
Bara melangkahkan kakinya menuju kamar Aira sembari mengancingkan baju kemejanya.
"Ca, dasi kakak dimana?" tanya Bara sambil membuka pintu kamar Aira tanpa melihat kearah Echa yang sedang bercermin.
"Kan kakak yang nyimpen sendiri," jawab Echa sembari menatap kearah Bara.
"Gak ada," ucap Bara.
"Caca udah bilang dari kemarin, siapin semuanya, kakak malah gak denger," ujar Echa sambil melangkahkan kakinya menuju kearah Bara.
"Mau kemana?" Bara menatap kearah Echa yang menggunakan pakaian tidak seperti hari biasanya.
"Mau ke butik," jawab Echa.
"Pake baju yang kayak gitu?" Tanya Bara sembari melihat baju yang sedang di pakai oleh kekasihnya.
"Iya," Echa menganggukkan kepalanya.
"Pendek kayak gitu?" tanya Bara lagi.
Echa hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap heran kearah Bara yang terus bertanya tentang baju yang sedang dia gunakan.
"Ganti," ucap Bara.
"Lho, kenapa? Males kak, bentar lagi berangkat," ujar Echa sembari melangkahkan kakinya ke kamar Bara. Tanpa memperdulikan Bara yang tidak suka dengan pakaiannya.
"Ca," panggil Bara.
"Hm?" Gumam Echa yang sedang mencari dasi.
"Yakin mau pake baju itu?" tanya Bara.
Echa melirik kearah Bara sambil mengerutkan alisnya. "Iya."
Bara kembali menghela nafasnya seraya melangkahkan kaki kearah Echa. "Dasinya gak perlu di cari, kakak ikut pergi ke butik."
Echa menatap heran kearah Bara yang sedang merapikan kemeja yang dikenakannya. "Tapi kerjaan kakak..."
"Kakak gak mau orang lain natap Caca dari atas rambut sampai bawah kaki."
"Tapi..." ucapan Echa kembali terhenti ketika Bara semakin mendekat kearahnya.
"Caca tetep mau pake baju itu kan?" tanya Bara. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia sedang menahan serangan detak jantungnya ketika melihat wajah tampan Bara.
__ADS_1
"Syaratnya kakak ikut." ucap Bara sembari menjauhkan wajahnya saat melihat kekasihnya sudah seperti kepiting rebus.
Echa mengerjapkan mata sembari memalingkan wajahnya ke sembarang arah untuk menghindari tatapan Bara.
"Terserah kakak. Caca mau keluar dulu," ucap Echa pergi begitu saja sambil memegang pipinya yang terasa panas. Sedangkan Bara hanya tersenyum tipis melihat tingkah menggemaskan dari Echa.
Bara membuka ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Pa, Bara gak bisa masuk kerja sekarang," ucap Bara ketika merasa sudah tersambung dengan orang yang di teleponnya.
"Kenapa? Ini kerjaan penting, Bar." ujar orang yang berada di balik sambungan telepon Bara.
"Ada yang lebih penting dari kerjaan," ucap Bara yang langsung menutup sambungan telponnya. Jika tidak seperti itu, mereka berdua kan berdebat dan saling mementingkan egonya sendiri.
"Jangan lupa nafas, Ca." ucapnya pada diri sendiri. Echa terus mengibaskan tangan di depan wajahnya karena terasa panas. Dia juga memegang jantungnya yang berpacu lebih cepat. "Tahan, jangan teriak, jangan."
"Kak Caca, lagi ngapain?" pertanyaan itu mampu membuat Echa terlonjak kaget.
"Aira," ucap Echa ketika melihat Aira sudah berpakaian rapih.
"Kak Caca kenapa merah-merah gitu? Kak Caca sakit?" tanya Aira penasaran, ketika melihat wajah Echa yang merah karena ulah kakaknya.
"Emm... Engga, Kak Caca baik-baik aja kok, ayo berangkat." ajak Echa sambil menggenggam tangan Aira.
Echa dan Aira melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, menemui teman-teman yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Iya nih, Ca. Gimana dong? Padahal cuman ke butik aja," jawab Ivy dengan wajah memelas nya.
