
"Ca, kalau ada Alvero sama temennya suruh masuk aja, kakak mau mandi dulu," ucap Bara sembari membawa handuk.
"Caca juga mau kerja kelompok," ujar Echa yang sedang menatap layar ponselnya.
"Siapa aja?" tanya Bara.
"Hanin, Disa, Gino, Algi sama Reyhan." jawab Echa kini beralih menatap Bara, dia juga tidak tahu jika Algi dan Reyhan satu kampus dengannya. Echa juga tidak bisa memilih kelompok, karena ini sudah di tetapkan.
Bara yang mendapat perkataan itu langsung memberhentikan langkahnya, dia menatap kearah Echa.
"Disini aja kerja kelompoknya," ucap Bara.
"Iya," ujar Echa.
"Ganti baju, jangan pake yang pendek," Bara kembali melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar mandi.
Echa menganggukkan kepalanya, dia masuk kedalam kamarnya untuk mengganti baju sebelum teman-temannya datang.
Ting.
Satu notifikasi WhatsApp membuat Echa mengalihkan pandangannya dari cermin.
+628267276****
Kebetulan ya, kita satu kelompok. Ternyata, jodoh gak kemana. Gak perlu di paksa.
Echa tidak membalas pesan tersebut, dia tahu siapa yang mengirim pesan itu, Algi. Siapa lagi jika bukan dia? Reyhan tidak seperti itu. Echa tidak tahu harus bagaimana. Dia serba salah.
Ting tong
"Iya, tunggu sebentar," Echa melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.
Cklek.
"Baranya ada, Ca?" tanya orang tersebut saat Echa membuka pintu.
"Ada, Kak. Masuk dulu, kak Bara lagi mandi," jawab Echa mempersilahkan Nathan masuk.
"Dari kapan mandinya?" tanya Nathan sambil mendudukkan dirinya di salah satu sofa.
"Baru aja masuk," jawab Echa. Dia melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil beberapa cemilan. "Hanin lagi ngapain, kak?"
"Lagi mandi," jawab Nathan.
Ting tong
Echa bergegas membuka pintu.
"Rey," ucap Echa ketika melihat Reyhan berada di depan pintu rumahnya dengan bibir yang agak pucat. "ayo masuk, di ruang tamu yang depan aja."
"Yang lain belum kesini?" tanya Reyhan ketika tidak melihat teman kelompoknya.
"Belum," jawab Echa sambil menyimpan beberapa cemilan diatas meja. Dia melihat ke arah Reyhan yang terlihat lemas dan banyak pikiran.
__ADS_1
"Sakit? Kalau sakit kenapa gak izin aja, Rey." sambung Echa sembari melangkahkan kakinya untuk mengambil obat.
"Gak usah, Ca," ucap Reyhan ketika Echa membawakan obat dan air putih untuknya.
"Kak, obat yang Caca simpan disini, abis?" tanya Echa ketika melihat Bara keluar dari kamar mandi.
"Di kamar Caca," jawab Bara.
Echa melangkahkan kaki menuju kamarnya untuk membawa beberapa obat.
Echa langsung mengambil kotak obat yang berada di atas meja kamarnya.
"Caca sakit?" tanya Bara yang sedang mengeringkan rambutnya.
"Enggak, buat Rey," jawab Echa yang baru saja keluar dari kamarnya. Bara tidak membalas perkataan Echa, dia kembali mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Ini, minum dulu, biar mendingan," ucap Echa sambil memberikan obat demam miliknya kepada Reyhan.
"Makasih," Reyhan menerima obat tersebut dan meminumnya.
"Ca," panggil Bara.
"Kenapa, kak?" sahut Echa.
"Sini bentar," ucap Bara.
"Bentar ya, kalau mau tidur, tidur aja dulu, mumpung yang lain belum kesini," ujar Echa sambil melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Reyhan yang sedang menyandarkan kepalanya ke dinding sembari memejamkan matanya.
"Kenapa kak?" tanya Echa yang kini sudah berada di hadapan Bara.
"Gak tau, Caca gak beres-beres berkas punya kakak," jawab Echa.
"Kakak simpen disini, tapi kenapa gak ada?" tanya Bara.
"Coba inget-inget lagi, siapa tau kakak lupa nyimpen." jawab Echa yang membantu Bara mencari berkasnya.
