
Mataku masih sembab karena air mata yang tadi mengalir.
Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku setelah kejadian diperpustakaan.
Yang pasti sepulang sekolah aku mengurung diri dikamarku. Aku mengunci pitu kamar juga kedua jendela yang ada disini. Kuhalangi pintu dengan meja belajarku, dan aku paku jendelaku agar tidak ada yang bisa membukanya. Jikalau, jikalau saja...
Jikalau saja aku tidak pernah keluar dari kamar ini, sepertinya tidak akan terjadi apapun hal buruk padaku.
Yah, harusnya aku menuruti ucapan Mamaku dulu.
Harusnya aku mati membusuk dikamar ini.
Bukannya bahagia didunia luar sana dengan teman dan tunangan ku.
Kenapa aku sangat munafik?
Bukannya aku dijodohkan karena aku adalah seorang putri terlarang?
Harusnya aku tidak lancang menyebutnya sebagai tunganganku, aku sangat lancang.
Iya kan? Mama?
Bukannya aku harusnya ikut pergi dengan Mama dulu?
Kenapa Mama meninggalkanku di istana ini?
Kenapa Mama? Kenapa?
Aku terus membatin sambil terisak. Sudah lama rasanya aku tidak menangis selama ini. Biasanya aku hanya berwajah datar saat menghadapi hal-hal buruk maupun dipukul oleh Ibu tiriku.
Mataku terasa panas sekarang.
Apa sebaiknya aku tidur ya?
Tidak, tidak. Aku harus mengetahui motif dari penerorku dulu.
Kalau dia berani-beraninya mengirimku surat seperti ini, berarti dia dekat dengan keluarga kerajaan. Karena tidak semua bisa masuk kearena dekat dengan kamarku. Karena kamarku diangap terkutuk, dan hanya beberapa orang saja yang diperbolehkan untuk berkeliling disekitar kamarku.
Aku mengambil semua surat yang pernah dikirimkan oleh sang peneror.
Semuanya beebalut amplop hitam dan ada tangkai mawar di dalam amplop itu.
''Penyuka mawar ya sepertinya?''
Aku bergumam. Ku angkat sebelah bibirku, aku tersenyum. Sekarang sepertinya kau tahu bagaimana caranya untuk menangkap si peneror itu.
__ADS_1
Kutatap tajam kupu-kupu yang terbang masuk kedalam kamarku. Padahal sudah kukunci dan kupaku semua jendelaku. Tidak mungkin kupu-kupu biasa bisa masuk kan?
SRAK!
Aku menangkap kupu-kupu itu dengan satu tangan. Tiba-tiba hewan bersayap itu berubah menjadi abu. Asap hitam mengepul perlahan dari tanganku. Bau bunga Geranium menyerbak dikamarku, baunya sama seperti parfum yang biasa dipakai oleh Mama.
Aku langsung menajamkan indra penciumanku.
Namun hasilnya nihil, aroma bunga itu hanya terus berputar dikamarku tanpa berpindah tempat.
Bagi zat gas bukannya aneh kalau tidak menghilang setelah lima menit tercium?
Apa lagi bau itu cukup samar untuk orang awam.
Sepertinya aku harus mengetahui lebih banyak soal dunia iblis.
Yah, sepertinya ini akan menjadi kisah yang bagus.
.
.
.
.
.
Didalam hutan terlarang.
Terlihat seorang perempuan setengah baya sedang makan malam bersama hewan-hewan malam.
Banyak kupu-kupu dan kunang-kunang yang mengelilinginya.
Perempuan itu memakai sebuah jubah putih dan juga sebuah topi yang cukup lebar.
Suasana hening makan malam itu tiba-tiba berubah rusuh.
Ada seorang pria berpakaian rapi datang dan duduk didepang perempuan itu. Dia memakai topi untuk menutup rambutnya. Juga jas hitam untuk menutup bajunya yang sedikit (sangat) menonjol.
Aroma bunga levender tercium dari pria itu. Senyum cerahnya dia suguhkan pada perempuan didepannya.
Sang perempuan tetap berwajah datar dan memakan sup buah buatannya.
''Kenapa kau kesini? Bukannya kau yang mengusuklan pada raja untuk mengusirku?''
__ADS_1
''Ahahaha, maaf kan aku. Dan lupakan kejadian tempo dahulu. Sekarang kita berteman kan?''
''Tidak, kita tidak pernah berteman sekalipun. Namun jika kita bermusuhan itu benar.''
''Jangan begitu. Sebentar lagi anak tersayangmu akan menjadi milikku loh? Kau tidak mau memberiku selamat?''
Mata perempuan itu melebar setelah mendengar ucapan sang pria. Dia menjatuhkan sup buahnya lalu mencengkram erat kerah milik sang pria.
''HARUS KUKATAKAN BERAPA KALI AGAR KAU MENGERTI HUH?! LELAKI BERENGSEK!''
''Hei, hei. Jangan seperti itu~ sebentar lagi aku akan menjadi menantumu loh? Tinggal kusingkirkan 'dia' lalu anakmu akan menjadi milikku seutuhnya.''
''Jika kau mau menyingkirkan 'dia' silahkan, aku tidak peduli. Tapi jika menyangkut anak gadisku aku akan marah sejadi-jadinya!''
''Kau selalu begitu ya~ Setidaknya lebih santai lah~ Tidak akan lama lagi orang yang kau benci juga itu akan mati ditanganku. Bukannya cukup murah jika kau memberikanku anak gadismu?''
''Minta apapun dariku! Tapi tidak akan aku serahkan anakku!''
''Begitukah?''
Pemuda itu berubah menjadi asap lalu menghilang dilangit. Meninggalkan sebuah kabut bertuliskan : ***Sayang sekali aku tatap akan mendapatkan anak gadismu itu\~. ***
Perempuan itu terbakar amarah, dia mengeluarkan api dari tangannya. Lalu membakar hutan sebagian.
Setelah perempuan itu merasa tengang dia pergi dari hutan itu. Meninggalkan hutandengan kondisi terbakar sebagian.
Malang sekali nasib hutannya.
.
.
.
.
.
***Halo semuanya! ***
Saya kembali setelah sekian lamanya!
Saya tidak sengaja lupa pada sandi kunci ponsel saya yang menyimpan apk MANGATOON ini.
Jadi tolong maafkan saya ya.
__ADS_1
Sampai jumpa!