
"Btw, lusa kan udah masuk kampus, ada rencana buat ngebet kating gak?" tanya Ivy sambil menatap kearah Shiren, Hanin dan Echa.
Beberapa menit yang lalu, Shiren dan teman-teman Echa yang lainnya datang kerumah Bara, namun Alvero dan Mutiara tidak bisa ikut. Saat ini mereka sedang berada di kamar Aira, sedangkan Bara dan teman-temannya ada di ruang tamu.
"Engga, punya yang ini aja udah bersyukur banget." jawab Echa sambil memakan cemilannya.
"Sama, masa iya harus buang berlian." ucap Hanin dengan mulut yang dipenuhi makanan.
"Nanti nyesel. Emang Vivi ada rencana kayak gitu?" tanya Shiren.
"Ya, engga sih. Vivi juga mikir ribuan kali buat putus." jawab Ivy.
"Ya terus, kenapa kasih pertanyaan kayak tadi?" tanya Hanin penasaran.
"Kali aja kalian ada rencana, biar Vivi ada temen kalau nyesel." jawab Ivy cengengesan.
Echa, Hanin dan Shiren hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa pelan.
"Bahaya nih yang kayak gini, harus di kasih peringatan sama kak Azka." ucap Shiren yang sedang membuka cemilannya.
"Yah... Jangan, Vivi kan cuman bercanda. Serius." ujar Ivy.
"Iya deh, iya..." ucap Shiren sambil tertawa ketika melihat wajah ketakutan Ivy.
"Btw, gimana Shila?" tanya Echa sembari menatap kearah Shiren.
"Baik-baik aja, mungkin sekarang lagi sama Qiara." jawab Shiren.
"Qiara? Punya kemampuan?" tanya Hanin dan Ivy kompak.
"Iya, kalian gak tau? Caca gak cerita sama kalian?" tanya Shiren. Sedangkan Hanin dan Ivy hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap kearah Echa seolah meminta penjelasan.
"Oke, Caca salah. Caca juga belum tau semuanya, makannya nyuruh kalian kesini." jawab Echa.
"Oke, sekarang cerita." ucap Hanin yang kini menatap kearah Shiren untuk menceritakan semuanya.
Shiren yang mendapat perkataan seperti itu mengambil nafasnya dalam-dalam, untuk menceritakan semua yang telah dia lalui untuk membawa jiwa Aira.
Dia menceritakan perjalanan yang akan membuat dirinya kehilangan Aira untuk selama-lamanya, jika Qiara tidak ada.
"Gila, serius?" tanya Ivy tidak percaya ketika Shiren menceritakan semuanya.
"Serius. Ibu Ros sendiri yang bilang, kalau Qiara lebih dari apa yang kita kira." jawab Shiren menyakinkan Ivy. Bahwa, Qiara seorang anak kecil yang memiliki kemampuan lebih daripada Echa dan yang lainnya. Dan kenapa sebab nya ibu Qiara ingin membunuh Qiara. Karena dia istimewa.
Ketika Qiara ingin dibunuh oleh Ibunya, maka apapun yang Ibunya Qiara inginkan semua akan terkabul. Namun ada satu hal yang membuat Roslyn khawatir, jika Qiara bisa menguasai kemampuannya, maka kemungkinan terbesar adalah menghukum keluarganya sendiri.
Qiara akan diberi dua pilihan yang amat sangat berat. Membunuh semua keluarganya atau menjadi ratu kegelapan berikutnya. Maka, perjuangan Echa dan teman-teman yang lain akan percuma jika Qiara memilih opsi kedua.
"Itu artinya, Qiara bisa jadi musuh kita?" tanya Hanin.
"Iya." jawab Shiren.
"Vivi yakin kalau Qiara gak bakalan pilih opsi kedua, karena dia punya kenangan buruk sama keluarganya, Vivi liat dari masalalunya." ucap Ivy dengan penuh keyakinan.
