
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Alvero Martadinata bin Satria Putra Hartono dengan anak saya yang bernama Mutiara Queensha dengan maskawinnya berupa uang senilai satu juta empat ratus empat puluh tiga ribu US Dollar Tunai.”
"Saya terima nikah dan kawinnya Mutiara Queensha binti Ferdinan Ledinan dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
Kata-kata sakral terdengar begitu lantang dan mantap diucapkan oleh Alvero. Mutiara sudah resmi menjadi istri Alvero, tanggung jawabnya tidak lagi untuk diri sendiri melainkan untuk keluarga kecilnya nanti.
"Bagaimana saksi? Sah?" Tanya penghulu yang duduk di samping Ferdinan.
"Sah." Jawab dua orang saksi yang berada diantara Alvero dan Mutiara.
PRANG..
Tiba-tiba saja semua kaca yang ada di gedung pecah tanpa aba-aba, bahkan lampu yang bergantung diatas putus secara tiba-tiba, membuat gedung pernikahan Mutiara gelap, untung saja masih ada lampu kecil yang tetap bertahan.
Sedangkan Echa yang duduk dekat dengan kaca langsung dihalangi oleh punggung Bara agar pecahan kaca itu tidak melukai tubuhnya.
Azka langsung menarik Ivy kepangkuan nya memeluk tubuh mungil itu agar tidak luka sama sekali.
Nathan memeluk tubuh Hanin, menghalangi tubuh kekasihnya menggunakan tangan kokoh milik Nathan agar tidak terkena pecahan kaca.
Gavin memeluk tubuh Shiren, menyembunyikan tubuh mungil itu menggunakan jas yang di gunakan olehnya.
"Kakak.." panggil Echa sambil menggenggam tangan Bara.
"Kenapa? Ada yang sakit? Luka gak?" Tanya Bara khawatir sambil mendudukkan dirinya disebelah Echa.
"Caca gak apa-apa," jawab Echa yang merasakan panas dibelakang tubuhnya, seperti ada sesuatu yang menekan dadanya. Pengap.
Semua orang berteriak histeris ketika lampu-lampu kecil yang ada di dalam gedung berkedip tak beraturan.
Untung saja saat lampu besar yang menggantung jatuh tidak memakan korban jiwa sama sekali, semuanya selamat hanya ada luka-luka saja.
"Ca." Panggil Hanin yang sama merasakan panas disekitar tubuhnya.
"Panas ya?" Tanya Shiren ternyata merasakan hal yang sama seperti Echa dan Hanin.
__ADS_1
"Kerasa banget ada tekanan di depan sama dibelakang." Jawab Hanin.
"Jangan.. jangan dulu.. Caca mohon jangan sekarang." Ucap Echa pada dirinya sendiri sambil menggenggam tangan Bara erat ketika ada satu sosok mengerikan yang ingin masuk kedalam tubuhnya.
"Masukin aja Ca." Ujar Hanin.
"Enggak, Caca gak mau.. Caca takut." Ucap Echa yang sedang memejamkan matanya, melihat sosok mengerikan itu.
Tinggi dari sosok itu hampir 2 meter lebih, berbulu lebat, berkepala kambing dengan tanduk yang sangat besar, bermata tiga, memiliki taring, kuku tangan yang panjang hingga menyentuh lantai.
Echa takut tidak bisa dikeluarkan, meskipun Bara ada disini tapi sosok itu adalah sosok kiriman dari seseorang, dia tidak akan menyerah ketika musuhnya belum hancur meskipun sebenarnya tubuh dari sosok itu sudah tidak kuat menahan kekuatan yang dimiliki oleh Bara, Nathan, Azka, Gavin dan Alvero.
"Kalian baik-baik aja?" Tanya Devan yang datang kearah meja teman-teman.
"Kita baik-baik aja, cuman ada yang ga enak." Jawab Ivy yang kini sudah tidak duduk dipangkuan Azka, dia sudah duduk di kursinya.
