
Sekarang aku berada disekolah. Mataku sedang memindai perabotan yang ada di gedung olah raga. Bercak darah dan kulit maupun rambut manusia yang ada disana beberapa hari yang lalu sudah dibersihkan.
Dengan teliti aku menatap juga orang yang lalu-lalag di depan gedung olahraga. Perhatianku tertuju pada kakak tertuaku dan kakak keduaku yang sedang minum kopi instan dibangku yang disediakan disana. Saat sedang serius mengamati dua kakakku itu tiba tiba aku mendengar langkah kaki di belakangku.
Aku berbalik dan mendapati Abel mau memelukku dari belakang. ''Abel jangan mengagetiku seperti itu. Bagaimana jika aku kena serangan jantung?'' Tanyaku sedikit bercanda. Abel menggembungkan pipinya tanda dia kesal. ''Jika kau terkena serangan jantung maka aku akan dieksekusi mati oleh ayahandamu itu.'' Ucapnya.
Aku sedikit terkekeh, lalu menyadari bahwa Abel sedang membawa tumpukan pisau dapur ditas sekolahnya. ''Kenapa kau membawa pisau sebanyak itu?'' Tanyaku. ''Penglihatanmu sangat tajam ya Claude. Ini adalah pesanan Mr. Sony, untuk kelas memasak nanti. Katanya tiba-tiba pisau didapur sekolah menghilang semua.'' Jelas Abel.
Tunggu, 'menghilang semua' ? Bukankah kemarin saat aku dan Laps mengunjungi sekolah untuk mengambil celemeknya pisau itu masih ada ditempatnya? Sekarang semua pisau itu menghilang?
''Semua? Kau yakin?'' Tanyaku meyakinkan. Abel menganguk, lalu memasang wajah bingung. ''Kemarin kan pisaunya masih ada. Kok sudah hilang?'' Gumamku. Sialnya gumamanku terdengar oleh Abel.
''Kenapa kau bisa tahu kalau kemarin pisaunya masih ada? Kau ke sekolah kemarin?'' Tanya Abel curiga.
''Aku ke sekolah kemarin sama Laps. Ambil celemeknya.'' Ucapku. Wajah Abel tiba-tiba berubah. ''CIEEEEE!!'' Teriak Abel, teriakan itu membuat beberapa siswa-siswi menengok keAbel. Aku langsung menutup mulut Abel lalu menjewer telinganya.
Abel hanya tersenyum agak menyebalkan. ''Ayo kedapur, kita taruh pisau-pisau ini. Lalu kita makan!'' Ujarnya sambil menarik tanganku. Aku mengiyakan ajakan Abel.
Di dapur
''Wah! Pisau daging ini sangat indah! Perusahaan keluarga Glory memang hebat!'' Puji Mis. Furi. ''Hehe... terimakasih.'' Dari wajahnya Abel kelihatan senang karena keluarganya dipuji.
Setelah minta izin kepada Mis. Furi kami pergi ke kantin. Kami, lebih tepatnya Abel memesan makanan disana. Setelah itu kami duduk disebuah bangku yang ada dipojok kantin. Abel memesan 'Full Madame'. Sedangkan aku memesan puding coklat, karena aku sudah sarapan tadi pagi.
Omong-omong 'Full Madame' adalah menu sarapan khas Mesir yang dimasak dengan kacang fava, buncis, irisan bawang putih dan lemon serta telur rebus. Yah, terlihat enak.
Saat kami sedang makan dengan nikmat Laps datang berdampingan dengan Posen. Laps membawa nampan berisi 'Beef Steak', sedangkan Posen membawa nampan berisi beberapa potong 'Syrniki'. 'Sriniki' adalah pancake keju yang biasa disantap untuk sarapan orang Rusia.
''Halo!'' Sapa Laps dengan senyum di wajahnya. ''Hai Hidiandra bersaudara.'' Sapa Abel. ''Boleh kami duduk di sini?'' Tanya Posen. Abel menganguk mengiyakan. Laps dan Posen duduk di depan aku dan Abel.
''Claude mau aku suapi?'' Tanya Laps sambil memotong daging steaknya lalu diarahkan ke mulutku. Aku melahap potongan daging itu dengan cepat, lalu mengalihkan wajahku dari Laps.
Dari sudut mataku ku lihat Laps tersenyum senang. ''Cieee...'' Abel memegang bahuku lalu menguncangnya pelan. ''Aku tahu kalian akan menikah dalam waktu dekat. Tapi jangan bermesraan di sekolah.'' Posen mendesus kesal? ''Kau juga akan dijodohkan beberapa bulan lagi. Bersabarlah.'' Laps menepuk punggung adiknya.
Posen menghela napasnya. Lalu dia memakan 'Syrniki' nya, ''Claude, mau?'' Tawar Posen lalu menyodorkan sepotong 'Syrniki' padaku. Aku menerima pancake keju khas Rusia itu. ''Terimakasih...'' ucapku. Aku memakan pancake itu lalu menopang daguku dengan tangan dan menghela bosan.