"Siapapun bisa jadi musuh dalam selimut. Jangan pernah percaya siapapun." ujar Shiren sambil menatap satu persatu kearah Ivy, Hanin dan Echa.
"Ya, pastilah. Setelah apa yang kita alami sebelumnya, kita gak bakalan bisa percaya gitu aja. Bukan cuman Qiara aja, diantara kita juga bisa jadi ada musuh." ucap Hanin.
"Tapi kenapa Aira bisa lupa kalau dia dibawa?" tanya Echa penasaran sambil menatap kearah Aira yang sedang terlelap dalam tidurnya.
"Lupa?" tanya Shiren bingung.
__ADS_1
"Iya, Aira lupa sama apa yang dialaminya." jawab Echa yang kini beralih menatap kearah Shiren.
"Iya, aneh. Malah dia bilang, 'kenapa Aira disini?' aneh gak sih?" tanya Ivy yang juga bingung kenapa Aira bisa lupa atas apa yang menimpanya.
"Kalau soal itu, Shiren gak tau." jawab Shiren.
"Shila gimana? Masih belum bisa deketin kita?" tanya Echa.
"Belum, Shiren juga gak tau gimana caranya biar bisa patahin kekuatan itu." jawab Shiren sambil menghela nafasnya panjang.
"Yah... Habis." ucap Ivy ketika cemilannya sudah habis.
"Mau beli lagi?" tanya Echa.
"Ayo." ajak Shiren.
"Yaudah ayo," ucap Ivy sambil berdiri dari duduknya diikuti Shiren, Echa dan Hanin.
Mereka semua melangkahkan kakinya keluar dari kamar Aira, namun tiba-tiba saja Hanin mencekal tangan Echa. "Tunggu, Hanin mau bilang sesuatu."
Echa menatap bingung kearah Hanin ketika tangannya dicekal. "Apa?"
"Ada yang mau Hanin kasih tau." jawab Hanin sambil menatap kearah Shiren dan Ivy yang sudah berada jauh dari kamar Aira.
"Iya, Apa?" tanya Echa penasaran.
"Kata Mama, diantara kita ada yang jadi musuh dalam selimut." jawab Hanin dengan tatapan serius.
Echa tertawa sambil menepuk pelan bahu Hanin. "Nin, kita udah lewatin semuanya selama 4 tahun. Kita juga udah tau sifat masing-masing. Gak mungkin ada musuh dalam selimut."
"Ca, Hanin serius." ucap Hanin sambil memegang bahu Echa.
"Caca, Hanin. Ayo." ajak Ivy yang berada di tangga.
"Kak, Bunda sama Tante Helen belum pulang?" tanya Echa ketika melewati ruang tamu.
"Belum, mungkin gak pulang." jawab Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
Sejak tadi, Bara terus berkutat dengan laptopnya untuk memahami dunia bisnis. Daniel memberi waktu 2 hari kepada Bara untuk memahami dunia bisnis. Setelah dua hari, Daniel akan menyerahkan perusahaan kepada Bara sepenuhnya.
"Telpon dulu, nanti kalau pulang gimana? Di rumah gak ada apa-apa buat makan." ucap Echa.
"Iya, nanti." ujar Bara yang masih menatap layar laptopnya.
"Kak, Caca pinjem kunci mobil." ucap Echa.
"Iya, mau kemana?" tanya Bara sambil menatap kearah Echa.
"Ke..." jawaban Echa tertahan ketika Bara menatap dirinya dari atas sampai bawah.
"Mau pake baju kayak gitu? Keluar?" tanya Bara dengan tatapan dingin.
"Iya." ucap Echa sembari menganggukkan kepalanya.
Bara berdecak sebal ketika melihat baju yang digunakan oleh Echa untuk pergi keluar. "Ganti."
"Tapi kak... " ucapan Echa kembali tertahan ketika Bara mengeggam tangannya.
"Mau pake baju pendek keluar malam-malam tanpa kakak?" tanya Bara sambil melangkahkan kaki menuju kamarnya bersama dengan Echa dibelakangnya.
