TEROR

TEROR
|121| MEMAKAN


__ADS_3

Echa menatap sekeliling ruangan yang nampak asing. Ruangan yang membuat Echa merasa tenang dan damai. Warna putih mendominasi ruangan tersebut tanpa membuat matanya silau.


Echa masih melihat ruangan yang sedang ditempatinya ini. Saat dia mengamati ruangan tersebut tiba-tiba saja ada sebuah gambaran benang berwarna biru muda yang indah, Echa tidak pernah menemukan warna seindah ini.


"Sebuah ikatan pernikahan adalah hal yang dia benci," ucapan itu membuat Echa tersadar dari warna benang yang indah. "Dia sudah tiba, dia sedang mengamati kalian dari jauh, dia bersembunyi sebagai teman."


Gambaran itu berubah menjadi sebuah lingkaran api yang terlihat membara. Echa melihat ada seseorang dalam lingkaran tersebut. Di sekitar api itu banyak sekali sosok hitam besar, mata merah menyala, ada tanduk di kepalanya dan tinggi.


"Dia kembali, dia mengendalikan kalian, seorang anak kecil mengetahui keberadaannya, kalian terlalu mengabaikannya" perkataan itu seolah menjawab kebingungan Echa.


Seorang anak kecil? Aira? Qiara? tanya Echa pada dirinya sendiri.


Gambarannya kembali berubah menjadi sebuah cahaya hitam dan cahaya biru yang saling menyerang.


"Dia sudah datang, dia akan menghancurkan orang-orang yang tak bersalah."


Gambaran tersebut langsung lenyap dari hadapan Echa.


"Siapa kamu?" tanya Echa ketika bisa mendengar suara tersebut namun tidak bisa melihat wajahnya.


"Dia bersembunyi, dia akan menjadi teman yang menguntungkan di hadapan kalian, namun dia juga menjadi musuh yang berbahaya dibelakang kalian."


"Siapa, Dia?" tanya Echa penasaran.


"Dia akan segera menguasai dunia dengan lingkaran hitamnya.Jaga diri kalian dengan baik, semua sedang dimulai."


Jiwanya ditarik kedalam sebuah tempat pemukiman warga yang terlihat seperti orang zaman dulu, pakaiannya masih menggunakan kebaya zaman dulu.


Tenang, damai, tentram itu kesan pertama yang Echa rasakan ketika masuk kedalam dunia ini.

__ADS_1


Sampai tiba-tiba langit yang ada di pemukiman tersebut langsung gelap gulita seperti malam hari. Semua orang berlarian tak tentu arah untuk menghindari asap hitam mematikan.


"Apa ini?" tanya Echa ketika melihat sebuah kertas terbang kearahnya.


"Tahun demi tahun, akan menjadikan kalian tidak tenang dengan kelahiran beberapa anak yang sudah ditakdirkan beberapa ratus tahun lalu. Saat itu akan tiba, entah lima tahun dari sekarang, sepuluh tahun dari sekarang, lima belas tahun dari sekarang atau bahkan dua puluh tahun dari sekarang. Kehancuran Klian sudah dekat. Bersiaplah untuk menghadapi kenyataan, karena anak-anak itu sudah dilindungi dari beberapa ratus tahun lalu." Echa membaca lembaran kertas usang dengan noda darah dimana-mana.


Dia melihat kearah depan, banyak sekali sosok bayangan tinggi besar sedang memakan orang-orang tak bersalah. Rakus.


Di saat yang bersama, kepalanya terasa berat, jiwanya kembali ditarik kedalam tubuhnya.


Perlahan Echa membuka matanya, tubuhnya terasa panas dingin ditambah kepalanya semakin berat.


Echa berdiri dari tidurnya, dia melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.Di dalam kamarnya ini seperti banyak sosok yang sedang mengepung dirinya, Entah perasaan saja atau memang benar ada.


"Kak," panggil Echa dengan suara lemah. Dadanya terasa sesak.


"Di dalam kamar gak enak," jawab Echa sambil melangkahkan kakinya kearah Bara.


"Ya udah sini," ucap Bara sembari mendudukkan Echa di pangkuannya.


"Syela mana?" tanya Echa seraya menyimpan kepalanya di dada bidang milik Bara.


"Kakak suruh pulang," jawab Bara.


"Udah beres?" tanya Echa yang memejamkan matanya.


Rasanya tenang sekali tidur seperti ini, tidak seperti saat di kamar. Dirinya bagikan di kepung oleh ribuan sosok bayangan hitam dengan energi hitam pekat.


"Belum," jawab Bara yang masih menatap layar laptop.

__ADS_1


"Kenapa di suruh pulang?" tanya Echa sembari menatap Bara.


"Ribet orangnya," jawab Bara sambil memijat pelipis Echa. "Pusing?"


Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia kembali memejamkan matanya.


"Demam," ucap Bara ketika tangannya memegang kening Echa. "makan dulu, ya."


Echa menggelengkan kepalanya. "Nanti aja, lagi gak enak."


"Dari pagi belum makan, jadi pusing," ucap Bara.


"Sebentar lagi," ujar Echa.


Bara kembali menatap layar laptop yang menampilkan deretan angka dan beberapa laporan.


Ting tong


"Masuk." titah Bara.


"Permisi, saya ingin memberikan berkas yang tuan perintahkan," ucap seorang pria sambil membawa map berwarna biru.


Bara menatap singkat kearah orang tersebut sambil menganggukkan kepalanya.


"Kenapa, kak?" tanya Echa merasa tidurnya terganggu.


"Gak apa-apa, tidur lagi," jawab Bara.


Bara menatap kearah laki-laki yang sedang melihat kearah Echa yang berada di pangkuannya. Dia memberi isyarat kepada laki-laki itu untuk segera pergi dari rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2