
Saat ini Echa dan Bara sedang berada di supermarket, belanja untuk bahan makan siang karena Bi Neni izin pulang ke kampung halamannya bersama Bi Surti.
Echa sedang memilih beberapa bahan masakan untuk mengisi perutnya diikuti bersama Bara disampingnya dengan wajah dingin andalannya jika diluar rumah.
"Kak, mau makan apa?" Tanya Echa.
"Apa aja." Jawab Bara.
Echa yang mendapat perkataan seperti itu langsung mengambil beberapa sayuran dan ikan.
"Yakin mau itu Ca?" Tanya Bara ketika melihat Echa mengambil sayuran yang dirinya tidak suka.
"Barusan kata kakak apa aja." Jawab Echa yang masih memilih beberapa bahan makanan.
"Jangan itu, kakak gak suka." Ucap Bara.
"Yaudah kakak maunya apa?" Tanya Echa sambil menatap kearah Bara.
Namun saat Bara ingin menjawab pertanyaan Echa tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil nama Echa.
"Ca." Panggil seseorang yang berada di belakang Bara, dia melambaikan tangannya kearah Echa.
"Algi." Gumam Echa tersenyum canggung ketika Algi memanggil namanya disaat yang tidak tepat.
"Eh, hai." Sahut Echa membalas lambaian tangan Algi.
Algi yang melihat Echa membalas sapaannya itu langsung melangkahkan kakinya kearah Echa dan Bara. Sedangkan Bara tidak melihat kearah Algi, dia masih memasang wajah dingin andalannya.
"Lagi ngapain?" Tanya Algi ketika sudah berada disamping Bara.
"Lagi belanja buat makan siang." Jawab Echa.
"Mau masak?" Tanya Algi sambil melihat bahan yang ada di keranjang.
"Iya." Jawab Echa, sesekali dia melihat kearah Bara dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Boleh gabung?" Tanya Algi sambil tersenyum manis kearah Echa.
__ADS_1
Echa yang menatap mata Algi merasakan ada sesuatu yang aneh didalam tubuh Algi, seperti memiliki energi negatif namun sulit dibaca.
"Udah kan?" Tanya Bara menatap kearah Echa, seolah Bara mengetahui bahwa Echa baru saja merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuh Algi.
"Eh, itu.." jawab Echa yang langsung di sanggah oleh Bara.
"Udah lama disini, kita pergi ke kasir." Ucap Bara sambil menggenggam tangan Echa dan melangkahkan kakinya pergi menuju kasir, meninggalkan Algi tanpa menjawab pertanyaannya.
"Tapi kak.." ucap Echa yang kembali disanggah oleh Bara.
"Ambil aja apa yang ada." ujar Bara sambil melangkahkan kakinya bersama Echa.
"Bara selalu jadi penghalang. Aku harus segera menyingkirkannya." Ujar Algi ketika melihat punggung Echa dan Bara sebelum pada akhirnya menghilang dari pandangan mata.
Selama berada di kasir banyak pegawai wanita yang menatap kagum dan terpesona kearah Bara secara terang-terangan.
...----------------...
5 menit telah berlalu, Echa dan Bara sudah keluar dari supermarket dengan kantung plastik yang dijinjing oleh Bara menuju parkiran.
Echa langsung melihat kearah sumber suara yang memanggil namanya itu, lagi dan lagi, itu Algi.
"Kenapa?" Tanya Echa ketika Algi berada di hadapannya.
"Malam ini ada acara?" Tanya Algi to the point.
"Gak ada." Jawab Echa sambil menggelengkan kepalanya.
"Bisa keluar bareng aku gak malam ini?" Tanya Algi menatap penuh harap kearah Echa tanpa memperdulikan kehadiran Bara yang berada disamping Echa.
Sedangkan Echa yang diberi pertanyaan itu langsung menatap kearah Bara yang sudah jengah dengan wajah Algi bahkan ekspresi wajahnya sudah tidak bersahabat lagi.
"Maaf, Caca gak bisa." Ucap Echa sambil menggenggam tangan Bara, seolah memberitahu bahwa dia sudah memiliki Bara.
"Kenapa?" Tanya Algi.
"Caca udah punya Bara." Jawab Echa sambil tersenyum menatap kearah Bara yang berada disampingnya.
__ADS_1
Algi yang mendapat jawaban seperti itu mengepalkan tangannya kuat, menatap tajam kearah Bara beberapa detik, kini Algi beralih menatap mata Echa dengan mulut yang terlihat sedikit berkomat-kamit.
Bara melihat ada sebuah percikan asap hitam yang akan menyentuh tepat mengenai mata dan jantung Echa. Dia menatap kearah Echa yang sepertinya tidak menyadari ada asap yang keluar dari mulut Algi.
Bara yang melihat asap itu semakin mendekat kearah Echa langsung membuat perisai tipis dari permata yang ada didalam tubuhnya untuk melindungi Ech, meskipun perisai itu tipis tapi memiliki efek yang fatal, perisai itu bisa menjadi boomerang.
Asap itu malah mengarah kepada Algi, sedangkan Algi yang melihat asap itu mengarah padanya langsung mengucapkan mantra penangkalnya.
Ketika mantra itu menyerang kearah Algi, Echa dapat melihatnya, gumpalan asap kecil namun mampu membuat orang yang terkena mantra itu seolah terhipnotis.
"Kak.." panggil Echa sambil menggenggam tangan Bara kuat ketika melihat ada sosok hitam besar dibelakang Algi, sosok itu sedang menutup mata Algi oleh kekuatannya.
"Kita pergi dari sini." Ajak Bara ketika melihat Algi sedang merapalkan mantra penangkal agar mantra yang akan diberikan kepada Echa tadi tidak mengarah padanya.
Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban ketika mendengar ajakan dari Bara, dia melangkahkan kakinya cepat meninggalkan Algi dengan sosok mengerikan dibelakangnya, sosok yang pernah dia lihat di apartemen.
"Kakak tau dari tadi?" Tanya Echa ketika sudah duduk diatas motor Bara.
"Hm." Gumam Bara.
Sedangkan disisi lain Algi masih berusaha mencegah mantra yang akan diberikan kepada Echa agar tidak menyerang dirinya.
Wosh..
Mantra itu langsung hilang bagaikan abu yang berterbangan diudara.
"Kenapa mantranya malah nyerang balik?" Tanya Algi penasaran.
"Apa aku yang salah ucapin mantranya?" Tanya Algi pada dirinya sendiri.
"Kau bodoh, laki-laki itu yang membuat mantra itu menyerang mu." Jawab sosok yang berada di belakang tubuh Algi.
"Bara? Dia hanya manusia biasa." Ucap Algi tersenyum sinis, seolah meremehkan posisi Bara.
"Bara tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan diriku yang memiliki penjaga." Sambung Algi.
"Apa jangan-jangan dia juga menggunakan ilmu dari tuan?" Tanya Algi beralibi.
__ADS_1