"Kakak inget, terakhir simpen disini," ucap Bara.
"Ini bukan?" tanya Echa sembari memberikan map berwarna biru dan merah kepada Bara. Sedangkan Bara yang melihat itu malah cengengesan.
"Makasih," ucap Bara sembari mengecup singkat kening Echa dan melangkahkan kakinya menuju Nathan yang sejak tadi asyik dengan layar laptopnya.
Echa mengembuskan nafas sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah bara akhir-akhir ini, sudah seperti anak kecil yang ingin dimanja oleh ibunya.
Ting tong
Bel rumah kembali berbunyi, Echa langsung membuka pintu rumahnya, melihat Disa, Gino dan Hanin yang berada di depannya.
"Ayo masuk," ucap Echa sambil melangkahkan kakinya menuju ruang tamu depan.
"Udah ada siapa Ca?" tanya Gino yang mengikuti Echa.
"Baru Rey," jawab Echa.
__ADS_1
Dia melihat Reyhan sedang memejamkan matanya dengan nafas teratur sembari menyandarkan kepalanya ke dinding.
"Tidur?" tanya Disa ketika melihat Reyhan tertidur.
"Iya, dia sakit," jawab Echa dengan suara pelan.
"Kalau sakit kenapa gak izin aja?" tanya Hanin.
"Dia bilang gak apa-apa tapi ya mungkin emang mau kerja kelompok," jawab Echa sambil mendudukkan dirinya di sebelah Hanin dan Disa. Sedangkan Gino berada di samping Reyhan.
"Mau yang mana dulu?" tanya Echa sembari menyimpan beberapa tumpukan buku ke atas meja.
Saat Disa ingin mengucapkan sesuatu, tiba-tiba saja bel rumahnya berbunyi.
"Biar Hanin aja, Ca." ucap Hanin sambil menatap kearah Echa yang ingin berdiri dari duduknya.
"Iya, makasih," ucap Echa. Dia agak gelisah ketika mendengar suara bel rumahnya, Echa takut Algi membuat ulah lagi.
"Kalian udah lama?" tanya Reyhan sembari membuka matanya.
"Belum Rey, baru aja Dateng," jawab Disa.
Echa menatap mata Reyhan yang sedang menyimpan banyak sekali duka. Masalah dirumahnya yang membuat Reyhan seperti ini.
Echa merasa iba ketika melihat sekelebat visual Reyhan yang sedang menyalahkan dirinya sendiri atas semua ini. Reyhan juga tidak memiliki tempat untuk membagi rasa sakitnya. Kecuali dirinya sendiri. Hanya itu yang dia punya saat ini, dirinya sendiri.
"Hai, udah sampai mana? Gue ketinggalan jauh?" tanya Algi sambil mendudukkan dirinya di samping Echa.
"Jauh banget, makannya. Jangan telat." jawab Disa ketus.
"Gi, itu tempat Hanin." ucap Hanin ketika melihat tempat duduknya di tempati oleh Algi.
"Sebelah Rey juga masih kosong Nin," ujar Algi.
"Gi, jangan bikin orang emosi," ucap Hanin yang tetap ingin duduk di sebelah Echa.
"Nin, di samping Rey masih kosong, iya kan, Rey?" tanya Algi sambil menatap kearah Reyhan yang sedang memijat pelipisnya. Reyhan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lo sakit, Rey?" tanya Algi.
"Enggak, cuman pusing aja dengerin Lo ngomong." jawab Reyhan yang kini beralih menatap Algi.
"Tuh, dengerin. Rey aja pusing apalagi Hanin, udah sana duduk di samping Rey." ucap Hanin.
"Kalau gue gak mau ya gak boleh di paksa." ujar Algi.
Sedangkan Echa melihat dari ekor matanya, Bara sedang menatap kearah dirinya.
"Udah Nin, Hanin aja yang duduk disini, biar Caca di samping Rey." ucap Echa yang kini sudah duduk di samping Reyhan.
"Lo sih." ucap Algi sambil menatap kearah Hanin yang duduk di sampingnya.
"Kalaupun Algi duduk disini, Caca bakalan tetep pindah." ketus Hanin.
__ADS_1
"Udah, kapan mau ngerjainnya?" tanya Gino yang sejak tadi diam saja mendengar Hanin dan Algi yang terus beradu mulut.