TEROR

TEROR
|33| KECELAKAAN


__ADS_3

Hari mulai menjelang malam, namun acara masih berlangsung dengan sangat meriah, para tamu undangan pun masih berdatangan memberi ucapan selamat kepada Mutiara dan Alvero di acara pertunangannya.


"Aira." Panggil seseorang kepada Aira yang berada dalam pangkuan Echa. Sejak tadi pagi Aira terus saja bersama Echa, dia tidak ingin lepas dari Echa, kemanapun Echa pergi Aira selalu mengikutinya.


Aira, Echa dan Bara langsung melihat kesumber suara yang memanggil nama Aira.


Sedangkan Hanin, Shiren, Ivy dan yang lainnya pergi entah kemana, Echa tidak bertemu lagi dengan mereka dari tadi sore.


"Papa." Sahut Aira sambil turun dari pangkuan Echa dan memeluk Daniel-Ayahnya.


"Seneng banget ya sama kak Caca?" Tanya Daniel sambil menggendong Aira. Sedangkan Echa yang melihat dan mendengar ucapan Daniel hanya tersenyum manis.


"Iya, kak Caca baik banget sama Aira, papa juga pasti suka kan sama kak Caca?" Tanya Aira dengan suara lucu khas anak kecil yang manja kepada ayahnya. Bara yang mendengar itu langsung menatap kearah Aira seolah dari tatapannya memberi peringatan untuk tidak melanjutkan perkataan yang membahas tentang Echa.


"Kalau papa bilang suka nanti ada yang marah tapi kalau papa bilang gak suka.. kak Caca terlalu baik, cantik buat dibilang gak suka." Jawab Daniel sambil tersenyum kearah Echa yang sedang mendengar percakapan seorang ayah dan anak.


"Ah papa gak seru!" ucap Aira merajuk pada Daniel.


"Iya sayang, papa suka sama Kak Caca." ujar Daniel sambil mengelus lembut kepala Aira.


"Nah gitu pa kan jadi seru punya jawabannya." ucap Aira yang sudah tidak merajuk lagi, Daniel hanya mengecup singkat kening Aira sebagai jawaban sambil tersenyum.


"Ayah kapan kesini? Kata kak Bara ayah gak pulang." ucap Echa sambil menatap kearah Daniel yang sedang mendudukkan dirinya di kursi kosong sebelah Echa.


"Kemarin, Awalnya ayah emang gak pulang banyak banget kerjaan di kantor tapi ayahnya Tiara mohon -mohon sama ayah buat dateng dan akhirnya ayah ngalah." ujar Daniel.


"Kenapa ayah gak bilang sama Caca mau pulang? Biar nanti Caca sama Kak Bara jemput di bandara." ucap Echa.


"Hp ayah lowbat, pulang juga naik Taxi." ujar Daniel.


"Gimana kuliahnya? Udah mulai?" Tanya Daniel sambil merapikan rambut Aira yang berada di pangkuannya.


"Nanti masuk nya tanggal 10 Agustus, abis pernikahan kak Tiara." jawab Echa.


"Bara gimana? masih berantem lagi? udah berapa kali bunda dapet surat panggilan gara-gara ulah Bara?" Tanya Daniel menatap kearah Bara yang sedang memainkan ponselnya.


"Gak pernah berantem lagi yah, Bunda juga gak pernah dapet surat panggilan," jawab Echa.


"Ayah udah lama gak punya waktu buat Bara sama Aira akhir-akhir ini, di tambah bunda juga sibuk sama kerjaan kantornya jadi susah buat sharing tentang keluarga. Jadi gak terlalu tau banyak tentang mereka berdua." ucap Daniel sambil mengelus kepala Aira penuh sayang.


"Kak Bara, Aira sama bunda baik-baik, gak pernah ada masalah sama sekali ya kan kak?" Tanya Echa sambil melihat kearah Bara yang sedang memainkan ponsel miliknya.


"Iya." Jawab Bara singkat. Dia seolah enggan untuk berbicara panjang lebar kepada ayahnya.


Saat Daniel ingin membalas perkataan Bara tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilnya.


"Pa." Panggil Bunda An.


"Hm?" sahut Daniel sambil menatap kearah Bunda An yang sedang melangkahkan kaki kearahnya.


"Ayo pulang. Udah mau malem, mama masih banyak kerjaan, papa juga harus istirahat, semalem kurang tidur." ucap Bunda An.


"Yaudah ayah pamit dulu ya Ca." ucap Daniel sambil mengelus kepala Echa lembut.


"Iya yah, hati-hati di jalan yah." ujar Echa sambil tersenyum manis.