"Itu sosok kiriman, mereka pantang menampakkan diri kepada tuannya jika perintahnya itu belum selesai dengan tuntas." Ucap Devan sambil memejamkan mata melihat ada energi pekat disekitar gedung ini.
"Apa yang mereka mau?" Tanya Gavin.
"Devan liat ada percakapan pernikahan, gak tau apa awalnya tapi denger ada yang bilang pernikahan." Jawab Devan yang mencari tahu informasi dari sisa-sisa energi jahat yang ada di sekitarnya.
"Ca.." panggil Ivy ketika melihat Echa sedang mengatur nafas sambil menahan diri agar sosok mengerikan yang membuat semua ini terjadi tidak masuk kedalam tubuhnya.
"Gak kuat.." ucap Echa sambil membuka matanya dan menatap kearah Ivy.
"Biar sama Devan aja Ca," ujar Devan menatap khawatir kearah Echa yang sudah lemas akibat menahan diri dari sosok yang terus menyerang dirinya.
"Jangan. Ini gak bakalan bisa diajak bicara baik-baik. Sosok kiriman pantang buat melanggar perintah." ucap Echa.
"Tapi, gimana sama Caca?" Tanya Devan.
"Caca bisa tahan sakitnya, ini cuman sebentar aja." Jawab Echa sambil tersenyum seolah mengatakan dirinya akan baik-baik saja.
NGINGGG
__ADS_1
Ivy merasakan telinganya berdengung hingga membuat kepalanya sakit, dia memejamkan mata sambil menutup telinga untuk menghilangkan bunyi berdengung yang sangat nyaring.
Sayup-sayup Ivy mendengar sebuah percakapan yang menggema di telinganya, suara yang sangat dia kenali namun dia seolah lupa suara siapa itu.
"Tidak boleh ada pernikahan."
"Mereka tidak boleh menikah."
"Perjuanganku akan sia-sia jika mereka menikah."
"Mereka harus mati!"
"Mereka harus membayar semua yang telah mereka lakukan padaku!"
"Aku sudah bangkit kembali dengan susah payah dan aku tidak akan menyia-nyiakan itu."
"Ini saatnya pembalasan dendam yang setimpal."
"Mereka harus mati."
"Aku akan melakukan apapun agar mereka mati dan aku akan menguasai dunia."
"Ivy.." panggil Echa yang berada disebelahnya ketika melihat Ivy sedang menahan rasa sakit.
Percakapan yang Ivy dengar langsung lenyap secara tiba-tiba ketika Echa memanggil namanya, bahkan suara dengung yang terdengar nyaring ditelinga ya pun sudah hilang.
Ivy membuka matanya menatap kearah Echa dengan tatapan bingung setelah mendengar percakapan yang menggema di telinganya. Apa maksudnya? Siapa yang bangkit? Balas dendam?
Ivy bingung sendiri mendengar percakapan yang ada didalam telinganya, aneh bukan? Ivy baru saja merasakannya tadi. Seolah percakapan itu ada dalam kepalanya.
"Kalian baik-baik aja kan?" Tanya Mutiara yang tiba-tiba saja datang kearah Echa dan teman-temannya dengan tatapan khawatir.
"Kita baik-baik aja kak. Kakak gimana? Baik-baik aja kan? Yang lain juga gimana?" Tanya Echa yang sudah tidak merasakan panas disekitar tubuhnya.
"Kita baik-baik aja, cuman ada beberapa orang terluka akibat pecahan kaca. Kalian masuk aja dulu ke kamar biar aman kalau mau diskusi sesuatu. Tiara nyusul sama Vero setelah semuanya selesai." Jawab Mutiara.
__ADS_1
"Iya kak," Ucap Hanin, Echa, Ivy dan Shiren kompak.
"Tiara pergi dulu." Ujar Mutiara sambil melangkahkan kakinya pergi menuju kearah Alvero dan kedua orang tuanya.