
Kini Echa dan Bara sudah sampai di halaman rumah, namun sayup-sayup mendengar suara tangisan yang pilu. Mereka saling memandang satu sama lain, dan nama yang muncul di pikiran mereka sama.
"Aira."
Mereka berdua langsung lari kedalam rumah untuk melihat kondisi Aira. Dan benar saja dugaan Echa, Aira sedang mengamuk meski bi inah mencoba untuk menenangkannya.
"Aira, nanti Kak Bara sama Kak Caca bakalan pulang kok, Aira jangan nangis terus ya, apalagi ngamuk kayak gini, bibi bingung harus ngapain," ucap bi Inah sambil membersihkan mainan yang di lemparkan oleh Aira.
"Aira," panggil Bara sambil melangkahkan kakinya ke arah Aira diikuti oleh Echa.
Aira yang mendengar panggilan itu langsung berhenti menangis dan berlari kearah Bara.
"Kakak jahat! Aira ditinggal sendiri di rumah!" bentak Aira yang berada di gendongan Bara.
Bara hanya diam saja, dia membiarkan adiknya itu terus memarahi dirinya. Bara tahu betul sifat Aira. Amarahnya sama dengan dirinya, tidak bisa ditenangkan dalam waktu singkat.
"Kakak jahat! Aira sendiri di rumah!" seru Aira sambil menangis.
Echa melangkahkan kakinya mendekat kearah Aira yang sedang dalam pelukan Bara.
"Aira," panggil Echa lembut sembari menggenggam tangan Aira. Dalam seketika suara tangisan dan bentakan yang keluar dari mulut Aira langsung berhenti.
"Maafin Kakak, ya." Echa tersenyum manis sambil menghapus jejak air mata Aira. "Lain kali, kak Caca bakalan ajak Aira, atau bahkan kak Caca gak bakalan ikut kalau Aira gak mau ikut. Oke?"
Aira menghapus air matanya sambil menatap Echa. "Janji?"
Echa tersenyum manis sembari mengelus kepala Aira. "Janji, sayang."
Ting..tong ...Ting ..tong...
"Biar Caca aja yang buka," ucap Echa ketika mendengar bel rumah Bara berbunyi.
"Biar kakak aja Ca, Caca tolong jaga Aira." ujar Bara. Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sembari mengendong Aira dan membawanya ke kamar Bara.
"Kak Caca perginya lama, Aira takut di tinggalin sendiri," ucap Aira sambil memeluk erat Echa.
"Maafin kak Caca, ya. Tadi kan, Aira lagi jalan-jalan sama ni Inah, terus gimana kak Caca nyamperin Aira?" tanya Echa sembari mengelus lembut kepala Aira.
Aira yang mendapat pertanyaan itu hanya diam saja, apa yang dikatakan oleh Echa memang benar. Echa sama sekali tidak mengetahui keberadaannya.
"Kak Caca mau nanya, boleh?" tanya Echa sembari mendudukkan Aira di ranjang milik Bara.
Aira menganggukkan kepala sambil menghapus air matanya. "Apa?"
"Aira ngasih tau bunda kalau kak Caca lagi marahan sama Kak Bara?" tanya Echa.
Aira menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Aira takut liat kak Bara marah sama Kak Caca, Aira gak mau nanti kak Bara ninggalin kak Caca."
"Aira kenapa berpikir kayak gitu?" tanya Echa penasaran.
"Aira liat kak Caca lagi duduk sama kak Erga di foto," jawab Aira.
"Sama siapa?" tanya Echa.
"Sama kak..."
Drt... Drt... Drt...
Tiba-tiba saja ponsel Echa bergetar, menandakan ada telepon masuk. Dia melihat nama Bunda terpampang jelas di layar ponselnya, membuat Aira memberhentikan perkataannya.
"Bentar ya, Kak Caca angkat bunda dulu," ucap Echa sambil tersenyum manis. Aira hanya mengangguk seraya membaringkan tubuhnya.