"Ayah titip Bara ya." ucap Daniel dengan suara pelan. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Bar, papa pulang dulu." pamit Daniel kepada Bara.


"Iya." ucap Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Bunda pamit ya." ujar Bunda An sambil mengecup singkat kening Echa dan Bara secara bergantian.


"Kak Caca Aira pulang jauh ya, jangan kangen sama Aira." ucap Aira sambil melambaikan tangannya di gendongan Daniel dan tersenyum manis kearah Echa.


"Iya, hati-hati di jalan." ujar Echa yang juga melambaikan tangannya kearah Aira.


Bunda An, Daniel dan Aira melangkahkan kakinya pergi dari acara pertunangan Mutiara. Kini tersisa Bara dan dirinya.


"Ibu udah pulang?" Tanya Bara sambil menatap kearah Echa untuk memecah keheningan.


"Udah tadi siang." Jawab Echa sambil merapikan rambut Bara yang sedikit acak-acakan.


"Kenapa kakak gak tau?" Tanya Bara sambil menikmati sentuhan tangan Echa di rambutnya.


"Kakak lagi keluar bentar sama Kak Gavin." jawab Echa.


Namun saat Bara ingin membalas perkataan Echa, ada satu suara yang membuatnya bungkam dalam seketika, mengernyitkan dahinya ketika mendengar suara tersebut.


"Perkenalkan, nama saya Algi, disini saya hanya mengisi acara yang kosong." ucap Algi sambil membawa gitar.


Echa yang mendengar itu menatap kearah Bara yang sedang mengernyitkan dahinya seolah nama itu tidak asing di telinganya.


Petikan gitar mulai terdengar, menyesuaikan dengan suara Algi yang terdengar sangat lembut, membuat para penonton tenang mendengar nya.


Aku yang lemah tanpamu


Aku yang rentan karena


Cinta yang t'lah hilang darimu

__ADS_1


Yang mampu menyanjungku


Suara lembut dan petikan dari gitar milik Algi membuat semua orang seolah merasakan apa yang dia rasakan.


Selama mata terbuka


Sampai jantung tak berdetak


Selama itu pun aku mampu untuk mengenang mu


Darimu (darimu), kutemukan hidupku


Bagiku (bagiku), kaulah cinta sejati


Yeah, huu, huu (darimu)


(Bagiku, engkaulah cinta sejati)


Algi menatap kearah Echa yang sedang duduk bersama dengan Bara mendengarkan lagu yang dia nyanyikan untuknya.


Bila yang tertulis untukku


Adalah yang terbaik untukmu


'Kan kujadikan kau kenangan


Yang terindah dalam hidupku


Namun takkan mudah bagiku


Meninggalkan jejak hidupmu


Yang t'lah terukir abadi


Sebagai kenangan yang terindah…


Petikan gitar terakhir membuat para penonton bertepuk tangan mendengar lembutnya suara Algi.


Sedangkan Algi masih menatap kearah Echa sambil tersenyum manis, seolah semua yang ada di hati dan pikirannya sudah dia curahkan kepada Echa.


Sedangkan Bara hanya menatap kearah Algi dengan tatapan yang sukar untuk dimengerti.


"Kak." Panggil Echa sambil menggenggam tangan Bara.


"Dia mantan Caca?" Tanya Bara yang masih menatap Algi.


"Iya." Jawab Echa.


Echa sedang menunggu kedatangan Algi di tepi jalan ditengah gelapnya malam yang mampu semua orang bergidik ngeri melihat beberapa mahluk tak kasat mata berseliweran.


"Algi mana sih!" Ucap Echa kesal yang sudah lama menunggu Algi menjemputnya.


Tak lama kemudian, ada suara deru motor yang mampu membuat Echa mengembangkan senyumannya. Motor itu berhenti tepat dihadapan Echa.


"Udah siap?" Tanya Algi dengan tatapan yang susah untuk di artikan.


"Udah." Jawab Echa tersenyum bahagia.


"Naik." ucap Algi untuk menyuruh dirinya naik keatas motor.


Setelah dirasa Echa sudah naik keatas motornya, Algi langsung melajukan ya dengan kecepatan standar. Membelah kota yang terlihat lenggang.


"Kita mau kemana? Makan atau jalan-jalan?" Tanya Echa sambil melingkarkan tangannya di pinggang Algi.


Algi melihat tangan Echa melingkar di pinggangnya itu hanya bisa menatapnya dengan rasa bersalah yang sangat hebat.


"Kita liat aja nanti." jawab Algi dengan nada yang tidak seperti biasanya, nada itu seolah menusuk. Bahkan Echa seperti sedang bersama orang lain.