Echa hanya menampilkan senyuman keterpaksaan, dia juga merasakan apa yang sedang di rasakan oleh Ivy.
"Ca, ayo dong di bujuk, biar gak ikut," bisik Shiren dengan wajah memohon.
"Em..."
"Kak, Shiren sama temen-temen cuman ke butik sebentar, gak jauh dan gak bakalan lama, masa kakak harus ikut juga. Kak Bara juga gak ikut ya kan, Ca?" tanya Shiren dengan wajah memelas.
"Kata siapa? Kakak juga ikut." Pertanyaan itu mampu membuat Shiren, Hanin dan Ivy melototkan matanya kearah Echa.
"Gimana dong? Niatnya mau cuci mata cari yang lebih bening. Kok mereka tau sih niat kita yang sebenarnya?" bisik Ivy kepada teman-temannya.
"Gini banget punya cowok possessive." ucap Hanin sambil menghela nafasnya panjang.
Niatnya, mereka ingin bermain, layaknya empat orang sahabat tanpa di temani oleh pasangan.
"Ya mau gimana lagi, sebisa kita aja ngebahagiain diri di butik, biarin mereka bosen sendiri." ujar Echa.
__ADS_1
"Ide bagus," ucap Hanin sambil tersenyum senang.
"Ayo," ajak Bara. Echa hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban sambil mengikuti langkah Bara. Diikuti oleh teman-temannya.
"Kak Caca, Aira mau sama Kak Vivi, ya." ucap Aira sembari berlari kearah Ivy.
"Sini, Ra." ujar Ivy sambil menggenggam tangan Aira untuk masuk kedalam mobil bersama dengannya.
"Hati-hati, Ra." ujar Echa.
Mereka semua masuk kedalam mobil masing-masing untuk pergi membeli gaun yang akan di gunakan untuk acara pernikahan Hanin dengan wajah yang sedikit kesal.
Sepanjang jalan, Echa tidak membuka suara sepatah katapun. Membuat Bara terus saja melirik Echa yang sedang cemberut.
"Kalau tadi Caca gak pake baju yang kebuka kayak gitu, kakak gak bakalan ikut." ucap Bara memecah keheningan diantara mereka.
"Percuma aja, yang lain juga ikut," gumam Echa namun tidak terdengar oleh Bara.
"Kenapa hm?" tanya Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
"Gak apa-apa," jawab Echa tanpa menatap Bara.
Bara tidak membuka suara lagi, dia tahu suasana hati kekasihnya itu sedang tidak baik.
30 menit telah berlalu, Echa dan Bara sudah sampai di depan butik. Sedangkan teman-temannya mungkin sudah masuk terlebih dahulu.
"Ayo," ajak Bara sambil menggenggam tangan Echa. Banyak pasang mata yang menatap kearah mereka. Echa masih saja belum membuka suara sejak tadi.
"Kalau Caca nanya kenapa kakak gak bolehin Caca pake baju pendek kayak gitu, ibaratnya gini," Bara melepaskan genggaman tangannya dari Echa membuat Echa menatap bingung kearah Bara.
Bara mengangkat sedikit kemejanya menampilkan perut sempurna yang di idam-idamkan para wanita.
Ting.
Echa melototkan matanya ketika lift terbuka, banyak wanita yang akan masuk kedalam lift tersebut. Dia langsung memeluk Bara untuk menutupi perut yang tidak sengaja terlihat oleh wanita yang akan masuk kedalam lift.
"Kakak apa-apaan sih!" seru Echa dengan suara pelan.
"Kakak juga kayak gitu," ucap Bara sambil mencubit hidung Echa.
Echa melihat kearah wanita yang terus saja mencuri pandang kearah Bara.
"Jangan di buka-buka lagi, punya Caca tau!" ujar Echa sambil menatap tajam kearah Bara. Sedangkan Bara hanya tersenyum tipis melihat Echa yang begitu entengnya mengklaim aset yang di idam-idamkan wanita sebagai milik dirinya.
"Apa yang punya Caca?" tanya Bara.
__ADS_1
"Ish! Kak!" Kesal Echa sambil melepaskan pelukannya.