"Halo bunda," ucap Echa.
__ADS_1
"Halo sayang, gimana? Udah baikkan sama Bara?" tanya Bunda An.
"Udah Bun, tapi Caca sempet takut pas kak Bara marah," jawab Echa.
"Takut? Sampai segitunya Bara marah ke kamu?" tanya Bunda An.
"Caca baru liat kak Bara marah besar kayak tadi, jadi takut," jawab Echa.
"Maafin bunda ya, Bunda juga di suruh sama Aira harus bikin Kak Caca sama Kak Bara baikkan, katanya. Bunda juga gak dikasih tau ceritanya kenapa bisa marahan," jelas bunda An diselingi kekehan dan gaya bicara Aira.
"Gak apa-apa, Bunda. Kalau gak ada bunda, mungkin kak Bara masih marah sama Caca sampai sekarang, makasih ya bunda." ujar Echa.
"Iya sayang sama-sama," ucap Bunda An.
"Kenapa bunda milih topik Caca di jodohin?" tanya Echa sambil tertawa pelan.
"Ya... Mau gimana lagi, itu jurus ampuh menurut bunda, kalau tentang dijauhin dari Caca ya tetep aja Bara bakalan deketin Caca lagi, dia emang keras kepala. Sama kayak papa nya." jawab Bunda An.
Echa tertawa kecil dibalik sambungan telepon. Apa yang dikatakan oleh bunda An memang benar. Bara adalah anak yang keras kepala, dia akan menentang apapun yang tidak dia sukai.
"Bunda kapan pulang?" tanya Echa.
"Mungkin besok, ini kerjaannya udah beres kok, cuman lagi nikmatin masa-masa suami istri yang romantis tanpa gangguan," jawab bunda An sambil tertawa.
"Eh... Yaudah kalau gitu Caca tutup teleponnya bunda, Caca gak mau menyita waktu yang indahnya, mimpi indah bunda," ucap Echa sembari menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari bunda An.
Echa melihat kearah Aira yang sudah terlelap dalam mimpinya. Dia melangkahkan kakinya kearah Aira sambil mendudukkan dirinya di samping Aira.
"Ra, kamu itu masih tujuh tahun, kenapa tau permasalahan orang dewasa? Kak Caca jadi gak percaya kalau kamu anak kecil," ucap Echa sembari mengecup singkat kening Aira.
Drt ... Drt... Drt...
Telepon milik Echa kembali berdering. Dia melihat nomor tidak di kenal terpampang sangat jelas di layar ponselnya.
"Halo Ca, ini gue Erga pake nomor baru, jangan di blokir lagi ya, gue capek nyari nomor yang cantik buat Lo." ujar Erga tanpa memberi Echa peluang untuk berbicara.
"Terus kalau nomornya cantik, apa manfaatnya buat Caca?" tanya Echa bingung.
"Ya kan biar sama kayak orangnya, cantik." jawab Erga sembari terkekeh.
Tawa yang terdengar berat itu, sungguh merdu di telinga Echa. Entah kenapa tapi dia menyukai tawa Erga. Tawa yang lepas, tidak palsu dan bebas.
"Halo Ca, masih disana kan? Lo baik-baik aja?" tanya Erga.
"Eh... Iya... Caca baik," jawab Echa gugup.
"Lo gugup?" tanya Erga.
"Engga," jawab Echa bohong.
"Jangan bohong, gue tau Lo mulai suka kan sama gue?" tanya Erga.
Echa tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya, "geer banget ya."
"Kalau gak geer, mungkin gue gak bakalan denger ketawa Lo." ucap Erga.
"Apaansi, basi tau!" seru Echa.
"Kata pepatah, kalau marah itu cepet tua, tapi gue gak bakalan larang Lo buat marah," ucap Erga.
"Kenapa?" tanya Echa.
