
Saat ini Echa, Hanin, Ivy dan Shiren sedang berada di ruang tamu, duduk diatas karpet dengan bulu-bulunya yang tebal. Sedangkan yang lainnya pergi entah kemana.
"Caca dapat visual aneh banget," ucap Echa.
"Visual? Coba ceritain," ujar Shiren.
Hanin yang mendengar itu, langsung menggenggam tangan Echa yang berada di sampingnya, seolah memberitahu jangan diceritakan.
Echa melihat kearah Hanin sambil menganggukkan kepalanya seolah apa yang diceritakannya ini bukan hal yang privasi.
"Kenapa kalian liat-liat kayak gitu?" tanya Ivy penasaran.
"Engga, Hanin cuman takut kalau gak kuat jangan cerita dulu, Hanin takut Caca kenapa-kenapa," jawab Hanin.
"Iya, Ca. Kalau gak kuat jangan di paksain," ucap Ivy sambil menggenggam tangan Echa dan tersenyum manis.
Echa dapat melihat senyuman tulus dari bibir Ivy, apa tidak jahat jika menuduh Ivy sebagai pelakunya? Mereka sudah sangat lama bersama-sama, 7 tahun untuk mengenal satu sama lain bukan hal yang sebentar.
Echa tau, Ivy adalah orang yang tidak bisa mengendalikan amarahnya, tapi dia juga tahu bagaimana tulusnya Ivy ketika berteman. Ivy akan melakukan apapun demi orang yang dekat dengannya. Sekalipun bersangkutan dengan nyawa.
Tak terasa air matanya sudah menetes, mengingat senyuman yang kini harus Echa curigai, cerita yang biasanya tidak pernah dia sembunyikan, kini harus menjadi rahasia tersendiri.
"Ayo, Ca. Cerita, siapa tau bisa meringankan beban atau ketakutan buat Caca," ucap Shiren sambil tersenyum kearah Echa.
Tuhan, kenapa takdir Caca harus kayak gini? Sakit banget rasanya kalau salah satu dari temen-teman Caca ikut dalam lingkaran hitam, dan itu artinya Caca harus bunuh sahabat Caca sendiri? Caca gak bisa. Batinnya.
"Hanin bakalan selalu ada di samping Caca," ucap Hanin sambil memeluk tubuh Echa.
"Vivi, juga, apapun yang terjadi kedepannya, Vivi bakalan selalu ada buat kalian, Vivi bakalan berdiri paling depan kalau kalian dalam bahaya," ujar Ivy yang juga ikut memeluk Echa.
"Shiren juga, apa pun yang terjadi, kita akan selalu bersama," ucap Shiren yang ikut memeluk teman-temannya sambil menyeka air mata yang sudah menetes.
Apa kalian tidak tahu? Aku adalah yang kalian cari. batin seseorang sambil menyunggingkan senyumannya.
__ADS_1
"Udah, kenapa jadi sedih kayak gini? Senyum lagi, kita cerita yang lain aja," ucap Ivy sambil melepaskan pelukannya dari teman-temannya, dia menyeka air mata yang membasahi pipinya.
Mereka semua menyeka air mata yang sejak tadi membasahi pipinya.
"Bagi Caca, kalian itu berharga. Apa kalian juga menganggap persahabatan ini berharga? Atau malah harus diberi sebuah noda dulu untuk melihat harganya?" tanya Echa sambil menatap teman-temannya satu persatu.
Entah kenapa Echa ingin melontarkan pertanyaan itu, Dia sudah lelah jika harus menyimpan pertanyaan yang mengganggu pikirannya selama ini.
"Ca, jujur aja, Hanin bakalan jadi seseorang yang berdiri paling depan buat Caca, kita kenal udah hampir 7 tahun Ca, itu lebih dari cukup buat Hanin kenal pribadi Caca." ucap Hanin sambil menatap lekat mata Echa.
"Vivi juga, kalau Hanin berdiri paling depan buat Caca, maka Vivi bakalan berdiri paling depan buat Hanin. 7 tahun, waktu yang lama buat Caca sama Hanin sabar hadapin sikap Vivi yang tempramental. Vivi bersyukur banget bisa kenal kalian. Kalian selalu bilang apa adanya tanpa ada yang di tutup-tutupi. Kalian yang paling kenal pribadi Vivi selama ini, bahkan kalian yang paling tau dari pada kedua orang tua Vivi." ucap Ivy dengan air mata yang membasahi pipinya. "Vivi gak bakalan pernah jadi noda diatas kain putih. Itu pegangan kuat buat Vivi, yang Vivi punya cuman kalian, gak ada lagi."
