
Echa membuka matanya ketika merasakan tenggorokannya kering, dia bangun dari tidurnya menatap kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 02.10 dini hari.
"Duh Caca lupa bawa air minum." Ucap Echa ketika melihat gelas di kamar Roslyn kosong.
Echa mengambil gelas kosong itu untuk diisi air minum, melepas rasa kering yang melanda tenggorokannya. Dia melangkahkan kaki keluar dari kamar untuk menuju dapur.
Tap .. tap.. tap..
Suara langkah kaki terdengar horor ketika tidak terdengar suara apapun lagi dirumah besar milik Echa.
Echa menepis pikiran negatif yang bermunculan di otaknya, sugesti yang keluar dari pikiran mampu membuat rasa takut semakin menyelimuti dan malah mengundang mahluk tak kasat mata datang kerumahnya, dia melangkahkan kaki menuju dapur untuk mengisi air kedalam gelas yang dia bawa.
...----------------...
Sesampainya di dapur Echa langsung menuangkan air kedalam gelas dan meminumnya hingga habis tak tersisa. Setelah selesai minum, Echa langsung menyimpan gelas tersebut dan kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Namun saat Echa ingin menaiki anak tangga, dia tidak melihat keberadaan Bara di ruang tamu padahal teman-temannya sudah tertidur pulas.
Echa mengurungkan niatnya untuk kembali menuju kamar, dia mencari keberadaan Bara. Dia melihat pintu menuju kolam renang terbuka sedikit, Echa melangkahkan kakinya menuju ke kolam renang, siapa tau Bara ada disana. Dan benar saja, Bara sedang menatap langit malam bertaburkan bintang dengan bulan bulat sempurna, terlihat sangat menenangkan dan indah untuk dipandang mata.
Echa melihat Bara yang belum menyadari kehadirannya itu langsung memeluk Bara dari belakang membuat si pemilik tubuh itu kaget beberapa detik sebelum akhirnya Bara menyadari bahwa yang memeluknya itu adalah gadis cantik yang bertahta dihatinya. Echa.
"Sejak kapan disini?" Tanya Bara sambil menggenggam tangan Echa yang sedang memeluknya.
"Baru aja." Jawab Echa yang masih memeluk Bara dari belakang.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Bara mengelus lembut tangan Echa yang berada dalam genggaman tangannya.
"Tadi udah tidur tapi kebangun mau minum, jadi Caca turun kebawah buat minum, terus Caca gak liat kakak di ruang tamu, jadi Caca cari kakak." Jawab Echa. Setelah mendapat jawaban seperti itu Bara dan Echa saling membungkam kan mulut, larut dalam pikirannya masing-masing.
Gimana ya? Jawab sekarang aja?
Tapi gimana jawabnya?
Masa tiba-tiba, iya kak Caca mau.
Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba aja bilang kayak gitu.
Gak enak banget didengernya.
Kak, Caca mau jawab yang tadi, Caca jawab iya mau.
Echa terus bergulat dengan hatinya tentang jawaban yang harus dia ucapkan kepada Bara, dia menjadi bingung sendiri harus berkata apa. Echa masih memeluk Bara dari belakang sedangkan Bara masih menggenggam tangannya dan mengelus lembut sambil menatap kearah langit malam.
"Kakak kenapa belum tidur?" Ucap Echa mencairkan suasana hening diantara dirinya dan Bara.
"Lagi pengen gini dulu. Sayang kalau dilewatin." Jawab Bara sambil menuntun tangan Echa untuk berada dihadapannya.
"Mau ngapain?" Tanya Echa ketika Bara menuntunnya untuk saling berhadapan.
"Sebentar aja." Jawab Bara menatap kearah Echa sambil menggenggam tangannya. Bara menghela nafasnya panjang sambil tersenyum kearah Echa.
__ADS_1
Memenangkan hatiku bukanlah
Satu hal yang mudah
Kau berhasil membuat
'Ku tak bisa hidup tanpamu
Tiba-tiba saja Bara menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang terdengar merdu di telinga.
Bara menuntun tangan Echa untuk menyimpan tangan kekasihnya itu di dada bidang tepat berada di jantungnya. Echa dapat merasakan degup jantung Bara berpacu lebih cepat sama seperti dirinya.
Menjaga cinta itu bukanlah
Satu hal yang mudah
Namun sedetik pun tak pernah kau
Berpaling dariku
Echa tersenyum manis sambil menatap mata Bara yang juga sedang menatap dirinya.
Beruntungnya aku
Dimiliki kamu
Tangan Bara mengelus pipi Echa lembut sambil tersenyum dengan senyuman tak kalas manis dari Echa.
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
Tolong kamu camkan itu
Tangan Echa yang berada di dada Bara kini sudah berada dalam genggaman tangan Bara. Dia mengecup singkat punggung tangan yang terasa kecil berada di dalam genggaman tangannya itu.
Meruntuhkan egoku bukanlah
Satu hal yang mudah
Dengan kasih lembut kau pecahkan
__ADS_1
Kerasnya hatiku
Beruntungnya aku
Dimiliki kamu
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
Tolong kamu camkan itu.
(Bukti-Virgoun)
Suara merdu itu berhenti dengan mata yang masih saling menatap satu sama lain seolah lagu yang baru saja Bara nyanyikan itu mewakilkan apa yang ada dihatinya selama ini.
Echa tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang baru saja Bara nyanyikan membuat dirinya terbang tinggi dan mungkin saat ini Bara bisa melihat serabut merah di pipi Echa ditambah dia harus menormalkan detak jantungnya yang seolah ingin lepas dari tempatnya.
"Udah selesai, tidur." ucap Bara ketika melihat Echa terus menatapnya lekat, sedangkan Echa yang mendengar perkataan Bara seperti itu langsung memalingkan wajahnya sambil melepaskan genggaman tangannya dari tangan Bara.
Echa terlalu terlena dengan pesona yang dimiliki oleh Bara, ciptaan tuhan mana yang akan kau lewatkan jika sempurna seperti ini? pahatan wajahnya membuat siapapun jatuh hati dalam beberapa detik.
"Tidur, kakak juga udah ngantuk." Ucap Bara sambil mengacak rambut Echa sebelum melangkahkan kakinya pergi.
"Tidur Ca, jangan diem disitu, nanti banyak yang liatin." Ujar Bara ketika Echa masih diam pada posisinya sedangkan Bara tinggal 4 langkah lagi untuk masuk kedalam rumah.
"Kak." Panggil Echa ketika Bara ingin melangkahkan kakinya lagi.
"Hm?" Tanya Bara sambil melihat kearah Echa.
"Caca masih bisa jawab kan?" Tanya Echa sambil melangkahkan kakinya menuju kearah Bara.
"Jawab apa?" Tanya Bara bingung dengan pertanyaan Echa.
"Soal yang di dapur sama yang di kamar ibu, Caca mau jawab. Iya Caca mau, Caca siap." Jawab Echa sambil tersenyum kearah Bara yang berada di hadapannya.
"Serius? Ini bukan mimpikan?" Tanya Bara yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja Echa katakan, dia tahu alur pembicaraan Echa.
"Iya calon suami." Jawab Echa sambil mencubit pipi Bara untuk memastikan bahwa yang Echa katakan beberapa detik yang lalu bukan dalam mimpi, Echa melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, meninggalkan Bara dengan senyuman kebahagiaan tercetak di bibirnya.
Jika kalian bertanya soal jantung aman? Jantungnya sedang berada diposisi yang tidak aman, bahkan untuk berucap satu kata saja tidak bisa.
__ADS_1