...----------------...


30 menit telah berlalu Algi membawa Echa kesebuah rumah yang sudah kumuh namun banyak orang yang berada di rumah tersebut seolah menunggu kedatangannya.


"Kenapa kita kesini gi? Aku takut. Disini banyak laki-laki." ucap Echa yang melihat banyak sekali laki-laki di rumah tersebut.


"Gak apa-apa, ayo ikut." ujar Algi sambil menggenggam tangan Echa untuk masuk kedalam rumah tersebut, dia hanya menundukkan kepalanya ketika semua lelaki menatap kearahnya, dari atas sampai bawah.


Algi membawa Echa kehadapan seorang pria yang sedang menyesap sebatang rokok, menghembuskan asapnya diwajah Algi.


Umurnya tidak terlalu tua, namun dapat Echa perkirakan dia 2 tahun lebih tua darinya.


"Jadi ini cewek Lo. Cantik juga ya." Ucap orang tersebut sambil menatap kearah Echa. Algi tidak membalas perkataan laki-laki tersebut dia hanya menatap dengan penuh amarah.


"Lo cepet pergi deh dari sini." ucap orang tersebut sambil menatap Algi.


"Gi.." ucap Echa saat Algi melepaskan genggaman tangannya dari Echa


"Bawa dia." ujar pria tersebut menyuruh teman-temannya untuk membawa Echa dari Algi.


"Algi!" Panggil Echa ketika dia dibawa entah kemana, sedangkan Algi hanya diam saja melihat Echa dibawa seperti itu.


"Cowok brengsek! Aku gak bakalan pernah mau maafin kamu gi! Kamu orang paling jahat yang ada di hidup aku!" Teriak Echa ketika dirinya akan dimasukkan kesebuah ruangan.

__ADS_1


"Lepas!" Teriak Echa sambil memberontak dari orang yang membawanya tersebut, namun kekuatan lelaki lebih besar darinya.


Dia sudah kehilangan tenaga ketika teman-teman orang tadi mengikat tangannya dengan tali.


"Jangan nangis adik manis, salahkan pacarmu, dia menjadikan mu bahan taruhan." ucap salah satu pria yang melihat Echa sedang meneteskan air matanya.


"Tolong lepaskan aku. Aku mohon." ucap Echa dengan tatapan memohon.


"Maaf tapi ini sudah kesepakatan." ujar pria tersebut.


Saat Echa ingin membalas perkataan pria yang mengikat nya itu, tiba-tiba orang yang menyesap rokok tadi masuk kedalam ruangan dengan tatapan yang mengerikan bagi Echa.


"Hai adik manis, kenalin nama kakak Arsenio Hans Pratama. kami bisa panggil kakak tuan Arsen." ucap pria tersebut sambil melepaskan kekar yang melekat ditubuhnya.


"Tolong lepaskan aku. Aku ingin pulang." ucap Echa sambil menangis menatap kearah Arsenio.


"Tidak semudah itu adik manis, kamu sudah diberikan kepadaku sepenuhnya oleh pacarmu." ucap Arsenio sambil mengelus pipi Echa lembut. sedangkan Echa yang di perlakukan seperti itu langsung memalingkan wajahnya, menghindar dari sentuhan Arsenio.


"Wah, wah.. adik manis menghindar." ujar Arsenio yang kini mencengkram pipi Echa kuat.


"Siapapun tolong Caca, tuhan. Apa ini akhir dari hidup Caca?" tanya Echa dalam hati seolah sedang berkomunikasi pada Tuhan untuk menolongnya dari kondisi seperti ini.


"Mama, Papa tolong Caca!" ucap Echa dalam hati sambil meneriaki nama kedua orang tuanya.


"Jangan nangis, Kakak bukan orang jahat." ujar Arsenio sambil tersenyum sinis menatap kearah Echa yang sedang meneteskan air matanya.


Arsenio mulai membuka satu persatu kancing bajunya, sedangkan Echa yang melihat itu memalingkan wajahnya jijik seraya memohon kepada Tuhan, satu-satunya tempat yang bisa Echa andalkan saat ini.


"Kalian semua keluar!" ucap Arsenio yang melihat teman-temannya sedang menatap kearahnya. teman-temannya itu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan, meninggalkan Arsenio dan Echa berdua diruangan tersebut.


"Mari kita bermain-main sayang.." ucap Arsenio sambil mengelus pipi Echa lembut dengan senyuman sinisnya.


"Tuhan, tolong Caca, siapapun tolong Caca!" teriak Echa.


