Sama aja." ucap Echa.
"Gak sama, tadi kakak dengernya sambil emosi, kalau sekarang lagi tenang." ujar Bara.
"Kak.." ucap Echa.
"Lagi ya?" tanya Bara. Echa hanya bisa menghela nafasnya panjang ketika Bara sudah menginginkan sesuatu harus segera dilakukan saat ini juga, jika tidak dia pasti terus menagihnya.
"Caca udah punya Bara." jawab Echa dengan wajah kembali memerah padam. sedangkan Bara yang mendengar itu langsung tertawa pelan dengan wajah yang juga sudah memerah.
"Sekarang gak usah panggil Kak lagi." ucap Bara.
"Gak enak kak, udah kebiasaannya." ujar Echa sedang membereskan piring yang baru saja dia cuci.
"Ca." panggil Bara.
"Apa lagi kak?" tanya Echa menatap kearah Bara kesal.
"Nikah yuk." Jawab Bara dengan wajah yang tidak bercanda seperti biasanya, keseriusan diwajah Bara lebih dominan dibandingkan wajah jahil yang sering dia tampakkan di hadapan Echa.
"Ha?" Tanya Echa yang masih belum bisa mencerna perkataan Bara.
"Nikah." Jawab Bara.
"Kakak lagi gak kesambet kan?" Tanya Echa sambil memegang kening Bara untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Gak panas." Sambung Echa ketika merasakan suhu tubuh Bara normal.
"Kakak gak sakit." Ucap Bara sambil menggenggam tangan Echa.
"Jangan becanda kak." Ujar Echa.
"Kakak gak becanda soal Nikah tadi." Ucap Bara mengelus tangan Echa yang berada dalam genggamannya.
"Nikah muda? Caca baru 19 tahun." Ujar Echa yang memang tidak bisa menyangkal bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut Bara tidak pernah sama sekali ingkar atau berbohong.
"Ya gak apa-apa, biar enak aja dapet pahala, soal punya anak itu bisa di rencanain kalau udah siap." Ucap Bara menatap kearah Echa.
"Kalau udah nikah mau tinggal dimana?" Tanya Echa.
"Kakak udah beli rumah sama semua perlengkapan didalamnya." Jawab Bara.
"Kakak gak lagi ke sambet apa-apakan?" Tanya Echa yang masih belum percaya dengan perkataan Bara.
__ADS_1
"Enggak, kakak lagi sadar." Jawab Bara.