"Biar Lo cepet tua dan menua bersamaku," jawab Erga sembari tertawa.
__ADS_1
"Basi banget," ucap Echa.
Tanpa Echa sadari sejak tadi Bara mendengar percakapannya dengan seseorang yang berada di sambungan telepon.
Bara melewati Echa yang sejak tadi membelakangi dirinya. Sedangkan Echa kaget bukan main ketika Bara ada di dalam kamar tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Siapa, Ca? Seneng banget ya?" tanya Bara dengan nada dinginnya.
Echa yang merasakan perubahan sikap Bara itu langsung memutuskan sambungan telepon. Dia sudah tidak peduli dengan Erga yang akan berbicara sendiri.
"Erga." Cicit Echa.
Bara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil mencari sesuatu di dalam laci.
"Kakak nyari apa?" tanya Echa sambil mendekat kearah Bara.
"Nyari istri," jawab Bara sembari tersenyum manis kearah Echa.
"Ngapain di cari? Ini ada di depan kakak," ucap Echa membalas senyuman Bara seraya mencubit hidung Bara.
Bara tertawa pelan sembari mengacak rambut Echa gemas. "Dokumen yang kakak kasih nama akuntansi dimana?"
"Bukannya udah di bawa kebawah?" tanya Echa.
"Gak ada," jawab Bara.
"Mungkin di ruang kerja ayah, udah kakak cari? Mau Caca bantu cari?" tanya Echa sambil membantu Bara mencari dokumennya.
"Biar kakak aja, Caca jangan turun ke bawah," jawab Bara.
"Kenapa?" tanya Echa bingung.
"Nanti saingan kakak banyak, sama satu lagi. Ponsel Caca, kakak bawa. ponsel kakak, Caca yang bawa." jawab Bara sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bara.
"Emang saingan Caca gak banyak apa? Orang di bawah banyaknya cewek, mana cantik lagi," celetuk Echa, namun masih bisa di dengar oleh Bara.
Bara kembali masuk kedalam kamar nya sambil melangkahkan kaki ke arah Echa dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kenapa balik lagi?" tanya Echa sembari melangkahkan kakinya mundur.
"Kenapa emangnya?" tanya Bara seraya menarik pinggang Echa agar mendekat kearahnya.
"Ya... Gak apa-apa," jawab Echa gugup.
"Cemburu?" tanya Bara.
Echa melepaskan tangan Bara yang melingkar di pinggangnya, namun nihil, dia tidak bisa melepaskannya. "Iyalah! Ya kali Caca baik-baik aja."
Bara tersenyum manis ketika mendengar jawaban dari Echa.
"Udah sana, ditungguin di bawah. Kasian tau!" ketus Echa.
"Biarin, siapa suruh mau kerja kelompok disini," ucap Bara.
"Ohh... Jadi, maunya kakak diluar gitu?" tanya Echa menatap tajam mata Bara.
"Ga gitu sayang, udah ah, kakak ke bawah dulu," jawab Bara sembari melepaskan pelukannya dan melangkahkan kakinya keluar kamar.
Echa yang mendapat perlakuan seperti itu langsung tersenyum malu dan melihat ponsel Bara yang banyak sekali notifikasi masuk dan beberapa panggilan dari nomor tidak di kenal, namun dia tidak mengangkatnya sama sekali.
"Banyak banget," kaget Echa, "Kalau sampai kak Bara kecewa sama Caca, parah si, jahat banget Caca. Dia gak merespon perempuan manapun, sedangkan Caca kadang ga tau diri kalau ada yang ganteng."
Echa meraba bibirnya yang beberapa jam lalu first kiss nya di ambil oleh Bara. Manisnya, masih terasa sampai saat ini, bibir Bara begitu manis. "Manis banget, ga kuat."
__ADS_1
"Tapi Malu banget!" seru Echa ketika mengingat kejadian beberapa jam lalu.