__ADS_1
"Maaf, Gak ada waktu buat ganti baju," jawab Echa.
Sesampainya di kamar, Bara langsung memberikan baju miliknya kepada Echa.
"Tapi ini kegedean kak." ucap Echa melihat baju yang diberikan oleh Bara.
"Enggak Ca, baju ini udah kecil banget di Kakak." ujar Bara.
"Tapi kak..." ucap Echa.
"Pake." ujar Bara penuh penekanan sambil menatap mata Echa.
Echa hanya mengerucutkan bibir sambil menghentakkan kaki menuju kamar mandi untuk menganti bajunya.
Setelan baju berwarna hitam itu tidak terlalu besar di tubuh Echa yang mungil. Terlihat agak pas, meskipun membuat tubuhnya tenggelam karena baju yang digunakannya.
Echa keluar dari kamar mandi, melihat Bara yang masih menunggu dirinya. Dia juga melihat Bara yang tersenyum tipis ketika Echa keluar dari kamar mandi menggunakan baju milik Bara.
"Udah." ucap Echa dengan wajah yang masih cemberut.
"Trust me. Laki-laki sekarang gak bisa jaga pandangan mata sama nafsunya." ujar Bara sambil menatap wajah Echa. "Kakak gak mau, cowok selain kakak bisa liat tubuh Caca dengan cuma-cuma."
Echa menahan bibirnya agar tidak tersenyum saat itu juga karena ucapan Bara yang mampu membuat dirinya terbang tinggi.
"Pake ini." ucap Bara sambil memberikan kartu debit berwarna hitam miliknya kepada Echa.
"Caca..." ujar Echa yang langsung di sanggah oleh Bara.
"Kalau kakak bilang pake. Pake." ucap Bara sambil memberikan kartu debit miliknya ke tangan Echa. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban tanpa mengucapkan apapun.
Echa masih tidak percaya Bara memberikan black card milik Bara kepada dirinya.
"Beli apa yang Caca mau. Anggap aja latihan jadi istri." ujar Bara sambil mengacak gemas rambut Echa.
"Heem, Udah kan? yang lain udah nungguin Caca." ucap Echa yang masih menahan agar bibirnya tidak tersenyum.
"Iya, hati-hati." ujar Bara sambil menaikkan resleting jaket yang digunakan Echa. Sedangkan Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Biar Devan yang bawa mobil." ucap Bara.
"Kakak... Biar Caca aja ya," ujar Echa dengan tatapan memohon.
Bara hanya diam. Dia tidak ingin terjadi sesuatu di perjalanan, meskipun Echa sudah mahir dalam mengendarai mobil tapi tetap saja, rasa khawatir menghantui Bara. Apalagi larut malam seperti ini, banyak anak gang motor yang keluar dari sarangnya. Namun, Bara juga tidak bisa menolak permintaan Echa jika sudah memohon padanya.
"Ca, kakak takut Caca sama yang lain kenapa-kenapa di jalan." ucap Bara sambil menangkup wajah Echa dengan tatapan khawatir.
"Kak, Caca bakalan baik-baik aja kok." ujar Echa sambil tersenyum manis untuk meyakinkan Bara.
Bara memejamkan mata sambil menghela nafasnya panjang, dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Love you." ucap Echa sembari melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bara, untuk menemui Hanin, Ivy dan Shiren yang sudah menunggunya.
Bara tersenyum tipis melihat tingkah kekasihnya itu. Lucu, Pikirnya.
"Ayo." ajak Echa ketika sudah berada di ruang tamu.
Hanin, Shiren dan Ivy melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
"Ada yang mau nyetir?" tanya Echa.
__ADS_1
"Hanin aja Ca." jawab Hanin. Echa hanya menganggukkan kepalanya sambil memberikan kunci mobil kepada Hanin.
Mereka berempat masuk kedalam mobil milik Bara untuk menuju supermarket yang lumayan jauh dari rumah Bara. Hanin melajukan mobilnya dengan kecepatan standar, membelah kota Jakarta yang macet.