"Tuhan sedang berpihak padaku." ucap Arsenio. Echa hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban ketika Arsenio mulai menyentuh bagian tangannya dengan lembut.


Namun saat dia ingin menyentuh paha Echa, suara keributan terdengar dari luar, membuat aksinya terhenti.


"Shit!" ucap Arsenio geram ketika aksinya tidak berlanjut.


Bruk..


suara dobrakan pintu ruangan itu membuat Echa tersenyum di tengah-tengah tangisannya. Tuhan mengabulkan doanya.


"Siapa lo berani masuk kesini?!" tanya Arsenio geram.


Orang tersebut tidak menjawab perkataan Arsenio dia langsung memukul wajah Arsenio tanpa ampun. Dari postur tubuhnya Echa melihat orang itu adalah pria, namun dia tidak bisa melihat wajahnya karena orang tersebut menggunakan pakaian serba hitam dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


Namun Echa dapat melihat mata coklat indah ketika cahaya bulan menerangi orang tersebut, mata yang dapat membuat Echa jatuh hati dalam beberapa detik.


Echa terlalu asik menatap mata tersebut hingga orang tersebut sudah mengalahkan Arsenio yang terbaring lemas di lantai, pria tersebut membuka tali yang mengikat di tangan Echa dan menggenggam tangannya membawa Echa dari tempat terkutuk ini.


Echa melihat banyak sekali orang yang meringgis kesakitan dengan luka di wajahnya, Echa langsung menatap kearah pria yang kini sedang menggenggam tangannya, seolah berpikir apa dia melakukannya sendirian? dengan tangan kosong? siapa dia? kenapa dia bisa mengetahui ada orang yang sedang disekap, padahal jauh dari jalanan dan pemukiman warga?


"Lo ambil semua jabatan gue. Gue udah muak sama kelakuan Lo! ini bukan sekali dua kali gue terlibat hal menjijikan yang Lo buat! mulai saat ini gue keluar!" ucap orang tersebut sambil memberikan sebuah kunci kepada Algi yang wajahnya sudah tidak baik-baik saja.


Pria tersebut membawa Echa menuju motornya yang terparkir di samping motor Algi.


"Naik." ucap pria tersebut menyuruh Echa untuk naik keatas motonya.


Echa langsung naik keatas motor pria tersebut, setelah Echa duduk dengan aman diatas motornya pria itu melajukan motornya dengan kecepatan maximal, membuat Echa memeluk erat pinggang pria tersebut. Pelukan itu mampu membuat tubuh pria tersebut menegang sehingga memelankan kecepatannya.


"Lepas." ucap orang tersebut ketika Echa masih memeluk pinggangnya. Tanpa berpikir panjang lagi Echa langsung melepaskan


Tidak ada percakapan apapun di atas motor tersebut, Echa masih trauma atas kejadian yang menimpanya tadi.


Algi seseorang yang sudah dalam blacklist di kehidupan Echa, dia tidak akan Sudi menerima Algi untuk kembali padanya.


Flashback off.


Algi masih saja menatap kearah Echa sambil tersenyum manis, padahal dia tahu bahwa Echa sudah memiliki seseorang yang mampu membuat hidup nya bahagia, setelah apa yang telah di perbuat oleh Algi padanya.


Drt..drt..drt..


Ponsel milik Bara bergetar ketika dia ingin mengatakan sesuatu kepada Echa.


"Halo." ucap Bara mengangkat telpon dari Daniel.


"Selamat malam, apakah ini benar dengan keluarga bapak Daniel?" tanya seorang perempuan.


"Iya, saya anaknya. Ada apa ya?" tanya Bara bingung ketika yang menelponnya itu seorang wanita.


"Mobil bapak Daniel mengalami kecelakaan lalulintas, saat ini bapak Daniel beserta istri dan anaknya mengalami luka serius. Dia dilarikan kerumah sakit Widhibarata." ucap perempuan tersebut.


Sedangkan Bara dan Echa yang mendengar ucapan itu langsung diam mematung, matanya mulai berkaca-kaca, detak jantungnya bergemuruh hebat.


"Kak.." panggil Echa sambil menggenggam tangan Bara yang masih mencerna ucapan dari wanita dalam sambungan telpon miliknya.


Echa langsung mengambil ponsel bara dari genggaman tangannya dan berbicara kepada wanita tersebut.


"Terimakasih informasi, kami akan segera kesana." ucap Echa sambil menutup layar ponsel Bara.

__ADS_1


Bara yang mendengar penuturan Echa itu langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah Mutiara dengan langkah terburu-buru diikuti Echa dibelakangnya.


__ADS_2