Echa tahu, bahkan dia sangat mengenal Vivi. Apa yang dikatakan oleh Vivi, bukanlah sebuah penenang saja.
"Kalian orang yang percaya sama Shiren ketika kejadian Riana yang mengambil alih tubuh Shiren. Di saat itu, Shiren menemukan arti sebuah sahabat. Ketika seribu orang menolak hadirnya shiren, kalian malah menerima keberadaan Shiren." sambung Shiren sambil menyeka air matanya. Mengingat kejadian 3 tahun lalu.
"Hanin harap, gak ada yang jadi noda," ucap Hanin sambil menyeka air matanya.
Hanin pribadi yang kuat, namun dia juga lelah atas apa yang terjadi, ketika kata 'penghianatan' muncul. Hatinya seperti disayat ribuan pisau secara perlahan.
"Lega banget," ucap Ivy.
Hanin merebahkan tubuhnya, dia menatap langit-langit rumah. "Btw, yang mau nyusul Hanin siapa?"
"Iya, ya? Berapa hari lagi Hanin sold out?" tanya Ivy sambil tersenyum dan merebahkan tubuhnya di samping Hanin.
"1 Minggu lagi," jawab Hanin sambil menatap kearah Ivy.
"Yang nyusul Hanin, kayaknya Caca, udah feeling," ucap Shiren yang ikut merebahkan tubuhnya.
"Vivi juga mau, cara bisa cepet kayak gitu gimana sih? Biar kak Azka peka. Dia kalau soal gombal rajanya, sampai beberapa cewek teror Vivi buat putus, tapi soal peka kayak kak Bara atau kak Nathan, kayaknya gak ada bakat." ujar Ivy dengan wajah cemberut.
Echa merebahkan tubuhnya diantara Hanin dan Shiren. "Bilang aja, Vivi mau nikah, nyusul Hanin."
__ADS_1
"Ya kali, Ca. Kesannya tuh kayak kebelet nikah. Tapi, emang iya sih, Vivi kebelet nikah, liat Kak Tiara sama Hanin udah sold out." ucap Ivy.
"Yaudah, tinggal bilang aja, kayak gitu," ujar Shiren sambil tertawa pelan.
"Kalau mau to the point, harus kuat mental. Apalagi denger jawabannya," ucap Ivy.
"Iya juga sih," ucap Shiren.
"Nanti Caca bantuin buat kasih tau kak Azka, siapa tau kan emang sama-sama mau tapi malu," ujar Echa sambil tersenyum kearah Ivy.
"Caca emang terbest banget, kalau jawabannya nyakitin jangan kasih tau Vivi ya, kalau jawabannya bikin bahagia kasih tau," ucap Ivy cengengesan.
"Maunya," ujar Hanin.
"Gimana kabarnya kak Tiara?" tanya Echa.
"Vivi sempet main, tau gak? Kasian banget tugasnya pada numpuk-numpuk," jawab Ivy.
"Tau tugas numpuk dari mana?" tanya Hanin.
"Dari buku-buku di samping Kam Tiara, terus Vivi tanyain, 'lagi banyak tugas ya, kak?' kak Tiara jawab 'iya nih, maaf ya ke yang lain kalau jarang kumpul, Tiara susah buat bagi waktu.' gitu katanya," jelas Ivy.
"Kapan-kapan, kita samperin kak Tiara sambil bantuin, siapa tau kita bisa bantu," ucap Hanin.
"Setuju," ujar Echa.
"Besok ke kampus gak?" tanya Shiren.
"Kayaknya engga deh, belum ada pengumuman lagi," jawab Ivy sambil membuka ponselnya.
"Iya, Shiren juga belum ada pemberitahuan apa-apa," ucap Shiren.
"Kenapa gini banget ya?" tanya Hanin.
__ADS_1
"Siapa yang mau kayak gini sih, Nin?" tanya Ivy sambil menatap kearah Hanin.