Setelah selesai makan kami kembali kekelas. Kelas masih belum dimulai, mungkin jam kosong. Karena tadi saat melewati ruang guru Mr. Bonya tidak ada. Sedangkan kelas memasak akan diadakan dijam pelajaran ke 4.
''...de! Claude! Claude!''
Aku menoleh Abel sedang membawa sebuah buku tebal dengan tulisan bahasa Prancis disampulnya. ''Ya, kenapa?'' Tanyaku ke Abel. Abel menggembungkan sebelah pipinya. ''Kau sedang memikirkan apa? Sampai aku kau abaikan!'' Nada bicara Abel terlihat kesal tapi wajahnya terlihat lucu. ''Aku tidak memikirkan apapun. Dan aku minta maaf karena mengabaikanmu.'' Aku memasang wajah lembut pada Abel. Abel langsung kembali seperti biasa.
Dia menaruh buku itu didepanku. Lalu membuka halaman satu dari buku itu. Aku memandang bingung ke arah Abel. Seakan mengerti Abel menjelaskan.
''Aku menemukan nama 'BLACKBURN' saat membaca buku ini. Perkiraan ku kita bisa menemukan orang yang menerormu dengan mencari orang yang meminjam buku ini. Kau tahu kan nama 'BLACKBURN' tidak terlalu sering digunakan tidak seperti 'Abel', 'Mia' , 'Rina', 'Brenda'. Dan lainnya begitu.''
__ADS_1
Aku memandang Abel kagum. ''Kau bisa menemukan buku seperti ini disekolah? Kau hebat sekali.'' Ucapku. Abel tersenyum cerah. ''Karena sekarang jam kosong bukannya lebih baik kita gunakan untuk ke perpustakaan?'' Tanyaku. ''Ide bagus! Dengan itu kita lebih cepat menemukan peneror itu.'' Abel langsung berdiri dan menarikku ke perpustakaan. Tidak lupa aku membawa buku tadi.
Sampai diperpustakaan aku menjelajah buku tentang sejarah, serial killer, dark fantasi, dan horor. Sedangkan Abel memeriksa buku tentang comedy, romance, fantasi, dan family.
Tapi nama 'BLACKBURN' hanya kami dapat dari satu buku bertema dark fantasi. Saat membaca buku itu kami menemukan cuma menemukan satu persamaan dengan buku yang dibawa Abel sebelumnya.
Yaitu...
Sang pembunuh, ternyata adalah teman tokoh utama dalam cerita.
Dengan cepat aku langsung memeriksa kartu yang biasanya digunakan untuk menulis siapa saja yang meminjam buku itu. Dan yang kutemukan langsung kubandingkan dengan buku yang dibawa Abel sebelumnya.
Buku 1
Mikaella R. (9 Januari)
Sho Y. (14 Januari)
Glory A. (30 Mei)
Derothy V.A. (30 Juni)
Buku 2
Derothy V.A (30 Mei)
Glory A. (30 Juni)
Sho Y. (5 Juli)
Yura S. (14 September)
Aku kaget. Benar-benar kaget. Tidak seperti saat Posen mengagetiku, saat ini pikiranku campur aduk. Aku tidak bisa berpikir jernih.
''Claude apa kau baik?'' Tanya Abel memeggangi bahuku yang gemetar. Pandanganku mulai kabur aku harus segera menyelesaikan masalah ini!
Tapi siapa pelakunya?! Abel yang selalu kupercayai dan kuceritakan semua keluh kesahku? Adik angkatku yang bahkan saat kami bicara hanya beberapa menit? Kakak kelas yang bahkan kami belum pernah bertemu ataupun saling menyapa sebelumnya? Siapa? Siapa?! SIAPA?!
__ADS_1
''Claude? Claude!? CLAUDE?!''
Aku menoleh dan mendapati bukan hanya Abel yang ada disana. Laps dan Posen juga disana sambil memanggil namaku berulang kali.
''Claude? Kenapa kau menangis?'' Tanya Posen. Aku menyentuh pipiku, disana terdapat jalur air mata yang sepertinya masih akan terus mengalir. Aku mencoba menenangkan diriku. Lalu Laps memelukku. ''Tenanglah ada aku disini. Ada kami disini. Jadi jika kau terlibat masalah ceritalah pada kami.'' Laps mengelus lembut kepalaku.
Lalu dia mencium dahiku dan menghapus jejak air mataku dengan tangannya.
''Jadi sebenarnya ada apa?'' Tanya Posen.
Abel dengan tenang langsung menjelaskan masalahku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Silahkan para pembaca berfikir mulai sekarang. Dan sebenarnya siapa pelakunya? Dan apa motif pelaku untuk meneror Claude yang bahkan nasibnya sudah sangat buruk?
Tunggu aja :v
Hehe**...
__ADS_1